Risale-i NurSinar-Sinar

Makna ringkas dari fikrah Arab ini:

Sinar-Sinar · hlm. 668

Yakni: segala sesuatu terjadi dengan kehendak dan masyîah-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Apa saja yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Jika Dia tidak menghendaki, tidak ada satu pun yang terjadi. Salah satu hujahnya adalah sebagai berikut:

Kita menyaksikan bahwa masing-masing ciptaan ini memiliki diri yang tertentu, sifat yang khusus, hakikat diri yang tersendiri lagi khas, dan rupa yang menonjol lagi berbeda; padahal ia bisa saja ada dalam kemungkinan yang tak terhingga dan dalam bentuk-bentuk yang lain, di tengah kemungkinan-kemungkinan yang mengacaukan, di tengah banyak jalan yang tidak membuahkan hasil, di tengah campur tangan unsur-unsur yang mengalir bagai banjir, yang mengaduk-aduk, dan yang saling bertentangan, serta di tengah sesamanya yang saling menyerupai lagi menjadi sebab salah dan keliru. Maka, di hadapan keadaan yang campur aduk semacam itu — menempatkan setiap ciptaan itu di bawah satu tatanan yang halus, lengkap, lagi rapi; menimbang dan memasang setiap anggota serta perangkatnya dengan ukuran dan timbangan yang peka, teliti, lagi sempurna; memberikan kepada wajahnya sebuah raut yang indah lagi rapi, sebuah kehadiran diri yang nyata lagi khusus; menciptakan anggota-anggotanya yang saling berlawanan dari materi yang sederhana, beku, lagi mati menjadi makhluk hidup dengan seni yang sangat tinggi; misalnya mengadakan manusia dengan seratus perangkatnya yang berbeda-beda dari setetes air, membangun burung dengan sekian banyak alat dan bermacam perangkatnya dari sebutir telur yang sederhana lalu memakaikan kepadanya rupa yang penuh mukjizat, serta mengeluarkan pohon dengan dahan, ranting, dan bermacam anggota serta bagiannya dari sebuah biji kecil yang tersusun dari "karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen" yang sederhana lagi beku, lalu memakaikan kepadanya bentuk yang teratur lagi berbuah — sudah pasti dan pasti, dengan sangat nyata, dengan kepastian yang tak diragukan, pada tingkat wajib, harus, dan mesti, semuanya membuktikan bahwa kepada setiap ciptaan itu, dengan seluruh zarah dan bagiannya, dengan rupa dan hakikat dirinya, keadaan yang khusus lagi sempurna itu diberikan dengan kehendak dan masyîah, dengan pilihan dan maksud dari Sang Qadîr Mutlak. Dan setiap ciptaan berada di bawah ketentuan sebuah kehendak yang meliputi segala sesuatu. Penunjukan satu ciptaan saja kepada kehendak Allah dengan cara yang tak diragukan ini memperlihatkan bahwa seluruh ciptaan adalah persaksian-persaksian yang tak terhingga lagi tak berkesudahan, sebanyak bilangan mereka, atas kehendak Allah yang meliputi segala sesuatu — dengan kepastian yang terang bagai matahari dan siang hari — sekaligus hujah-hujah yang tak terhingga atas wujud yang wajib ada bagi Sang Qadîr lagi Murîd.

Lagi pula, seluruh dalil ilmu Allah yang telah disebutkan sebelumnya persis merupakan dalil bagi kehendak-Nya pula. Sebab keduanya bekerja bersama kudrat. Yang satu tidak akan ada tanpa yang lain. Sebagaimana tawafuk individu-individu setiap jenis dan macam pada anggota-anggota jenis dan macamnya menunjukkan bahwa Sang Pembuat mereka itu satu, Wâhid, lagi Ahad; demikian pula berbedanya raut wajah mereka satu sama lain dengan cara yang penuh hikmah menunjukkan secara pasti bahwa Sang Pembuat Yang Wâhid lagi Ahad itu adalah Pelaku Yang bebas berkehendak. Dengan kehendak, pilihan, masyîah, dan maksud-Nya, Dia menciptakan segala sesuatu.

Demikianlah, terjemahan makna ringkas dari fikrah Arab yang telah disebutkan itu — yang menerangkan satu dalil tunggal lagi menyeluruh mengenai kehendak Allah — telah selesai. Aku telah berniat menuliskan banyak nukta penting mengenai kehendak Allah sebagaimana pada persoalan ilmu. Namun karena penyakit akibat racun itu memberikan kelelahan yang sangat kepada otakku, hal itu ditunda ke waktu yang lain. Adapun fikrah Arab mengenai kudrat: اَللّٰهُ اَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ قُدْرَةً وَ عِلْمًا اِذْ هُوَ الْقَد۪يرُ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ بِقُدْرَةٍ مُطْلَقَةٍ مُح۪يطَةٍ ضَرُورِيَّةٍ نَاشِئَةٍ لَازِمَةٍ ذَاتِيَّةٍ لِلذَّاتِ الْاَقْدَسِيَّةِ فَمُحَالٌ تَدَاخُلُ ضِدِّهَا فَلَا مَرَاتِبَ ف۪يهَا فَتَتَسَاوٰى بِالنِّسْبَةِ اِلَيْهَا الذَّرَّاتُ وَ النُّجُومُ وَ الْجُزْءُ وَ الْكُلُّ وَ الْجُزْئِىُّ وَ الْكُلِّىُّ وَ النُّوَاةُ وَ الشَّجَرُ وَ الْعَالَمُ وَ الْاِنْسَانُ بِسِرِّ مُشَاهَدَةِ غَايَةِ كَمَالِ الْاِنْتِظَامِ الْاِتِّزَانِ الْاِمْتِيَازِ الْاِتْقَانِ الْمُطْلَقَاتِ مَعَ السُّهُولَةِ فِى الْكَثْرَةِ وَ السُّرْعَةِ وَ الْخِلْطَةِ الْمُطْلَقَةِ وَ بِسِرِّ النُّورَانِيَّةِ وَ الشَّفَّافِيَّةِ وَ الْمُقَابَلَةِ وَ الْمُوَازَنَةِ وَ الْاِنْتِظَامِ وَ الْاِمْتِثَالِ وَ بِسِرِّ اِمْدَادِ الْوَاحِدِيَّةِ وَ يُسْرِ الْوَحْدَةِ وَ تَجَلِّى الْاَحَدِيَّةِ وَ بِسِرِّ الْوُجُوبِ وَ التَّجَرُّدِ وَ مُبَايَنَةِ الْمَاهِيَّةِ وَ بِسِرِّ عَدَمِ التَّقَيُّدِ وَ عَدَمِ التَّحَيُّزِ وَ عَدَمِ التَّجَزّ۪ى وَ بِسِرِّ اِنْقِلَابِ الْعَوَائِقِ وَ الْمَوَانِعِ اِلٰى حُكْمِ الْوَسَائِلِ الْمُسَهِّلَاتِ وَ بِسِرِّ اَنَّ الذَّرَّةَ وَ الْجُزْءَ وَ الْجُزْئِىَّ وَ النُّوَاةَ وَ الْاِنْسَانَ لَيْسَتْ بِاَقَلَّ صَنْعَةً وَ جَزَالَةً مِنَ النَّجْمِ وَ الْكُلِّ وَ الْكُلِّىِّ وَ الشَّجَرِ وَ الْعَالَمِ

