memperlihatkan hakikatnya secara penuh, lalu berkata: “Sekarang lihatlah!” Ia pun memandang dan melihat bahwa:
Sinar-Sinar · hlm. 649
Nama رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضِ terbit laksana sebuah matahari di dalam buruj هُوَ الَّذ۪ى جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا ف۪ى مَنَاكِبِهَا وَ كُلُوا مِنْ رِزْقِه۪. Dia menjadikan bumi sebuah kapal yang sangat teratur lagi selamat, memenuhinya dengan makhluk-makhluk hidup beserta rezeki mereka, lalu di dalam lautan kainat — demi banyak hikmah dan manfaat — Dia mengedarkannya berkeliling matahari di dalam sebuah perjalanan, dan mendatangkan hasil musim kepada mereka yang meminta rezeki. Dan Dia menjadikan dua malaikat yang bernama “Saur” dan “Hut” sebagai nakhoda kapal itu, lalu mengedarkannya di dalam negeri Rabbani yang sangat indah lagi megah demi menyenangkan para makhluk dan para tamu Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Dan dengan bumi itu Dia memperlihatkan hakikat اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ serta memperkenalkan Khâliq-nya melalui manifestasi nama ini — demikian ia memahaminya. Dengan segenap ruh dan jiwanya ia berkata ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَٔ, lalu masuk ke dalam golongan اَلَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ.
Contoh kedua dari contoh-contoh yang dilihat musafir itu di dalam perjalanannya menyusuri berbagai alam: Musafir itu keluar dari kapal bumi lalu masuk ke alam hewan dan manusia. Ia memandang alam itu dengan kacamata hikmah alam yang tidak mengambil ruh dari agama, dan ia melihat bahwa:
Makhluk-makhluk hidup yang tak terhingga itu mempunyai kebutuhan yang tak terhingga, dan mempunyai musuh-musuh berbahaya yang tak terhingga serta peristiwa-peristiwa tanpa belas kasihan yang menyakiti dan menyiksa mereka; padahal modal mereka untuk menghadapi kebutuhan itu hanyalah satu berbanding seribu, bahkan barangkali satu berbanding seratus ribu. Dan kekuatan mereka untuk menghadapi hal-hal berbahaya itu hanyalah satu berbanding sejuta. Di dalam keadaan yang sangat dahsyat lagi menyayat hati ini, dengan kelembutan hati terhadap sesama jenis, dengan kasih sayang terhadap sesama makhluk sejenisnya, dan karena akalnya pun turut peduli, ia sedemikian mengasihani keadaan mereka; dan ketika ia menjadi sedih, putus asa, serta merasakan berbagai rasa perih laksana azab jahanam, dan ketika ia seribu kali menyesal telah masuk ke alam yang porak-poranda itu, seketika hikmah Al-Qur'an datang menolongnya lalu memberikan teropong اَلَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ dan berkata: “Lihatlah!” Ia pun memandang dan melihat bahwa:
Melalui tajalli اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ, masing-masing dari sekian banyak asma Ilahi seperti Ar-Rahmân, Ar-Rahîm, Ar-Razzâq, Al-Mun'im, Al-Karîm, dan Al-Hafîzh, laksana sebuah matahari, di dalam buruj ayat-ayat seperti مَا مِنْ دَٓابَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ٭ وَكَاَيِّنْ مِنْ دَٓابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اَللّٰهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ ٭ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَن۪ٓى اٰدَمَ ٭ اِنَّ الْاَبْرَارَ لَف۪ى نَع۪يمٍ
telah terbit. Mereka memenuhi dunia manusia dan hewan itu dengan rahmat dan ihsan, lalu mengubahnya menjadi semacam surga sementara. Dan ia mengetahui bahwa mereka telah memperkenalkan dengan sempurna Sang Penjamu Yang Mahamulia bagi rumah tamu yang indah, penuh pelajaran, lagi layak dipandang ini. Seribu kali ia berkata ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَٔ.
Contoh ketiga dari ratusan hal yang ia saksikan di dalam perjalanannya: Musafir dunia yang ingin mengenal Khâliq-nya melalui tajalli dan manifestasi asma serta sifat-Nya itu berkata kepada akal dan khayalnya: “Ayo! Seperti ruh-ruh dan malaikat, kita pun akan meninggalkan jasad kita di bumi lalu naik ke langit-langit. Kita akan bertanya tentang Khâliq kita kepada para penghuni langit.” Ruh menaiki khayal dan akal menaiki pikiran, lalu keduanya naik ke langit. Mereka menjadikan ilmu kosmografi sebagai penuntun mereka. Mereka memandang dengan pandangan filsafat yang tidak mendengarkan agama, yaitu dengan arus mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat. Ia pun melihat bahwa:
Ribuan massa benda serta bintang-bintang yang menyemburkan api — yang di antaranya ada yang seribu kali lebih besar daripada bumi dan yang bergerak seratus kali lebih cepat daripada peluru meriam — beredar dengan kencang satu di dalam yang lain, tanpa kesadaran, beku, lagi seolah-olah tak tentu arah. Jika dalam satu menit saja salah satunya salah jalan karena suatu kebetulan, maka di dalam alam yang kosong, tanpa batas, tak terhingga, lagi tiada berujung itu ia akan bertabrakan dengan sebuah bola yang tidak berkesadaran, dan menjadi sebab bagi huru-hara laksana kiamat.
Ke mana pun musafir itu memandang, ia diliputi rasa ngeri, rasa sunyi yang mencekam, rasa heran, dan rasa takut; ia seribu kali menyesal telah naik ke langit. Akal dan khayal rusak sama sekali. Ketika keduanya berkata: “Padahal tugas kami adalah melihat dan memperlihatkan hakikat-hakikat yang indah; maka dari tugas mengetahui dan menyaksikan makna-makna yang buruk lagi penuh azab laksana jahanam seperti ini, kami mengundurkan diri dan kami tidak menginginkannya,” seketika itu dengan tajalli اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ, sekian banyak nama seperti Khâliqus-samâwâti wal-ardhi, Musakhkhirusy-syamsi wal-qamari, dan Rabbul-'âlamîn, masing-masing laksana sebuah matahari, terbit di dalam buruj ayat-ayat seperti وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَٓاءَ الدُّنْيَا بِمَصَاب۪يحَ dan اَفَلَمْ يَنْظُرُٓوا اِلَى السَّمَٓاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا dan ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَٓاءِ فَسَوّٰيهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ. Mereka memenuhi seluruh langit-langit dengan cahaya dan dengan malaikat, lalu mengubahnya menjadi sebuah masjid jami yang besar, sebuah tempat sujud, dan sebuah markas pasukan.
Musafir itu masuk ke dalam arus اَلَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. Ia selamat dari golongan dhâllîn, yaitu dari اَوْ كَظُلُمَاتٍ ف۪ى بَحْرٍ لُجِّىٍّ. Seketika itu ia melihat sebuah negeri yang teratur, indah, lagi megah laksana surga. Dengan menyaksikan sebuah keadaan yang di setiap sisinya memberitahukan Sang Khâliq Dzul-Jalâl, nilai dan tugas akal serta khayal naik seribu derajat.
