Saudara-saudaraku yang Aziz!
Sinar-Sinar · hlm. 373
Pagi ini, di dalam tasbih, aku merasa kasihan kepada Hâfız Tevfik. Aku teringat bahwa ini sudah kedua kalinya ia menanggung kesusahan. Tiba-tiba terlintas di hati: Ucapkanlah selamat kepadanya! Dengan sikap hati-hati yang tidak berguna, dahulu ia ingin sedikit menarik diri dari martabatnya yang amat penting dan dari bagiannya yang besar di dalam Risale-i Nur. Namun kesucian dan keagungan khidmahnya kembali membuatnya berhasil meraih bagian yang besar itu serta pahala yang amat besar. Karena sedikit kesempitan dan kesusahan kecil yang sementara, seseorang tidak boleh tertinggal dari kehormatan maknawi yang seperti ini.
Ya, saudara-saudaraku! Memang segala sesuatu berlalu; dan sesudah berlalu, jika ia berupa kelezatan dan kesenangan, ia pergi dengan sia-sia dan hanya tinggal kerinduan; sedangkan jika ia berupa kesempitan dan kesusahan, maka baik dari sisi dunia dan akhirat maupun dari sisi khidmah suci semacam ini terdapat faedah-faedah yang demikian lezat sehingga faedah itu menjadikan kesusahan tersebut tidak berarti sama sekali. Di antara kalian, kecuali satu orang, akulah yang paling tua dan yang paling banyak ditimpa kesempitan. Aku meyakinkan kalian: dengan sabar, syukur, dan ketabahan yang sempurna, aku senang dengan keadaanku.
Adapun syukur atas musibah adalah karena pahala yang ada di dalam musibah itu serta faedah-faedahnya yang ukhrawi dan duniawi.