MUKADIMAH
Sinar-Sinar · hlm. 213
Ia adalah dua poin yang terdiri atas: menjelaskan secara ringkas satu hasil yang mencakup semuanya di antara sekian banyak faedah ruhani dan hasil yang sangat penting bagi hidup yang dimiliki akidah kebangkitan; memperlihatkan betapa perlu dan mutlaknya akidah itu bagi kehidupan manusia, khususnya bagi kehidupan bermasyarakatnya; menunjukkan secara global satu hujah menyeluruh dari sekian banyak hujah akidah iman kepada kebangkitan ini; dan menyatakan betapa terang dan tidak diragukannya akidah kebangkitan itu. POIN PERTAMA: Sebagai satu ukuran dari ratusan dalil bahwa akidah akhirat merupakan asas yang paling dasar bagi kehidupan bermasyarakat dan kehidupan pribadi manusia serta dasar bagi kebahagiaan dan kesempurnaannya, kami hanya akan mengisyaratkan kepada empat dalil saja.
YANG PERTAMA: Anak-anak, yang membentuk hampir separuh umat manusia, hanya dapat bertahan menghadapi kematian dan kepergian yang tampak dahsyat lagi menyayat hati bagi mereka dengan pikiran tentang surga. Dan mereka dapat menemukan sebuah kekuatan maknawi di dalam tubuh mereka yang sangat lemah dan halus. Dan di dalam watak jiwa mereka yang sangat tidak tahan menanggung derita, yang cepat menangis karena segala sesuatu, mereka dapat menemukan sebuah harapan dengan surga itu lalu hidup dengan gembira. Misalnya, dengan pikiran tentang surga ia berkata: "Adik kecilku atau temanku telah meninggal, ia menjadi seekor burung surga. Ia berjalan-jalan di surga, hidup lebih indah daripada kita."
Jika tidak, kematian anak-anak seperti dirinya dan kematian orang-orang dewasa di sekelilingnya setiap waktu, yang menghantam pandangan cemas makhluk-makhluk lemah lagi malang itu, akan memporak-porandakan daya tahan dan kekuatan maknawi mereka, lalu membuat seluruh latifah mereka — seperti ruh, kalbu, dan akal — turut menangis bersama mata mereka; sehingga anak itu akan binasa atau menjadi seekor hewan malang yang gila.
DALIL KEDUA: Orang-orang tua, yang merupakan separuh umat manusia, hanya dapat menanggung kubur yang telah dekat kepada mereka dengan kehidupan akhirat. Dan terhadap padamnya kehidupan yang sangat mereka cintai dalam waktu dekat serta terhadap
tertutupnya dunia mereka yang indah, mereka dapat menemukan sebuah hiburan; dan di dalam jiwa serta watak mereka yang mudah tersentuh, yang telah menjadi seperti anak-anak, mereka hanya dapat menghadapi rasa putus asa yang pedih lagi dahsyat — yang lahir dari kematian dan sirnanya segala sesuatu — dengan harapan akan hidup yang kekal selamanya.
Jika tidak, orang-orang terhormat yang layak dikasihi itu, para ayah dan ibu yang cemas dan sangat membutuhkan ketenangan serta ketenteraman hati itu, akan merasakan jeritan ruh dan gemuruh kalbu sedemikian rupa sehingga dunia ini menjadi penjara yang gelap bagi mereka dan hidup pun menjadi azab yang menyesakkan.
DALIL KETIGA: Yang menahan para pemuda dan orang-orang muda — sumber terkuat bagi kehidupan bermasyarakat manusia — dari pelanggaran, kezaliman, dan perusakan dengan menghentikan perasaan mereka yang sedang bergolak dahsyat serta nafsu dan hawa mereka yang melampaui batas, dan yang menjamin berjalannya kehidupan bermasyarakat dengan baik, hanyalah pikiran tentang neraka.
Jika tidak, seandainya tidak ada kekhawatiran akan neraka, dengan kaidah "Al-hukmu lil-ghâlib" para pemuda yang mabuk itu, sambil mengejar hawa nafsu mereka, akan mengubah dunia menjadi neraka bagi orang-orang lemah yang malang dan orang-orang yang tak berdaya; dan mereka akan mengubah kemanusiaan yang tinggi menjadi sifat hewan yang sangat rendah.
