MANUSIA
Merupakan buah terakhir serta paling mencakup banyak segi dari pohon kainat ini.
Dan, dari segi hakikat Muhammad ﷺ, merupakan benih asalnya.
Dan ayat terbesar dari Al-Qur’an kainat.
Dan Ayat Kursinya yang membawa Ismul A'zham.
Dan tamu paling dimuliakan dalam istana kainat.
Dan petugas paling aktif, yang diizinkan mengelola penghuni lain istana tersebut.
Dan pengawas paling riuh serta paling besar tanggung jawabnya, yang ditugaskan mengawasi pemasukan, pengeluaran, penanaman, serta penaburan dalam kebun dan ladang lingkungan bumi di kota kainat, dan dilengkapi ratusan ilmu serta ribuan seni.
Dan seorang pemeriksa di bawah perhatian yang sangat teliti dari Sang Raja Azali dan Abadi, serta suatu khalifah bumi dalam negeri bumi, bagian dari negara kainat.
Dan pengelola yang gerak juz'i maupun menyeluruhnya dicatat.
Dan hamba yang mencakup banyak segi, diwajibkan menjalankan ubudiyah yang sangat luas, memikul amanat terbesar yang langit, bumi, serta gunung enggan memikulnya, dan dihadapannya terbuka dua jalan menakjubkan; pada satu jalan ia menjadi makhluk hidup yang paling malang, dan pada jalan lain paling berbahagia.
Dan tempat Manifestasi Ismul A'zham dari Sang Sultan kainat, serta cermin yang paling mencakup seluruh Asma-Nya.
Dan penerima khusus Sapaan serta Percakapan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, yang paling memahami.
Dan makhluk hidup paling membutuhkan di antara makhluk hidup kainat; dalam keadaan serba membutuhkan serta tak berdaya yang tak terhingga, ia merupakan makhluk malang yang memiliki tujuan dan keinginan tak terhitung, musuh tak terbatas, serta hal-hal berbahaya yang menyakitinya.
Dan paling kaya dari segi potensi.
Dan paling menderita dari segi kenikmatan hidup, dengan kenikmatan yang bercampur kepedihan dahsyat.
Dan paling rindu serta membutuhkan untuk tetap ada, juga paling layak serta berhak atasnya.
Dan meminta serta memohon kelangsungan dan kebahagiaan abadi melalui doa-doa tak terhitung.
Dan meskipun seluruh kenikmatan dunia diberikan kepadanya, semuanya tidak memuaskan keinginannya untuk tetap ada.
Dan mukjizat Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad serta keajaiban penciptaan yang sangat luar biasa, yang mencintai Zat yang memberinya anugerah sampai tingkat penghambaan, membuat-Nya dicintai, serta dicintai.
Dan mencakup kainat, serta seluruh perlengkapan kemanusiaannya bersaksi bahwa ia diciptakan untuk menuju hidup yang kekal...
Manusia-manusia ini, yang melalui dua puluh hakikat menyeluruh tersebut terhubung kepada Asma Al-Haqq dari Allah سُبْحَانَهُ, terus dicatat amalnya melalui Asma Hafîzh dari Sang Hafîzh Dzul-Jalâl, Yang melihat kebutuhan paling kecil makhluk hidup yang terkecil, mendengar permohonannya, serta menjawab melalui Perbuatan. Tindakan mereka yang berhubungan dengan kainat ditulis oleh kiraman katibin (malaikat pencatat) dari Asma tersebut, dan lebih daripada segala sesuatu, mereka menjadi sasaran Pandangan Perhatian-Nya. Tentu, tentu, dalam segala keadaan, tanpa keraguan, berdasarkan dua puluh hakikat ini, akan berlangsung kebangkitan serta hidupnya kembali manusia. Melalui Asma Al-Haqq, mereka akan menerima pahala khidmah terdahulu serta hukuman kesalahan mereka. Melalui Asma Hafîzh, mereka akan dihisab dan ditanyai mengenai setiap amal, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, yang telah dicatat. Dalam negeri yang kekal, pintu tempat perjamuan kebahagiaan abadi serta penjara kemalangan tetap akan dibuka. Seorang pengawas yang dalam alam ini memimpin banyak golongan, turut campur, dan terkadang membuatnya kacau, tidak akan masuk ke tanah, berbaring, serta bersembunyi tanpa ditanyai setiap amalnya dan tanpa dibangunkan.
