Risale-i NurSinar-Sinar

Kepada Mahkamah Pidana Berat Afyon,

Sinar-Sinar · hlm. 577

Tuan-tuan Hakim yang terhormat!

Kejahatan yang dituduhkan kepada kami tidak pada tempatnya, dan sekaligus termasuk urusan dunia serta bersifat politik. Padahal, apakah kami ini orang-orang yang akan berpolitik atau bukan, Tuan-tuan Hakim yang terhormat sejak pandangan pertama sudah lama memahaminya. Pada dasarnya, seandainya ratusan orang yang berwenang menjamin bahwa tuduhan yang dingin lagi asing ini akan terbukti seratus persen, dan seandainya akalku pun seratus kali lebih besar daripada sekarang, maka dengan kesan maknawi yang ditinggalkan Risale-i Nur dan penulisnya yang sangat terhormat di dalam diriku, dengan segenap keberadaanku aku akan lari dari kelezatan dan petualangan politik yang sementara lagi akan habis ini, lalu mencurahkan segalanya di jalan iman kepada akhirat dan keselamatan dari neraka.

Baik rasa hormat dan ikatan kami kepada penulis Risale-i Nur yang mulia, maupun kegiatan kami membaca dan menulis Risale-i Nur serta surat-menyurat dan hubungan kami dengan murid-murid Nur — sebagaimana disahkan pula oleh Mahkamah Pidana Berat Denizli dan Mahkamah Kasasi Tinggi — semuanya secara langsung bersifat ukhrawi. Sedemikian rupa sehingga, dengan pikiran yang kami peroleh dari Risale-i Nur, kami tidak akan menukar keberadaan yang bercahaya ini dengan nilai duniawi dan kebendaan apa pun. Hal ini akan hidup pada diri kami dalam keadaan sebuah iman, hingga kami mati.

Majelis Hakim yang terhormat!

Selama kami telah dikumpulkan di sini dengan sebuah tuduhan yang sedemikian dahsyat. Maka jika demikian, menerangkan hakikat yang penting ini telah menjadi utang tanah air dan utang hati nurani bagiku:

Hanya di lingkunganku sendiri saja, dengan perbaikan luar biasa yang ditunjukkan oleh Risale-i Nur, di depan mata seluruh rakyat, dalam masa yang melebihi sepuluh tahun ini, ada banyak orang — terutama diriku sendiri — yang telah mengenal jalan pulang ke rumah mereka. Tingkah laku mereka yang hina telah berubah menjadi kebahagiaan keluarga. Kini ibu dan bapak mereka mendoakan orang-orang yang menjadi sebab bagi hal itu. Dengarkanlah keadaan banyak orang lain semacam ini, baik di dalam wilayah kami maupun di sekitarnya.

Terlebih lagi di Penjara Denizli: dengan masuknya Risale-i Nur ke sana, ia telah menimbulkan pengaruh yang demikian baik atas para tahanan sehingga sampai kini pengaruh itu masih menjadi buah bibir. Demikian pula, ketika aku masuk ke Penjara Afyon ini, dengan siapa pun aku berbicara, mereka menyebutkan keadaan mereka yang dahulu beserta keadaan mereka yang sekarang, lalu dengan rasa terima kasih dan syukur mendoakan para murid Nur. Hakikat-hakikat ini nyata terpampang...

Aku ini seorang manusia; maka aku heran bahwa menulis surat kecintaan dan penghiburan secara Islami kepada Risale-i Nur — yang sedemikian rupa memperbaiki akhlak, kehidupan bermasyarakat, dan urusan akhirat bagi diriku dan bagi sesamaku, dan yang terutama merupakan sebuah tafsir penting bagi kitab kami, Al-Qur'an — serta kepada penulisnya yang terhormat dan kepada sesama warga sebangsanya, akan menjadi sebuah persoalan politik. Maka dengan rasa heran inilah aku berkata: perbuatan seperti ini tidak mungkin menjadi kejahatan. Kalaupun ada, paling-paling musuh-musuh tersembunyi Al-Qur'an — dan karenanya juga musuh-musuh Risale-i Nur — yang menanamkan waham kepada pihak kehakiman dan aparat kepolisian, lalu menjadi sebab kami dijejalkan ke dalam penjara-penjara seperti ini.

Tentu para hakim yang tinggi kedudukannya akan melihat hakikat-hakikat ini, lalu dengan meletakkan tangan mereka di atas hati nurani, mereka akan menjatuhkan putusan yang adil — putusan yang di dalamnya terdapat banyak kabar gembira yang abadi lagi Ilahi — dan akan menjadikan bangsa Turki yang Muslim, yang menanti dengan penuh perhatian di empat penjuru tanah air, berterima kasih kepada mereka.