Risalah Nur — Bahasa Indonesia

KALIMAT PERTAMA:

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

KALIMAT PERTAMA:

ialah ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ. Isyarat amat singkat mengenai hujah iman di dalamnya:

Ya, dalam kainat, Pemberian Nikmat yang dilakukan dengan Tujuan serta nikmat-nikmat yang menjadi dasar pujian dan syukur—terutama pengiriman susu murni, bersih, serta bergizi dari antara darah dan kotoran kepada anak-anak yang tak berdaya—dan anugerah-anugerah yang diberikan dengan Kehendak, hadiah, Pemberian yang penuh Belas Kasih, serta jamuan telah memenuhi permukaan bumi, bahkan kainat.

Harga semua itu ialah Bismillah pada awalnya, Elhamdülillah pada akhirnya, serta merasakan Pemberian Nikmat dalam nikmat di tengahnya dan mengenal Rabb-nya melalui nikmat itu.

Pandanglah nafsu, perut, serta indra lahir serta batinmu sendiri! Lihatlah berapa banyak hal serta nikmat yang mereka butuhkan, dan hingga derajat apa mereka menginginkan rezeki serta kenikmatan dengan harga pujian serta syukur. Bandingkan setiap makhluk hidup dengan dirimu.

Pujian tanpa batas yang diberikan melalui bahasa keadaan serta ucapan sebagai balasan atas Pemberian Nikmat umum ini memperlihatkan dengan amat pasti, seperti matahari, Wujud serta Rububiyah menyeluruh Sang Ma'bûd Yang Terpuji serta Sang Mun’im Yang Rahîm.

KALIMAT KEDUA:

ialah ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ. Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya:

Ya, melalui mata kita melihat bahwa dalam kainat ini terdapat jutaan alam serta kainat kecil, bukan hanya ribuan, yang kebanyakan berada di dalam satu sama lain. Meskipun syarat pengaturan serta pengelolaan masing-masing berbeda, mereka dipelihara, dikelola, dan diatur sedemikian sempurna: Seluruh kainat seperti satu halaman yang pada setiap saat berada dalam Pandangan⁠-⁠Nya, dan seluruh alam seperti baris-baris yang ditulis, diperbarui, serta diubah melalui Pena Kudrat dan Takdir⁠-⁠Nya. Kepada niscayanya Wujud serta Keesaan Sang Rabb Seluruh Alam, yang mengatur jutaan alam serta kainat yang mengalir ini melalui Ilmu dan Hikmah tanpa akhir, serta Rahmat yang meliputi tanpa batas dan Ketelitian dalam Rububiyah tanpa akhir, datang kesaksian-kesaksian yang menyeluruh maupun juz’i pada setiap saat serta waktu. Kesaksian itu tanpa batas serta tanpa akhir, sebanyak zarah dan segala yang ada yang tersusun dari zarah.

Manusia yang tidak membenarkan, merasakan, mengetahui, serta melihat Rububiyah yang mengatur serta memelihara bersama melalui hukum, Rububiyah, serta Hikmah yang sama—dari ladang zarah hingga tata surya dan lingkaran galaksi yang disebut Bimasakti, dari satu sel tubuh hingga tempat simpan bumi serta seluruh kainat—tentu membuat dirinya layak bagi azab tanpa batas dan merampas kelayakannya menerima belas kasih.

KALIMAT KETIGA:

ialah

ﺍَﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ.

Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya:

Ya, keberadaan serta hakikat Rahmat tanpa batas dalam kainat terlihat persis seperti sinar matahari. Seperti kesaksian pasti sinar bagi matahari, Rahmat yang luas ini juga bersaksi bagi Ar-Rahmân Yang Rahîm di balik tirai. Ya, satu bagian penting Rahmat ialah rezeki, sehingga kepada Rahmân diberikan makna Razzâq. Adapun rezeki memperlihatkan dengan cara sedemikian jelas Ar-Razzâq Yang Rahîm sehingga orang yang memiliki kesadaran sebesar zarah terpaksa membenarkannya.

Misalnya, di seluruh bumi serta ruang, Dia menumbuhkan rezeki seluruh makhluk hidup, terutama yang tak berdaya dan khususnya anak-anak, di luar pilihan serta kemampuan mereka, dengan cara yang amat luar biasa, dari tiada, dari biji-biji serupa, tetes-tetes air, serta butir-butir tanah.