Jika tidak, meskipun suara lalat didengar dan dijawab melalui Perbuatan dengan diberikan hak hidupnya, doa-doa mengenai hak manusia yang tak terhitung untuk tetap ada, yang disampaikan dengan bahasa dua puluh hakikat tersebut, sekuat guruh dan menggemakan Arasy serta bumi, tidak akan didengar, dan hak-hak tak terhitung itu akan disia-siakan. Hikmah yang, menurut kesaksian keteraturan sayap lalat, tidak memboroskan bahkan sebesar sayap lalat, akan sepenuhnya memboroskan kemampuan manusia yang menjadi tempat terhubung seluruh hakikat itu, harapan serta keinginan yang menjangkau hidup yang kekal, dan begitu banyak hubungan serta hakikat kainat yang memberi makanan kepada kemampuan serta keinginan tersebut. Hal ini merupakan pelanggaran hak, keburukan zalim, serta sesuatu di luar kemungkinan. Seluruh wujud yang bersaksi atas Asma Al-Haqq, Hafîzh, Hakîm, Jamîl, serta Rahîm menolaknya. Semuanya mengatakan bahwa hal itu mustahil pada seratus tingkat dan tidak mungkin dari seribu segi.
Asma Al-Haqq, Hafîzh, Hakîm, Jamîl, serta Rahîm menjawab pertanyaan kami kepada Khâliq kami mengenai kebangkitan, dan berkata, "Sebagaimana Kami merupakan kebenaran serta hakikat, dan sebagaimana nyatanya wujud-wujud yang bersaksi atas Kami, kebangkitan benar serta pasti terwujud."
Dan karena...
Aku hendak menulis lebih lanjut, tetapi karena telah diketahui seterang matahari, aku mempersingkatnya.
Seperti pada hal-hal dalam contoh-contoh serta premis berawal "karena" tadi, setiap Asma dari seratus, bahkan seribu Asma Allah سُبْحَانَهُ yang mengarah kepada kainat, sebagaimana membuktikan Sang Pemilik Asma dengan jelas melalui cermin dan manifestasinya dalam wujud-wujud; demikian pula, ia menunjukkan kebangkitan serta negeri akhirat dan membuktikannya dengan pasti.
Sebagaimana Rabb kami memberi jawaban yang suci serta pasti atas pertanyaan kami kepada Khâliq melalui seluruh Firman, kitab yang diturunkan-Nya, serta sebagian besar Asma yang dimiliki-Nya; demikian pula, melalui malaikat-malaikat-Nya serta bahasa mereka, Dia juga menyampaikan dengan cara lain:
"Sejak masa Adam, terdapat peristiwa-peristiwa pertemuan kalian dengan makhluk rohani serta kami yang berkekuatan ratusan tawatur. Terdapat tanda dan dalil tak terhitung yang menunjukkan adanya kami serta makhluk rohani, dan ubudiyah kami serta mereka. Ketika bertemu panglima-panglima kalian, kami telah memberitakan dengan saling bersesuaian bahwa kami berjalan-jalan dalam ruang-ruang akhirat serta sebagian lingkupnya, dan kami selalu memberitakannya. Tentu, ruang-ruang yang kekal serta sempurna tempat kami berjalan-jalan ini, dan istana serta tempat tinggal yang dilengkapi dan dihiasi di belakangnya, tanpa keraguan sedikit pun bagi kami, sedang menunggu untuk menempatkan tamu-tamu yang sangat penting di sana. Kami memberitahukannya kepada kalian dengan pasti." Demikian mereka menjawab pertanyaan kami.
Karena Khâliq kami telah menetapkan Muhammad Al-Arabi ﷺ sebagai guru terbesar, pembimbing yang paling sempurna, serta penunjuk jalan paling benar, yang tidak keliru ataupun membuat keliru, dan mengirim beliau sebagai utusan terakhir ﷺ; sebelum segala sesuatu, kami harus mengajukan kepada guru kami ini ﷺ pertanyaan yang telah kami ajukan kepada Khâliq kami, agar kami maju serta menyempurna dari tingkat ilmulyaqin menuju ainulyaqin dan haqqulyaqin. Sebab, sebagai suatu mukjizat Al-Qur’an, beliau membuktikan bahwa Al-Qur’an benar serta Kalâmullah melalui seribu mukjizat yang masing-masing merupakan tanda pembenaran dari Khâliq kami. Al-Qur’an pun, melalui empat puluh ragam sifat bermukjizatnya, merupakan mukjizat beliau, dan membuktikan bahwa beliau benar serta Rasulullah ﷺ. Keduanya bersama-sama, yang satu melalui bahasa alam yang terlihat, sepanjang hidup beliau di bawah pembenaran seluruh nabi serta wali, dan yang lain melalui bahasa alam gaib, dalam pembenaran seluruh Firman samawi serta hakikat kainat, menyatakan dan membuktikan hakikat kebangkitan melalui ribuan ayat. Tentu, hakikat tersebut sepasti matahari dan siang.
