Jawaban:
Sinar-Sinar · hlm. 106
Dalam pertanyaan ini terdapat tiga segi dan tiga pertanyaan.
Segi Pertama: Nabi Ibrahim alaihissalam memang tidak menyamai Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Akan tetapi, keluarga (âl) beliau adalah para nabi, sedangkan keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah para wali. Adapun para wali tidak dapat menyamai para nabi. Dalil bahwa doa mengenai keluarga ini dikabulkan dengan begitu gemilang ialah demikian:
Di antara tiga ratus lima puluh juta manusia, para wali yang berasal dari keturunan hanya dua pribadi dari keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلم — yakni Hasan (ra) dan Husain (ra) — dalam mayoritas mutlaknya menjadi para pemimpin dan mursyid bagi jalan-jalan hakikat dan tarekat, sehingga mereka menjadi tempat tampaknya (mazhar) hadis عُلَمَاءُ اُمَّت۪ى كَاَنْبِيَاءِ بَن۪ى اِسْرَائ۪يلَ. Terutama Ja'far as-Sadiq (ra), Al-Gaus Al-A'zham (ra), dan Syah Naqsyaband (ra); masing-masing mereka telah membimbing sebagian besar umat kepada jalan hakikat dan kepada hakikat Islam, dan mereka semua adalah buah dari makbulnya doa mengenai keluarga ini.
Segi Kedua: Adapun hikmah dikhususkannya salawat dalam bentuk ini di dalam salat ialah agar orang yang mengucapkannya mengingat bahwa dirinya pun ikut bergabung dan menyertai jemaah teragung itu — yang memiliki kekuatan ratusan ijmak dan ratusan tawatur serta mustahil tersesat — di jalan lurus yang telah ditempuh dan dibuka oleh kafilah terbesar para nabi dan para wali, yaitu manusia-manusia masyhur yang paling bercahaya, paling sempurna, dan paling lurus. Dan dengan ingatan itu, ia terlepas dari syubhat (keraguan) yang ditiupkan setan dan dari waswas yang buruk.
Adapun dalil bahwa kafilah ini adalah para sahabat Pemilik kainat ini dan ciptaan-ciptaan-Nya yang diterima, sedangkan para penentang mereka adalah musuh-musuh-Nya dan makhluk-makhluk-Nya yang ditolak, ialah: sejak zaman Adam, pertolongan gaib senantiasa datang kepada kafilah itu, sedangkan kepada para penentangnya setiap waktu turun musibah samawi.
Ya, sebagaimana seluruh penentang — seperti kaum Nuh, Tsamud, 'Ad, Firaun, dan Namrud — menerima tamparan-tamparan gaib yang membuat mereka merasakan murka Ilahi dan azab-Nya
dalam bentuk yang demikian; begitu pula seluruh pahlawan suci dari kafilah terbesar itu — seperti Nuh alaihissalam, Ibrahim alaihissalam, Musa alaihissalam, dan Muhammad صلى الله عليه وسلم — memperoleh mukjizat-mukjizat dan anugerah-anugerah Rabbani dalam bentuk yang luar biasa, penuh mukjizat, lagi gaib.
Padahal satu tamparan saja sudah menunjukkan amarah, dan satu karunia saja sudah menunjukkan kecintaan; maka datangnya ribuan tamparan kepada para penentang dan ribuan karunia serta pertolongan kepada kafilah itu bersaksi dan menunjukkan — sejelas-jelasnya dan seterang siang hari — atas kebenaran kafilah itu dan atas perjalanannya di jalan yang lurus. Di dalam Al-Fatihah, صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ tertuju kepada kafilah itu, dan غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَ لَا الضَّالّ۪ينَ tertuju kepada para penentangnya. Adapun nukta yang kami jelaskan di sini lebih nyata lagi pada akhir Al-Fatihah.
Segi Ketiga: Adapun rahasia hikmah memohon diberikannya sesuatu yang pasti akan diberikan, dengan pengulangan sebanyak ini, ialah demikian:
Sesuatu yang dimohon itu, misalnya Maqam Mahmud, hanyalah sebuah ujung. Ia adalah satu cabang dari sebuah hakikat teragung yang amat besar dan memuat ribuan hakikat penting seperti Maqam Mahmud. Ia juga satu buah dari hasil terbesar penciptaan kainat. Maka memohon ujung, cabang, dan buah itu dengan doa berarti memohon terwujud dan adanya hakikat menyeluruh yang teragung itu; memohon datang dan terwujudnya alam yang kekal, yang merupakan cabang terbesar dari pohon penciptaan itu; memohon terwujudnya kebangkitan (hasyr) dan kiamat yang merupakan hasil terbesar kainat; serta memohon dibukanya negeri kebahagiaan.
Dan dengan permohonan itu, ia pun turut ikut serta dalam ubudiyah manusia dan doa-doa manusia, yang merupakan sebab wujud terpenting bagi negeri kebahagiaan dan surga. Dan untuk sebuah maksud yang demikian agung tanpa batas, doa-doa yang tak terhingga ini pun masih sedikit.
Kemudian, diberikannya Maqam Mahmud kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم merupakan isyarat kepada syafaat teragung beliau bagi seluruh umat. Beliau pun berkaitan erat dengan kebahagiaan seluruh umatnya. Karena itulah, dimintanya salawat dan doa rahmat yang tak terhingga dari seluruh umat merupakan hikmah itu sendiri. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