Bahkan bagi burung-burung kecil yang lemah serta tidak bersayap dalam sarang di puncak pohon, Dia membuat ibu-ibu mereka berkeliling seperti prajurit pembawa perintah dan mendatangkan rezeki mereka.

Dia juga menundukkan singa yang lapar kepada anaknya; singa tidak memakan daging yang diperoleh, tetapi memberikannya kepada anaknya.

Kepada anak-anak hewan lain serta manusia, melalui keran payudara, Dia mengirim susu yang nikmat, bergizi, murni, jernih, serta putih seperti air Kautsar, dari antara darah merah serta kotoran yang tercemar, tanpa terkotori atau menjadi keruh, sebagai pertolongan bagi mereka; Dia memberikan kasih ibu-ibu mereka sebagai bantuan.

Sebagaimana Dia membuat rezeki yang sesuai mengejar seluruh pohon yang menginginkan suatu jenis rezeki dengan cara amat luar biasa, kepada indra lahir serta batin, akal, hati, serta ruh manusia yang menginginkan suatu jenis rezeki jasmani dan maknawi juga dianugerahkan hamparan perbekalan yang amat luas.

Seakan-akan kainat berupa ratusan ribu hamparan perbekalan yang berbeda serta beraneka ragam, terbungkus di dalam satu sama lain seperti kelopak bunga mawar serta pembungkus tongkol jagung. Melalui lidah sebanyak hamparan itu serta makanan dan nikmat di dalamnya, dan melalui bahasa berbeda yang menyeluruh maupun juz’i, hamparan-hamparan tersebut memperlihatkan Ar-Rahmân Yang Razzâq serta Sang Rahîm Yang Karîm kepada orang yang tidak sepenuhnya buta.

Jika dikatakan, ‘Musibah, keburukan, serta kejahatan dalam dunia ini bertentangan dengan Rahmat yang meliputi itu dan mengeruhkannya.’

Jawaban:

Dalam risalah-risalah Nur, seperti Risalah Takdir, pertanyaan mengerikan ini telah dijawab dengan lengkap. Dengan menyerahkannya kepada karya-karya itu, isyarat amat singkat mengenainya ialah:

Setiap unsur, setiap jenis, serta setiap yang ada memiliki banyak tugas yang menyeluruh maupun juz’i, dan setiap tugas itu memiliki banyak hasil serta buah. Hampir seluruhnya berupa manfaat, keindahan, kebaikan, serta rahmat. Sebagian kecil bertepatan dengan orang-orang yang tidak memiliki kecakapan, yang berhubungan dengannya secara keliru, yang layak bagi hukuman serta pendidikan, atau yang menjadi sarana tumbuhnya banyak kebaikan. Terjadilah hal yang merugikan serta keburukan yang lahiriah dan terbatas; tampak sesuatu yang tanpa belas kasih.

Jika demi mencegah hal yang merugikan dan terbatas itu, Rahmat menghalangi unsur serta makhluk menyeluruh tersebut menjalankan tugasnya, ketika itu seluruh hasil lain yang baik serta indah tidak akan terwujud. Karena tidak adanya satu kebaikan merupakan hal yang merugikan, dan rusaknya satu keindahan merupakan keburukan, hal yang merugikan, keburukan, serta hal-hal tanpa belas kasih muncul sebanyak hasil-hasil tersebut. Jadi, demi mencegah satu hal yang merugikan, ratusan hal yang merugikan serta hal-hal tanpa belas kasih dilakukan. Hal ini sepenuhnya bertentangan dengan Hikmah, manfaat, serta Rahmat dalam Rububiyah.

Misalnya, di antara ratusan hikmah serta manfaat jenis-jenis seperti salju, dingin, api, dan hujan, jika sebagian orang yang tidak memperhatikan serta tidak berhati-hati menjadikannya hal yang merugikan diri sendiri melalui pilihan yang buruk—misalnya memasukkan tangan ke api—lalu berkata bahwa dalam penciptaan api tidak terdapat rahmat, manfaat-manfaat api yang baik, berguna, serta penuh belas kasih yang tidak dapat dihitung membantahnya dan memukul mulutnya.

Keinginan manusia yang hanya mementingkan diri, serta perasaan-perasaannya yang rendah dan tidak melihat akibat akhir, juga tidak dapat menjadi ukuran, batu uji, maupun timbangan bagi hukum Rahmaniyah, Hikmah, serta Rububiyah yang berlangsung dalam kainat. Ia melihat sesuai warna cerminnya sendiri. Hati hitam yang tidak memiliki belas kasih melihat kainat dalam bentuk menangis, buruk, penuh kezaliman, serta serba gelap.