Ya, persoalan seperti kebangkitan, yang sangat menakjubkan, dahsyat, serta berada di luar jangkauan akal, hanya dapat diselesaikan dan dipahami melalui pelajaran dua guru luar biasa seperti ini.
Sebab para nabi terdahulu tidak memberikan penjelasan seperti Al-Qur’an kepada umat mereka ialah karena zaman-zaman itu merupakan masa kehidupan yang bersahaja serta masa kanak-kanak umat manusia. Dalam pelajaran permulaan, penjelasan sedikit.
Kesimpulannya:
Karena sebagian besar Asma Allah سُبْحَانَهُ mengharuskan serta menuntut akhirat, tentu seluruh dalil yang menunjukkan Asma tersebut, dari satu segi, juga menunjukkan kenyataan akhirat.
Karena para malaikat memberitakan bahwa mereka melihat lingkup-lingkup akhirat serta alam yang kekal, tentu dalil-dalil yang bersaksi atas adanya serta ubudiyah malaikat, ruh, dan makhluk rohani, secara tidak langsung juga menunjukkan adanya akhirat.
Karena sepanjang hidup Muhammad ﷺ, ajaran, pernyataan, serta dasar yang paling tetap setelah Keesaan ialah akhirat;
tentu seluruh mukjizat serta dalil yang menunjukkan kenabian dan kebenaran beliau, dari satu segi, secara tidak langsung bersaksi atas kenyataan serta datangnya akhirat.
Karena seperempat Al-Qur’an mengenai kebangkitan serta akhirat, dan melalui seribu ayat, ia berusaha membuktikan serta memberitakannya; tentu seluruh hujah, dalil, serta bukti yang bersaksi serta menunjukkan kebenaran Al-Qur’an, secara tidak langsung juga menunjukkan dan bersaksi atas adanya, kenyataan, serta dibukanya akhirat.
Pandanglah, dan lihat betapa kuat serta pastinya rukun iman ini.
SEBUAH RINGKASAN PERSOALAN KEDELAPAN
Dalam Persoalan Ketujuh, kami hendak memperoleh jawaban mengenai kebangkitan dari berbagai sumber. Namun, jawaban Khâliq kami melalui Asma-Nya memberikan kepastian serta keyakinan yang begitu kuat, sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan pertanyaan lain. Karena itu, kami mempersingkatnya di sana.
Sekarang, dalam persoalan ini, satu dari seratus manfaat serta hasil yang dijamin iman kepada akhirat, baik bagi kebahagiaan akhirat maupun dunia, akan diringkas. Penjelasan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengenai kebahagiaan akhirat tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain; karena itu, bagian tersebut diserahkan kepadanya. Penjelasan mengenai kebahagiaan dunia diserahkan kepada Risale-i Nur. Dengan ringkasan singkat saja, kami akan menjelaskan tiga atau empat dari ratusan hasil yang berhubungan dengan kehidupan pribadi serta bermasyarakat manusia.
PERTAMA:
Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, manusia berhubungan dengan dunia sebagaimana dengan rumahnya, dan memiliki hubungan sungguh-sungguh serta fitri dengan umat manusia sebagaimana dengan kerabatnya. Sebagaimana ia menginginkan tetap ada untuk sementara di dunia, ia menginginkan, sampai tingkat cinta yang mendalam, tetap ada dalam negeri abadi. Sebagaimana ia berusaha memenuhi kebutuhan makanan lambungnya, secara fitri ia juga harus dan berjuang menyediakan meja hidangan serta makanan seluas dunia, bahkan membentang hingga selamanya, bagi lambung akal, hati, ruh, dan kemanusiaannya. Ia memiliki keinginan serta permintaan yang hanya dapat dipuaskan oleh kebahagiaan abadi.
Bahkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kalimat Kesepuluh, suatu ketika pada masa kecilku, aku bertanya kepada khayalku, "Apakah engkau menginginkan umur satu juta tahun serta kekuasaan dunia, tetapi kemudian jatuh menjadi tidak ada dan tiada; atau menginginkan wujud yang tetap ada, meskipun biasa serta penuh kesusahan?" Aku melihat bahwa ia menginginkan yang kedua dan mengeluh, "Âh!" atas yang pertama. Ia berkata, "Meskipun dalam neraka, aku ingin tetap ada."
