Kesimpulannya,
Sinar-Sinar · hlm. 20
kekuasaan, kebesaran, kesempurnaan, cakupan, sifat mutlak, dan sifat yang tidak berujung yang ada pada tiap-tiap dari ribuan perbuatan menyeluruh yang terlihat di dalam kainat dan pada tiap-tiap dari ratusan asma Ilahi yang manifestasinya tampak; semua itu adalah burhan yang sangat kuat bagi keesaan dan tauhid.
Dan sebagaimana sebuah kekuatan yang luar biasa, untuk masuk ke dalam gerak kerjanya, ia hendak menguasai dan mencerai-beraikan kekuatan-kekuatan lain; demikian pula setiap perbuatan rububiyah dan setiap manifestasi asma keilahian, kekuatan luar biasa yang tampak pada karya-karyanya sedemikian besar sehingga, seandainya tidak ada hikmah yang menyeluruh dan keadilan mutlak yang menahannya, niscaya masing-masing akan menguasai seluruh yang ada. Sebagai contoh, sebuah kekuatan yang menciptakan pohon poplar di seluruh permukaan bumi dan mengatur urusannya, mungkinkah ia tidak memasukkan pohon-pohon juz'i seperti kenari, apel, dan aprikot, yang tumbuh berdampingan dengan poplar itu serta tersebar dan bercampur di antara kelompoknya, ke bawah kekuatan menyeluruh yang menggenggam seluruh jenis poplar itu sekaligus dan ke dalam pengaturannya; mungkinkah ia tidak menguasainya, lalu membiarkannya direbut oleh kekuatan-kekuatan lain?
Ya, pada setiap jenis makhluk, bahkan pada setiap individunya, terasa adanya kekuatan dan kudrat yang bertasarruf, yang jati dirinya tampak mampu menguasai seluruh kainat, menggenggam seluruh benda, dan menundukkan seluruh yang ada di bawah hukum-Nya. Sudah pasti kekuatan semacam ini tidak dapat menerima persekutuan dari segi mana pun dan tidak memberi peluang bagi syirik.
Dan sebagaimana pemilik sebuah pohon yang berbuah, sisi dan bagian yang paling ia pentingkan dan paling menarik perhatiannya dari pohon itu adalah buah-buahnya, hasil yang berada di ujung-ujung dahannya, serta biji yang berada di dalam hati buah-buah itu untuk menjadi benih dan yang sekaligus merupakan hati buah itu sendiri. Dan pemiliknya, jika ia berakal, tidak akan menyerahkan buah-buah di dahan itu kepada orang lain sebagai milik tetap sehingga ia merusak hak miliknya dengan sia-sia. Demikian pula persis, unsur-unsur yang menjadi dahan pohon yang bernama kainat ini, tumbuhan dan hewan yang berada di ujung-ujung unsur itu dan berkedudukan sebagai bunga dan daunnya, manusia yang menjadi buah di puncak daun-daun dan bunga-bunga itu, serta
ubudiyah dan syukur mereka yang merupakan buah terpenting, hasil, dan tujuan penciptaan dari buah-buah itu, terutama hati mereka yang merupakan biji penghimpun segala sesuatu dari buah-buah itu, dan juga daya ingat mereka yang disebut punggung hati; semua itu sekali-kali tidak Dia biarkan direbut oleh kekuatan-kekuatan lain dari segi mana pun. Dia tidak meruntuhkan kerajaan rububiyah-Nya dengan membiarkannya direbut, dan tidak pula merusak kedudukan-Nya sebagai Ma'bûd dengan meruntuhkannya.
Dan karena maksud-maksud rububiyah terpusat pada juz'iyat yang berada di ujung terjauh lingkaran segala yang mungkin ada dan lingkaran kemajemukan, bahkan terpusat pada keadaan-keadaan dan sifat-sifat juz'i dari juz'iyat itu; dan karena juz'iyat itulah sumber rasa terima kasih, ucapan syukur, dan sikap menyembah yang terulur kepada Ma'bûd dan memandang kepada-Nya; sudah pasti Dia tidak menyerahkannya ke tangan lain, dan Dia tidak membatalkan hikmah-Nya dengan menyerahkannya. Dan Dia tidak menggugurkan keilahian-Nya dengan membatalkan hikmah-Nya. Sebab maksud Rabbani yang terpenting di dalam penciptaan segala yang ada adalah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk yang memiliki kesadaran, membuat mereka mencintai-Nya, membuat mereka memuji dan menyanjung-Nya, serta menarik rasa terima kasih mereka kepada diri-Nya.
Karena rahasia yang halus inilah, untuk menunjukkan bahwa perbuatan dan pemberian nikmat semacam itu, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, yang berada di ujung paling akhir lingkaran kemajemukan, seperti rezeki dan kesembuhan, terutama hidayah dan iman, yang melahirkan syukur, sikap menyembah, rasa terima kasih, kecintaan, pujian, dan ubudiyah, adalah secara langsung karya, ihsan, anugerah, hadiah, dan perbuatan Khâliq kainat dan Sultan seluruh yang ada; maka Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayan berulang-ulang, misalnya dengan ayat-ayat seperti اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَت۪ينُ ٭ وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْف۪ينِ ٭ اِنَّكَ لَا تَهْد۪ى مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْد۪ى مَنْ يَشَٓاءُ menyandarkan rezeki, hidayah, dan kesembuhan kepada Zat Wâjibul Wujûd; Al-Qur'an menyatakan bahwa menganugerahkan semua itu adalah khusus bagi-Nya dan hanya terbatas pada-Nya, serta dengan sangat keras menolak campur tangan selain-Nya. Ya, nikmat iman yang memenangkan negeri kebahagiaan abadi itu, sudah pasti dan dalam keadaan bagaimanapun, hanyalah nikmat dari Zat Dzul-Jalâl yang menciptakan negeri kebahagiaan itu dan menjadikan iman sebagai kuncinya. Selain Dia tidak dapat menutup jendela terbesar untuk menyembah-Nya dengan menjadi pemberi nikmat sebesar itu, dan tidak dapat merampas sarana yang terpenting itu.