Maka dengan mengiaskan kepada tiga contoh yang telah disebutkan ini — dari ratusan contoh perjalanan musafir itu di dalam kainat — kami serahkan hal-hal lain yang ia saksikan serta makrifat terhadap Wâjibul Wujûd melalui manifestasi asma kepada Risale-i Nur; dan dengan mencukupkan diri pada isyarat yang sangat singkat ini, kami memendekkan kisah yang sangat panjang ini, lalu seperti musafir dunia itu kami akan berusaha dengan isyarat-isyarat yang sangat singkat untuk mengenal Khâliq kainat melalui jejak, tajalli, dan hujah-hujah yang membuktikan nyatanya tiga sifat penting saja — yaitu ilmu, kehendak, dan kudrat — dari sifat-sifat suci yang memperkenalkan Khâliq kita dan dari tujuh sifat-Nya. Perinciannya kami serahkan kepada Risale-i Nur.
Maka inilah fikrah Arab yang datang berikut ini — yang merupakan wirid tafakur yang senantiasa kubaca dari saripati saripati Hizb-i Nurî berbahasa Arab, yang menerangkan tiga tingkatan dari tiga puluh tiga tingkatan kalimat Allahu akbar, dan yang di dalam semacam terjemahannya, dengan isyarat-isyarat singkat, membuka jalan untuk membenarkan dengan iman ainul yakin ilmu, kehendak, dan kudrat Ilahi — yang telah sangat menyibukkan para ulama ilmu kalam dan para ulama akidah — melalui manifestasi ketiganya di dalam kainat, serta untuk beriman dengan sempurna melalui pembenaran ilmul yakin kepada wujud Wâjibul Wujûd yang sangat nyata dan kepada keesaan-Nya: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَ قُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذ۪ى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَر۪يكٌ فِى الْمُلْكِ وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِىٌّ مِنَ الذُّلِّ وَ كَبِّرْهُ تَكْب۪يرًا ٠ اَللّٰهُ اَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ قُدْرَةً وَ عِلْمًا اِذْ هُوَ الْعَل۪يمُ بِكُلِّ شَىْءٍ بِعِلْمٍ مُح۪يطٍ لَازِمٍ ذَاتِىٍّ {(Catatan kaki): وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى (كَلُزُومِ الضِّيَاءِ الْمُح۪يطِ للِشَّمْسِ)} لِلذَّاتِ يَلْزُمُ الْاَشْيَاءَ لَا يُمْكِنُ اَنْ يَنْفَكَّ عَنْهُ شَىْءٌ بِسِرِّ الْحُضُورِ
وَ الشُّهُودِ وَ الْاِحَاطَةِ النُّورَانِيَّةِ وَ بِسِرِّ اِسْتِلْزَامِ الْوُجُودِ لِلْمَعْلُومِيَّةِ وَ اِحَاطَةِ نُورِ الْعِلْمِ بِعَالَمِ الْوُجُودِ ٠ نَعَمْ فَالْاِنْتِظَامَاتُ الْمَوْزُونَةُ وَ الْاِتِّزَانَاتُ الْمَنْظُومَةُ وَ الْحِكَمُ الْقَصْدِيَّةُ الْعَامَّةُ وَ الْعِنَايَاتُ الْمَخْصُوصَةُ الشَّامِلَةُ وَ الْاَقْضِيَّةُ الْمُنْتَظَمَةُ وَ الْاَقْدَارُ الْمُثْمِرَةُ وَ الْاٰجَالُ الْمُعَيَّنَةُ وَ الْاَرْزَاقُ الْمُقَنَّنَةُ وَ الْاِتْقَانَاتُ الْمُفَنَّنَةُ وَ الْاِهْتِمَامَاتُ الْمُزَيَّنَةُ وَ غَايَةُ كَمَالِ الْاِنْتِظَامِ الْاِنْسِجَامِ الْاِتِّسَاقِ الْاِتْقَانِ الْاِتِّزَانِ الْاِمْتِيَازِ الْمُطْلَقَاتِ ف۪ى كَمَالِ السُّهُولَةِ الْمُطْلَقَةِ دَالَّاتٌ عَلٰى اِحَاطَةِ عِلْمِ عَلَّامِ الْغُيُوبِ بِكُلِّ شَىْءٍ ٠ اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَ هُوَ اللَّط۪يفُ الْخَب۪يرُ ٠ فَنِسْبَةُ دَلَالَةِ حُسْنِ صَنْعَةِ الْاِنْسَانِ عَلٰى شُعُورِ الْاِنْسَانِ اِلٰى نِسْبَةِ دَلَالَةِ حُسْنِ خِلْقَةِ الْاِنْسَانِ عَلٰى عِلْمِ خَالِقِ الْاِنْسَانِ كَنِسْبَةِ لُمَيْعَةِ زُجَيْجَةِ الذُّبَيْبَةِ فِى اللَّيْلَةِ الدَّهْمَاءِ اِلٰى شَعْشَعَةِ الشَّمْسِ ف۪ى رَابِعَةِ النَّهَارِ ٠
Di dalam semacam terjemahan yang sangat singkat, kami membuat isyarat-isyarat pendek kepada ilmu Ilahi, yaitu kepada hakikat iman yang sangat penting ini, lalu dengan menyerahkan perinciannya kepada Risale-i Nur kami berkata: {(Catatan kaki): Bagian setelah ini ditulis di dalam sebuah penyakit yang dahsyat lagi beracun, yang belum pernah kualami sepanjang umurku. Hendaklah kekuranganku dipandang dengan pandangan maaf. Hüsrev boleh membetulkan, mengganti, dan memperbaiki bagian yang ia pandang tidak sesuai.}
Benar, sebagaimana rahmat memperlihatkan dirinya laksana matahari melalui rezeki-rezekinya yang menakjubkan lalu membuktikan secara pasti adanya Ar-Rahmân Ar-Rahîm di balik tabir gaib; demikian pula ilmu — yang mengambil tempat di dalam ratusan ayat Al-Qur'an dan yang dari satu segi merupakan yang paling pertama di antara tujuh sifat suci — sebagaimana ia memperlihatkan dirinya laksana cahaya matahari melalui hikmah dan buah dari tatanan dan timbangan, ia pun memberitahukan secara pasti adanya Sang 'Alîm yang mengetahui segala sesuatu.
Benar, timbangan antara karya manusia yang rapi lagi terukur — yang menunjukkan kepada kesadaran dan ilmu manusia — dengan keindahan penciptaan manusia yang menunjukkan kepada ilmu dan hikmah Khâliq manusia, persis seperti perbandingan antara kilau kecil cahaya kunang-kunang pada malam hari dengan cahaya matahari yang meliputi segalanya pada siang hari.