Namun, jika memandang melalui mata iman, ia menyaksikan kainat sebagai manusia agung yang selalu tertawa serta tersenyum melalui rahmat, mengenakan tujuh puluh ribu pakaian indah yang dijahit dari rahmat, kebaikan, serta hikmah, satu di atas yang lain, seperti bidadari surga yang mengenakan tujuh puluh pakaian indah. Ia melihat jenis manusia di dalamnya sebagai kainat kecil, serta setiap manusia sebagai alam yang paling kecil. Dengan seluruh ruh serta nyawa, ia berkata

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻣَﺎﻟِﻚِ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ.

KALIMAT KEEMPAT:

ialah

ﻣَﺎﻟِﻚِ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ.

Isyarat amat singkat mengenai hujahnya:

Pertama:

Seluruh dalil yang bersaksi bagi hujah

ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ

pada akhir bagian pertama pelajaran ini, serta bagi kebangkitan dan akhirat, juga persis bersaksi bagi hakikat iman yang luas, yang ditunjukkan

ﻣَﺎﻟِﻚِ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ.

Kedua:

Sebagaimana dikatakan pada akhir Kalimat Kesepuluh, Rububiyah, Rahmat, serta Hikmah yang abadi, Keindahan, Keagungan, serta Kesempurnaan yang azali dan abadi, Sifat-Sifat tanpa akhir, serta ratusan Nama Sang Pembuat kainat ini pasti menuntut akhirat. Al-Qur’an melalui ribuan ayat serta bukti, Muhammad ﷺ melalui ratusan mukjizat serta hujah, dan seluruh nabi aleyhimüsselâm, kitab-kitab samawi, serta suhuf melalui dalil tanpa batas juga bersaksi bagi kehidupan kekal dalam negeri akhirat. Manusia yang tidak beriman kepadanya melemparkan dirinya, bahkan di dunia, ke neraka maknawi yang muncul dari kekufuran, lalu selalu menderita azab.

Seperti yang dijelaskan dalam Panduan, seluruh masa lalu serta masa depan, makhluk, dan kainat terus-menerus menghujani ruh serta hatinya dengan penderitaan tanpa batas melalui sirna serta perpisahan mereka. Semua itu membuatnya menderita azab neraka sebelum pergi ke neraka.

Ketiga:

Melalui petunjuk tersirat ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ, ia menunjuk suatu hujah kebangkitan yang besar serta kuat. Namun, pada bagian ini, tiba-tiba suatu keadaan menjadi sebab menunda hujah itu ke waktu lain; mungkin hujah tersebut tidak lagi diperlukan. Sebab, Risalah-Risalah Nur telah membuktikan fajar kebangkitan serta musim semi hidupnya kembali makhluk melalui ratusan hujah kuat, sepasti datangnya siang setelah malam serta musim semi setelah musim dingin.

KALIMAT KELIMA:

ialah

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ.

Sebelum memberikan isyarat mengenai hujah di dalamnya, terlintas dalam hati untuk menjelaskan dengan singkat perjalanan khayal yang mengandung hakikat, berdasarkan penjelasan Surat Kedua Puluh Sembilan. Demikianlah:

Pada suatu waktu, ketika mencari mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, aku menemukan empat-lima mukjizat serta kabar gaib dalam ayat pada akhir Surah Al-Fath, bahkan satu mukjizat sejarah dalam kalimat

ﺍَﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻧُﻨَﺠّ۪ﻴﻚَ ﺑِﺒَﺪَﻧِﻚَ,

sebagaimana penjelasan dalam Risale-i Nur, terutama Tafsir Nur İşaratü'l-İ'caz serta Rumuz-u Semaniye. Bahkan, dalam banyak kata kutemukan berbagai kilau sifat bermukjizat, serta dalam sebagian huruf butir hikmah yang bermukjizat. Ketika membaca Al-Fatihah dalam salat, untuk memberitahukan kepadaku satu mukjizat ‘nun’ dalam

ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ,

suatu pertanyaan datang ke hatiku: Mengapa tidak dikatakan

ﺍَﻋْﺒُﺪُ ﺍَﺳْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ,

yakni ‘Aku beribadah serta memohon pertolongan’? Mengapa melalui nun penutur bersama orang lain dikatakan, yakni ‘Kami beribadah serta memohon pertolongan kepada⁠-⁠Mu’?