DALIL KEEMPAT: Adapun pusat yang paling mencakup dan pegas yang paling mendasar dalam kehidupan dunia umat manusia, serta surga, tempat berlindung, dan benteng perlindungan bagi kebahagiaan duniawi, ialah kehidupan keluarga. Dan rumah setiap orang adalah dunia kecilnya. Adapun hidup dan kebahagiaan rumah serta kehidupan keluarga itu hanya dapat terwujud dengan penghormatan yang tulus, sungguh-sungguh, dan penuh kesetiaan, serta dengan kasih sayang yang hakiki, lembut, dan penuh pengorbanan. Adapun penghormatan yang hakiki dan kasih sayang yang tulus ini hanya dapat terwujud dengan pikiran dan akidah bahwa akan ada persahabatan yang abadi, kebersamaan yang terus-menerus, kesertaan yang kekal selamanya, serta hubungan-hubungan sebagai ayah, sebagai anak, sebagai saudara, dan sebagai sahabat satu sama lain di dalam waktu yang tak terhingga dan hidup yang tak berbatas.
Misalnya, ia berkata: "Istriku ini adalah teman hidupku yang terus-menerus di dalam alam yang abadi dan di dalam hidup yang abadi. Untuk sementara ini ia memang telah tua dan buruk rupa, tetapi itu tidak mengapa. Sebab ia memiliki keindahan yang abadi, yang akan datang. Dan demi persahabatan yang terus-menerus seperti itu, aku melakukan setiap pengorbanan dan setiap kasih sayang." Dengan berkata demikian, ia dapat menyambut istrinya yang telah tua itu dengan cinta, kelembutan, dan kasih sayang, seperti terhadap seorang bidadari yang jelita.
Jika tidak, persahabatan yang setelah kebersamaan lahiriah selama satu dua jam yang teramat singkat lalu berakhir dengan perpisahan yang abadi dan berpisah untuk selamanya, sudah pasti hanya dapat memberikan sesuatu yang sangat lahiriah dan sementara
serta tanpa dasar — yakni sekadar rasa iba antarjenis seperti pada hewan, kasih sayang yang majasi, dan penghormatan yang dibuat-buat. Dan sebagaimana yang terjadi pada hewan-hewan, manfaat-manfaat lain dan perasaan-perasaan lain yang lebih kuat akan mengalahkan penghormatan dan kasih sayang itu, lalu mengubah surga dunia itu menjadi neraka.
Maka salah satu dari ratusan hasil iman kepada kebangkitan berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat manusia. Dan jika segi-segi serta faedah-faedah lain dari ratusan segi hasil yang satu ini dibandingkan dengan empat dalil yang telah disebutkan, akan dipahami bahwa terwujud dan terjadinya hakikat kebangkitan itu pasti sepasti hakikat manusia yang luhur dan kebutuhannya yang menyeluruh. Bahkan hal itu lebih nyata daripada penunjukan dan kesaksian yang diberikan oleh adanya kebutuhan di dalam lambung manusia atas adanya makanan, serta lebih kuat memberitahukan terwujudnya.
Dan hal itu membuktikan bahwa seandainya hasil-hasil hakikat kebangkitan ini keluar dari kemanusiaan, maka jati diri manusia yang sangat penting, tinggi, dan penuh kehidupan itu akan jatuh menjadi seperti bangkai yang menjijikkan lagi menjadi sarang kuman.