Sekarang, sebelum menerangkan dalil-dalil ilmu Ilahi: pada malam mikraj Muhammad صلى الله عليه وسلم — yang menunjukkan dan bersaksi bahwa sifat suci itu memperlihatkan Zat Yang Mahasuci dengan cara yang sangat terang melalui tajalli sifat itu di dalam jenis-jenis makhluk kainat — ketika beliau meraih kehadiran di hadirat Allah dan khitab Ilahi, seketika beliau mengucapkan اَلتَّحِيَّاتُ اَلْمُبَارَكَاتُ اَلصَّلَوَاتُ اَلطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ, sehingga beliau menjadi wakil dan utusan atas nama seluruh makhluk hidup dan seluruh jenis makhluk; maka menurut cara mereka semua memberitahukan Rabb mereka melalui manifestasi sifat ilmu, sebagai ganti salam dan sebagai wakil seluruh makhluk berkesadaran, beliau mempersembahkan hadiah-hadiah seluruh makhluk hidup kepada Khâliq-nya.
Yakni: karena dengan empat kalimat اَلتَّحِيَّاتُ اَلْمُبَارَكَاتُ اَلصَّلَوَاتُ اَلطَّيِّبَاتُ itu empat golongan seluruh makhluk hidup memperlihatkan penghormatan, ucapan selamat, ubudiyah, serta makrifat mereka yang indah kepada Allâmul-Ghuyûb melalui pancaran ilmu-Nya yang azali lagi abadi, maka membaca percakapan mikraj yang suci ini dengan makna yang luas menjadi tugas wajib bagi seluruh umat Islam di dalam tasyahud. Penjelasan percakapan suci itu kami serahkan kepada Risale-i Nur, lalu dengan empat isyarat yang sangat singkat kami akan menerangkan salah satu maknanya: Yang Pertama: اَلتَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ. Makna ringkasnya demikian: Sebagaimana apabila seorang tukang membuat sebuah mesin yang sangat menakjubkan dengan ilmunya yang dalam dan kecerdasannya yang bagaikan mukjizat, maka setiap orang yang melihat mesin ajaib itu akan memberi selamat kepada sang tukang dengan penuh penghargaan lalu bertepuk tangan untuknya, serta memberikan kepadanya pujian dan pemberian yang penuh sanjungan, hadiah-hadiah lahir dan batin, dan penghormatan; sementara mesin itu sendiri, dengan memperlihatkan kehendak sang tukang persis sebagaimana yang diinginkannya secara sangat sempurna, serta memperlihatkan seninya yang halus lagi menakjubkan dan kepiawaian ilmunya, bertepuk tangan dan memberi selamat kepada tukangnya sendiri dengan lisan keadaan; ia pun memberikan penghormatan dan hadiah-hadiah maknawi.
Demikian pula persis: seluruh golongan makhluk hidup di dalam kainat — setiap golongan dan setiap individunya — adalah sebuah mesin menakjubkan yang setiap sisinya penuh mukjizat, yang kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl-nya, yaitu Sang Tukang Pembuat mereka yang memperkenalkan diri-Nya melalui pancaran yang dalam lagi halus dari ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu — ilmu yang melihat hubungan segala sesuatu dengan segala sesuatu serta melihat seluruh hal yang diperlukan bagi kehidupan tiap-tiap sesuatu lalu menyampaikannya tepat pada tempatnya — dengan lisan keadaan kehidupan mereka, laksana lisan ucapan para makhluk berkesadaran, yaitu manusia, jin, dan malaikat,
bertepuk tangan dengan penghormatan serta ucapan selamat seraya berkata: اَلتَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ. Dan mereka mempersembahkan harga kehidupan mereka dengan penuh ubudiyah secara langsung kepada Khâliq mereka yang mengetahui seluruh makhluk beserta segenap keadaannya; sehingga pada Malam Mikraj, Muhammad صلى الله عليه وسلم, atas nama seluruh makhluk hidup, di hadapan Wâjibul Wujûd mengucapkan اَلتَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ sebagai ganti salam, lalu mempersembahkan penghormatan, hadiah, dan salam maknawi dari seluruh golongan makhluk hidup.
Ya, sebagaimana sebuah mesin biasa yang teratur, dengan susunannya yang tertib lagi seimbang, tanpa ragu menunjukkan adanya seorang tukang yang mahir lagi teliti, demikian pula mesin-mesin hidup yang tak terhingga banyaknya, yang memenuhi kainat ini, masing-masingnya memperlihatkan seribu satu mukjizat ilmu. Sudah pasti, dengan pancaran ilmu yang — jika dibandingkan dengan cahaya kunang-kunang — setara dengan sinar matahari, makhluk-makhluk hidup itu bersaksi dengan sangat terang atas wujud yang wajib ada bagi Sang Tukang Pembuat dan Sang Seniman mereka Yang Kekal Selamanya, serta atas hak-Nya untuk disembah. Kalimat Mikraj Suci Kedua: اَلْمُبَارَكَاتُ. Karena menurut hadis salat adalah mikraj orang mukmin dan menjadi mazhar bagi pancaran mikraj teragung; dan karena sang pengembara dunia di setiap alam telah menemukan Khâliq-nya, Allâmul-Ghuyûb, melalui sifat ilmu; maka kami pun bersama pengembara itu akan memasuki alam yang luas dari segala yang diberkahi, yang membuat orang yang melihatnya mengucapkan "barakallah", yaitu alam اَلْمُبَارَكَاتُ; lalu dengan menyaksikan dan menelaah alam keberkahan itu — terutama anak-anak yang suci lagi diberkahi dari seluruh makhluk bernyawa, serta biji dan benih yang menjadi kotak-kotak kecil bagi takdir dan rancangan seluruh makhluk hidup — kami akan berusaha seperti pengembara itu untuk mengenal Khâliq kami dengan ilmul yakin melalui pancaran-pancaran halus lagi penuh mukjizat dari sifat ilmu yang suci:
Ya, dengan mata kepala kami melihat bahwa seluruh anak yang suci itu serta gudang-gudang kecil dan peti-peti kecil yang diberkahi itu — baik keseluruhannya maupun tiap-tiap satuannya — dengan ilmu Sang Alîm lagi Hakîm serentak menerima sebuah gerak untuk bangun dan berjalan menuju tujuan penciptaannya. Mereka membuat orang yang memandang dengan pandangan hakikat mengucapkan: "Seribu barakallah! Seratus ribu masyaallah!"