Tiba-tiba, melalui pintu ‘nun’ itu terbuka medan perjalanan khayal. Aku mengetahui serta melihat hingga tingkat menyaksikannya sendiri rahasia agung serta manfaat besar jamaah dalam salat, dan bahwa huruf tunggal ini merupakan satu mukjizat. Demikianlah:

Pada waktu itu, ketika salat dalam Masjid Bayezid di Istanbul, aku berkata

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ.

Aku melihat bahwa jamaah dalam masjid itu berkata seperti diriku, ikut serta sepenuhnya dalam pernyataanku serta doaku dalam ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ, lalu membenarkannya. Ketika itu, satu tirai lagi terbuka.

Aku melihat bahwa seluruh masjid Istanbul berkedudukan sebagai Masjid Bayezid yang besar. Persis seperti diriku, mereka berkata

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ,

membubuhkan tanda tangan pada pernyataan serta doaku, lalu mengucapkan âmin. Ketika mereka menjadi suatu jenis pemberi syafaat bagiku, satu tirai lagi terbuka dalam khayalku.

Aku melihat bahwa dunia Islam berbentuk masjid besar. Makkah serta Ka’bah berkedudukan sebagai mihrab. Saf-saf seluruh Muslim yang salat menghadap mihrab suci itu dalam bentuk melingkar. Mereka berkata

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ

seperti diriku; masing-masing atas nama seluruhnya berdoa, menyatakan, serta membenarkan, dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafaat bagi dirinya. Ketika aku berpikir bahwa jalan serta pernyataan jamaah yang demikian agung tidak dapat keliru, doanya tidak ditolak, dan hal itu mengusir bisikan-bisikan setan, serta membenarkan manfaat besar jamaah dalam salat dengan menyaksikannya langsung, satu tirai lagi terbuka.

Aku melihat bahwa kainat merupakan masjid yang paling agung. Seluruh kelompok makhluk dalam suatu salat yang paling agung, melalui jamaah, masing-masing dengan ibadah khusus serta bahasa keadaan, seakan-akan menjalankan suatu jenis salat. Demi membalas Rububiyah Sang Ma'bûd Dzul-Jalâl yang meliputi dengan ubudiyah yang amat luas, masing-masing membenarkan kesaksian serta tauhid seluruhnya; mereka mengambil kedudukan yang membuktikan hasil sama. Ketika menyaksikan hal ini, tiba-tiba satu tirai lagi terbuka.

Aku melihat bahwa sebagaimana kainat yang merupakan manusia agung berkata

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

melalui bahasa keadaan, dan banyak bagiannya melalui bahasa bakat serta kebutuhan alami, serta makhluk-makhluk berkesadarannya melalui bahasa ucapan, dan memperlihatkan ubudiyah mereka terhadap Rububiyah Sang Khâliq mereka yang penuh Belas Kasih, demikian pula zarah, kekuatan, serta indra lahir serta batin dalam tubuhku—seperti tubuh setiap sahabatku dalam jamaah agung itu, yang masing-masing berkedudukan sebagai kainat amat kecil—berkata

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

melalui bahasa keadaan ketaatan serta kebutuhan mereka terhadap Rububiyah Sang Khâliq mereka. Mereka memperlihatkan bahwa mereka bergerak menurut Perintah serta Kehendak Ilahi, dan pada setiap saat membutuhkan Inayah, Rahmat, serta Pertolongan Sang Khâliq mereka.

Dengan terheran-heran, aku menyaksikan rahasia suci jamaah dalam salat serta mukjizat indah nun, lalu keluar sebagaimana masuk melalui pintu nun. Aku berkata Elhamdülillah. Aku terbiasa juga mengucapkan kalimat

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

atas nama ketiga jamaah tersebut serta sahabat-sahabatku yang besar dan amat kecil itu. Kini, pendahuluan telah selesai; kita datang ke inti pembahasan.