فَخَالِقُهَا هُوَ خَالِقُ هٰذِه۪ بِالْحَدْسِ الشُّهُودِىِّ وَ بِسِرِّ اَنَّ الْمُحَاطَ وَ الْجُزْئِيَّاتِ كَالْاَمْثِلَةِ الْمَكْتُوبَةِ الْمُصَغَّرَةِ اَوْ كَالنُّقَطِ الْمَحْلُوبَةِ الْمُعَصَّرَةِ فَلَا بُدَّ اَنْ يَكُونَ الْمُح۪يطُ وَ الْكُلِّيَّاتُ ف۪ى قَبْضَةِ خَالِقِ الْمُحَاطِ وَ الْجُزْئِيَّاتِ لِيُدْرِجَ مِثَالَهَا ف۪يهَا بِمَوَاز۪ينِ عِلْمِه۪ اَوْ يُعَصِّرَهَا مِنْهَا بِدَسَات۪يرِ حِكْمَتِه۪ وَ بِسِرِّ كَمَا اَنَّ قُرْاٰنَ الْعِزَّةَ الْمَكْتُوبَ عَلَى الذَّرَّةِ الْمُسَمَّاةِ بِالْجَوْهَرِ الْفَرْدِ بِذَرَّاتِ الْاَث۪يرِ لَيْسَ بِاَقَلَّ جَزَالَةً وَ خَارِقِيَّةَ صَنْعَةٍ مِنْ قُرْاٰنِ الْعَظَمَةِ الْمَكْتُوبِ عَلٰى صَح۪يفَةِ السَّمَاءِ بِمِدَادِ النُّجُومِ وَ الشُّمُوسِ كَذٰلِكَ اَنَّ وَرْدَ الزُّهْرَةِ لَيْسَتْ بِاَقَلَّ جَزَالَةً وَ صَنْعَةً مِنْ دُرِّىِّ نَجْمِ الزُّهْرَةِ وَ لَا النَّمْلَةُ مِنَ الْف۪يلَةِ وَ لَا الْمِكْرُوبُ مِنَ الْكَرْكَدَانِ وَ لَا النَّحْلَةُ مِنَ النَّخْلَةِ بِالنِّسْبَةِ اِلٰى قُدْرَةِ خَالِقِ الْكَائِنَاتِ فَكَمَا اَنَّ غَايَةَ كَمَالِ السُّرْعَةِ وَ السُّهُولَةِ ف۪ى ا۪يجَادِ الْاَشْيَاءِ اَوْقَعَتْ اَهْلَ الضَّلَالَةِ ف۪ى اِلْتِبَاسِ التَّشْك۪يلِ بِالتَّشَكُّلِ الْمُسْتَلْزِمِ لِمُحَالَاتٍ غَيْرِ مَحْدُودَةٍ تَمُجُّهَا الْاَوْهَامُ كَذٰلِكَ اَثْبَتَتْ لِاَهْلِ الْهِدَايَةِ تَسَاوِىَ النُّجُومِ مَعَ الذَّرَّاتِ بِالنِّسْبَةِ اِلٰى قُدْرَةِ خَالِقِ الْكَائِنَاتِ جَلَّ جَلَالُهُ وَ لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ اللّٰهُ اَكْبَرُ

Sebelum semacam terjemahan dari makna ringkas fikrah Arab mengenai persoalan kudrat yang teramat agung ini, kami terangkan sebuah hakikat yang diperingatkan ke dalam hati. Yaitu demikian:

Wujud kudrat itu lebih pasti daripada wujud kainat. Bahkan seluruh makhluk, masing-masingnya sekaligus semuanya, adalah kalimat-kalimat kudrat itu yang berwujud nyata. Mereka memperlihatkan wujud kudrat itu secara ainul yakin. Mereka bersaksi sebanyak bilangan mereka kepada Sang Qadîr Mutlak yang menyandang sifat kudrat itu. Tidak lagi diperlukan hujah-hujah lain untuk membuktikan kudrat itu. Bahkan, sebuah asas yang paling penting dalam iman, sebuah batu fondasi yang paling kuat bagi kebangkitan dan penyebaran, serta sebuah sumber yang paling diperlukan bagi banyak persoalan iman dan hakikat-hakikat Al-Qur'an —

yaitu sebuah hakikat dahsyat mengenai kudrat, yang dituntut oleh ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ , dan yang karena seluruh akal tidak menemukan jalan kepadanya lalu mereka tinggal dalam kebingungan dan kelemahan, bahkan sebagian mereka tinggal dalam pengingkaran — hakikat itulah yang harus dibuktikan.

Adapun asas itu, fondasi itu, sumber itu, tuntutan itu, dan hakikat itu adalah makna ayat yang telah disebutkan. Yakni: "Wahai jin dan manusia! Penciptaan kalian semua, pengadaan kalian, serta penghidupan dan pembangkitan kalian pada hari kebangkitan, adalah mudah bagi kudrat-Ku seperti mengadakan satu diri saja." Dia mengadakan satu musim semi semudah mengadakan satu kuntum bunga. Yang juz'i dan yang menyeluruh, yang kecil dan yang besar, yang sedikit dan yang banyak — dibandingkan dengan kudrat itu tidak ada bedanya. Dia memutar planet-planet semudah memutar zarah-zarah.

Maka fikrah Arab yang telah disebutkan itu menerangkan sebuah hujah yang sangat pasti lagi kuat, khusus bagi persoalan yang dahsyat ini saja, dengan sembilan anak tangga. Makna yang sangat ringkasnya adalah sebagai berikut. Yang mengisyaratkan kepada asas anak tangga itu: اِذْ هُوَ الْقَد۪يرُ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ بِقُدْرَةٍ مُطْلَقَةٍ مُح۪يطَةٍ ضَرُورِيَّةٍ نَاشِئَةٍ لَازِمَةٍ ذَاتِيَّةٍ لِلذَّاتِ الْاَقْدَسِيَّةِ فَمُحَالٌ تَدَاخُلُ ضِدِّهَا فَلَا مَرَاتِبَ ف۪يهَا فَتَتَسَاوٰى بِالنِّسْبَةِ اِلَيْهَا الذَّرَّاتُ وَ النُّجُومُ وَ الْجُزْءُ وَ الْكُلُّ وَ الْجُزْئِىُّ وَ الْكُلِّىُّ وَ النُّوَاةُ وَ الشَّجَرُ وَ الْعَالَمُ وَ الْاِنْسَانُ

Yakni: Dia memiliki kudrat yang berkuasa atas segala sesuatu, yang meliputi seluruh benda, dan yang bagi Zat Wâjibul Wujûd merupakan sesuatu yang mesti dengan keharusan yang berasal dari Zat-Nya sendiri — dalam istilah ilmu mantik: dengan keharusan yang lahir dari Zat itu sendiri — ia mesti, ia wajib, terpisahnya mustahil, tidak ada kemungkinan untuk itu.

Selama kudrat semacam itu ada pada Zat Yang Mahasuci dengan keharusan semacam itu, maka sudah pasti kelemahan yang menjadi lawannya tidak dapat masuk ke dalamnya dari sisi mana pun dan tidak dapat menimpa Zat Yang Qadîr.

Selama adanya tingkatan-tingkatan pada sesuatu itu hanya terjadi karena masuknya lawan dari sesuatu itu — misalnya derajat dan tingkatan panas terjadi karena masuknya dingin, dan tingkatan kebagusan terjadi karena campur tangan keburukan — sementara kelemahan yang menjadi lawan kudrat zati ini sama sekali tidak mungkin mendekatinya dari sisi mana pun, maka sudah pasti pada kudrat mutlak itu tidak terdapat tingkatan-tingkatan.

Selama tingkatan-tingkatan tidak terdapat padanya, maka sudah pasti bintang-bintang dan zarah-zarah adalah sama jika dibandingkan dengan kudrat itu; bagian dan keseluruhan, satu individu dan seluruh jenis, tidak ada bedanya di hadapan kudrat itu. Dan sebuah biji dengan pohon yang besar, kainat dan manusia, menghidupkan satu diri dan menghidupkan seluruh makhluk bernyawa pada hari kebangkitan, semuanya sama dan mudah jika dibandingkan dengan kudrat itu. Besar dan kecil, sedikit dan banyak, tidak ada bedanya.