Ya, misalnya nutfah, telur, benih, dan biji — masing-masingnya sekaligus berada di dalam sebuah tatanan halus yang datang dari ilmu; tatanan itu berada di dalam timbangan yang sempurna, yang datang dari kepiawaian; timbangan itu berada di dalam sebuah penataan yang baru; penataan itu berada di dalam takaran dan keseimbangan yang segar; itu pun berada di dalam pemilahan dan pemeliharaan serta tanda-tanda pembeda yang sengaja diberikan agar terpisah dari sesamanya yang serupa; dan itu pun berada di dalam hiasan penuh seni dan perindahan
ini pun berada di dalam perangkat dan rupa yang bijaksana, layak, lagi sempurna; ini berada di dalam perbedaan daging dan bagian-bagian yang dimakan dari makhluk dan buah-buahan itu, yang dengan penuh kemuliaan diadakan untuk menyenangkan selera para pencari rezeki; ini berada di dalam ukiran dan perhiasan yang berbeda-beda, yang penuh ilmu lagi bagaikan mukjizat; ini pun berada di dalam aneka wangi yang harum dan rasa yang lezat, yang semuanya berada di dalam keteraturan yang sempurna; dan sementara satu sama lain berbeda dan terpisah, di dalam kemajemukan, kecepatan, dan keluasan mutlak, tanpa keliru dan tanpa salah, di dalam mekarnya seluruh rupa mereka dan berlangsungnya keadaan menakjubkan itu pada setiap musim — maka seluruh yang diberkahi itu, masing-masing dan bersama-sama, dengan lima belas lisan yang telah disebutkan tadi, memperlihatkan kepada mata kepiawaian menakjubkan dan ilmu penuh mukjizat dari Sang Tukang Pembuat mereka, lalu memperkenalkan Sang Pembuat mereka, Allâmul-Ghuyûb lagi Wâjibul Wujûd, laksana matahari.
Maka karena kesaksian mereka yang sangat luas lagi terang serta ucapan selamat mereka kepada Sang Pembuat merekalah, pada Malam Mikraj diri Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang berbicara atas nama seluruh makhluk, mengucapkan kalimat اَلْمُبَارَكَاتُ sebagai ganti salam. Kelimat Ketiga: اَلصَّلَوَاتُ — yaitu kalimat suci yang, baik di dalam mikraj teragung Muhammad صلى الله عليه وسلم yang bersifat umum maupun di dalam tasyahud salat yang merupakan mikraj khusus bagi setiap mukmin, setiap hari sekurang-kurangnya sepuluh kali dipersembahkan ke hadirat Ilahi oleh ratusan juta ahli iman dengan mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu diumumkan ke seluruh kainat. Karena Kelimat Ketiga Puluh Satu yang membahas mikraj telah membuktikan seluruh hakikat mikraj secara sangat pasti lagi kuat — bahkan di hadapan orang-orang keras kepala, orang-orang yang ingkar kepada Allah, dan para pengingkar yang dijadikannya lawan bicara — maka rincian dan hujah-hujahnya kami serahkan kepadanya; lalu dengan isyarat yang sangat ringkas kami akan memandang alam menakjubkan dari golongan makhluk bernyawa dan makhluk berkesadaran, yang memperlihatkan makna luas dari kalimat mikraj ketiga ini, dan berusaha mengenal — melalui pancaran ilmu azali — kesempurnaan rahmaniyah dan rahimiyah Khâliq kami di dalam kesatuan dan wujud-Nya, serta keagungan kudrat dan keluasan kehendak-Nya:
Ya, di alam ini kami melihat bahwa makhluk-makhluk bernyawa itu, sekalipun tidak dengan kesadaran dan akal, tetap merasakan dengan perasaan dan fitrahnya bahwa masing-masing dari mereka, dalam keadaan lemah dan tak berdaya tanpa batas, memiliki musuh dan pengganggu yang tak terhingga banyaknya; dan dalam kefakiran serta kebutuhan yang tak terhingga, memiliki hajat dan permintaan yang tak terhingga pula. Karena kemampuan dan modalnya tidak mencukupi untuk seperseribu dari itu semua, ia berteriak dan menangis dengan segenap kekuatannya; ia memohon secara maknawi dan fitri; dan ketika ia berlindung ke hadirat Sang Alîm lagi Qadîr dengan doa, permohonan, semacam salat, dan salawat melalui suara serta lisannya yang khas, tiba-tiba kami melihat bahwa Zat Yang Mengetahui setiap urusan dan setiap kebutuhan mereka yang berteriak itu, yang memahami setiap derita dan kerugian mereka, dan yang mendengar permohonan serta
doa fitri mereka — yaitu Sang Alîm Mutlak lagi Qadîr Yang Hakîm — datang menolong mereka dan memenuhi seluruh permintaan mereka. Dia mengubah tangis mereka menjadi tawa dan teriakan mereka menjadi ucapan syukur.
Pertolongan yang penuh hikmah, penuh ilmu, lagi penuh kasih sayang ini, dengan cara yang sangat terang, melalui pancaran ilmu dan rahmat, memperkenalkan Sang Mujîb lagi Mughîts, Sang Rahîm Yang Mahamulia, lalu mempersembahkan dan mengkhususkan seluruh salawat dan ubudiyah alam makhluk bernyawa itu kepada-Nya; dengan makna inilah, di dalam mikraj teragung, Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan di dalam salat yang merupakan mikraj kecil, umat beliau mengucapkan اَلصَّلَوَاتُ اَلطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ. Kalimat Suci Keempat: اَلطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ. Dengan hikmah bahwa banyak hakikat Risale-i Nur diingatkan di dalam tasbihat salat, aku pun seakan-akan tanpa kehendakku sendiri terdorong untuk menerangkan hakikat kalimat-kalimat Al-Fatihah dan tasyahud dengan isyarat-isyarat yang singkat.
Maka kalimat suci اَلطَّيِّبَاتُ yang diucapkan di dalam mikraj Muhammad صلى الله عليه وسلم itu — dengan rahasia bahwa ia diucapkan di dalam mikraj dengan makna segala kebaikan tak terhingga yang dipersembahkan kepada Khâliq mereka oleh manusia, jin, malaikat, dan makhluk-makhluk ruhani, yaitu para ahli makrifat dan iman serta pemilik kesadaran menyeluruh: mereka yang memperindah kainat dengan kebaikan, kebajikan, dan ubudiyah mereka yang indah; yang memandang ke alam segala yang indah; yang mengetahui dengan sempurna keindahan dan kebagusan tak terhingga milik Sang Jamîl Mutlak Yang Kekal Selamanya serta keindahan abadi dari nama-nama-Nya yang menghiasi kainat; yang menyambutnya dengan ubudiyah menyeluruh dengan penuh cinta dan rindu; dan yang mempersembahkannya kepada Khâliq mereka dengan wangi harum dari iman yang terang, makrifat yang luas, serta pujian dan sanjungan — itulah kalimat suci lagi baik yang diulang-ulang oleh seluruh umat di dalam tasyahud setiap hari tanpa jemu.
Ya, kainat ini adalah cermin dan pancaran dari kebagusan serta keindahan yang kekal selamanya lagi tiada berhingga; dan seluruh keindahan, kesempurnaan, dan kebagusan yang ada di dalam kainat datang dari kebagusan yang kekal itu, lalu menjadi indah dan naik nilainya karena bersambung kepada kebagusan itu. Jika tidak demikian, kainat hanyalah puing yang kacau balau dan tempat kesedihan. Adapun pertalian itu dipahami melalui makrifat dan pembenaran manusia, malaikat, serta makhluk-makhluk ruhani yang menjadi penyeru dan penyiar bagi kerajaan keilahian.