Isyarat amat singkat mengenai hujah yang ditunjukkan

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ:

Pertama:

Melalui mata, kita melihat bahwa dalam kainat, terutama permukaan bumi, di tengah berlangsungnya kegiatan serta Penciptaan yang dahsyat dan terus-menerus dengan keteraturan, terdapat Rububiyah mutlak yang penuh Belas Kasih serta Pengelolaan. Di tengah tampaknya Pertolongan dengan Hikmah serta Inayah sempurna kepada permintaan bantuan, seruan pertolongan, dan doa makhluk hidup tanpa batas melalui perbuatan, keadaan, serta ucapan, dan Jawaban nyata kepada masing-masing, tampak Tajalli Keilahian mutlak serta Sifat⁠-⁠Nya sebagai Yang Disembah secara umum melalui balasan kepada ibadah seluruh makhluk, terutama makhluk hidup dan khususnya kelompok manusia, dalam ribuan bentuk alami serta berdasarkan kehendak bebas. Sebagaimana akal sehat serta mata iman melihatnya, seluruh Firman samawi serta para nabi juga memberitahukannya.

Kedua:

Melalui petunjuk tersirat nun ﻧَﻌْﺒُﺪُ, masing-masing serta seluruh ketiga jamaah yang disebutkan dalam pendahuluan bersama-sama sibuk menjalankan ibadah yang beraneka ragam, alami serta berdasarkan kehendak bebas. Hal ini, tanpa ragu dan jelas, merupakan balasan penuh syukur kepada Zat Yang Disembah, serta kesaksian tanpa batas dan tanpa ragu bagi Wujud Sang Ma'bûd Yang Mahasuci.

Melalui petunjuk tersirat ‘nun’ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ, setiap kelompok serta individu dari ketiga jamaah tersebut, yakni dari seluruh kainat hingga jamaah zarah dalam satu tubuh, memiliki permohonan pertolongan serta doa melalui perbuatan dan keadaan. Ia tanpa ragu bersaksi bagi Sang Pengelola Yang Penuh Belas Kasih, yang segera membantu mereka serta menjawab doa mereka dengan pengabulan. Misalnya, sebagaimana dikatakan Kalimat Kedua Puluh Tiga, pengabulan tiga jenis doa seluruh makhluk di bumi dengan amat luar biasa serta di luar harapan pasti bersaksi bagi Sang Rabb Yang Rahîm serta Mujîb.

Ya, sebagaimana benih serta biji masing-masing memohon kepada Sang Khâliq mereka melalui bahasa bakat agar menjadi pohon serta bulir, dan doa mereka dikabulkan di depan mata kita, seluruh hewan juga melalui bahasa kebutuhan alami memohon kepada Satu Zat rezeki mereka dari tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau tangan, serta hal-hal yang diperlukan bagi kehidupan dan keinginan-keinginan di luar kemampuan mereka. Sang Khâliq Yang Karîm, yang di depan mata kita mengabulkan seluruh doa mereka melalui bahasa kebutuhan alami itu, serta dengan Hikmah membuat makhluk-makhluk ganjil dan tidak sadar bersegera menolong mereka pada waktu yang tepat, jelas dipersaksikan melalui hal ini.

Melalui perbandingan dengan kedua jenis ini, pengabulan seluruh jenis doa yang dilakukan melalui bahasa ucapan, terutama doa para nabi aleyhimüsselâm serta orang-orang khusus, dengan cara yang luar biasa bersaksi bagi hujah Keesaan dalam

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ.

KALIMAT KEENAM:

ialah

ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ.

Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya ialah:

Ya, sebagaimana di antara jalan-jalan yang menuju dari suatu tempat ke tempat lain serta garis-garis yang ditarik dari satu titik ke titik jauh, yang paling pendek ialah yang paling lurus serta tidak berbelok, demikian pula dalam perkara maknawi, jalan-jalan maknawi, serta jalan hati, yang paling benar serta paling lurus ialah yang paling pendek serta paling mudah.

Misalnya, seluruh perbandingan dalam Risale-i Nur serta perbandingan jalan kekufuran dan iman memperlihatkan dengan pasti bahwa jalan iman serta tauhid amat pendek, lurus, istiqamah, dan mudah. Jalan kekufuran serta pengingkaran amat panjang, penuh kesulitan, dan berbahaya.

Jadi, dalam kainat yang digerakkan melalui jalan istiqamah, penuh Hikmah, serta paling pendek dan mudah dalam setiap hal ini, tentu syirik serta kekufuran tidak dapat memiliki hakikat; hakikat iman serta tauhid perlu dan niscaya bagi kainat ini seperti matahari.

Dalam akhlak manusia, jalan yang paling nyaman, bermanfaat, pendek, serta selamat juga berada dalam siratal-mustaqim, dalam istiqamah.

Misalnya, jika daya akal kehilangan hikmah yang merupakan batas tengah serta istiqamah yang mudah dan bermanfaat, melalui berlebihan atau terlalu kurang, ia jatuh ke kelicikan berpikir yang merugikan serta kebodohan yang membawa malapetaka, lalu mengalami bahaya dalam jalan-jalannya yang panjang.