Hendaklah telinga para ahli masyarakat, ahli politik, dan ahli akhlak — yang begitu bersangkut paut dengan pengaturan, akhlak, dan urusan bermasyarakat manusia — berdenging! Silakan mereka datang: dengan apa mereka dapat mengisi kekosongan ini dan dengan apa mereka dapat mengobati luka-luka yang dalam ini? POIN KEDUA: Poin ini menjelaskan secara amat ringkas satu burhan dari burhan-burhan hakikat kebangkitan yang tak terhingga, yaitu burhan yang keluar dari saripati kesaksian-kesaksian yang datang dari rukun-rukun iman yang lain. Yaitu sebagai berikut:
Seluruh mukjizat yang menunjukkan kerasulan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, seluruh dalil kenabian beliau, dan seluruh burhan kebenaran beliau sekaligus bersaksi dan membuktikan terwujudnya hakikat kebangkitan. Sebab seluruh dakwaan beliau sepanjang hidupnya terpusat pada kebangkitan setelah keesaan Allah. Demikian pula seluruh mukjizat dan hujah yang membenarkan segenap nabi dan yang menjadikan mereka dibenarkan, bersaksi atas hakikat yang sama. Demikian pula kesaksian وَ كُتُبِه۪ yang menaikkan kesaksian yang datang dari kalimat وَ بِرُسُلِه۪ sampai ke derajat terang benderang, bersaksi pula atas hakikat yang sama. Yaitu sebagai berikut:
Pertama-tama, seluruh mukjizat, hujah, dan hakikat yang membuktikan kebenaran Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân sekaligus bersaksi dan membuktikan terwujud serta terjadinya hakikat kebangkitan. Sebab hampir sepertiga dari Al-Qur'an adalah kebangkitan, dan pada awal kebanyakan surahnya yang pendek terdapat ayat-ayat kebangkitan yang sangat kuat. Dengan terang
dan dengan isyarat, melalui ribuan ayatnya ia memberitakan, membuktikan, dan memperlihatkan hakikat yang sama. Misalnya, pada awal tiga puluh empat puluh surah seperti اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ ٭ يَٓا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَىْءٌ عَظ۪يمٌ ٭ اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَا ٭ اِذَا السَّمَٓاءُ انْفَطَرَتْ ٭ اِذَا السَّمَٓاءُ انْشَقَّتْ ٭ عَمَّ يَتَسَٓاءَلُونَ ٭ هَلْ اَتٰيكَ حَد۪يثُ الْغَاشِيَةِ di samping memperlihatkan dengan segala kepastian bahwa hakikat kebangkitan merupakan hakikat kainat yang paling penting dan yang mesti ada, pada ayat-ayatnya yang lain pun ia menjelaskan berbagai macam dalil hakikat itu lalu meyakinkan.
Adakah satu segi kemungkinan pun — sebagaimana mengingkari matahari, bahkan sebagaimana menganggap kainat tidak ada — bahwa iman kepada kebangkitan, yang terbit bagaikan matahari melalui ribuan kesaksian dan dakwaan semacam itu dari sebuah kitab yang satu isyarat dari satu ayatnya saja membuahkan sekian banyak hakikat ilmiah dan hakikat alam di dalam ilmu-ilmu keislaman di depan mata kita, ternyata tidak memiliki hakikat? Dan bukankah hal itu seratus derajat mustahil dan batil?
Apakah mungkin, sementara demi agar satu isyarat seorang sultan tidak menjadi dusta kadang sebuah pasukan bergerak dan bertempur, ribuan perkataan, janji, dan ancaman sultan yang teramat serius lagi penuh kemuliaan itu dinyatakan dusta dari segi mana pun? Dan mungkinkah semua itu tidak memiliki hakikat?
Apakah, sementara satu isyarat saja dari Sultan maknawi yang berwibawa ini — yang selama tiga belas abad tanpa henti memerintah, mendidik, dan mengatur ruh, akal, kalbu, dan nafsu yang tak terhingga di dalam lingkaran haq dan hakikat — sudah cukup untuk membuktikan hakikat semacam ini, maka setelah ia memperlihatkan dan membuktikan hakikat kebangkitan ini dengan ribuan penjelasan yang terang, tidakkah azab neraka menjadi keharusan bagi orang bodoh lagi dungu yang tidak mengakui hakikat itu, dan tidakkah hal itu merupakan keadilan itu sendiri?