Bahkan, untuk menyebarkan ke segala penjuru pujian dan sanjungan yang indah lagi manis dari para penyeru itu, sanjungan mereka kepada Ma'bûd mereka, serta kalimat-kalimat mereka, dan untuk mengarahkannya ke sisi arasy teragung — supaya zarah-zarah unsur udara, laksana prajurit yang senantiasa siap menerima perintah, laksana lidah dan telinga yang sangat kecil, dapat menyampaikan kalimat-kalimat yang indah itu ke hadirat keilahian
dan mempersembahkannya — terlintas di dalam hatiku bahwa ada kemungkinan yang kuat bahwa keadaan yang sungguh ajaib lagi menakjubkan itu telah dianugerahkan kepada udara.
Maka sebagaimana manusia dan malaikat memperkenalkan Sang Ma'bûd Dzul-Jalâl melalui iman dan ubudiyah mereka, demikian pula Sang Hakîm Dzul-Jalâl itu memperkenalkan diri-Nya dengan cara yang sangat terang, yaitu dengan menjadikan masing-masing penyiar itu — melalui bakat yang sangat menghimpun, perangkat yang sangat menakjubkan, serta detail-detail ilmu yang Dia berikan kepada mereka — sebagai sebuah kainat kecil yang berkaitan dengan seluruh kainat. Misalnya, dengan menciptakan berbagai mesin ajaib seperti daya ingat, daya khayal, dan daya pikir di dalam kepala manusia yang mungil, pada tempat sebesar sebutir kenari, dan dengan menjadikan daya ingat itu laksana sebuah perpustakaan besar, Dia memperlihatkan diri-Nya laksana matahari melalui pancaran ilmu azali. {(): Penyakitku yang sangat parah tidak mengizinkan. Ini hanyalah sebuah sumber rujukan dan bantuan bagi tugas terjemahan Hüsrev.}
Sekarang kami akan mengisyaratkan makna yang sangat ringkas serta semacam terjemahan dari bagian berbahasa Arab yang telah disebutkan tadi — bagian yang mengisyaratkan hujah-hujah menyeluruh tentang ilmu yang meliputi segala sesuatu, yang sebagai satu hujah luas memuat burhan-burhan yang tak terhingga banyaknya, dan yang memperlihatkan ilmu yang meliputi itu dengan lima belas dalil. Dalil Pertama dari Lima Belas Dalil: فَالْاِنْتِظَامَاتُ الْمَوْزُونَةُ. Yakni: kerapian yang terukur dan keteraturan yang seimbang, yang disaksikan pada seluruh makhluk, bersaksi atas adanya ilmu yang meliputi segala sesuatu.
Ya, mulai dari kainat yang laksana sebuah istana yang teratur, dari tata surya, dari lembaran udara yang zarah-zarahnya memperlihatkan keteraturan yang mengherankan dalam menyebarkan kata dan suara, dan dari permukaan bumi yang setiap musim semi menumbuhkan tiga ratus ribu jenis yang berbeda-beda di dalam keteraturan yang paling sempurna, sampai kepada anggota tubuh, perangkat, sel, dan zarah yang ada pada wujud setiap makhluk hidup — adanya kerapian yang seimbang dan keteraturan yang sempurna, yang merupakan karya sebuah ilmu yang dalam, meliputi segala sesuatu, lagi tidak pernah keliru, menunjukkan dan bersaksi dengan sangat terang lagi pasti atas adanya ilmu yang meliputi segala sesuatu. Itulah maknanya. Dalil Kedua: وَالْاِتِّزَانَاتُ الْمَنْظُومَةُ. Yakni: adanya ukuran yang sangat rapi dan timbangan yang serasi pada segala sesuatu di antara seluruh ciptaan di dalam kainat — baik juz'i maupun menyeluruh, mulai dari planet-planet sampai kepada sel darah merah dan sel darah putih di dalam darah — menunjukkan dengan sangat nyata dan bersaksi secara pasti atas adanya ilmu yang meliputi segala sesuatu.
Ya, kami melihat bahwa, misalnya, anggota tubuh dan perangkat seekor lalat dan seorang manusia, bahkan sel-sel tubuhnya serta sel darah merah dan sel darah putih di dalam darahnya, telah diletakkan dengan timbangan yang demikian peka dan ukuran yang demikian halus, dan sedemikian serasi lagi cocok satu sama lain, serta anggota tubuh yang lain begitu serasi dan teratur satu sama lain, sehingga sama sekali tidak mungkin bagi siapa pun yang tidak memiliki ilmu yang tiada berhingga untuk memberikan keadaan seperti itu kepada mereka.
Demikian pula persis, seluruh makhluk hidup dan berbagai jenis makhluk — dari zarah-zarah sampai kepada planet-planet di dalam tata surya — dikuasai oleh timbangan yang sedemikian sempurna dan oleh ukuran teratur yang tidak keliru sekadar zarah pun; dan hal itu dengan pasti menunjukkan serta dengan gemilang bersaksi atas ilmu yang meliputi segala sesuatu. Jadi, setiap dalil bagi ilmu itu sekaligus menjadi dalil bagi keberadaan Zat Yang Alîm. Karena sifat mustahil lagi tidak mungkin ada tanpa pemilik sifat, maka seluruh hujah bagi ilmu itu menjadi hujah teragung yang kuat lagi sangat pasti atas wujud yang wajib ada bagi Sang Alîm Azali. Dalil Ketiga: وَالْحِكَمُ الْقَصْدِيَّةُ الْعَامَّةُ Yakni: pada seluruh khallâqiyah dan kegiatan di dalam kainat, dan pada pergantian, penghidupan, pemberian tugas, serta pelepasan tugas, setiap satu dari seluruh ciptaan dan setiap golongan memiliki hikmah-hikmah, faedah-faedah, dan tugas-tugas yang dipasang dengan sengaja lagi dengan pengetahuan, yang mustahil terjadi karena kebetulan; dan kita melihat bahwa siapa pun yang tidak memiliki ilmu yang meliputi segala sesuatu, sama sekali tidak dapat mengaku memiliki satu pun darinya dari sisi penciptaan.
Misalnya, dari makhluk hidup yang tak terhingga, lidah seorang manusia — satu perangkat saja dari seratus perangkat yang ada padanya — padahal ia sekadar sepotong daging, dengan dua tugas besarnya menjadi alat bagi ratusan hikmah, hasil, buah, dan faedah. Tugasnya pada cita rasa makanan, yaitu mengabarkan seluruh rasa yang berbeda-beda itu satu per satu kepada tubuh dan kepada lambung dengan pengetahuan yang tepat, dan menjadi pemeriksa yang teliti bagi dapur-dapur rahmat Ilahi; lalu pada tugas kata-kata, menjadi penerjemah sekaligus sentral yang sempurna bagi hati, ruh, dan otak — sudah pasti menunjukkan dan bersaksi dengan cara yang sangat gemilang lagi pasti atas ilmu yang meliputi segala sesuatu.