Jika daya amarah tidak mengikuti keberanian yang merupakan batas istiqamah, melalui berlebihan ia jatuh ke keberanian membabi buta serta kesewenang-wenangan yang amat merugikan dan zalim; melalui terlalu kurang, ia jatuh ke rasa takut serta sikap pengecut yang amat hina dan penuh penderitaan. Sebagai hukuman atas kesalahan kehilangan istiqamah, ia menderita azab hati nurani yang terus-menerus.

Jika daya syahwat dalam manusia kehilangan istiqamah yang selamat serta penjagaan diri, melalui berlebihan ia jatuh ke maksiat serta perbuatan keji yang membawa malapetaka dan aib; melalui terlalu kurang, ia jatuh ke padamnya hasrat, yakni kehilangan kesenangan serta kenikmatan dalam nikmat-nikmat, lalu menderita azab penyakit maknawi itu.

Melalui perbandingan dengan hal-hal ini, dalam seluruh jalan kehidupan pribadi serta kehidupan masyarakat, istiqamah paling bermanfaat, mudah, dan pendek. Jika siratal-mustaqim hilang, jalan-jalan itu menjadi amat penuh malapetaka, panjang, serta merugikan.

Jadi, sebagaimana

ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ

merupakan doa serta ubudiyah yang amat mencakup dan luas, ia juga menunjuk hujah tauhid, pelajaran hikmah, serta pengajaran akhlak.

KALIMAT KETUJUH:

ialah

ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ.

Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya:

Pertama:

Mengenai siapakah yang dimaksud ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ, ayat

ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴّ۪ﻦَ ﻭَﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻘ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟﺸُّﻬَﺪَٓﺍﺀِ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤ۪ﻴﻦَ

menjelaskan serta menyebut empat kelompok dalam jenis manusia yang menerima nikmat istiqamah. Melalui para pemimpin kelompok-kelompok itu, ia menunjuk Muhammad ﷺ dengan ﺍَﻟﻨَّﺒِﻴّ۪ﻦَ, Abu Bakar As-Siddiq radıyallahu anh dengan ﻭَﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻘ۪ﻴﻦَ, serta Umar, Utsman, dan Ali radıyallahu anhüme dengan ﻭَﺍﻟﺸُّﻬَﺪَٓﺍﺀِ. Melalui kabar gaib bahwa setelah Nabi ﷺ, Siddiq (ra), lalu Umar (ra), Utsman (ra), serta Ali (ra) akan menjadi pemimpin, dan ketiga orang terakhir menjadi syahid sekaligus khalifah, ia memperlihatkan satu kilau sifat bermukjizat.

Kedua:

Keempat kelompok yang paling tinggi, lurus, serta benar dalam jenis manusia ini, sejak masa Adam (as), melalui seluruh kekuatan mereka menyatakan hakikat tauhid dengan hujah, mukjizat, karamah, dalil, serta penglihatan batin tanpa batas, dan kebanyakan manusia membenarkan mereka. Karena itu, hakikat tersebut tentu pasti seperti matahari. Kesepakatan serta ijmak tokoh-tokoh manusia yang termasyhur tanpa batas ini mengenai persoalan-persoalan positif, seperti tauhid, niscayanya Wujud, serta Keesaan Sang Khâliq, setelah memperlihatkan kebenaran serta keteguhan mereka dalam kebenaran melalui ratusan ribu mukjizat dan hujah tanpa batas, merupakan hujah yang tidak meninggalkan keraguan apa pun.

Jenis manusia merupakan hasil penting penciptaan kainat, khalifah bumi, serta yang paling menyeluruh dan tinggi dari segi bakat di antara makhluk hidup. Keempat kelompok tersebut merupakan orang-orang paling lurus dalam jenis manusia, pembimbing paling benar serta dibenarkan, dan pemimpin dalam kesempurnaan. Mungkinkah orang yang tidak mengenal serta mengingkari hakikat yang mereka imani dan beritahukan melalui ijmak serta kesepakatan, dengan menunjukkan kainat beserta seluruh yang ada sebagai dalil, dan yang mereka yakini melalui haqqulyaqin, ainulyaqin, serta ilmulyaqin, dengan keyakinan yang tidak dapat digoyahkan, tidak melakukan kejahatan tanpa batas serta tidak layak menerima azab tanpa akhir?