Saksi yang pasti bagi hakikat ini adalah kesempurnaan seni, tatanan, timbangan, dan pembedaan yang kita lihat pada penciptaan segala sesuatu, serta kemudahan mutlak dan kegampangan yang sempurna di tengah kemajemukan dan kecepatan mutlak.

ANAK TANGGA PERTAMA, yaitu بِسِرِّ مُشَاهَدَةِ غَايَةِ كَمَالِ الْاِنْتِظَامِ الْاِتِّزَانِ الْاِمْتِيَازِ الْاِتْقَانِ الْمُطْلَقَاتِ مَعَ السُّهُولَةِ الْمُطْلَقَةِ فِى الْكَثْرَةِ وَ السُّرْعَةِ وَ الْخِلْطَةِ , maknanya adalah hakikat yang telah disebutkan itu. ANAK TANGGA KEDUA:

وَ بِسِرِّ النُّورَانِيَّةِ وَ الشَّفَّافِيَّةِ وَ الْمُقَابَلَةِ وَ الْمُوَازَنَةِ وَ الْاِنْتِظَامِ وَ الْاِمْتِثَالِ . Penjelasan dan perinciannya kami serahkan kepada akhir Kelimat Kesepuluh, kepada Kelimat Kedua Puluh Sembilan, dan kepada Surat Kedua Puluh, lalu kami memberikan isyarat secara singkat.

Ya, sebagaimana dari sisi sifat bercahaya, masuknya sinar matahari serta pantulannya ke permukaan laut dan ke seluruh gelembungnya dengan kudrat Rabbani adalah semudah masuknya ke sekeping kaca saja — keduanya sama; demikian pula kudrat yang bercahaya dari Zat Nûrul-Anwâr: menciptakan langit dan bintang-bintang lalu memutarnya adalah mudah bagi-Nya seperti mengadakan lalat dan zarah-zarah lalu memutarnya, tidak terasa berat bagi-Nya.

Dan sebagaimana pula, dengan sifat bening yang khas, bentuk bayangan matahari hadir di dalam sebuah cermin kecil dan di dalam biji mata dengan kudrat Ilahi, maka dengan kemudahan yang sama pula pantulan dan cahayanya itu diberikan dengan perintah Ilahi kepada seluruh benda yang berkilau, kepada tetes-tetes air, kepada zarah-zarah kecil yang bening, dan kepada permukaan lautan.

Demikian pula, karena sisi malakut dan sisi hakikat diri dari ciptaan-ciptaan itu bening lagi berkilau, maka manifestasi dan pengaruh kudrat mutlak menciptakan seluruh hewan dengan kemudahan sederajat dengan hadirnya kudrat itu di dalam penciptaan satu

jiwa saja. Sedikit atau banyak, besar atau kecil, tidak ada bedanya.

Dan sebagaimana pula, apabila pada sebuah timbangan yang sangat besar hingga sanggup menimbang gunung-gunung dan sekaligus sangat peka diletakkan dua butir kenari yang sama berat, lalu sebutir biji kecil ditambahkan kepada salah satu kenari itu, maka satu piring timbangan naik ke puncak gunung dan satu piring lagi turun ke lembah yang dalam; nah, dengan kemudahan sederajat itu pula, apabila sebagai ganti dua butir kenari itu diletakkan dua gunung yang sama berat pada kedua piring timbangan, maka dengan menambahkan sebutir kenari kepada salah satunya, ia mengangkat satu gunung ke langit dan menurunkan satu gunung ke lembah.

Demikian pula, menurut istilah ilmu kalam, “al-imkân musâwî ath-tharafain”. Yakni: segala sesuatu yang bukan wajib dan bukan mustahil, melainkan mungkin dan berkemungkinan, ada dan tidak adanya sama saja apabila tidak ditemukan suatu sebab; tidak ada bedanya. Di dalam imkân dan kesamaan ini, sedikit atau banyak, besar atau kecil, semuanya satu. Nah, seluruh makhluk itu bersifat mungkin, dan karena di dalam lingkaran imkân ada dan tidak adanya sama saja, maka kudrat azali Wâjibul Wujûd yang tak terhingga — dengan kemudahan yang sama seperti memberikan wujud kepada satu yang mungkin ada saja — mematahkan keseimbangan antara ada dan tidak ada dengan mewujudkan seluruh yang mungkin ada, lalu mengenakan kepada segala sesuatu suatu wujud yang layak baginya. Dan apabila tugasnya telah selesai, Dia menanggalkan pakaian wujud lahiriah itu, lalu mengirimkannya kepada yang secara lahir tampak tidak ada, bahkan kepada wujud maknawi di dalam lingkaran ilmu-Nya.

Jadi, apabila segala sesuatu diserahkan kepada Sang Qadîr Mutlak, maka satu musim semi menjadi semudah satu kuntum bunga, dan menghidupkan seluruh manusia pada hari kebangkitan menjadi semudah menghidupkan satu jiwa. Apabila disandarkan kepada sebab-sebab, maka satu kuntum bunga menjadi sesulit satu musim semi, dan seekor lalat menjadi sesulit seluruh hewan.

Dan sebagaimana pula, dengan rahasia keteraturan, menggerakkan sebuah kapal besar atau sebuah pesawat terbang hanya dengan menyentuhkan satu jari kepada tombolnya adalah mudah lagi ringan sederajat dengan bergeraknya sebuah jam karena jari menyentuh pegasnya dengan kunci.

Demikian pula, karena kepada segala sesuatu — baik yang menyeluruh maupun yang sebagian, yang besar maupun yang kecil, yang sedikit maupun yang banyak — telah diberikan satu cetakan maknawi, satu ukuran khusus, dan satu batas tertentu melalui kaidah-kaidah ilmu azali, melalui hukum-hukum hikmah yang kekal selamanya, serta melalui manifestasi-manifestasi menyeluruh dan aturan-aturan tertentu dari kehendak Rabbani, maka semuanya berada di dalam keteraturan ilmu yang sempurna dan di dalam hukum kehendak-Nya. Sudah pasti, perputaran tata surya yang dilakukan Sang Qadîr Mutlak dengan kudrat-Nya yang tak terhingga, dan pengembaraan bahtera bumi pada garis edar tahunannya, adalah mudah lagi ringan sederajat dengan Dia memutar darah di dalam satu tubuh, memutar butiran darah merah dan putih di dalam darah itu, serta memutar zarah-zarah di dalam butiran-butiran kecil itu dengan teratur lagi penuh hikmah — sehingga seorang manusia

beserta perangkat-perangkatnya yang menakjubkan di dalam tatanan kainat Dia ciptakan sekaligus dari setetes air tanpa susah payah.

Jadi, apabila disandarkan kepada kudrat azali yang tak terhingga itu, penciptaan kainat ini menjadi mudah, semudah penciptaan seorang manusia. Apabila tidak diserahkan kepada-Nya, maka menciptakan seorang manusia saja, beserta perangkat-perangkat dan indra-indranya yang menakjubkan, menjadi sesulit menciptakan kainat.

Dan sebagaimana pula, dengan rahasia taat, tunduk menjalankan perintah, dan mendengarkan perintah, seorang panglima yang dengan satu perintah “Maju!” menggerakkan seorang prajurit untuk menyerbu, dengan perintah yang sama itu pula ia dengan mudah menggerakkan sebuah pasukan besar yang taat untuk menyerbu.