Jika satu lidah saja, dengan hikmah-hikmah dan buah-buahnya, sudah menunjukkan sedemikian rupa, maka lidah yang tak terhingga, makhluk hidup yang tak terhingga, dan ciptaan yang tiada berujung — seterang munculnya matahari dan sepasti siang hari — menunjukkan dan bersaksi atas ilmu yang tiada berujung serta mengumumkan bahwa tidak ada satu pun yang berada di luar lingkup ilmu, hikmah, dan masyîah Allâmul-Ghuyûb. Dalil Keempat: وَالْعِنَايَاتُ الْمَخْصُوصَةُ الشَّامِلَةُ Yakni: di dalam alam seluruh makhluk hidup dan makhluk berkesadaran, kepada setiap jenis dan setiap individu diberikan inayah, kasih sayang, dan perlindungan yang khusus, yang sesuai dengannya, sekaligus mencakup semuanya; dan semua itu, pada tingkat yang sangat nyata,
menunjukkan atas ilmu yang meliputi segala sesuatu serta memberikan kesaksian yang tak terhingga atas wujud yang wajib ada bagi Sang Alîm Yang Penuh Inayah — Zat yang mengetahui siapa saja yang menjadi tempat tampaknya inayah itu dan mengetahui pula segala kebutuhan mereka.
Peringatan: Adapun penjelasan atas kata-kata di dalam fikrah berbahasa Arab yang merupakan inti dari saripati atas saripati Risale-i Nur, ia adalah isyarat kepada hakikat-hakikat yang diambil oleh Risale-i Nur — yang memancar dari Al-Qur'an — dari kilauan-kilauan cahaya ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya isyarat kepada dalil-dalil dan hujah-hujah tentang ilmu, iradah, dan kudrat; sehingga dalil-dalil ilmiah yang diisyaratkan oleh kata-kata Arab ini ditafsirkan dengan sungguh-sungguh. Jadi, masing-masingnya adalah penjelasan atas satu isyarat dan satu nukta dari banyak ayat. Ia bukanlah tafsir, penjelasan, ataupun terjemahan atas kata-kata Arab itu. Kita kembali kepada pokok pembicaraan.
Ya, dengan mata kepala kami melihat bahwa ada Sang Alîm Yang Rahîm — yang mengetahui kami dan seluruh makhluk bernyawa, lalu dengan pengetahuan itu melindungi mereka dengan kasih sayang; yang mengetahui kebutuhan dan setiap derita mereka, lalu dengan pengetahuan itu datang menolong dengan inayah-Nya. Salah satu dari misalnya yang tak terhingga adalah inayah yang khusus dan yang umum, yang datang kepada manusia dari sisi rezeki, obat, dan barang-barang tambang yang ia butuhkan; semua itu dengan sangat jelas memperlihatkan ilmu yang meliputi segala sesuatu dan bersaksi bagi Ar-Rahmân Ar-Rahîm sebanyak bilangan rezeki, obat, dan barang tambang itu.
Ya, pemberian makan kepada manusia — terutama kepada yang lemah dan kepada anak-anak kecil — dan khususnya sampainya rezeki yang sesuai dari dapur lambung kepada setiap anggota tubuh yang meminta rezeki, bahkan kepada setiap selnya; juga pekerjaan-pekerjaan penuh hikmah seperti dijadikannya gunung-gunung sebagai apotek dan sebagai gudang bagi seluruh barang tambang yang dibutuhkan manusia — semua itu hanya dapat terjadi dengan ilmu yang sangat meliputi segala sesuatu. Kebetulan yang serampangan, kekuatan yang buta, alam yang tuli, sebab-sebab yang beku lagi tanpa kesadaran, dan unsur-unsur sederhana yang saling menyerbu, sama sekali tidak dapat ikut campur dalam pemberian makan, pengaturan, perlindungan, dan penataan yang penuh ilmu, penuh penglihatan, penuh hikmah, penuh belas kasih, lagi penuh inayah ini. Yang ada hanyalah bahwa sebab-sebab lahiriah itu dipakai dan dipekerjakan sebagai tirai bagi keagungan kudrat Ilahi, dengan perintah dan izin Sang Alîm Mutlak, di dalam lingkup ilmu dan hikmah-Nya. Dalil Kelima dan Keenam: وَالْاَقْضِيَّةُ الْمُنْتَظَمَةُ وَالْاَقْدَارُ الْمُثْمِرَةُ Yakni: segala sesuatu — terutama bentuk dan ukuran tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan manusia — telah dipotong dengan penuh seni menurut kaidah-kaidah kada dan kadar, yaitu dua macam dari ilmu azali; lalu dijahit tepat sesuai dengan tinggi tubuh masing-masing, dipakaikan dengan sempurna, dan diberi bentuk penuh hikmah yang sangat teratur. Semua itu, masing-masing dan bersama-sama, menunjukkan atas sebuah ilmu yang tiada berujung
dan bersaksi bagi Sang Pembuat Yang Alîm sebanyak bilangan mereka.
Ya, misalnya, sebagai contoh dari misalnya yang tak terhingga kita memandang hanya kepada satu pohon dan satu orang manusia; kita melihat bahwa: pohon berbuah ini dan manusia yang berperangkat banyak itu — lahir dan batinnya, luar dan dalamnya — telah digariskan batas-batasnya dengan sebuah jangka gaib dan dengan pena ilmu yang halus, sampai pada tingkat yang tidak sanggup ditiru dengan sempurna oleh pelukis mana pun; dan dengan keteraturan yang penuh, setiap anggotanya diberi bentuk yang sesuai agar sampai kepada buah dan hasilnya serta kepada tugas fitrahnya. Karena hal ini hanya mungkin terjadi dengan ilmu yang tiada berujung, maka tumbuh-tumbuhan dan hewan bersaksi sebanyak bilangan mereka atas ilmu yang tak terhingga dan atas wujud yang wajib ada bagi Sang Pembuat Yang Musawwir, Sang Alîm Yang Muqaddir — Zat yang mengetahui dan memperhitungkan hubungan segala sesuatu dengan segala sesuatu, yang dengan jangka dan pena kada dan kadar dari ilmu azali-Nya mengerjakan dengan penuh hikmah lagi dengan pengetahuan ukuran serta bentuk luar dan dalam dari seluruh yang semisal dan sejenis dengan pohon dan manusia ini. Dalil Ketujuh dan Kedelapan: وَالْاٰجَالُ الْمُعَيَّنَةُ وَالْاَرْزَاقُ الْمُقَنَّنَةُ Yakni: karena sebuah hikmah yang penting, ajal dan rezeki yang pada pandangan lahir disangka samar lagi tidak tertentu, sesungguhnya di balik tirai kesamaran itu telah tertulis di dalam buku kada dan kadar azali, pada lembaran ketentuan hidup: ajal setiap makhluk hidup sudah ditakdirkan dan ditentukan; ia tidak maju dan tidak mundur. Dan ada dalil-dalil yang tak terhingga bahwa rezeki setiap makhluk bernyawa telah ditetapkan dan dikhususkan serta dituliskan di dalam papan kada dan kadar.