Demikian pula seluruh suhuf samawi dan kitab-kitab suci yang masing-masing berkuasa atas satu masa dan satu zaman: mereka menerima dengan pasti hakikat kebangkitan — yang dijelaskan dan dibuktikan berulang-ulang secara terperinci dan dengan berbagai keterangan oleh Al-Qur'an yang berkuasa atas seluruh masa depan dan segenap zaman — sesuai dengan abad dan zaman mereka masing-masing; dan penjelasan mereka atas hakikat itu tanpa perincian, di balik tabir, serta secara ringkas, namun dengan mengakui dan membuktikannya secara kuat, membenarkan dakwaan Al-Qur'an dengan ribuan tanda tangan.
Berkaitan dengan pembahasan ini, sebuah hujah kebangkitan yang teramat kuat, ringkas padat, dan melenyapkan seluruh waswas — yaitu kesaksian rukun-rukun iman yang lain, khususnya rukun "rusul" dan "kutub", terhadap rukun "iman bil yaumil akhir", yang disebutkan dalam bentuk munajat pada akhir Risalah Munajat — masuk ke sini apa adanya. Yakni, di dalam Munajat itu beliau berkata:
Wahai Rabb-ku Yang Rahîm! Dengan pengajaran Rasul-Mu Yang Termulia صلى الله عليه وسلم dan dengan pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm-Mu, aku memahami bahwa: seluruh kitab suci dan seluruh nabi — terutama Al-Qur'an dan Rasul-Mu Yang Termulia صلى الله عليه وسلم — bersaksi, menunjukkan, dan mengisyaratkan dengan ijmak dan kesepakatan bahwa tajalli nama-nama keagungan dan keindahan-Mu, yang contoh-contohnya terlihat di dunia ini dan di segala penjuru, akan terus berlangsung selama-lamanya dalam bentuk yang jauh lebih cemerlang; bahwa karunia-karunia-Mu, yang manifestasi penuh rahmat dan contoh-contohnya disaksikan di alam fana ini, akan terus ada dan kekal selamanya di negeri kebahagiaan dalam bentuk yang jauh lebih gemerlap; dan bahwa para perindu yang di dalam kehidupan dunia yang singkat ini memandang karunia-karunia itu dengan zauk serta menyertainya dengan kecintaan, akan tetap menyertainya dan berada bersamanya di alam yang kekal selamanya.
Dan dengan bersandar kepada ratusan mukjizat mereka yang terang-benderang dan ayat-ayat mereka yang memutuskan — terutama mukjizat Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur'an Al-Hakîm — para nabi yang merupakan pemilik seluruh ruh yang bercahaya, para wali yang merupakan kutub seluruh hati yang bercahaya, dan para siddiqin yang merupakan sumber seluruh akal yang tajam lagi bercahaya; dengan bersandar kepada ribuan janji dan ancaman yang berulang-ulang Engkau nyatakan di dalam seluruh suhuf samawi dan kitab-kitab suci; dengan berpegang kepada sifat-sifat suci-Mu yang mengharuskan adanya akhirat — seperti kudrat, rahmat, inayah, hikmah, jalal, dan jamal-Mu — kepada syuun-Mu, kepada keperkasaan dan keagungan-Mu, serta kepada kerajaan rububiyah-Mu; dan berlandaskan kepada kasyaf mereka yang tak terhingga dan kepada apa yang mereka saksikan langsung, yang mengabarkan jejak-jejak dan rembesan-rembesan akhirat, juga kepada keyakinan dan iman mereka yang berada pada derajat ilmul yakin dan ainul yakin — mereka menyampaikan kabar gembira kebahagiaan abadi kepada manusia. Mereka mengabarkan dan mengumumkan bahwa neraka Jahanam itu ada bagi orang-orang yang sesat dan surga itu ada bagi orang-orang yang mendapat hidayah; mereka pun beriman dengan kuat dan bersaksi atas hal itu.