Demikian pula — ciptaan-ciptaan itu berada di dalam ketaatan yang sempurna kepada hukum-hukum kehendak Ilahi; ia menyambut isyarat perintah takwini dari Ar-Rabb di dalam kecenderungan dan kerinduan fitri laksana prajurit yang siap menerima perintah dan hamba yang menanti titah; ia bergerak di dalam lingkaran kaidah-kaidah garis gerak yang ditetapkan oleh ilmu azali dan hikmah; dan ia seribu derajat lebih taat serta lebih mendengar perintah daripada prajurit-prajurit tentara, bahkan berkedudukan sebagai hamba yang menanti titah — maka dengan kemudahan kudrat mengenakan suatu wujud yang khusus kepada satu individu saja dari ciptaan itu, terutama dari makhluk hidup, dengan perintah Rabbani “Keluarlah dari tidak ada menuju wujud, masuklah ke tugasmu!”, dengan cara yang ditetapkan oleh ilmu dan di dalam bentuk yang dikhususkan oleh kehendak, lalu memegang tangannya dan mengeluarkannya ke medan; dengan kemudahan itu pula Dia menciptakan bala tentara makhluk hidup di musim semi dengan kekuatan dan kudrat yang sama, dan memberikan tugas-tugas kepada mereka.

Jadi, apabila segala sesuatu disandarkan kepada kudrat itu, penciptaan seluruh bala tentara zarah dan seluruh pasukan bintang menjadi mudah lagi ringan, semudah penciptaan satu zarah dan satu bintang saja. Apabila disandarkan kepada sebab-sebab, maka menciptakan satu zarah di dalam biji mata dan di dalam otak satu makhluk hidup dengan kemampuan untuk menunaikan tugas-tugasnya yang menakjubkan menjadi sesulit dan seberat menciptakan seluruh bala tentara hewan. ANAK TANGGA KETIGA:

وَبِسِرِّ اِمْدَادِ الْوَاحِدِيَّةِ وَ يُسْرِ الْوَحْدَةِ وَ تَجَلِّى الْاَحَدِيَّةِ. Kita akan melihat maknanya dengan isyarat-isyarat yang sangat singkat. Yakni: sebagaimana seorang sultan dan panglima teragung — karena hakimiyahnya bersifat wâhidiyah dan karena seluruh rakyatnya bergerak hanya menurut perintahnya — maka penguasa teragung itu mengatur negeri yang luas dan bangsa yang besar semudah mengatur penduduk sebuah kampung. Sebab, dari segi wâhidiyah di dalam hukum, segenap rakyat itu, sama seperti prajurit-prajurit tentara, menjadi sarana kemudahan sehingga perintah-perintah dan undang-undang diterapkan dengan mudah. Apabila diserahkan kepada penguasa yang berbeda-beda, maka di samping terjatuh ke dalam kekacauan yang sangat

besar, mengatur satu kampung saja — bahkan satu rumah tangga saja — menjadi sesulit mengatur negeri itu.

Dan bangsa yang taat itu, karena terikat kepada satu panglima saja, maka setiap individu prajurit dengan kekuatan yang bersandar kepada kekuatan panglima itu, kepada gudang-gudang persenjataannya, dan kepada pasukannya, dapat menawan seorang raja dan dapat mengerjakan pekerjaan seribu derajat lebih besar daripada kekuatan pribadinya. Pertaliannya dengan sang sultan itu menjadi kekuatan dan kemampuan yang tak terhingga baginya sehingga ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sangat besar. Apabila pertalian itu diputus, kekuatan yang besar itu pun lenyap, lalu ia hanya dapat bekerja sebatas kekuatan kecil pada lengannya sendiri dan sebatas sedikit amunisi serta peluru yang ada di pinggangnya. Kalau tidak demikian, andaikata seluruh pekerjaan yang dikerjakan prajurit tersebut dengan bersandar kepada kekuatan pertalian itu diminta pula darinya, niscaya pada lengannya harus ada kekuatan satu pasukan dan pada pinggangnya harus ada gudang amunisi milik sang sultan.

Demikian pula Sang Sultan Azali lagi Abadi, Sang Pembuat Yang Qadîr — dari segi wâhidiyah kerajaan-Nya dan hakimiyah mutlak-Nya — mengerjakan kainat semudah sebuah kota, satu musim semi semudah sebuah taman, dan menghidupkan kembali seluruh yang telah mati pada hari kebangkitan semudah menciptakan daun, bunga, dan buah pohon-pohon taman itu pada musim semi yang akan datang. Dan dengan mudah Dia menciptakan seekor lalat di dalam tatanan seekor burung elang yang besar. Dan dengan ringan Dia menjadikan seorang manusia berkedudukan sebagai satu kainat kecil. Apabila diserahkan kepada sebab-sebab, maka satu mikroba menjadi sesulit seribu badak, dan satu buah menjadi sesulit satu pohon yang besar. Bahkan setiap zarah yang menunaikan tugas-tugas menakjubkan di dalam tubuh makhluk hidup harus diberi mata yang dapat melihat segala sesuatu dan ilmu yang dapat mengetahui segala sesuatu, agar ia dapat menunaikan tugas kehidupan yang halus lagi sempurna itu.

Dan di dalam kesatuan, segala sesuatu menjadi mudah, ringan, lagi gampang sampai ke derajat sedemikian rupa. Sebagaimana perlengkapan sebuah pasukan, karena datang dari satu tangan saja dan dari satu pabrik saja, menjadi semudah perlengkapan ketentaraan satu prajurit saja; sedangkan apabila tangan-tangan yang berbeda-beda ikut campur dan berbagai peralatan masing-masing diambil dari pabrik yang berlainan, maka pada waktu itu perlengkapan satu prajurit saja, dari segi jumlah, hanya dapat disediakan dengan seribu kesulitan, dan karena bercampurnya banyak pemimpin dan perwira, ia menjadi seberat perlengkapan seribu prajurit. Dan apabila pengaturan serta kepemimpinan seribu prajurit diserahkan kepada satu perwira saja, dari satu segi ia menjadi semudah mengurus satu prajurit; sedangkan apabila diserahkan kepada sepuluh perwira atau kepada para prajurit, ia menjadi sangat kacau dan sulit.

Demikian pula, apabila segala sesuatu diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, maka semuanya menjadi semudah satu benda saja. Apabila disandarkan kepada sebab-sebab, maka satu makhluk hidup saja menjadi sesulit bumi, bahkan menjadi mustahil. Jadi, kemudahan di dalam kesatuan naik sampai ke derajat wajib dan lazim. Dan kesulitan di dalam bercampurnya tangan yang majemuk turun sampai ke derajat mustahil.

Sebagaimana dikatakan di dalam Mektubat dari Risale-i Nur: apabila pergantian malam dan siang, gerak bintang-bintang, serta pergantian musim di dalam setahun seperti gugur, dingin, semi, dan panas diserahkan kepada satu pengatur dan satu pemerintah saja, maka panglima teragung itu memerintahkan kepada bumi, yang menjadi salah seorang prajurit-Nya: “Bangkitlah, berputarlah, mengembaralah!” Lalu bumi pun, karena riang dan gembira menerima sambutan serta perintah itu, laksana darwis Mevlevi yang mabuk kerinduan, dengan dua gerakannya menjadi sarana yang sangat mudah bagi pergantian harian dan tahunan serta bagi gerak bintang-bintang yang tampak dan yang hanya khayali, lalu memperlihatkan kemudahan yang sempurna dan keringanan yang luar biasa di dalam kesatuan. Apabila hal itu tidak diserahkan kepada satu pemerintah saja, melainkan kepada sebab-sebab dan kepada kemauan bintang-bintang, lalu kepada bumi dikatakan: “Diamlah engkau, jangan mengembara!”, maka dalam keadaan demikian, keadaan bumi dan langit seperti musim-musim serta malam dan siang itu baru dapat terjadi apabila ribuan bintang dan matahari yang ribuan derajat lebih besar daripada bumi setiap malam dan setiap tahun menempuh dan mengembarai jarak jutaan bahkan miliaran tahun. Dan hal itu menjadi sulit dan berat sampai ke derajat tidak mungkin dan mustahil.