Misalnya, matinya sebuah pohon yang besar sambil meninggalkan bijinya — yang menjadi semacam ruh baginya — untuk menjalankan tugas di tempatnya, adalah menurut hukum penuh hikmah dari Sang Alîm Yang Hafîzh; dan susu yang menjadi rezeki seorang bayi, yang keluar dari buah dada lalu mengalir ke mulutnya dalam keadaan jernih lagi bersih tanpa tercemar sedikit pun padahal ia keluar dari antara darah dan kotoran — semua ini menolak kemungkinan kebetulan secara pasti dan memperlihatkan dengan sangat pasti bahwa hal itu terjadi menurut kaidah kasih sayang dari Ar-Razzâq Yang Alîm lagi Rahîm. Kiaskanlah seluruh makhluk hidup dan makhluk bernyawa kepada dua misal kecil ini.
Jadi, pada hakikatnya ajal itu tertentu lagi telah ditakdirkan, dan rezeki pun telah dicatat di dalam buku ketentuan dalam sebuah kepastian yang khusus bagi setiap orang. Akan tetapi, karena sebuah hikmah yang sangat penting, baik ajal maupun rezeki tampak berada di balik tirai gaib: samar, tidak tertentu, dan secara lahir seakan-akan bergantung kepada kebetulan.
Seandainya ajal itu ditentukan dengan pasti seperti terbenamnya matahari, niscaya separuh umur akan sia-sia dalam keadaan lalai yang mutlak dan dalam keadaan tidak beramal untuk akhirat; lalu setelah separuh umur itu
manusia akan dilanda ketakutan yang dahsyat, seakan-akan setiap hari ia melangkahkan satu kaki ke arah tiang gantungan kematian, sehingga musibah pada ajal itu berlipat seratus kali. Karena rahasia inilah, musibah-musibah yang menimpa, bahkan kiamat yang merupakan ajal dunia, dibiarkan berada di balik tirai gaib sebagai rahmat.
Adapun rezeki, karena setelah kehidupan ia merupakan gudang nikmat yang paling besar, sumber syukur dan pujian yang paling kaya, serta tambang ubudiyah, doa, dan permohonan yang paling lengkap, maka ia diperlihatkan dalam rupa lahir sebagai sesuatu yang samar dan seakan bergantung kepada kebetulan. Supaya pintu untuk berlindung, memohon, dan merendahkan diri di hadapan Ar-Razzâq Yang Mahamulia, serta pintu untuk meminta rezeki dengan syafaat pujian dan syukur, tidak pernah tertutup pada setiap waktu. Sebab, seandainya ia ditentukan dengan pasti, hakikat dirinya akan berubah sama sekali. Permohonan dan doa yang penuh syukur lagi penuh terima kasih, bahkan pintu-pintu ubudiyah yang penuh kerendahan diri, niscaya akan tertutup. Dalil Kesembilan dan Kesepuluh: وَالْاِتْقَانَاتُ الْمُفَنَّنَةُ وَالْاِهْتِمَامَاتُ الْمُزَيَّنَةُ Yakni: pada setiap ciptaan — terutama pada musim semi — seluruh makhluk indah yang memperlihatkan manifestasi kebagusan dan keindahan yang kekal selamanya di muka bumi, di antaranya bunga-bunga, buah-buahan, burung-burung kecil, dan lalat-lalat; dan terlebih pada penciptaan, bentuk, serta perangkat burung-burung kecil yang bersepuh emas lagi berhias bintang itu, terdapat kemahiran dan ketelitian yang sedemikian menakjubkan, sebuah seni yang luar biasa, sebuah kerapian yang sempurna, sebuah kesempurnaan, serta bentuk-bentuk dan mesin-mesin kecil dalam berbagai macam ragam yang memperlihatkan kepandaian menakjubkan Sang Seniman mereka — semua itu dengan pasti menunjukkan atas ilmu yang sangat meliputi segala sesuatu dan — semoga tidak keliru dalam ungkapan — atas kecakapan ilmiah yang sangat mahir lagi menguasai berbagai cabang ilmu, sebagaimana semua itu juga bersaksi bahwa mustahil kebetulan yang serampangan dan sebab-sebab yang tanpa kesadaran lagi kacau ikut campur di dalamnya…
Dengan ungkapan وَالْاِهْتِمَامَاتُ الْمُزَيَّنَةُ dimaksudkan bahwa pada ciptaan-ciptaan yang indah itu terdapat hiasan yang sedemikian manis, perhiasan yang sedemikian lembut, dan keindahan seni yang sedemikian memikat, sehingga nyatalah bahwa Zat yang bekerja dengan ilmu yang tiada berujung, yang mengetahui bentuk terindah dari segala sesuatu, dan yang berkehendak memperlihatkan keindahan kesempurnaan seni-Nya dan kesempurnaan keindahan seni-Nya kepada makhluk-makhluk berkesadaran, Dialah yang melukis dan mencipta bunga yang paling kecil dan lalat yang paling remeh dengan penuh perhatian, penuh kemahiran, dan penuh kecintaan kepada seni. Penghiasan dan pemercantikan yang penuh perhatian ini dengan sangat nyata menunjukkan atas ilmu yang tak terhingga lagi meliputi segala sesuatu, dan bersaksi sebanyak bilangan keindahan-keindahan itu atas wujud yang wajib ada bagi Sang Pembuat Yang Alîm lagi Dzul-Jamâl. Dalil Kesebelas, yang mencakup lima dalil dan hujah yang menyeluruh:
وَغَايَةُ كَمَالِ الْاِنْتِظَامِ الْاِتِّزَانِ الْاِمْتِيَازِ الْمُطْلَقَاتِ فِى السُّهُولَةِ الْمُطْلَقَةِ وَخَلْقُ الْاَشْيَاءِ فِى الْكَثْرَةِ الْمُطْلَقَةِ مَعَ الْاِتْقَانِ الْمُطْلَقِ وَفِى السُّرْعَةِ الْمُطْلَقَةِ مَعَ الْاِتِّزَانِ الْمُطْلَقِ وَفِى الْوُسْعَةِ الْمُطْلَقَةِ مَعَ كَمَالِ حُسْنِ الصَّنْعَةِ وَفِى الْبُعْدَةِ الْمُطْلَقَةِ مَعَ الْاِتِّفَاقِ الْمُطْلَقِ وَفِى الْخِلْطَةِ الْمُطْلَقَةِ مَعَ الْاِمْتِيَازِ الْمُطْلَقِ
Dalil ini adalah bentuk lain yang lebih indah dari dalil yang tertulis di akhir fikrah berbahasa Arab yang telah disebutkan sebelumnya. Karena sakit yang berat, lima enam dalil yang luas di dalamnya diterangkan dengan isyarat yang sangat singkat.
Pertama: Di seluruh muka bumi kita melihat bahwa mesin-mesin hidup yang menakjubkan dibuat dengan kemudahan yang sangat besar — kemudahan yang lahir dari pengetahuan yang sempurna dan dari kemahiran — dibuat sekaligus, sebagiannya dalam satu menit, dalam keadaan rapi, terukur, dan berbeda dari yang semisalnya; hal itu menunjukkan atas ilmu yang tiada berujung dan bersaksi atas kesempurnaan ilmu itu sekadar tingkat kemudahan yang lahir dari kemahiran ilmiah di dalam seni tersebut.