Wahai Sang Qadîr Yang Hakîm! Wahai Ar-Rahmân Yang Rahîm! Wahai Zat Yang Mahabenar dalam janji lagi Mahamulia! Wahai Pemilik keperkasaan, kebesaran, dan keagungan, Sang Qahhâr Dzul-Jalâl! Menjadikan pendusta dan mendustakan sekian banyak sahabat-Mu yang setia, sekian banyak janji-Mu, serta sekian banyak sifat dan syuunat-Mu; mendustakan tuntutan pasti dari kerajaan rububiyah-Mu lalu tidak menunaikannya; dan terhadap hamba-hamba-Mu yang tak terhingga banyaknya lagi diterima di sisi-Mu — yaitu mereka yang Engkau cintai dan yang dengan membenarkan serta menaati-Mu telah membuat diri mereka
dicintai oleh-Mu — menolak dan tidak mendengarkan doa-doa serta tuntutan-tuntutan mereka yang tak terhingga yang tertuju kepada akhirat; lalu membenarkan orang-orang yang sesat dan orang-orang kafir dalam mengingkari kebangkitan — yaitu mereka yang dengan kufur dan pembangkangan, dan dengan mendustakan janji-Mu, menyentuh keagungan dan kebesaran-Mu, melukai keperkasaan dan keagungan-Mu, mengusik kehormatan keilahian-Mu, serta menyedihkan kasih sayang rububiyah-Mu — dari semua itu Engkau Mahasuci seratus ribu derajat, Mahabersih dan Mahatinggi tanpa batas. Dari kezaliman yang tiada berujung dan keburukan yang tiada berujung seperti itu, kami menyucikan sesuci-sucinya keadilan-Mu yang tiada berujung, keindahan-Mu yang tiada berujung, dan rahmat-Mu yang tak terhingga.
Dan dengan segenap kekuatan kami, kami mengimani bahwa: kesaksian para nabi, asfiya, dan wali — yaitu ratusan ribu utusan-Mu yang setia dan para penyeru kerajaan-Mu yang benar lagi tak terhingga banyaknya — dalam bentuk haqqul yakin, ainul yakin, dan ilmul yakin, tentang khazanah-khazanah rahmat ukhrawi-Mu, tentang simpanan-simpanan karunia-Mu di alam yang kekal, serta tentang manifestasi yang indah lagi menakjubkan dari asma-Mu yang indah, yang tampak dengan sempurna di negeri kebahagiaan — kesaksian itu adalah haq dan hakikat; isyarat mereka benar dan tepat; kabar gembira mereka jujur dan nyata terjadi. Dan mereka, dengan mengimani bahwa satu sinar terbesar dari nama "Al-Haq" — nama yang merupakan tempat kembali, matahari, dan pelindung seluruh hakikat — adalah hakikat kebangkitan yang teragung ini, dengan perintah-Mu memberikan pelajaran kepada hamba-hamba-Mu di dalam lingkaran kebenaran, dan mengajarkannya sebagai hakikat itu sendiri.
Wahai Rabb! Demi kebenaran dan kehormatan pelajaran serta pengajaran mereka, berikanlah kepada kami dan kepada para murid Risale-i Nur iman yang paling sempurna dan Husnul Khatimah; dan jadikanlah kami memperoleh syafaat mereka. Amin!
Kemudian, sebagaimana seluruh dalil dan hujah yang membuktikan kebenaran Al-Qur'an, bahkan kebenaran seluruh kitab samawi, serta seluruh mukjizat dan burhan yang membuktikan kenabian Habibullah صلى الله عليه وسلم, bahkan kenabian seluruh nabi, dengan sendirinya menunjukkan nyatanya akhirat yang merupakan dakwaan terbesar mereka; demikian pula kebanyakan dalil dan hujah yang bersaksi atas wujud dan kesatuan Wâjibul Wujûd, dengan sendirinya bersaksi atas adanya dan terbukanya negeri kebahagiaan serta alam yang kekal selamanya — yang merupakan sumber dan tempat tampaknya (mazhar) yang terbesar bagi rububiyah dan keilahian.