Karena kenikmatan dunia ini tidak memuaskan daya khayal, satu pelayan hakikat kemanusiaan, tentu hakikat kemanusiaan yang sangat mencakup banyak segi berhubungan secara fitri dengan hidup yang kekal. Bagi manusia yang terikat kepada keinginan serta harapan tak terhitung ini, padahal modalnya hanya kehendak bebas manusia yang terbatas dan fakir mutlak, iman kepada akhirat merupakan khazanah yang kuat, cukup, serta lengkap; sarana kebahagiaan dan kenikmatan; tempat memohon pertolongan dan kembali; serta sarana penghiburan terhadap dukacita dunia yang tak terhitung. Betapa besarnya semua ini merupakan buah dan manfaat, sehingga meskipun ia mengorbankan kehidupan dunia untuk memperolehnya, harganya tetap murah.
BUAH KEDUA SERTA SATU MANFAAT BAGI KEHIDUPAN PRIBADI:
Merupakan hasil sangat penting yang dijelaskan dalam Persoalan Ketiga, serta terdapat sebagai catatan kaki dalam Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi).
Ya, kekhawatiran utama yang setiap manusia selalu pikirkan ialah bagaimana ia akan memasuki tempat hukuman mati itu, seperti sahabat serta kerabatnya yang masuk pemakaman. Manusia malang yang mengorbankan ruhnya demi satu sahabat membayangkan ribuan, bahkan jutaan serta miliaran sahabatnya dimusnahkan dalam perpisahan abadi. Ketika melalui pikiran itu muncul kepedihan yang lebih buruk daripada azab neraka, iman kepada akhirat datang, membuka matanya, serta mengangkat tabir. Ia berkata, "Pandanglah." Manusia itu memandang dengan iman, dan memperoleh kenikmatan rohani yang memberitakan kenikmatan surga, dengan melihat bahwa sahabat-sahabat tersebut selamat dari kematian abadi serta pembusukan, dan dengan gembira menunggunya dalam alam bercahaya. Karena hasil ini telah dijelaskan dengan dalil dalam Risale-i Nur, kami mempersingkatnya.
MANFAAT KETIGA BAGI KEHIDUPAN PRIBADI:
Keunggulan serta kedudukan manusia atas makhluk hidup lainnya ialah dari segi wataknya yang tinggi, kemampuannya yang mencakup banyak segi, ubudiyahnya yang menyeluruh, serta lingkup wujudnya yang luas. Padahal, melalui ukuran masa kini, waktu singkat yang terhimpit antara masa lalu serta masa depan yang tidak ada, mati, dan gelap, manusia memperoleh watak seperti kepedulian, cinta, persaudaraan, serta kemanusiaan.
Misalnya, ia mencintai serta berkhidmah kepada ayah, saudara, istri, bangsa, dan tanah air yang sebelumnya tidak dikenalnya, serta setelah berpisah tidak akan dilihatnya lagi. Ia sangat jarang dapat mencapai kesetiaan serta keikhlasan yang sempurna. Sejauh itu, kesempurnaan serta wataknya mengecil. Ketika ia, alih-alih menjadi yang paling tinggi di antara hewan, hampir jatuh menjadi yang paling malang serta paling rendah dari segi akal, iman kepada akhirat datang menolong. Iman mengubah waktunya yang sempit seperti kubur menjadi waktu yang sangat luas, mencakup masa lalu serta masa depan, dan memperlihatkan lingkup wujud seluas dunia, bahkan dari azali sampai abadi.
Ia mencintai, menghormati, mengasihi, serta membantu ayahnya melalui hubungan sebagai ayah, bahkan di negeri kebahagiaan dan alam ruh; saudaranya dengan memikirkan persaudaraan hingga selamanya; serta istrinya dengan mengetahui bahwa ia merupakan pendamping hidup terindah, bahkan dalam surga. Ia tidak menjadikan khidmah penting demi hubungan-hubungan dalam lingkup kehidupan serta wujud yang besar dan luas itu alat bagi urusan dunia tanpa nilai, kepentingan pribadi kecil, serta keuntungan. Dengan mencapai kesetiaan sungguh-sungguh dan keikhlasan tulus, kesempurnaan serta sifat baiknya mulai naik menurut tingkatnya. Kemanusiaannya menjadi luhur.