Kalimat وَتَجَلِّى الْاَحَدِيَّةِ di dalam Anak Tangga Ketiga menunjuk kepada suatu hakikat yang sangat besar, sangat halus, dalam, lagi sangat luas. Penjelasan dan buktinya kami serahkan kepada Risale-i Nur, dan kami hanya akan menerangkan satu nuktanya saja dengan sebuah perumpamaan yang sangat singkat.

Benar, sebagaimana matahari dengan cahayanya menerangi seluruh bumi sehingga menjadi satu contoh bagi wâhidiyah, demikian pula ia hadir dengan gambaran dan pantulannya, dengan cahayanya yang tujuh warna, serta dengan bentuk dirinya sendiri di dalam setiap benda bening yang berhadapan dengannya laksana cermin, sehingga ia menjadi satu contoh pula bagi ahadiyah. Seandainya matahari memiliki ilmu, kudrat, dan kehendak, dan seandainya pecahan-pecahan kaca, tetes-tetes air yang di dalamnya tampak matahari-matahari kecil, serta gelembung-gelembung itu memiliki kemampuan; niscaya dengan hukum kehendak Ilahi pada setiap benda itu dan di sisinya hadir satu matahari yang utuh dengan gambaran dan sifat-sifatnya, sementara kehadirannya di tempat-tempat lain sama sekali tidak mengurangi tasarufnya — sehingga dengan perintah, pengaruh, dan ketentuan kudrat Rabbani ia menjadi sebab bagi munculnya hal-hal yang sangat besar, dan memperlihatkan kemudahan serta keringanan yang luar biasa di dalam ahadiyah.

Demikian pula Sang Pembuat Dzul-Jalâl, dari segi wâhidiyah, memandang serta hadir dan menyaksikan dengan ilmu, kehendak, dan kudrat-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan dari segi ahadiyah serta tajalli-Nya, Dia hadir dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya di sisi setiap sesuatu, terutama di sisi makhluk hidup — sehingga dengan mudah, di dalam satu saat, Dia menciptakan seekor lalat di dalam tatanan seekor elang, dan seorang manusia di dalam tatanan sebuah kainat kecil. Dan Dia menciptakan makhluk hidup di dalam bentuk yang begitu penuh mukjizat sehingga seandainya seluruh sebab berkumpul, mereka tidak akan sanggup membuat seekor bulbul ataupun seekor lalat. Dan yang menciptakan seekor

bulbul, Dialah yang sanggup menciptakan seluruh burung; dan yang menciptakan seorang manusia hanyalah Zat yang menciptakan kainat. ANAK TANGGA KEEMPAT DAN KELIMA: وَ بِسِرِّ الْوُجُوبِ وَ التَّجَرُّدِ وَ مُبَايَنَةِ الْمَاهِيَّةِ وَ بِسِرِّ عَدَمِ التَّقَيُّدِ وَ عَدَمِ التَّحَيُّزِ وَ عَدَمِ التَّجَزّ۪ى

Karena menerangkan hakikat dua anak tangga ini kepada khalayak umum sangat sulit, maka hanya satu dua nuktanya yang sangat singkat dan makna ringkasnya saja yang akan diterangkan. Yakni: dibandingkan dengan kudrat Sang Qadîr Mutlak — yang memiliki wujud pada tingkatan wujub, yaitu tingkatan wujud yang paling kuat lagi tidak tergoyahkan, dan pada derajat azali lagi abadi; yang suci dari segala yang bersifat materi lagi mujarrad; serta yang menyandang suatu hakikat diri yang suci lagi berbeda sama sekali dari seluruh hakikat diri yang lain — maka bintang-bintang itu bagaikan zarah, kebangkitan bagaikan satu musim semi, dan menghidupkan seluruh manusia pada hari kebangkitan itu mudah, semudah menghidupkan satu jiwa.

Sebab, sebuah kuku dari satu jenis yang kuat di antara lapisan-lapisan wujud dapat mengambil sebuah gunung dari lapisan yang ringan ke dalam genggamannya lalu mengendalikannya. Misalnya, sebuah cermin dan daya ingat yang berasal dari wujud lahiriah yang kuat dapat memuat ke dalam dirinya seratus gunung dan seribu kitab dari wujud mitsali dan maknawi yang lemah lagi ringan, serta dapat mengendalikannya.

Maka seberapa rendah kekuatan wujud mitsali dibandingkan dengan wujud lahiriah, sedemikian pula wujud segala yang mungkin ada — yang baru tercipta lagi bersifat sementara — ribuan derajat lebih rendah dan lebih ringan daripada wujud yang azali, kekal selamanya, lagi wajib ada; sehingga wujud yang mahasuci itu, dengan tajalli satu zarah saja, mengendalikan satu alam dari segala yang mungkin ada. Sayang sekali, karena untuk sementara ini tiga sebab penting — seperti penyakit akibat racun — tidak mengizinkan, maka hakikat yang amat panjang ini beserta nukta-nuktanya kami serahkan kepada Risale-i Nur dan kepada waktu yang lain. ANAK TANGGA KEENAM: وَ بِسِرِّ اِنْقِلَابِ الْعَوَائِقِ وَ الْمَوَانِعِ اِلٰى حُكْمِ الْوَسَائِلِ الْمُسَهِّلَاتِ

Yakni: sebagaimana — dengan sebuah hukum dari manifestasi kehendak Ilahi dan perintah penciptaan yang menurut istilah ilmu pengetahuan dinamakan simpul kehidupan, serta dengan tertujunya perintah dan kehendak itu — dahan-dahan tak berkesadaran dan ranting-ranting keras dari sebuah pohon yang besar tidak menjadi penghalang, perintang, dan dinding penghadang bagi bahan-bahan yang diperlukan serta rezeki yang akan pergi kepada buah, daun, dan bunganya dari simpul kehidupan yang berkedudukan sebagai pegas dan lambungnya itu, melainkan justru menjadi sarana bagi

kemudahan; demikian pula persis, karena di dalam penciptaan kainat dan seluruh makhluk segala penghalang meninggalkan perlawanannya di hadapan satu manifestasi kehendak dan tertujunya perintah Rabbani lalu menjadi alat bagi kemudahan, maka kudrat yang kekal selamanya menciptakan kainat dan berbagai jenis makhluk di bumi semudah menciptakan pohon yang satu itu; tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya.

Jika seluruh penciptaan tidak diserahkan kepada kudrat itu, maka pada waktu itu pembangunan dan pengaturan satu pohon saja akan sesulit penciptaan dan pengaturan seluruh pohon, bahkan sesulit penciptaan dan pengaturan bumi. Sebab pada waktu itu segala sesuatu menjadi penghalang dan dinding penghadang. Dalam keadaan demikian, seandainya seluruh sebab berkumpul sekalipun, mereka tidak akan sanggup mengirimkan rezeki dan perangkat yang diperlukan kepada buah, daun, dahan, dan ranting secara teratur dari lambung dan pegas simpul kehidupan sebuah pohon yang datang dari perintah dan kehendak. Kecuali jika kepada setiap bagian pohon itu, bahkan kepada setiap zarahnya, diberikan sebuah mata yang dapat melihat dan mengetahui serta menolong seluruh pohon beserta bagian-bagian dan zarah-zarahnya, sebuah ilmu yang meliputi, sebuah kudrat yang luar biasa, dan pertolongan yang menakjubkan.

Maka naiklah melalui kelima anak tangga ini, lalu pandanglah. Lihat dan ketahuilah betapa besar kesulitan — bahkan betapa banyak hal yang mustahil — yang terdapat di dalam kufur dan syirik, betapa jauh ia dari akal dan dari logika, dan betapa mustahil ia terjadi; serta betapa besar kemudahan di dalam iman dan di jalan Al-Qur'an, yaitu kemudahan pada derajat wajib, dan betapa masuk akal, dapat diterima, pasti pada derajat keharusan, lagi melegakan hak dan hakikat yang ada di dalamnya. Lalu katakanlah: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نِعْمَةِ الْا۪يمَانِ.