Sebab, sebagaimana akan dijelaskan dan dibuktikan pada maqam-maqam berikutnya, wujud Zat Wâjibul Wujûd, seluruh sifat-Nya, sebagian besar asma-Nya, serta sifat-sifat dan syuunat-Nya seperti rububiyah, keilahian, rahmat, inayah, hikmah, dan keadilan — semuanya menuntut adanya akhirat pada derajat keharusan, dan
mengharuskan adanya alam yang kekal selamanya pada derajat kewajiban, serta menghendaki kebangkitan (hasyr) dan penyebaran demi pahala dan siksa pada derajat kepastian mutlak.
Ya, selama ada Allah Yang Azali dan Abadi, maka sudah pasti ada akhirat yang merupakan sumber kekal selamanya bagi kerajaan keilahian-Nya. Dan selama di dalam kainat ini dan pada makhluk hidup terdapat rububiyah mutlak yang teramat megah, penuh hikmah, dan penuh kasih sayang — dan hal itu terlihat nyata — maka sudah pasti akan didapati dan akan dimasuki sebuah negeri kebahagiaan yang abadi, yang menyelamatkan kemegahan rububiyah itu dari kejatuhan, hikmahnya dari kesia-siaan, dan kasih sayangnya dari ketidakadilan.
Kemudian, selama sekian banyak pemberian nikmat, karunia, kelembutan, kemurahan, inayah, dan rahmat yang tak terhingga dan terlihat dengan mata ini memperlihatkan kepada akal yang belum padam dan hati yang belum mati bahwa di balik tabir gaib ada Zat Ar-Rahmân Yang Rahîm; maka sudah pasti ada dan akan ada sebuah kehidupan yang kekal selamanya di dalam alam yang kekal selamanya — kehidupan yang menyelamatkan pemberian nikmat dari ejekan, karunia dari tipuan, inayah dari permusuhan, rahmat dari azab, serta kelembutan dan kemurahan dari pengkhianatan; kehidupan yang menjadikan karunia benar-benar karunia dan nikmat benar-benar nikmat.
Kemudian, selama pena kudrat yang pada musim semi menuliskan seratus ribu kitab tanpa satu kesalahan pun, saling bertumpang-tindih, di atas lembaran bumi yang sempit ini bekerja tanpa lelah di depan mata kita; dan selama Pemilik pena itu telah seratus ribu kali mengikat janji dan berjanji seraya menyebut kitab itu di dalam seluruh firman-Nya: "Di tempat yang luas Aku akan menuliskan sebuah kitab yang indah dan tidak akan pernah mati, jauh lebih mudah daripada kitab musim semi yang ditulis bercampur dan bertumpang-tindih di tempat yang sempit ini, lalu Aku akan membuat kalian membacanya." — maka sudah pasti dan mesti bahwa pokok kitab itu telah dituliskan, catatan-catatan kakinya pun akan dituliskan melalui kebangkitan (hasyr) dan penyebaran, dan buku catatan amal semua orang akan dicatat di dalamnya.
Kemudian, selama bumi ini — dari sisi banyaknya makhluk dan dari sisi kedudukannya sebagai tempat tinggal, tempat asal, pabrik, balai pameran, dan mahsyar bagi ratusan ribu jenis makhluk hidup dan makhluk bernyawa yang beraneka ragam serta terus-menerus berganti — memiliki arti penting yang demikian besar sebagai hati, pusat, saripati, hasil, dan sebab penciptaan kainat ini, sehingga meskipun ia kecil, ia disetarakan dengan langit-langit yang mahabesar. Di dalam firman-firman samawi selalu dikatakan رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضِ.
Dan selama ada jenis bani Adam yang berkuasa atas seluruh penjuru bumi yang bersifat demikian, yang mengatur sebagian besar makhluknya, yang menundukkan sebagian besar makhluk hidup lalu membuatnya berkumpul di sekelilingnya, yang menata, memamerkan, dan menghiasi sebagian besar ciptaan dengan rancangan hawa nafsunya serta dengan kaidah-kaidah kebutuhannya sedemikian indah, dan yang mengumpulkan banyak jenis antik di tempat-tempat tertentu bagaikan sebuah daftar
lalu menghiasinya sedemikian rupa sehingga ia menarik bukan hanya pandangan manusia dan jin, melainkan juga perhatian dan penghargaan penghuni langit dan kainat, bahkan pandangan penuh pujian dari Pemilik kainat, sehingga ia memperoleh arti penting dan nilai yang teramat besar; jenis bani Adam yang dari sisi ini menunjukkan dengan ilmu dan seninya bahwa ia adalah hikmah penciptaan kainat ini, hasilnya yang besar, buahnya yang berharga, dan khalifah di bumi; dan yang karena telah memamerkan serta menata dengan sangat indah karya-karya seni Sang Pembuat seluruh alam yang penuh mukjizat pada sisi dunia ini, maka meskipun ia durhaka dan kufur, ia tetap dibiarkan hidup di dunia, azabnya ditunda, dan demi khidmah ini ia diberi tangguh serta meraih keberhasilan.
