Jawaban:
Sinar-Sinar · hlm. 597
اَلْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ adapun pelaksanaan mereka yang besar lagi luar biasa itu: karena kebanyakannya berupa penghancuran dan penggiringan kepada hawa nafsu, maka dengan mudah mereka mengerjakan hal-hal luar biasa, sehingga di dalam sebuah riwayat disebutkan: "Satu hari mereka adalah satu tahun," yakni pekerjaan yang mereka kerjakan dalam satu tahun tidak dapat dikerjakan dalam tiga ratus tahun. Adapun kekuasaan mereka yang tampak sangat luar biasa, ia memiliki empat segi dan sebab:
Yang pertama: Sebagai akibat istidraj, kemajuan dan kebaikan yang terjadi di dalam pemerintahan besar mereka yang sewenang-wenang — yang sesungguhnya lahir dari kekuatan pasukan yang berani dan bangsa yang giat — dinisbatkan kepada mereka secara tidak berhak, sehingga hal itu menjadi sebab disangkanya ada kekuasaan sebesar ribuan orang pada diri mereka.
Padahal, menurut hakikat dan menurut kaidah, kebaikan yang positif, kemuliaan, dan ganimah yang lahir dari gerak sebuah jemaah dibagikan kepada jemaah itu dan diberikan kepada anggota-anggotanya. Sedangkan keburukan, kehancuran, dan kerugian dibebankan kepada pemimpinnya, yakni kepada tindakannya yang tidak cermat dan kepada kesalahan-kesalahannya. Misalnya, jika satu batalion menaklukkan sebuah benteng, ganimah dan kemuliaan itu menjadi hak bayonet-bayonet mereka. Dan jika terjadi kerugian karena tindakan-tindakan yang keliru, itu menjadi tanggungan para komandannya.
Maka, dengan sepenuhnya menyalahi kaidah dasar hak dan hakikat ini, kemajuan dan kebaikan yang positif diberikan kepada kepala-kepala yang dahsyat itu, sedangkan pelaksanaan dan keburukan yang negatif diberikan kepada bangsa mereka yang malang; sehingga pribadi-pribadi yang layak menerima kebencian umum itu — dari segi istidraj — justru memperoleh kecintaan umum dari orang-orang yang lalai.
Segi dan sebab kedua: Karena kedua Dajjal itu bergerak dengan penindasan yang paling besar, kezaliman yang paling besar, serta kekerasan dan kedahsyatan yang paling besar, maka tampaklah pada diri mereka kekuasaan yang paling besar. Ya, sebuah penindasan yang begitu aneh, sehingga — di balik tabir undang-undang — mereka mencampuri hati nurani dan hal-hal yang disucikan setiap orang, bahkan mencampuri pakaiannya. Aku kira, para pencinta kebebasan Islam dan Turki pada abad terakhir merasakan penindasan yang dahsyat ini dengan firasat sebelum terjadinya peristiwa,
lalu mereka melepaskan anak-anak panah dan menyerang. Akan tetapi mereka sangat tertipu, sehingga melancarkan serangan ke sasaran yang salah dan di front yang keliru. Dan sungguh, ia adalah kezaliman dan pemaksaan yang sedemikian rupa, sehingga karena seorang saja seratus desa dihancurkan dan ratusan orang tak berdosa diporak-porandakan dengan hukuman dan pengusiran.
Segi dan sebab ketiga: Karena kedua Dajjal itu memperoleh bantuan dari komite rahasia Yahudi yang memelihara dendam yang keras terhadap Islam dan Kristen, serta pertolongan dari sebuah komite dahsyat lain yang berada di balik tabir kebebasan wanita — bahkan Dajjal Islam menipu komite-komite Mason dan memenangkan dukungan mereka — maka mereka disangka memiliki kekuasaan yang dahsyat.
Kemudian, dari hasil penyingkapan sebagian wali dapat dipahami bahwa Dajjal Sufyani yang akan memimpin Negara Islam menemukan seorang perdana menteri yang sangat cakap, cerdas, giat, tidak menyukai pamer, dan tidak mementingkan kemasyhuran serta kemuliaan pribadi; juga seorang panglima tertinggi yang sangat berani, berkuasa, teguh, tangkas, dan tidak sudi merendahkan diri kepada gila kemasyhuran — lalu ia menundukkan keduanya. Dengan memanfaatkan sikap mereka yang jauh dari riya, ia menisbatkan pelaksanaan mereka yang luar biasa lagi cemerlang kepada dirinya sendiri; dan melalui perantaraan itu ia menisbatkan kepada dirinya kemajuan yang dikerjakan oleh pasukan besar dan pemerintahan itu — kemajuan yang lahir karena dorongan pembaruan, perubahan, dan kebutuhan mendesak yang datang dari perubahan Perang Dunia — lalu ia menyuruh para penyanjung menyiarkan bahwa pada dirinya terdapat kekuasaan yang sangat menakjubkan lagi luar biasa.
