Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz!

Sinar-Sinar · hlm. 374

Dengan lenyapnya penghalang-penghalang yang tidak memberi kesempatan bagi penyempurnaan persoalan-persoalan "Buah", insyaallah ia akan dimulai kembali; salah satu penghalang itu adalah hawa dingin, dan yang lain adalah kengerian kaum mason terhadap kekuatannya. Di dalam musibah ini aku memikirkan sisi takdir Ilahi. Kesusahanku berubah menjadi rahmat. Ya, sebagaimana dijelaskan di dalam Risalah Takdir, pada setiap kejadian terdapat dua sebab:

Yang satu bersifat lahiriah; manusia menghukumi menurut sebab itu, dan sering kali mereka berbuat zalim.

Yang satu lagi bersifat hakiki; takdir Ilahi menghukumi menurut sebab itu, dan di dalam kejadian yang sama itu takdir berbuat adil di bawah kezaliman manusia. Misalnya, seseorang dijebloskan ke penjara secara zalim karena pencurian yang tidak ia lakukan. Namun berdasarkan sebuah kejahatan tersembunyi yang pernah ia perbuat, takdir pun memutuskan pemenjaraannya; maka di dalam kezaliman manusia yang sama itu takdir berbuat adil.

Maka, agar di dalam persoalan kita ini intan terpisah dari kaca, agar orang-orang setia yang rela berkorban terpisah dari orang-orang yang bimbang lagi tidak teguh, dan agar orang-orang ikhlas yang murni terpisah dari orang-orang yang tidak mau meninggalkan keakuan dan kepentingan dirinya, ada dua sebab mengapa kita masuk ke dalam ujian yang keras ini:

Yang pertama: khidmah agama yang luar biasa dengan sikap saling menopang yang kuat dan dengan ikhlas, yang menyentuh prasangka ahli dunia dan ahli politik; kezaliman manusia memandang kepada sisi ini.

Yang kedua: karena kita masing-masing belum menunjukkan kelayakan yang sempurna terhadap khidmah yang suci ini dengan ikhlas yang sempurna dan sikap saling menopang yang sempurna; maka takdir pun memandang kepada sisi ini.

Kini takdir Ilahi, di dalam keadilan yang murni, adalah rahmat yang murni bagi kita: ia mengumpulkan saudara-saudara yang saling merindukan di dalam satu majelis, mengubah segala kesusahan menjadi ibadah dan segala kerugian menjadi sedekah. Dan ia adalah rahmat yang murni dari banyak sisi: menarik perhatian dari segala penjuru kepada risalah-risalah yang mereka tulis; menjaga agar akhirat mereka tidak terluka karena harta, anak, dan kesenangan dunia — sebab semuanya amat sementara lagi cepat berlalu, dan bagaimanapun pada suatu hari mereka akan meninggalkan semuanya lalu masuk ke dalam tanah —; membiasakan mereka dengan sabar dan ketabahan; dan menjadikan mereka teladan yang gagah berani, bahkan menjadi imam, bagi ahli iman di masa depan.

Namun hanya ada satu sisi yang membuatku berpikir. Sebagaimana apabila sebuah jari terluka, mata, akal, dan hati meninggalkan tugas-tugasnya yang penting lalu sibuk dengan jari itu; demikian pula kehidupan kita yang penuh kesempitan, yang telah sampai kepada tingkat serba kekurangan seperti ini, menyibukkan hati dan ruh kita dengan lukanya. Bahkan pada suatu waktu, ketika seharusnya aku melupakan dunia, keadaan itu membawaku ke majelis kaum mason dan menyibukkanku dengan menampar mereka. Aku pun terhibur oleh kemungkinan bahwa Allah menerima keadaan lalai ini sebagai salah satu jenis perjuangan pemikiran.

Aku telah menerima salam dari Ali Gül, saudara Hâfız Mehmed, guru Risale-i Nur yang berharga itu. Aku menyampaikan ribuan salam dan doa kepadanya, kepada seluruh warga sekampungnya, dan kepada seluruh penduduk Sava, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.