Dan selama bagi jenis bani Adam yang bersifat demikian ini — yang dari sisi tabiat dan penciptaannya teramat lemah dan tidak berdaya, yang bersama kelemahan dan kefakirannya yang sangat itu memiliki kebutuhan dan derita yang tak terhingga — terdapat Zat Yang Mahamengatur, teramat kuat, penuh hikmah, dan penuh kasih sayang, yang sama sekali di atas seluruh kekuatan dan kehendak manusia telah menjadikan bumi yang mahabesar ini sebagai gudang bagi segala jenis barang tambang yang dibutuhkan jenis manusia itu, sebagai lumbung bagi segala jenis makanan, dan sebagai toko bagi segala macam barang yang menyenangkan hati jenis manusia; Zat itulah yang memperhatikan jenis manusia seperti ini, memberinya makan, dan memberikan apa yang dimintanya.
Dan selama Rabb yang memiliki hakikat demikian mencintai manusia sekaligus membuat diri-Nya dicintai manusia, selama Dia kekal selamanya dan memiliki alam-alam yang kekal selamanya, selama Dia menyelesaikan setiap urusan dengan keadilan dan mengerjakan segala sesuatu dengan hikmah; dan selama kemegahan kerajaan Sang Penguasa Yang Azali itu serta kekuasaan-Nya yang kekal selamanya tidak dapat termuat di dalam kehidupan dunia yang singkat ini, di dalam umur manusia yang teramat pendek ini, dan di atas bumi yang sementara lagi fana ini.
Dan selama kezaliman serta pembangkangan yang teramat besar yang terjadi pada jenis manusia — yang bertentangan dan berlawanan dengan keteraturan kainat, dengan keadilan dan timbangan-timbangannya, serta dengan kebagusan dan keindahannya — juga pengkhianatan, pengingkaran, dan kufur mereka terhadap Zat Yang Memberi nikmat kepada mereka dan yang memelihara mereka dengan kasih sayang, semuanya tinggal tanpa hukuman di dunia ini, sehingga si zalim yang bengis menjalani hidupnya dengan nyaman sedangkan orang teraniaya yang tidak berdaya melewatkan umurnya di dalam kesusahan. Adapun hakikat keadilan mutlak yang jejak-jejaknya terlihat di seluruh kainat sama sekali bertentangan dengan disamakannya si zalim yang bengis itu dengan orang teraniaya yang berputus asa di dalam kematian — yaitu dengan cara tidak dibangkitkan kembali; keadilan itu tidak menerimanya dan tidak mengizinkannya!
Dan selama Pemilik kainat telah memilih bumi dari antara kainat dan memilih jenis manusia dari antara isi bumi, lalu memberi mereka kedudukan dan arti penting yang teramat besar; demikian pula dari antara jenis manusia Dia memilih mereka yang selaras dengan maksud-maksud rububiyah-Nya
dan yang dengan iman serta penyerahan diri telah membuat diri mereka dicintai oleh-Nya — yaitu manusia-manusia sejati: para nabi, para wali, dan para asfiya — lalu Dia menjadikan mereka sahabat dan lawan bicara-Nya, memuliakan mereka dengan mukjizat-mukjizat dan taufik, serta menyiksa musuh-musuh mereka dengan tamparan-tamparan samawi.