Manusia yang dalam kenikmatan hidup tidak dapat menyamai burung pipit itu menjadi tamu kainat yang paling terpilih serta berbahagia, di atas seluruh hewan; dan hamba Sang Pemilik kainat yang paling dicintai serta diterima. Hasil ini pun, karena telah dijelaskan melalui dalil dalam Risale-i Nur, dipersingkat.
MANFAAT KEEMPAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT MANUSIA:
Ringkasan hasil yang dijelaskan dalam Sinar Kesembilan dari Risale-i Nur demikian:
Anak-anak yang membentuk seperempat umat manusia dapat hidup secara manusiawi serta membawa kemampuan kemanusiaan melalui iman kepada akhirat. Jika tidak, dalam kecemasan menyakitkan, mereka akan hidup dengan mainan kanak-kanak serta hidup dengan tingkah nakal, untuk menidurkan dan membuat diri lupa. Sebab, setiap saat, kematian anak-anak seperti mereka di sekelilingnya begitu memengaruhi otaknya yang rapuh, hatinya yang lemah tetapi membawa keinginan panjang ke masa depan, serta ruhnya yang tidak tahan. Ketika kehidupan dan akal menjadi alat azab serta siksaan bagi anak malang itu, melalui pelajaran iman kepada akhirat, ia justru merasakan kegembiraan dan rasa lega sebagai ganti kecemasan yang darinya ia bersembunyi di balik mainan agar tidak melihat. Ia berkata:
"Saudara atau temanku ini telah meninggal dan menjadi burung surga. Ia lebih menikmati hidup serta berjalan-jalan daripada kita. Ibuku telah meninggal, tetapi pergi kepada Rahmat Ilahi. Ia akan kembali memeluk serta mencintaiku di surga, dan aku juga akan melihat ibuku tersayang yang penuh kasih itu." Dengan mengatakan demikian, ia dapat hidup dengan cara yang layak bagi kemanusiaan.
Orang-orang lanjut usia yang membentuk seperempat umat manusia juga hanya dapat menemukan penghiburan dalam iman kepada akhirat, terhadap segera padamnya kehidupan, masuknya mereka ke tanah, serta tertutupnya dunia mereka yang indah dan dicintai. Jika tidak, ayah-ayah yang pengasih dan terhormat serta ibu-ibu yang rela berkorban dan penuh kelembutan akan mengalami jeritan ruh serta keguncangan hati sedemikian rupa, sehingga dunia menjadi penjara penuh keputusasaan bagi mereka, dan hidup menjadi azab yang menyiksa.
Namun, iman kepada akhirat berkata kepada mereka, "Jangan cemas. Kalian memiliki masa muda abadi yang akan datang. Kehidupan terang serta umur tak terbatas menunggu kalian. Kalian akan bertemu dengan gembira anak-anak serta kerabat yang telah hilang dari kalian. Seluruh kebaikan yang kalian lakukan telah terjaga, dan kalian akan menerima pahalanya." Dengan demikian, iman kepada akhirat memberi penghiburan serta rasa lega sedemikian rupa, sehingga meskipun seratus masa tua sekaligus menimpa setiap mereka, semuanya tidak membuat mereka putus asa.
Pemuda yang membentuk sepertiga umat manusia, dengan keinginan yang bergolak, dikalahkan perasaan, berani, serta tidak selalu menggunakan akalnya, jika kehilangan iman kepada akhirat dan tidak mengingat azab neraka, akan membahayakan harta serta kehormatan orang-orang yang menjaga kehormatan dalam masyarakat, juga kenyamanan serta martabat orang lemah dan lanjut usia. Terkadang, demi satu menit kenikmatan, ia menghancurkan kebahagiaan sebuah rumah yang bahagia dan menderita azab penjara seperti ini selama empat hingga lima tahun, lalu menjadi seperti binatang buas.
Jika iman kepada akhirat datang menolongnya, ia segera kembali menggunakan akal. Ia berkata, "Memang, mata-mata pemerintah tidak melihatku dan aku dapat bersembunyi dari mereka. Namun, malaikat Sang Raja Dzul-Jalâl, Yang memiliki penjara seperti neraka, melihatku dan mencatat keburukanku. Aku tidak dibiarkan tanpa aturan; aku musafir yang memiliki tugas. Aku juga akan menjadi tua serta lemah seperti mereka." Tiba-tiba, ia mulai merasakan kasih serta penghormatan terhadap orang-orang yang ingin ia serang secara zalim. Karena makna ini juga telah dijelaskan dengan bukti dalam Risale-i Nur, kami mempersingkatnya.