(Sakit dan berbagai kesulitan menjadi sebab tertundanya bagian yang tersisa dari anak tangga yang penting ini.) ANAK TANGGA KETUJUH: وَ بِسِرِّ اَنَّ الذَّرَّةَ وَ الْجُزْءَ وَ الْجُزْئِىَّ وَ النُّوَاةَ وَ الْاِنْسَانَ لَيْسَتْ بِاَقَلَّ صَنْعَةً وَ جَزَالَةً مِنَ النَّجْمِ وَ الْكُلِّ وَ الْكُلِّىِّ وَ الشَّجَرِ وَ الْعَالَمِ

Sebuah Peringatan: Dasar, tambang, dan matahari bagi hakikat-hakikat kesembilan anak tangga ini adalah ayat قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ٭ اَللّٰهُ الصَّمَدُ dari Surah Al-Ikhlas. Kesembilan anak tangga itu merupakan isyarat-isyarat singkat kepada kilauan-kilauan cahaya yang datang dari manifestasi rahasia ahadiyah dan shamadiyah.

Kami akan memandang makna anak tangga ketujuh ini secara sangat ringkas dengan satu dua nukta, sedangkan perinciannya kami serahkan kepada Risale-i Nur. Yakni: sebuah zarah yang menjalankan tugas-tugas menakjubkan di dalam mata dan otak tidaklah lebih rendah daripada sebuah bintang; sebuah bagian tidaklah lebih rendah daripada himpunan keseluruhannya — misalnya otak dan mata tidaklah lebih rendah daripada manusia seutuhnya; dan seorang individu yang juz'i tidaklah lebih rendah daripada suatu jenis yang menyeluruh, dari segi kebagusan

seni dan dari segi keajaiban penciptaannya; dan seorang manusia dengan perangkat-perangkatnya yang menakjubkan tidaklah lebih rendah daripada jenis hewan yang menyeluruh; dan sebuah biji yang berkedudukan sebagai daftar isi, program, dan daya ingat tidaklah lebih rendah daripada pohonnya yang besar, dari segi kesempurnaannya sebagai karya dan sebagai gudang penyimpanan; dan seorang manusia yang merupakan kainat kecil tidaklah lebih rendah daripada kainat, dari segi kesempurnaan penciptaannya dan dari segi keadaannya sebagai makhluk yang diciptakan sedemikian rupa sehingga perangkat-perangkat luar biasa yang terhimpun padanya sanggup menjalankan ribuan tugas yang menakjubkan.

Maka Zat yang menciptakan zarah tidak mungkin lemah untuk menciptakan bintang. Dan Zat yang menciptakan sebuah anggota tubuh seperti lidah, sudah pasti menciptakan manusia dengan mudah. Dan Zat yang menciptakan seorang manusia sedemikian sempurnanya, tentu sanggup menciptakan seluruh hewan dengan kemudahan yang sempurna — dan Dia memang menciptakannya di depan mata kita. Dan Zat yang menciptakan biji dengan hakikat diri sebagai sebuah daftar, sebuah daftar isi, sebuah buku catatan hukum-hukum perintah, dan sebuah simpul kehidupan, sudah pasti dapat menjadi Khâliq bagi seluruh pohon. Dan Zat yang menciptakan manusia — yang merupakan semacam biji maknawi dan buah yang menghimpun bagi alam — lalu menjadikannya mazhar dan cermin bagi seluruh asma Ilahi, menjadikannya berkaitan dengan seluruh kainat, serta menjadikannya khalifah di bumi, sudah pasti dan sudah pasti memiliki kudrat yang sedemikian rupa sehingga Dia menciptakan dan menata kainat yang besar ini semudah dan seringan menciptakan seorang manusia.

Maka jika demikian, siapa pun Khâliq, Sang Pembuat, dan Rabb bagi zarah, bagi bagian, bagi satuan yang juz'i, bagi biji, dan bagi seorang manusia, sudah pasti dengan sangat nyata Dia jugalah Khâliq, Sang Pembuat, dan Rabb bagi bintang-bintang, bagi jenis-jenis, bagi keseluruhan dan kulliyat, bagi pohon-pohon, dan bagi seluruh kainat. Mustahil dan tidak mungkin ia adalah selain Dia. ANAK TANGGA KEDELAPAN: وَبِسِرِّ اَنَّ الْمُحَاطَ وَ الْجُزْئِيَّاتِ كَالْاَمْثِلَةِ الْمَكْتُوبَةِ الْمُصَغَّرَةِ اَوْ كَالنُّقَطِ الْمَحْلُوبَةِ الْمُعَصَّرَةِ فَلَا بُدَّ اَنْ يَكُونَ الْمُح۪يطُ وَ الْكُلِّيَّاتُ ف۪ى قَبْضَةِ خَالِقِ الْمُحَاطِ وَ الْجُزْئِيَّاتِ لِيُدْرِجَ مِثَالَهَا ف۪يهَا بِمَوَاز۪ينِ عِلْمِه۪ اَوْ يُعَصِّرَهَا مِنْهَا بِدَسَات۪يرِ حِكْمَتِه۪

Yakni: perbandingan antara juz'iyat yang diliputi — beserta individu-individu, benih-benih, dan biji-biji yang berada di dalam keseluruhan dan kulliyat — dengan kulliyat besar yang meliputinya, seakan-akan merupakan contoh mungil serta salinan dan misal dari keseluruhan dan kulliyat itu sendiri, yang dituliskan dengan tulisan yang sangat halus pada lembar yang teramat kecil. Maka jika demikian, kulliyat yang meliputi itu harus berada di dalam genggaman dan sepenuhnya di dalam tasarruf Khâliq juz'iyat tersebut. Supaya dengan timbangan-timbangan ilmu-Nya dan

dengan pena-pena-Nya yang halus, Dia dapat menuliskan kitab dari lingkup besar yang meliputi itu ke dalam ratusan lembar dan buku catatan yang teramat kecil itu.

Selain itu, perbandingan dan perumpamaan antara bagian-bagian serta juz'iyat yang diliputi dengan lingkup yang meliputinya, seakan-akan berupa tetes-tetes yang diperah bagaikan susu dari lingkup yang meliputi itu, atau seakan-akan ada yang memeras lingkup itu lalu titik-titik tersebut mengalir darinya. Misalnya, biji melon adalah setetes yang diperah dari seluruh sisi melon itu, atau sebuah titik yang di dalamnya seluruh kitab itu telah dituliskan sehingga ia membawa daftar isi, daftar, dan programnya.

Selama keadaannya demikian, sudah pasti keseluruhan dan kulliyat yang meliputi itu mutlak harus berada di tangan Sang Pembuat juz'iyat, tetes-tetes, titik-titik, dan individu-individu tersebut. Supaya dengan kaidah-kaidah hikmah-Nya yang sangat halus Dia memerah individu-individu, tetes-tetes, dan titik-titik itu darinya.

Maka Zat yang menciptakan satu benih dan satu individu, sudah pasti Dia jugalah yang menciptakan keseluruhan dan kulliyat besar itu, serta kulliyat dan jenis-jenis lain yang meliputinya dan yang jauh lebih besar daripadanya; tidak mungkin selain-Nya. Maka jika demikian, Zat yang menciptakan satu jiwa dapat menciptakan seluruh manusia. Dan Zat yang menghidupkan satu orang mati, dapat menghidupkan seluruh orang mati dari kalangan jin dan manusia pada hari kebangkitan, dan Dia pasti akan menghidupkannya.