Segi dan sebab keempat: Pada Dajjal Besar terdapat sifat-sifat menundukkan dari jenis spiritisme. Pada salah satu mata Dajjal Islam pun terdapat magnetisme yang menundukkan. Bahkan, dengan mengalihkan perhatian kepada matanya melalui riwayat "Salah satu mata Dajjal itu buta", dan dengan mencatat di dalam hadis bahwa salah satu mata Dajjal Besar buta sedangkan salah satu mata Dajjal yang lain berkedudukan buta jika dibandingkan dengan matanya yang satu lagi, hadis itu mengisyaratkan bahwa karena mereka adalah kafir mutlak, mereka hanya memiliki satu mata yang semata-mata melihat dunia ini saja, dan mereka tidak memiliki mata yang dapat melihat akibat dan akhirat.
Aku pernah melihat Dajjal Islam di dalam sebuah alam maknawi. Hanya pada satu matanya saja aku menyaksikan dengan mataku sendiri sebuah magnetisme yang menundukkan, dan aku mengetahui bahwa ia benar-benar ingkar sama sekali. Maka dengan kelancangan dan keberanian yang lahir dari sikap ingkar mutlak inilah ia menyerang segala yang suci. Karena orang awam tidak mengetahui hakikat keadaan itu, mereka menyangkanya sebagai kekuasaan dan keberanian yang luar biasa.
Lagi pula, karena suatu bangsa yang jaya lagi pahlawan, pada saat kekalahannya, mendapati seorang panglima yang penuh istidraj, jaya, bernasib baik, selalu berhasil, lagi licik seperti itu, maka dengan tidak memandang jati dirinya yang tersembunyi lagi dahsyat,
dengan urat pahlawan yang ada dalam dirinya ia menepuktangani orang itu, mengangkatnya ke atas kepala, dan hendak menutupi segala keburukannya.
Akan tetapi, dari riwayat-riwayat dipahami bahwa tentara yang pahlawan lagi mujahid serta bangsa yang beragama itu akan melihat hakikat keadaan itu dengan cahaya iman dan cahaya Al-Qur'an yang ada di dalam jiwa mereka, dan akan berusaha memperbaiki kerusakan sangat dahsyat yang ditimbulkan panglima itu. PERSOALAN KECIL KETIGA: Yang menjadi sumber rasa heran adalah tiga peristiwa.
Peristiwa Pertama: Pada suatu ketika Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم menunjukkan kepada Sayidina Umar radiyallahu anhu salah seorang anak di antara anak-anak Yahudi seraya bersabda, "Inilah rupanya." Sayidina Umar radiyallahu anhu berkata, "Kalau begitu, aku akan membunuhnya." Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, "Jika ia benar-benar Sufyan dan Dajjal Islam, engkau tidak akan sanggup membunuhnya; dan jika ia bukan orang itu, ia tidak boleh dibunuh karena rupanya."
Riwayat ini memberi isyarat bahwa rupanya akan tampak pada banyak hal di masa hakimiyahnya, sebagaimana ia sendiri akan lahir di tengah orang-orang Yahudi. Sungguh aneh, Sayidina Umar radiyallahu anhu — yang begitu murka dan memusuhinya sampai hendak membunuh seorang anak yang berupa seperti dia — justru menjadi orang yang paling dikagumi dan dihargai oleh Sufyan itu, yang berkali-kali ia sebut dengan penuh pujian.
Peristiwa Kedua: Banyak orang menukilkan, "Dajjal Islam itu penasaran lalu menanyakan makna surah وَ التّ۪ينِ وَ الزَّيْتُونِ." Sungguh aneh, di dalam surah اِقْرَاْ بِاسْمِ رَبِّكَ yang datang sesudah surah itu, kalimat اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰى — sebagaimana ia memberi isyarat kepada zaman dan pribadinya sendiri, baik dengan jifir maupun dengan maknanya — juga menunjukkan bahwa ia akan menyerang ahli salat dan masjid-masjid dengan cara yang zalim lagi melampaui batas. Jadi, orang yang penuh istidraj itu merasa bahwa sebuah surah kecil ada kaitannya dengan dirinya. Namun ia keliru; ia mengetuk pintu tetangganya.
Peristiwa Ketiga: Dalam sebuah riwayat dikatakan, "Dajjal Islam akan muncul dari arah Khurasan."
لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ Salah satu takwilnya adalah demikian: bangsa Turki — kaum yang paling berani, paling kuat, dan paling banyak jumlahnya di Timur, sekaligus tentara Islam yang paling pahlawan — pada masa riwayat itu berada di arah Khurasan dan belum menjadikan Anatolia sebagai tanah air; maka dengan menyebutkan tempat tinggal mereka pada masa itu, riwayat tersebut memberi isyarat bahwa Dajjal Sufyani akan muncul di tengah mereka.
Sungguh aneh, bahkan sangat aneh: untuk sementara waktu ia berusaha memakai bangsa Turki dan paham kebangsaan Turki — yang selama tujuh ratus tahun menjadi pedang berlian yang mulia lagi berkilau bagaikan halilintar di tangan Islam dan Al-Qur'an — guna melawan sebagian syiar Islam. Namun ia tidak berhasil, lalu mundur. Dari riwayat-riwayat dipahami bahwa "tentara yang pahlawan itu melepaskan kendalinya dari tangan orang itu." وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ٭ لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