KALIMAT KEDELAPAN:

ialah

ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﻐْﻀُﻮﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ وَلَا ﺍﻟﻀَّٓﺎﻟّ۪ﻴﻦَ.

Isyarat singkat mengenai hujah di dalamnya:

Ya, sejarah manusia serta kitab-kitab suci, dengan bertumpu pada berita mutawatir, peristiwa serta pengetahuan menyeluruh yang pasti, dan hal-hal yang disaksikan manusia, secara sepakat, jelas, serta pasti memberitahukan bahwa:

Dalam ribuan peristiwa, pertolongan gaib datang dengan cara luar biasa kepada seruan pertolongan para nabi (aleyhimüsselâm), yang merupakan ahli siratal-mustaqim, dan hal-hal yang mereka inginkan diberikan persis. Pada saat yang sama, dalam ratusan peristiwa, murka datang kepada para pengingkar yang memusuhi mereka, dan musibah samawi turun ke atas kepala mereka. Hal ini dengan pasti serta tanpa ragu memperlihatkan bahwa kainat ini dan jenis manusia di dalamnya memiliki Sang Pengatur, Sang Rabb, Yang Hakîm, ‘Âdil, Muhsin, Karîm, ‘Azîz, serta Qahhâr. Melalui peristiwa-peristiwa sejarah yang luas serta amat luar biasa, Dia memberikan kemenangan dan keselamatan kepada banyak nabi, seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Hud, serta Salih (aleyhimüsselâm). Sebagai balasan atas pemberontakan terhadap para nabi, Dia juga menurunkan musibah samawi yang mengerikan ke atas kepala banyak orang zalim serta pengingkar, seperti kaum Tsamud, ‘Ad, dan Firaun, sebagai hukuman bahkan di dunia.

Ya, sejak masa Adam (as), dua arus besar datang dengan saling berbenturan dalam kemanusiaan. Yang satu ialah ahli kenabian, kesalehan, serta iman, yang melalui mengikuti jalan istiqamah menerima nikmat dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena bertindak dengan istiqamah sesuai keindahan sejati, keteraturan, serta kesempurnaan kainat, mereka menerima anugerah-anugerah Pemilik kainat dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka menjadi sarana mengangkat manusia ke derajat malaikat, bahkan di atasnya; melalui hakikat iman, mereka memperoleh serta membuat orang lain memperoleh surga maknawi di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Arus kedua meninggalkan istiqamah serta melalui berlebihan dan terlalu kurang mengubah akal menjadi sarana azab serta alat pengumpul penderitaan. Ia menjatuhkan kemanusiaan ke bawah keadaan hewan yang paling malang, serta di dunia menerima Murka Ilahi dan tamparan musibah sebagai balasan atas kezaliman. Melalui kesesatan serta keterkaitan akal, ia melihat kainat sebagai tempat kesedihan serta rumah perkabungan umum, sebagai tempat penyembelihan serta pengulitan bagi makhluk hidup yang menggelinding menuju sirna, dan sebagai sesuatu yang amat buruk serta kacau. Ruh serta hati nuraninya berada dalam neraka maknawi di dunia, dan ia menjadikan dirinya layak menderita azab abadi di akhirat.

Ayat

ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﻐْﻀُﻮﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ وَلَا ﺍﻟﻀَّٓﺎﻟّ۪ﻴﻦَ

pada akhir Al-Fatihah yang mulia mengajarkan kedua arus besar ini. Sumber, dasar, serta guru seluruh perbandingan dalam Risale-i Nur ialah ayat ini. Karena Nur telah menafsirkan ayat ini melalui ratusan perbandingan, kita juga menyerahkan penjelasannya kepada karya itu serta mencukupkan isyarat singkat ini.

KALIMAT KESEMBILAN:

ialah ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ. Isyarat amat singkat mengenai hal ini:

Karena ‘nun’ dalam

ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

memperlihatkan kepada kita ketiga jamaah agung, terutama jamaah ahli tauhid dalam masjid dunia Islam, khususnya jamaah jutaan orang yang berada dalam salat pada waktu itu, dan menempatkan diri kita di antara mereka, serta membuka jalan agar kita memperoleh bagian dalam doa, pembenaran melalui ucapan mereka yang persis sama dengan kita, dan suatu jenis syafaat mereka, melalui kalimat ‘Âmin’ kita juga membantu doa jamaah ahli tauhid serta orang-orang yang salat, membenarkan pernyataan mereka, dan melalui ‘Âmin’ itu memohon agar syafaat serta permohonan pertolongan mereka diterima. Dengan begitu, kalimat ini mengubah ubudiyah, doa, serta pernyataan kita yang bersifat juz’i menjadi ubudiyah menyeluruh dan luas, serta membuatnya membalas Rububiyah yang menyeluruh serta umum.