Kedua: Penciptaan yang sangat penuh seni lagi sempurna, yang berlangsung di tengah kemajemukan dan jumlah yang teramat banyak tanpa sedikit pun keliru, menunjukkan atas ilmu yang tak terhingga di dalam kudrat yang tiada berujung, dan bersaksi tanpa terhingga bagi Sang Alîm dan Sang Qadîr Mutlak.
Ketiga: Penciptaan yang meskipun berlangsung dengan kecepatan mutlak lagi sangat singkat, tetap sangat seimbang lagi terukur; semua itu menunjukkan atas ilmu yang tak terhingga dan bersaksi sebanyak bilangannya bagi Sang Alîm Mutlak dan Sang Qadîr Mutlak.
Keempat: Dibuatnya makhluk-makhluk hidup yang tak terhingga di seluruh muka bumi yang teramat luas — meskipun dalam keluasan yang mutlak — dengan sangat penuh seni, penuh hiasan, dan dengan kebagusan seni yang sempurna; hal itu menunjukkan atas ilmu yang meliputi segala sesuatu, yang tidak pernah keliru, yang melihat segala sesuatu sekaligus, dan yang bagi-Nya satu perkara tidak menghalangi perkara yang lain; dan masing-masing serta bersama-sama bersaksi bahwa mereka adalah ciptaan-ciptaan Sang Alîm atas segala sesuatu dan Sang Qadîr Mutlak.
Kelima: Individu-individu satu jenis yang terpisah dalam jarak yang mutlak jauh lagi sangat berjauhan satu sama lain — yang satu di timur, yang satu di barat, yang satu di utara, yang satu di selatan — muncul ke alam wujud pada waktu yang sama, dengan cara yang sama, serupa satu sama lain, namun terbedakan satu dari yang lain dalam kehadiran diri yang nyata lagi khusus; hal itu hanya dapat terjadi dengan kudrat yang tak terhingga dari Sang Alîm Mutlak dan Sang Qadîr Mutlak yang mengatur kainat, dan dengan ilmu-Nya yang tiada berujung yang meliputi seluruh yang ada
beserta segala keadaannya; sehingga semua itu menunjukkan atas ilmu yang meliputi segala sesuatu dan bersaksi tanpa terhingga bagi Allâmul-Ghuyûb.
Keenam: Meskipun bercampur baur secara mutlak, tanpa sedikit pun keliru dan tanpa tertukar, masing-masing dengan keistimewaan yang sempurna dan tanda pembeda tersendiri — di tengah sesamanya yang campur aduk itu dan di tempat-tempat yang gelap, misalnya dalam keadaan yang membingungkan seperti biji-biji di bawah tanah — penciptaan setiap satu dari mesin-mesin hidup yang sedemikian berjejal itu secara mukjizat, tanpa meninggalkan satu pun perangkatnya kurang, menunjukkan ilmu azali seterang matahari dan bersaksi seterang siang hari atas khallâqiyah dan rububiyah Sang Qadîr Mutlak lagi Sang Alîm Mutlak. Kami serahkan kepada penjelasan terperinci di dalam Risale-i Nur, lalu kisah yang teramat panjang ini kami singkat.
Sekarang kami memulai persoalan kehendak Allah yang terdapat di dalam saripati dari saripati itu: اَللّٰهُ اَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ قُدْرَةً وَعِلْمًا اِذْ هُوَ الْمُر۪يدُ لِكُلِّ شَىْءٍ مَاشَاءَ اللّٰهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَاْ لَمْ يَكُنْ اِذْ تَنْظ۪يمُ ا۪يجَادِ الْمَصْنُوعَاتِ ذَاتًا وَصِفَةً وَمَاهِيَّةً وَهُوِيَّةً مِنْ بَيْنِ الْاِمْكَانَاتِ الْغَيْرِ الْمَحْدُودَةِ وَالطُّرُقِ الْعَق۪يمَةِ وَالْاِحْتِمَالَاتِ الْمُشَوَّشَةِ وَسُيُولِ الْعَنَاصِرِ الْمُتَشَاكِسَةِ وَالْاَمْثَالِ الْمُتَشَابِهَةِ بِهٰذَا النِّظَامِ الْاَدَقِّ الْاَرَقِّ وَتَوْز۪ينُهَا بِهٰذَا الْم۪يزَانِ الْحَسَّاسِ الْجَسَّاسِ وَتَمْي۪يزُهَا بِهٰذِهِ التَّعَيُّنَاتِ الْمُزَيَّنَةِ الْمُنْتَظَمَةِ وَخَلْقُ الْمُخْتَلِفَاتِ الْمُنْتَظَمَاتِ الْحَيَوِيَّةِ مِنَ الْبَس۪يطِ الْجَامِدِ الْمَيِّتِ كَالْاِنْسَانِ بِجِهَازَاتِه۪ مِنَ النُّطْفَةِ وَالطَّيْرِ بِجَوَارِحِه۪ مِنَ الْبَيْضَةِ وَالشَّجَرَةِ بِاَعْضَائِهَا مِنَ النُّوَاةِ وَالْحَبَّةِ تَدُلُّ عَلٰى اَنَّ كُلَّ شَىْءٍ بِاِرَادَتِه۪ تَعَالٰى وَاِخْتِيَارِه۪ وَقَصْدِه۪ وَمَش۪يئَتِه۪ سُبْحَانَهُ كَمَا اَنَّ تَوَافُقَ الْاَشْيَاءِ ف۪ى اَسَاسَاتِ الْاَعْضَاءِ النَّوْعِيَّةِ وَالْجِنْسِيَّةِ يَدُلُّ عَلٰى اَنَّ صَانِعَ تِلْكَ الْاَفْرَادِ وَاحِدٌ اَحَدٌ كَذٰلِكَ اَنَّ تَمَايُزَهَا بِالتَّشَخُّصَاتِ الْمُتَمَايِزَاتِ وَالتَّعَيُّنَاتِ الْمُنْتَظَمَةِ يَدُلُّ عَلٰى اَنَّ ذٰلِكَ الصَّانِعَ الْوَاحِدَ الْاَحَدَ فَاعِلٌ مُخْتَارٌ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُر۪يدُ
Fikrah ini adalah satu dalil menyeluruh lagi panjang yang memuat sangat banyak hujah menyeluruh dari dalil-dalil kehendak Allah. Di dalam terjemahan singkat maknanya, kami terangkan satu dalil yang membuktikan kehendak, pilihan, dan masyîah Allah dengan sangat pasti. Lagi pula, seluruh dalil ilmu Allah yang telah disebutkan itu persis merupakan dalil bagi kehendak-Nya pula. Sebab pada setiap ciptaan tampak manifestasi dan jejak ilmu serta kehendak-Nya secara bersamaan.