Risale-i NurSinar-Sinar

Kelakar yang kutulis untuk kalian kemarin memiliki tiga segi yang menarik:

Sinar-Sinar · hlm. 377

Yang pertama: Sebagaimana dahulu pintu berpalang itu terbuka dengan sendirinya berkat rahasia dan berkah pribadi maknawi majelis mubarak yang akan datang di masa depan — karena orang itu merupakan wakil dari pribadi maknawi tersebut —, demikian pula kini orang-orang marah kepadaku hanya karena seorang wakil dari majelis mubarak yang telah benar-benar terwujud itu berbicara setengah menit denganku setelah sepuluh tahun. Aku pun marah dan berulang kali berkata: "Semoga pintu-pintu mereka tertutup!" Pada pagi setelah malam hari yang sama itu, pintu para penjaga tertutup dengan sendirinya — hal yang belum pernah terjadi sama sekali — dan tidak terbuka selama dua jam.

Segi Menariknya yang Kedua: Aku pernah mengirimkan sepucuk memo kepada jaksa melalui direktur penjara; di dalamnya aku berkata: "Aku berada dalam pengasingan, aku tidak dapat berbicara dengan siapa pun,

sekalipun aku berbicara, aku tidak mengenal seorang pun di kota ini. Kotapraja tempat ini dengan seseorang, dan seterusnya..." Kemudian jaksa berkata: "Apakah dia berada dalam pengasingan?" Direktur menjawab: "Tidak." Keduanya membantahku. Pada hari yang sama, hanya karena seseorang yang setengah gila lagi setengah kerabat berbicara setengah menit denganku, ditunjukkanlah keadaan yang sedemikian rupa sehingga tidak pernah terjadi pada pengasingan mana pun. Bantahan mereka terhadapku pun berbalik menghantam wajah mereka sendiri.

Yang ketiga: Kegaduhan para pemuda nakal tetangga di depan pintu mengganggu aku di antara waktu magrib dan isya, tetapi gangguan itu masih sedikit. Pintu itu pun mereka tutup pada hari yang sama dengan sebuah dalih. Akibatnya, bau busuk di tempat tinggalku bertambah, dan kegaduhan para pemuda nakal itu yang kini dekat dengan pintuku semakin mengganggu aku. Maka aku kembali berkata: "Semoga pintu-pintu mereka tertutup; mengapa mereka berbuat demikian?" Pada pagi itu juga terjadilah peristiwa tersebut.