Jadi, melalui rahasia persaudaraan iman serta kesatuan Islam, pada setiap waktu salat, berdasarkan ikatan kesatuan jamaah dengan jutaan anggota dalam masjid dunia Islam, serta melalui radio-radio maknawi, ‘Âmin’ dalam Al-Fatihah memperoleh sifat menyeluruh dan dapat berkedudukan sebagai jutaan ‘Âmin’.

(Catatan): Menurut derajat masing-masing, jika orang awam menerima bagian sebesar biji dari hakikat suci ini, manusia sempurna yang telah maju secara ruhani menerima bagian sebesar pohon kurma. Namun, orang yang belum maju lebih jauh tidak seharusnya sengaja membawa makna-makna ini ke pikiran ketika membaca Al-Fatihah, agar rasa hadir di hadapan⁠-⁠Nya tidak terganggu. Jika ia maju ke kedudukan tersebut, makna-makna itu memang akan memperlihatkan diri dengan sendirinya.

(Catatan kecil): Kami bertanya kepada Ustad mengenai penjelasan kata ‘sengaja’ dalam catatan ini. Kami menulis jawaban yang diperoleh persis sebagaimana adanya:

Atas nama murid-murid Risale-i Nur di Madrasah Yusuf Ketiga, Ceylan

Aku melihat bahwa makna-makna luas serta luhur kata-kata tasyahud dan Al-Fatihah dipikirkan secara tidak langsung, tanpa kesengajaan. Bukan perincian yang memberikan suatu jenis kelalaian dalam perhatian serta rasa hadir di hadapan⁠-⁠Nya, melainkan makna ringkas dan pendek yang mengusir kelalaian serta mencerahkan ubudiyah dan munajat. Ia memperlihatkan sepenuhnya nilai salat, Al-Fatihah, serta tasyahud yang amat luhur. Adapun maksud ‘tidak menyibukkan diri dengan sengaja’ pada akhir Bagian Kedua ialah: Menyibukkan diri secara langsung dengan perincian makna-makna itu terkadang membuat orang melupakan salat, mungkin mengganggu rasa hadir di hadapan⁠-⁠Nya. Namun, secara tidak langsung serta dengan cara ringkas, aku merasakan manfaat-manfaat besarnya.

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺑِﻪ۪ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

Dari satu pelajaran Madrasah Yusuf Ketiga

BAGIAN KETIGA

PENDAHULUAN

Sebagaimana Bagian Kedua ditulis melalui perintah maknawi Al-Fatihah dalam salat serta limpahan

ٔﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ,

tasyahud dalam salat juga melalui bahasa kalimat

ٔﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِٔ

serta peringatan maknawinya, dan melalui cahaya ayat besar pada akhir Surah Al-Fath yang memperlihatkan lima mukjizat gaib,

ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺭْﺳَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪٰﻯ ﻭَﺩ۪ﻳﻦِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻟِﻴُﻈْﻬِﺮَﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﻛُﻠِّﻪ۪ ﻭَ ﻛَﻔٰﻰ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﻬ۪ﻴﺪًﺍ ٭ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُٓ ﺍَﺷِﺪَّٓﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَٓﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺍﻟﺦ,

membuatku terpaksa menulis bagian ketiga demi tiga sebab yang kini tidak memiliki izin untuk kujelaskan. Aku menyerahkan perincian, penjelasan, serta hujah dengan dasar nukilan kepada Zülfikar Mu'cizat-ı Ahmediye ﷺ serta Arabî Hizb-i Nurî (Wirid Nur Berbahasa Arab) mengenai kerasulan Muhammad ﷺ. Hanya melalui tiga isyarat yang amat ringkas serta pendek, dalam Isyarat Kedua dan Ketiga akan ditulis intisari dari intisari Arabî Hizb-i Nurî, dan suatu jenis terjemahan bagian mengenai kesaksian

ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

dalam risalah kecil yang ditulis di sini sebagai tafakur berbahasa Arab, wiridku yang tetap, bersama kalimat tauhid yang kuulang dalam tasbih.