Maka lihatlah bahwa ketentuan dan dakwaan ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ adalah hak dan hakikat itu sendiri dengan cara yang sangat pasti lagi cemerlang. ANAK TANGGA KESEMBILAN: وَ بِسِرِّ كَمَا اَنَّ قُرْاٰنَ الْعِزَّةِ الْمَكْتُوبَ عَلَى الذَّرَّةِ الْمُسَمَّاةِ بِالْجَوْهَرِ الْفَرْدِ بِذَرَّاتِ الْاَث۪يرِ لَيْسَ بِاَقَلَّ جَزَالَةً وَ خَارِقِيَّةَ صَنْعَةٍ مِنْ قُرْاٰنِ الْعَظَمَةِ الْمَكْتُوبِ عَلٰى صَح۪يفَةِ السَّمَاءِ بِمِدَادِ النُّجُومِ وَ الشُّمُوسِ كَذٰلِكَ اِنَّ وَرْدَ الزُّهْرَةِ لَيْسَتْ بِاَقَلَّ جَزَالَةً وَ صَنْعَةً مِنْ دُرِّىِّ نَجْمِ الزُّهْرَةِ وَ لَا النَّمْلَةُ مِنَ الْف۪يلَةِ وَ لَا الْمِكْرُوبُ مِنَ الْكَرْكَدَانِ وَ لَا النَّحْلَةُ مِنَ النَّخْلَةِ بِالنِّسْبَةِ اِلٰى قُدْرَةِ خَالِقِ الْكَائِنَاتِ فَكَمَا اَنَّ غَايَةَ كَمَالِ السُّرْعَةِ وَ السُّهُولَةِ ف۪ى ا۪يجَادِ الْاَشْيَاءِ اَوْقَعَتْ اَهْلَ الضَّلَالَةِ ف۪ى اِلْتِبَاسِ التَّشْك۪يلِ بِالتَّشَكُّلِ الْمُسْتَلْزِمِ

لِمُحَالَاتٍ غَيْرِ مَحْدُودَةٍ تَمُجُّهَا الْاَوْهَامُ كَذٰلِكَ اَثْبَتَتْ لِاَهْلِ الْهِدَايَةِ تَسَاوِىَ النُّجُومِ مَعَ الذَّرَّاتِ بِالنِّسْبَةِ اِلٰى قُدْرَةِ خَالِقِ الْكَائِنَاتِ جَلَّ جَلَالُهُ وَ لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ اللّٰهُ اَكْبَرُ

Aku ingin menyampaikan makna anak tangga terakhir ini dengan keterangan yang panjang. Akan tetapi, sayang sekali, karena kesulitan-kesulitan berat yang datang dari penindasan dan tekanan yang sewenang-wenang, serta kelemahan tubuh dan penyakit-penyakit yang menyakitkan akibat keracunan, telah menghalangi, maka aku terpaksa mencukupkan diri dengan isyarat yang sangat singkat saja terhadap maknanya.

Yakni: sebagaimana — seandainya pada sebuah zarah yang tidak dapat terbagi, yang di dalam ilmu kalam dan filsafat mendapat nama zarah tunggal, dituliskan sebuah Al-Qur'an Al-Azhîmusy-Sya'n dengan zarah-zarah materi eter yang jauh lebih kecil daripadanya, dan di lembaran-lembaran langit pun dituliskan Al-Qur'an Al-Kabîr yang lain dengan bintang-bintang dan matahari-matahari, lalu keduanya ditimbang — sudah pasti Al-Qur'an mikroskopis yang tertulis pada zarah tunggal itu tidaklah tertinggal dari Al-Qur'an Al-Azhîm Al-Kabîr yang menyepuh dengan emas wajah langit-langit, baik dari segi keajaibannya maupun dari segi i'jaz seninya, bahkan di dalam satu segi ia justru lebih unggul; demikian pula persis, apabila dinisbatkan kepada kudrat Khâliq kainat, dari segi keajaiban dan keindahan susunan pada karya-Nya, bunga Zuhrah tidaklah tertinggal dari bintang Zuhrah, semut tidaklah lebih rendah daripada gajah, kuman lebih menakjubkan penciptaannya daripada badak, dan lebah lebih unggul daripada pohon kurma dengan fitrahnya yang menakjubkan.

Maka Zat yang menciptakan seekor lebah dapat menciptakan seluruh hewan. Zat yang menghidupkan satu jiwa dapat menghidupkan seluruh manusia pada hari kebangkitan lalu menghimpun mereka di medan kebangkitan, dan Dia pasti akan menghimpunnya. Tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya; sebab di depan mata kita, dengan sangat cepat dan mudah, pada setiap musim semi Dia menciptakan seratus ribu contoh kebangkitan.

Makna yang sangat ringkas dari kalimat Arab terakhir adalah sebagai berikut: Yakni, karena orang-orang yang sesat tidak mengetahui hakikat-hakikat yang tidak tergoyahkan dari anak-anak tangga yang telah disebutkan, dan karena makhluk-makhluk muncul ke alam wujud sekaligus dengan sangat cepat lagi sangat mudah, mereka menyangka bahwa dibentuknya makhluk dan diciptakannya dengan kudrat Sang Pembuat yang tak terhingga itu sebagai terbentuk dengan sendirinya dan mendapatkan wujud dari diri mereka sendiri; lalu mereka telah membuka pintu takhayul yang tidak diterima oleh satu akal pun, bahkan tidak pula oleh waham, dan yang dari segala segi mustahil lagi tidak mungkin.

Misalnya, dalam keadaan demikian, kepada setiap zarah makhluk hidup harus diberikan kudrat yang tak terhingga, sebuah ilmu, sebuah mata yang dapat melihat segala sesuatu, dan kekuatan yang sanggup mengerjakan segala seni. Karena tidak mau menerima satu ilah saja, menurut mazhab mereka sendiri mereka terpaksa menerima sesembahan sebanyak bilangan zarah, lalu mereka pun layak masuk ke asfala safilin di dalam neraka Jahanam.

Adapun orang-orang yang mendapat hidayah, hakikat-hakikat yang kuat dan hujah-hujah yang tidak tergoyahkan di dalam anak-anak tangga yang telah lalu itu telah memberikan kepada hati mereka yang salim dan kepada akal mereka yang lurus sebuah keyakinan yang sangat pasti, iman yang kuat, dan pembenaran pada derajat ainul yakin; sehingga tanpa keraguan dan tanpa waswas, dengan hati yang tenang, mereka beritikad bahwa bintang-bintang dan zarah-zarah, yang paling kecil dan yang paling besar, apabila dinisbatkan kepada kudrat Ilahi tidaklah berbeda — sebab di depan mata kita keajaiban-keajaiban ini terjadi. Dan setiap keajaiban seni membenarkan dakwaan ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ serta bersaksi bahwa ketentuannya adalah hak dan hakikat itu sendiri; dengan lisan keadaan mereka mengucapkan Allahu akbar. Kami pun mengucapkan Allahu akbar sebanyak bilangan mereka. Dan kami membenarkan dakwaan ayat ini dengan segenap kekuatan dan keyakinan kami, serta bersaksi dengan hujah yang tak terhingga bahwa ketentuannya adalah hak itu sendiri dan hakikat itu sendiri.