Bagian penting umat manusia lainnya ialah orang sakit, teraniaya, yang ditimpa musibah seperti kami, orang fakir, serta tahanan yang menerima hukuman berat. Jika iman kepada akhirat tidak datang menolong, kematian yang setiap saat terlihat melalui peringatan penyakit, pengkhianatan angkuh orang zalim yang terhadapnya mereka tidak dapat membalas dendam dan tidak dapat menyelamatkan kehormatan mereka dari tangannya, keputusasaan menyakitkan akibat kehilangan harta serta anak dengan sia-sia dalam musibah besar, dan kesempitan menyedihkan akibat menderita azab penjara seperti ini selama lima hingga sepuluh tahun demi satu-dua menit atau satu-dua jam kesenangan, tentu menjadikan dunia penjara serta hidup azab yang menyiksa bagi orang-orang malang itu.
Jika iman kepada akhirat datang menolong mereka, tiba-tiba mereka dapat bernapas. Sesuai tingkat iman, kesempitan, keputusasaan, kecemasan, serta kemarahan untuk membalas dendam hilang sebagian, dan terkadang sepenuhnya.
Bahkan, aku dapat mengatakan bahwa dalam penahanan tanpa alasan serta musibah dahsyat kami ini, jika iman kepada akhirat tidak menolong, bertahan satu hari saja akan terasa seperti kematian dan mendorongku serta sebagian saudara untuk mengundurkan diri dari kehidupan. Namun, syukur tak terhingga, meskipun aku juga menanggung kepedihan akibat musibah dari banyak saudara yang kucintai seperti nyawaku; menanggung penyesalan atas hilangnya serta tangisan ribuan risalah Risale-i Nur yang kucintai seperti mataku, dan kitab-kitabku yang berlapis emas, berhias, serta sangat berharga; dan sejak dahulu tidak dapat menerima sedikit pengkhianatan atau pemaksaan; aku meyakinkan kalian dengan sumpah:
Cahaya serta kekuatan iman kepada akhirat memberiku kesabaran, ketahanan, penghiburan, dan keteguhan sedemikian rupa; bahkan semangat untuk memperoleh pahala lebih besar dalam pelajaran ujian yang menguntungkan, dengan perjuangan. Karena itu, sebagaimana kukatakan pada awal risalah ini, aku memandang diriku berada dalam madrasah yang indah serta baik, layak bernama Madrasah Yusufiyah. Seandainya tidak ada penyakit yang sesekali datang serta kepekaan yang timbul dari usia lanjut, aku akan lebih banyak mengerjakan pelajaranku dengan sempurna dan hati yang tenang. Bagaimanapun... Karena berkaitan dengan bagian ini, uraian keluar dari pokok pembicaraan; mohon dimaklumi.
Dunia kecil setiap manusia, bahkan surga kecilnya, ialah rumahnya sendiri. Jika iman kepada akhirat tidak memerintah kebahagiaan rumah itu, setiap anggota keluarga menderita kecemasan serta azab menyakitkan sesuai kadar kasih, cinta, dan perhatiannya. Surganya berubah menjadi neraka. Atau, melalui hiburan sementara serta kebejatan, ia membius dan menidurkan akalnya. Seperti burung unta, ia melihat pemburu, tidak dapat lari atau terbang, lalu memasukkan kepala ke pasir agar tidak terlihat. Ia memasukkan kepala ke dalam kelalaian agar kematian, berlalunya kehidupan, serta perpisahan tidak melihatnya. Ia menemukan jalan sementara yang tanpa akal, berupa mematikan rasa.
Sebab, misalnya, ibu gemetar setiap kali melihat anak yang untuknya ia rela mengorbankan ruh terus terpapar bahaya. Anak-anak yang tidak dapat menyelamatkan ayah serta saudaranya dari bencana yang tak habis juga merasakan kesedihan dan ketakutan yang tetap. Dengan perbandingan ini, dalam kehidupan dunia yang kacau serta tidak stabil, kehidupan keluarga yang dianggap bahagia itu kehilangan kebahagiaannya dari banyak segi. Hubungan serta kekerabatan dalam hidup yang sangat singkat pun tidak menghasilkan kesetiaan sejati, keikhlasan tulus, khidmah tanpa kepentingan pribadi, serta cinta. Sejauh itu, akhlak mengecil, bahkan jatuh.
