Risale-i NurSinar-Sinar

Kesimpulannya:

Sinar-Sinar · hlm. 226

Selama Allah ada, sudah pasti akhirat pun ada.

Kemudian, sebagaimana ketiga rukun iman yang telah disebutkan tadi, dengan seluruh dalil yang membuktikannya, bersaksi dan menunjukkan kepada kebangkitan; demikian pula dua rukun iman yaitu وَ بِمَلٰئِكَتِه۪ وَ بِالْقَدَرِ خَيْرِه۪ وَ شَرِّه۪ مِنَ اللّٰهِ تَعَالٰى juga mengharuskan adanya kebangkitan serta bersaksi dan menunjukkan dengan kuat kepada alam yang kekal. Yaitu sebagai berikut:

Seluruh dalil yang membuktikan adanya malaikat dan tugas ubudiyah mereka, serta tidak terhingga banyaknya peristiwa melihat langsung dan bercakap-cakap dengan mereka, dengan sendirinya menunjukkan adanya alam arwah, alam gaib, alam yang kekal, alam akhirat, negeri kebahagiaan yang kelak akan diramaikan oleh jin dan manusia, serta adanya surga dan neraka. Sebab para malaikat dapat melihat alam-alam ini dengan izin Allah dan dapat memasukinya. Dan seluruh malaikat muqarrabin yang berjumpa dengan manusia, seperti Malaikat Jibril, secara sepakat mengabarkan adanya alam-alam yang telah disebutkan tadi dan mengabarkan bahwa mereka berkeliling di dalamnya. Sebagaimana kita mengetahui dengan jelas adanya Benua Amerika yang tidak kita lihat melalui kabar orang-orang yang datang dari sana, demikian pula melalui kabar para malaikat yang sekuat seratus tawatur, kita harus beriman kepada adanya alam yang kekal, negeri akhirat, surga, dan neraka dengan tingkat kepastian seperti itu; dan memang demikianlah kami beriman.

Kemudian pula, seluruh dalil yang membuktikan rukun "iman kepada takdir" di dalam Kelimat Kedua Puluh Enam, yaitu Risalah Takdir, dengan sendirinya menunjukkan kepada kebangkitan, kepada penyebaran lembaran-lembaran catatan amal, dan kepada penimbangan amal di dalam timbangan terbesar. Sebab mencatat ketentuan takdir segala sesuatu di depan mata kita pada lembaran-lembaran keteraturan dan timbangan; menuliskan riwayat hidup setiap makhluk hidup di dalam daya ingat mereka, di dalam biji-bijinya, dan pada lembaran-lembaran mitsal yang lain; serta menetapkan dan mencatat buku amal setiap makhluk bernyawa, khususnya manusia, pada lembaran-lembaran yang terpelihara — sudah pasti takdir yang meliputi segala sesuatu, penentuan yang penuh hikmah, pencatatan yang sangat teliti, dan penulisan yang penuh penjagaan seperti itu hanya mungkin ada demi balasan dan hukuman yang kekal

sebagai hasil dari sebuah pengadilan menyeluruh di Mahkamah Agung. Jika tidak, pencatatan dan penjagaan yang meliputi segala sesuatu lagi teramat teliti itu akan tinggal tanpa makna sama sekali, tanpa faedah, serta bertentangan dengan hikmah dan hakikat.

Lagi pula, jika kebangkitan tidak datang, seluruh makna pasti dari kitab kainat yang tertulis dengan pena takdir ini akan rusak; padahal hal itu tidak mungkin terjadi dari segi mana pun, dan kemungkinan seperti itu adalah sesuatu yang mustahil, sama seperti mengingkari adanya kainat ini, bahkan sebuah igauan.