Dan dari antara sahabat-sahabat-Nya yang berharga lagi tercinta itu pun Dia memilih Muhammad صلى الله عليه وسلم — imam dan kebanggaan mereka — lalu selama berabad-abad yang panjang Dia menerangi separuh bumi yang penting ini dan seperlima dari jenis manusia yang penting ini dengan cahaya beliau. Seakan-akan kainat ini diciptakan untuk beliau; seluruh tujuannya tampak nyata melalui beliau, melalui agama beliau, dan melalui Al-Qur'an beliau.
Dan sementara beliau berhak serta layak menerima upah dari khidmah-khidmahnya yang tak terhingga, yang demikian berharga dan setara dengan hidup jutaan tahun, di dalam waktu yang tak terhingga pula, kepada beliau justru hanya diberikan umur yang teramat pendek, sekitar enam puluh tiga tahun, yang dilalui di dalam kesusahan dan perjuangan yang sangat berat. Adakah dari sisi mana pun satu kemungkinan, satu peluang, atau satu kelayakan sekalipun bahwa sosok itu, beserta seluruh orang yang semisal dan seluruh sahabat beliau, tidak akan dibangkitkan dan sekarang pun tidak hidup secara ruhani? Bahwa mereka lenyap dengan hukuman mati abadi? Mustahil, seratus ribu kali mustahil dan sekali-kali tidak mungkin! Ya, seluruh kainat dan hakikat alam menuntut kebangkitan beliau dan memohon kehidupan beliau kepada Pemilik kainat.
Dan selama di dalam Ayatul Kubra, yaitu Sinar Ketujuh, tiga puluh tiga ijmak agung yang masing-masing sekuat gunung telah membuktikan bahwa: kainat ini keluar dari satu tangan dan menjadi milik satu Zat semata; dan telah memperlihatkan dengan sangat nyata kesatuan serta ahadiyah-Nya yang menjadi sumber segala kesempurnaan Ilahi. Dan dengan kesatuan serta ahadiyah itu, seluruh kainat menjadi laksana prajurit-prajurit yang siap menanti perintah dan petugas-petugas yang tunduk kepada Zat Yang Wâhid itu. Dan dengan datangnya akhirat, kesempurnaan-Nya terlepas dari jatuh dan merosot, keadilan-Nya yang mutlak terlepas dari kezaliman mutlak yang penuh ejekan, hikmah-Nya yang meliputi segala sesuatu terlepas dari perbuatan sia-sia yang sembrono, rahmat-Nya yang luas terlepas dari siksaan yang seolah main-main, dan keperkasaan kudrat-Nya terlepas dari kelemahan yang hina; semuanya selamat dan tersucikan.
Sudah pasti, sungguh pasti, dan bagaimanapun juga — dengan tuntutan hakikat-hakikat yang terkandung dalam keenam premis "selama" ini, yang merupakan bagian dari ratusan nukta iman kepada Allah — kiamat pasti akan terjadi, kebangkitan (hasyr) dan penyebaran pasti akan berlangsung, dan negeri hukuman serta balasan pasti akan dibuka. Supaya arti penting bumi yang telah disebutkan tadi dan kedudukannya sebagai pusat, serta arti penting dan nilai manusia, benar-benar terbukti. Dan supaya keadilan, hikmah, rahmat, dan kerajaan Sang Pengatur Yang Hakîm — Khâliq dan Rabb bumi serta manusia — yang telah disebutkan tadi dapat tegak dengan kokoh. Dan supaya para sahabat sejati dan para perindu Rabb Yang Mahakekal itu, yang telah disebutkan tadi,
terselamatkan dari hukuman mati abadi. Dan supaya yang paling agung dan paling berharga di antara para sahabat itu melihat balasan bagi khidmah-khidmah sucinya yang membuat seluruh kainat senang dan berterima kasih. Dan supaya kesempurnaan Sang Sultan Yang Kekal Selamanya suci dari kekurangan dan cacat, kudrat-Nya suci dari kelemahan, hikmah-Nya suci dari kesembronoan, dan keadilan-Nya suci dari kezaliman; sungguh Dia bersih, tersucikan, dan berlepas diri dari semua itu.