Jika iman kepada akhirat memasuki rumah itu, ia tiba-tiba akan meneranginya. Hubungan, kasih, kekerabatan, serta cinta di antara mereka diukur menurut kelangsungan hubungan tersebut, bahkan dalam kebahagiaan abadi di negeri akhirat, bukan menurut waktu yang sangat singkat. Karena itu, akhlak seperti penghormatan tulus, cinta, kasih, kesetiaan, serta tidak memperhatikan kekurangan menjadi luhur. Kebahagiaan kemanusiaan sejati mulai terbuka dalam rumah itu. Karena makna ini juga telah dijelaskan dengan dalil dalam Risale-i Nur, uraian dipersingkat.
SETIAP KOTA PUN MERUPAKAN RUMAH LUAS BAGI PENDUDUKNYA.
Jika iman kepada akhirat tidak memerintah anggota keluarga besar itu, di tempat keikhlasan, ketulusan, keutamaan, kepedulian, pengorbanan, Rida Ilahi, dan pahala akhirat yang merupakan dasar akhlak indah, muncul kepentingan pribadi, keuntungan, kepalsuan, sikap hanya mementingkan diri, kepura-puraan, riya, suap, serta penipuan. Di bawah ketertiban serta kemanusiaan yang tampak, anarki dan kebuasan memerintah; kehidupan kota itu diracuni. Anak-anak mulai bersikap nakal, pemuda mabuk, orang kuat berlaku zalim, dan orang lanjut usia menangis.
Dengan perbandingan ini, negeri juga merupakan rumah, dan tanah air merupakan rumah suatu keluarga bangsa. Jika iman kepada akhirat memerintah dalam rumah-rumah luas ini, penghormatan tulus, kasih sungguh-sungguh, cinta serta pertolongan tanpa suap, khidmah serta pergaulan tanpa tipu daya, kebaikan dan keutamaan tanpa riya, serta kebesaran dan kelebihan tanpa ananiyah, tiba-tiba mulai terbuka dalam kehidupan itu.
Kepada anak-anak, ia berkata, "Surga ada; berhentilah bersikap nakal." Melalui pelajaran Al-Qur’an, ia memberi sikap tenang dan berhati-hati.
Kepada pemuda, ia berkata, "Neraka ada; berhentilah mabuk." Ia membuat mereka kembali menggunakan akal.
Kepada orang zalim, ia berkata, "Azab keras ada; engkau akan menerima tamparan." Ia membuatnya menundukkan kepala kepada keadilan.
Kepada orang lanjut usia, ia berkata, "Kebahagiaan akhirat yang tetap serta jauh lebih tinggi daripada seluruh kebahagiaan yang telah lepas dari tanganmu, dan masa muda yang segar serta kekal, menunggumu. Berusahalah memperolehnya." Ia mengubah tangisnya menjadi tawa.
Dengan perbandingan ini, ia memperlihatkan pengaruh baik serta menerangi setiap kelompok, baik dalam lingkup kecil maupun luas. Hendaknya para ahli masyarakat serta akhlak yang memperhatikan kehidupan bermasyarakat umat manusia memasang telinga!
Jika manfaat lain dibandingkan dengan lima atau enam contoh yang kami isyaratkan dari ribuan manfaat iman kepada akhirat ini, akan dipahami dengan pasti bahwa hanya iman yang menjadi sarana kebahagiaan kedua alam serta kedua kehidupan.
Dengan mencukupkan diri pada jawaban kuat dalam Kalimat Kedua Puluh Delapan serta risalah-risalah lain Risale-i Nur terhadap keraguan lemah mengenai kebangkitan jasmani, di sini kami hanya memberi isyarat singkat:
Cermin Asma Ilahi yang paling mencakup banyak segi terdapat pada sisi jasmani. Pusat paling kaya dan aktif Tujuan-Tujuan Ilahi dalam penciptaan kainat terdapat pada sisi jasmani. Jenis serta warna anugerah Rabb yang terbanyak terdapat pada sisi jasmani. Benih doa serta syukur manusia kepada Khâliq melalui bahasa kebutuhannya yang paling banyak juga terdapat pada sisi jasmani. Benih paling beragam alam maknawi serta rohani juga terdapat pada sisi jasmani.
Menurut perbandingan ini, karena ratusan hakikat menyeluruh terpusat pada sisi jasmani, untuk memperbanyak wujud jasmani di permukaan bumi serta menjadikannya tempat tampaknya hakikat-hakikat tersebut, Sang Khâliq Yang Hakîm, melalui Kegiatan yang begitu cepat serta dahsyat, mengenakan wujud kepada makhluk dalam rombongan demi rombongan dan mengirim mereka ke tempat pameran itu. Kemudian, Dia membebastugaskan mereka serta mengirim yang lain. Dia terus membuat pabrik kainat beroperasi, menenun hasil-hasil jasmani, serta menjadikan bumi taman pembibitan bagi akhirat dan surga.
