Kelimat KESEBELAS
Sinar-Sinar · hlm. 613
وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ
Yakni: sebagaimana perjalanan itu tertuju kepada lingkaran hadirat-Nya, kepada alam-Nya yang kekal, kepada akhirat-Nya, dan kepada negeri kebahagiaan-Nya yang kekal selamanya, demikian pula Dia adalah tempat kembali seluruh makhluk di dalam kainat; seluruh rantai sebab bersandar kepada-Nya dan berpegang kepada kudrat-Nya, dan sebab-sebab itu hanyalah tabir-tabir bagi tasarruf kudrat-Nya; seluruh sebab lahiriah hanyalah tabir belaka untuk menjaga kemuliaan dan keagungan kudrat yang mahasuci itu, dan dalam penciptaan sama sekali tidak ada pengaruhnya; jika perintah dan kehendak-Nya tidak ada, tidak ada sesuatu pun, bahkan satu zarah pun, yang dapat bergerak. Kami memberikan isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang ada di dalam kalimat ini:
Pertama: Adapun sisi yang menanamkan iman secara penuh dan membuktikan bahwa hakikat kebangkitan, akhirat, dan kehidupan yang kekal — yang diungkapkan oleh kalimat suci ini — pasti terjadi dan pasti datang, sepasti datangnya musim semi yang akan tiba ini, kami serahkan kepada Kelimat Kesepuluh beserta lampiran-lampirannya, kepada Kelimat Kedua Puluh Sembilan, kepada Persoalan Ketujuh dari Risalah Buah, kepada Sinar Munajat, dan kepada risalah-risalah imaniah Risale-i Nur. Sungguh benar, risalah-risalah itu telah membuktikan rukun iman ini dengan hujah yang tak terhingga sedemikian rupa sehingga terjadinya akhirat mereka buktikan sepasti keberadaan dunia ini, dalam bentuk yang memaksa para pengingkar yang paling keras kepala sekalipun untuk membenarkannya.
Kedua: Sepertiga dari Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân memandang kepada kebangkitan dan akhirat, dan ia membangun setiap dakwaannya di atasnya. Maka sebagaimana seluruh mukjizat dan hujah yang membuktikan kebenaran Al-Qur'an juga menunjukkan adanya akhirat, demikian pula seluruh mukjizat yang bersaksi atas kenabian Muhammad alaihis-salâtu was-salâm, seluruh dalil kenabiannya, dan seluruh hujah kebenarannya, bersaksi pula atas kebangkitan dan akhirat.
Karena sebagaimana dakwaan besar yang senantiasa beliau صلى الله عليه وسلم bawa sepanjang hidupnya adalah akhirat, demikian pula seluruh nabi yang berjumlah seratus dua puluh empat ribu alaihimussalam pun mendakwakan kehidupan yang kekal dan kebahagiaan abadi, menyampaikan kabar gembira tentangnya kepada umat manusia, lalu membuktikannya dengan mukjizat yang tak terhingga dan dalil-dalil yang pasti; maka sudah pasti seluruh mukjizat dan hujah yang menunjukkan kenabian serta kebenaran mereka bersaksi pula atas akhirat dan kehidupan yang kekal, yang merupakan dakwaan mereka yang terbesar lagi senantiasa mereka bawa.
Dengan mengiaskan kepada hal ini, seluruh dalil yang membuktikan rukun-rukun iman yang lain pun bersaksi atas terjadinya kebangkitan dan atas dibukanya negeri kebahagiaan.
Ketiga: Mungkinkah Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Khâliq Dzul-Jamâl, Allah Dzul-Kamâl — yang untuk menampakkan kesempurnaan-kesempurnaan diri-Nya serta kudrat dan rububiyah-Nya telah menciptakan kainat ini beserta seluruh zarah, planet, bagian, dan lapisannya, lalu dengan hikmah yang sempurna terus-menerus mempekerjakan masing-masingnya dengan satu tugas, bahkan dengan banyak tugas; dan yang untuk memperlihatkan manifestasi asma-Nya yang kekal selamanya lagi tak terhingga mengirimkan kafilah di belakang kafilah, bahkan dunia demi dunia yang berjalan dan senantiasa diperbarui, serta mengirimkan rombongan-rombongan makhluk ke rumah tamu alam ini dan ke medan ujian kehidupan dunia; lalu, setelah mengambil rupa, amal, dan keadaan mereka dengan sinema-sinema ukhrawi dan foto-foto barzakhi yang dipasang di alam mitsal, dan setelah melepaskan mereka dari tugas, Dia mengirimkan ke medan itu rombongan, kafilah, dan semacam dunia lain yang mengalir lagi berjalan, agar mereka mengemban tugas dan menjadi cermin bagi manifestasi asma-Nya — mungkinkah Zat semacam itu tidak menyediakan sebuah negeri pembalasan pahala dan siksa, sebuah kebangkitan dan penyebaran, bagi jenis manusia ini: yang di dunia fana ini dengan kesadaran dan akalnya menyambut seluruh maksud Sang Khâliq itu; yang dengan seluruh potensinya mencintai Sang Khâliq itu lalu membuat-Nya dicintai, mengenal-Nya lalu memperkenalkan-Nya, dan dengan doa-doa yang tak terhingga memohon kebahagiaan akhirat yang kekal; serta yang, karena melalui akalnya ia menerima derita yang tak berkesudahan, dengan seluruh fitrah, ruh, dan potensinya menginginkan kehidupan yang kekal, yang merupakan kelezatan itu sendiri? Mustahil! Seratus ribu kali mustahil dan sekali-kali tidak mungkin!
Karena penjelasan, perincian, dan hujah-hujah dari isyarat yang sangat ringkas ini terdapat di dalam Risale-i Nur secara terang lagi kuat, kami menyerahkannya kepada Risale-i Nur dan memotong pendek kisah yang sangat panjang ini. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