Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 375
Keteguhan dan kekukuhan hati kalian menggagalkan seluruh rencana kaum mason dan kaum munafik.
Ya, saudara-saudaraku, tidak perlu disembunyikan. Kaum zindik itu menyamakan Risale-i Nur dan murid-muridnya dengan tarekat, khususnya dengan tarekat Naqsyabandi; lalu dengan rencana-rencana yang dahulu mereka pakai untuk mengalahkan ahli tarekat itu, mereka melancarkan serangan ini dengan maksud melumpuhkan dan mencerai-beraikan kami.
Pertama: menggentarkan dan menakut-nakuti, serta mempertontonkan berbagai penyalahgunaan yang terjadi pada jalan itu.
Dan kedua: mempertontonkan kekurangan-kekurangan para rukun dan para pengikut jalan itu.
Dan ketiga: merusak mereka dengan foya-foya yang memikat serta racun-racun yang lezat lagi membuai dari filsafat dan peradaban kaum materialis, lalu mematahkan sikap saling menopang di antara mereka, meruntuhkan para guru mereka dengan berbagai penghinaan, dan menjatuhkan jalan yang mereka tempuh dari pandangan mereka dengan sebagian kaidah ilmu pengetahuan dan filsafat. Dengan senjata yang sama, yang mereka pergunakan terhadap orang-orang Naqsyabandi dan ahli tarekat, mereka menyerang kami; namun mereka tertipu.
Karena jalan pokok Risale-i Nur adalah ikhlas yang sempurna, meninggalkan ananiyah (keakuan), merasakan dan mencari rahmat di dalam segala kesusahan serta kelezatan yang kekal di dalam segala kepedihan, menampakkan derita yang pedih yang justru ada di dalam kelezatan foya-foya yang fana, mengajarkan bahwa iman menjadi sumber kelezatan yang tidak terhingga bahkan di dunia ini pun, serta mengajarkan poin-poin dan hakikat-hakikat yang tidak terjangkau oleh filsafat mana pun — maka insyaallah ia akan menggagalkan rencana mereka sama sekali dan membungkam mereka dengan menyatakan bahwa jalan Risale-i Nur tidak dapat disamakan dengan tarekat-tarekat.
Sebuah Kelakar: Pagi ini, seseorang dari bangsal jandarmeri di sebelahku memanggilku, lalu aku naik ke jendela. Ia berkata: "Pintu kami tertutup dengan sendirinya; apa pun yang kami perbuat, ia tidak mau terbuka." Aku pun berkata: "Ini sebuah isyarat bagi kalian bahwa di antara orang-orang yang kalian jaga dan yang pintunya kalian tutup dari atas, ada orang-orang tak bersalah seperti kalian sendiri. Bahkan, dengan dalih bahwa aku berbicara satu menit dengan seorang saudaraku yang tidak kujumpai selama sepuluh tahun, mereka menghinaku; dan dengan dalih lain mereka menutup pula pintu luar kami yang kedua. Sebagai balasan atas perbuatan itu, pintu kalian pun ikut tertutup."