Bahkan, untuk memuaskan lambung jasmani manusia, Dia mendengarkan serta menerima dengan perhatian paling besar doanya melalui bahasa keadaan untuk tetap ada. Untuk menjawab melalui Perbuatan, Dia menyediakan bagi jasmani makanan yang sangat berseni serta nikmat yang sangat berharga, tak terhitung, dalam ratusan ribu cara dan ribuan jenis kenikmatan. Hal ini memperlihatkan dengan jelas, tanpa keraguan, bahwa dalam negeri akhirat, kenikmatan surga yang terbanyak serta paling beragam bersifat jasmani. Nikmat kebahagiaan abadi yang paling penting, diinginkan setiap orang, serta akrab bagi mereka, bersifat jasmani.
Apakah dari segi mana pun ada peluang atau kemungkinan bahwa Sang Qadîr Yang Rahîm, Sang ‘Alîm Yang Karîm, Yang menerima doa lambung biasa ini melalui bahasa keadaan untuk tetap ada, dan membuatnya berterima kasih dengan makanan jasmani yang memiliki mukjizat tak terhingga, serta setiap waktu menjawab melalui Perbuatan, dengan Maksud dan tanpa kebetulan; tetapi tidak menerima doa umum tak terhitung dari umat manusia melalui lambung besar kemanusiaannya, agar kenikmatan jasmani yang menyeluruh, tinggi, terus diinginkan, akrab, serta diminta secara fitri, diberikan dalam negeri yang kekal? Padahal manusia merupakan hasil kainat yang paling penting, khalifah bumi, serta makhluk terpilih dan pengabdi Khâliq itu. Mungkinkah Dia tidak menjawab melalui Perbuatan dengan kebangkitan jasmani, serta tidak membuat manusia berterima kasih selamanya; seakan-akan mendengar suara lalat tetapi tidak mendengar guruh, sangat memperhatikan perlengkapan prajurit biasa tetapi sama sekali tidak memandang atau mementingkan pasukan? Hal ini mustahil serta batil pada seratus tingkat.
Ya, berdasarkan kejelasan pasti ayat
ﻭَ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬ۪ﻴﻪِ الْاَنْفُسُ ﻭَ ﺗَﻠَﺬُّ الْاَعْيُنُ,
manusia akan melihat serta mengecap kenikmatan jasmani yang paling akrab baginya dan telah dicicipi contohnya di dunia, dengan cara yang layak bagi surga. Pahala syukur murni serta ibadah khusus anggota tubuh, seperti lidah, mata, dan telinga, akan diberikan melalui kenikmatan jasmani yang khusus bagi anggota tersebut. Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menjelaskan kenikmatan jasmani dengan begitu tegas, sehingga tidak menerima makna lahirnya melalui penafsiran lain berada di luar kemungkinan.
Buah serta hasil iman kepada akhirat menunjukkan: Sebagaimana hakikat serta kebutuhan lambung, salah satu anggota manusia, menunjukkan adanya makanan dengan pasti; demikian pula, hakikat manusia, kesempurnaan, kebutuhan fitri, serta keinginan abadinya, dan hakikat serta kemampuan yang menuntut hasil dan manfaat iman kepada akhirat tersebut, lebih pasti menunjukkan akhirat, surga, serta kenikmatan jasmani yang kekal, dan bersaksi atas kenyataannya. Hakikat kesempurnaan kainat ini, tanda-tanda penciptaannya yang penuh makna, serta seluruh hakikat kemanusiaan yang berhubungan dengan hakikat-hakikat tersebut juga menunjukkan dan bersaksi atas adanya serta kenyataan negeri akhirat, datangnya kebangkitan, dan dibukanya surga serta neraka. Bagian-bagian Risale-i Nur, khususnya Kalimat Kesepuluh, Kedua Puluh Delapan dengan dua bagiannya, Kedua Puluh Sembilan, Sinar Kesembilan, serta risalah-risalah Münâcat, telah membuktikannya melalui dalil dengan terang dan tanpa menyisakan keraguan. Dengan menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut, kami mempersingkat uraian panjang ini.
Penjelasan Al-Qur’an mengenai neraka begitu jelas serta nyata, sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain. Kami hanya akan menjelaskan ringkasan sangat singkat dua atau tiga butir hikmah yang menghilangkan satu atau dua keraguan lemah, dengan menyerahkan perinciannya kepada Risale-i Nur.