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ

Sebuah Surat Pujian tentang Apa Itu Risale-i Nur dan Bagaimana Hakikat Diri Risale-i Nur beserta Penerjemahnya di Hadapan Hakikat-Hakikat

Para khadim agung agama yang menurut hadis kedatangannya pada setiap awal abad dikabarkan sebagai kabar gembira bukanlah pembuat perkara baru di dalam urusan agama, melainkan pengikut. Yakni mereka tidak mengada-adakan sesuatu dari diri mereka sendiri secara baru dan tidak membawa hukum-hukum yang baru. Dengan jalan mengikuti secara harfiah dasar-dasar dan hukum-hukum agama serta sunah-sunah Muhammad صلى الله عليه وسلم, mereka meluruskan dan mengukuhkan agama, menampakkan hakikat dan keaslian agama, mengangkat dan membatalkan kebatilan yang hendak dicampurkan ke dalamnya, menolak dan melenyapkan serangan-serangan yang terjadi terhadap agama, menegakkan perintah-perintah Rabbani, serta menampakkan dan mengumumkan kemuliaan dan ketinggian hukum-hukum Ilahi. Hanya saja, tanpa merusak sikap dasar dan tanpa melukai ruh asli, mereka menunaikan tugas dengan cara-cara penjelasan yang baru, dengan metode meyakinkan yang baru yang sesuai dengan pemahaman zaman, serta dengan pengarahan dan perincian yang baru.

Para petugas Rabbani ini menjadi pembenar tugas mereka dengan perbuatan dan amal mereka pula. Mereka sendiri menunaikan peran cermin bagi kekukuhan iman dan keikhlasan mereka. Mereka menampakkan tingkatan iman mereka secara nyata di dalam perbuatan. Dan mereka memperlihatkan bahwa mereka adalah pengamal sempurna akhlak Muhammad صلى الله عليه وسلم serta pemakai sejati jalan hidup Ahmad صلى الله عليه وسلم dan perhiasan sifat-sifat Nabi صلى الله عليه وسلم. Saripatinya: dari segi amal dan akhlak, serta dari segi mengikuti dan berpegang teguh kepada sunah Nabi صلى الله عليه وسلم, mereka menjadi teladan yang sepenuhnya baik bagi umat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan menjadi contoh untuk diikuti.

Karya-karya yang mereka tulis dalam rangka menafsirkan Kitabullah, menjelaskan hukum-hukum agama, dan mengarahkannya sesuai dengan pemahaman zaman serta tingkatan ilmunya, bukanlah hasil dari diri mereka sendiri dan bukan pula buah dari daya cipta mereka yang tinggi; bukan pula hasil dari kecerdasan dan pengetahuan mereka sendiri. Semua itu adalah ilham dan bimbingan maknawi secara langsung dari diri suci Sang Rasul صلى الله عليه وسلم yang menjadi sumber wahyu. Jaljalutiyah, Masnawi Syarif, Futuhul Gaib, dan karya-karya semisalnya semuanya termasuk jenis ini. Terhadap karya-karya suci itu, para tokoh mulia tersebut hanyalah berkedudukan sebagai penerjemah. Para tokoh yang disucikan itu memiliki bagian di dalam penyusunan dan cara penuturan karya-karya pilihan tersebut; yakni mereka berkedudukan sebagai tempat tampaknya makna itu, cerminnya, dan cermin tempat terpantulnya.

Adapun Risale-i Nur dan Sang Penerjemahnya: Karena di dalam karya yang agung ini terdapat limpahan karunia yang tinggi dan kesempurnaan tanpa batas yang sampai sekarang belum pernah dijumpai bandingannya, dan karena dengan cara yang tidak pernah diraih oleh satu karya pun ia menjadi pewaris limpahan-limpahan karunia dari obor Ilahi, matahari hidayah, dan penerang kebahagiaan, yaitu

Al-Qur'an Yang Mulia — sebagaimana hal itu terlihat nyata — maka merupakan hakikat yang terang seperti matahari bahwa dasarnya adalah cahaya murni Al-Qur'an; bahwa ia mengandung limpahan cahaya-cahaya Muhammad صلى الله عليه وسلم lebih banyak daripada karya-karya para wali Allah; bahwa bagian, kaitan, dan tasarruf suci diri suci Sang Rasul صلى الله عليه وسلم di dalamnya lebih besar daripada di dalam karya-karya para wali Allah; dan bahwa kedudukan diri maknawi yang menjadi tempat tampaknya dan penerjemahnya sebagai mazhar, beserta kesempurnaannya, setinggi itu pula lagi tiada bandingnya.

Benar, diri beliau, ketika masih di dalam masa kanak-kanak dan tanpa menempuh pendidikan sama sekali — hanya di dalam masa belajar tiga bulan sekadar untuk menyelamatkan segi lahiriah — telah dijadikan pewaris ilmu-ilmu orang terdahulu dan orang terkemudian, ilmu ladunni, hakikat segala sesuatu, rahasia-rahasia kainat, dan hikmah Ilahi; padahal sampai sekarang tidak seorang pun meraih kedudukan setinggi itu sebagai mazhar. Keajaiban ilmu semacam ini sama sekali belum pernah ada sebelumnya. Tidak dapat diragukan sedikit pun bahwa Sang Penerjemah Nur, dengan keadaannya itu, dengan keteguhan akhlaknya yang luar biasa — yang dari awal sampai akhir merupakan kesucian yang menjelma, keberanian yang menakjubkan, dan sikap merasa cukup secara mutlak — dengan sendirinya adalah mukjizat fitrah, inayah yang menjelma, dan pemberian yang mutlak.

Diri yang penuh keajaiban itu, bahkan sebelum mencapai usia balig, dalam keadaan sebagai seorang allamah yang tiada bandingnya, telah menantang seluruh dunia ilmu; ia membungkam dan mematahkan hujah para ahli ilmu yang berdebat dengannya; ia menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan di mana pun dengan ketepatan yang mutlak dan tanpa ragu sedikit pun; sejak usia empat belas tahun ia menyandang martabat keustazan dan terus-menerus menaburkan limpahan ilmu dan cahaya hikmah ke sekelilingnya; kehalusan dan kedalaman di dalam penjelasannya, ketinggian dan keteguhan di dalam penuturannya, serta firasat yang dalam, mata batin, dan cahaya hikmah di dalam pengarahannya telah membuat para ahli pengetahuan tercengang dan sungguh layak menganugerahkan kepadanya gelar agung “Bedîüzzaman”. Diri yang dengan keutamaan-keutamaan tinggi dan kelebihan-kelebihan ilmunya telah tampil di dalam menyebarkan dan membuktikan agama Muhammad صلى الله عليه وسلم di dalam keadaan sempurna sepenuhnya — sudah pasti ia menjadi mazhar bagi perhatian yang paling tinggi dari Sayidul Anbiya صلى الله عليه وسلم dan meraih perlindungan serta himmah yang paling luhur dari beliau. Dan tidak diragukan lagi bahwa ia adalah diri yang mulia sifat-sifatnya, yang berjalan dengan perintah dan titah Nabi Yang Termahasuci صلى الله عليه وسلم, bergerak dengan tasarruf beliau, serta menjadi pewaris dan cermin tempat terpantulnya cahaya-cahaya dan hakikat-hakikat beliau.

Dengan bukti bahwa ia memancarkan cahaya-cahaya Muhammad صلى الله عليه وسلم, pengetahuan-pengetahuan Ahmad صلى الله عليه وسلم, dan limpahan-limpahan karunia pelita Ilahi dengan cara yang paling gemerlap; bahwa isyarat-isyarat hitungan yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis berakhir pada dirinya; dan bahwa penuturan hitungan dari ayat-ayat mulia yang menyampaikan seruan-seruan Nabi صلى الله عليه وسلم berkumpul pada dirinya — maka dari sisi khidmah keimanan, diri itu adalah cermin yang paling bening bagi kerasulan, dan dari pohon kerasulan ia adalah

buah terakhir yang bercahaya; dari sisi pewarisan, ia adalah mulut hakikat yang terakhir bagi lisan kerasulan; dan dari sisi khidmah keimanan, ia adalah pembawa pelita Ilahi yang terakhir lagi berbahagia — tidak ada keraguan sedikit pun akan hal itu.

Atas nama para murid Nur yang mendengarkan satu-satunya pelajaran Madrasah Yusufiyah Ketiga, yaitu Al-Hujjatuz-Zahra dan Zuhratun-Nur