Risale-i NurSinar-Sinar

MANUSIA

Sinar-Sinar · hlm. 262

Ia adalah buah terakhir dan paling menghimpun dari pohon kainat ini.

Dan dari segi hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم, ia adalah benih asalnya.

Dan ia adalah ayat terbesar dari Al-Qur'an kainat.

Dan ia adalah ayat kursinya yang membawa Ismul A'zham.

Dan ia adalah tamu paling dimuliakan di istana kainat.

Dan pegawai yang paling giat, yang diberi izin untuk bertasarruf atas penghuni-penghuni lain di istana itu.

Dan pengawas yang paling riuh dan paling berat tanggung jawabnya, yang ditugaskan menjaga pemasukan dan pengeluaran serta penaburan dan penanaman benih di kebun dan di ladang kampung bumi dari kota kainat ini, dan yang dilengkapi dengan ratusan ilmu serta ribuan seni.

Dan seorang inspektur Sang Sultan Azali dan Abadi yang berada di bawah pengawasan yang sangat teliti, di negeri bumi dari wilayah kainat ini; semacam khalifah di bumi.

Dan seorang pemegang kuasa tasarruf yang seluruh gerak-geriknya, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, dicatat.

Dan seorang hamba menyeluruh yang memikul di pundaknya amanah terbesar yang langit, bumi, dan gunung-gunung enggan memikulnya; yang di hadapannya terbuka dua jalan yang menakjubkan — pada satu jalan ia menjadi makhluk hidup yang paling celaka dan pada jalan yang lain menjadi yang paling berbahagia — serta yang dibebani ubudiyah yang teramat luas.

Dan cermin yang menjadi tempat tampaknya Ismul A'zham milik Sang Sultan kainat, dan yang paling menghimpun seluruh asma-Nya.

Dan lawan bicara istimewa yang paling memahami seruan-seruan Zat Yang Mahasuci dan percakapan-percakapan-Nya.

Dan makhluk hidup yang malang, yang paling banyak kebutuhannya di antara segenap makhluk hidup di kainat; yang meskipun teramat fakir dan lemah tanpa batas, memiliki maksud dan keinginan yang tak terhingga, musuh yang tak berkesudahan, serta hal-hal berbahaya yang menyakitinya.

Dan yang paling kaya potensinya.

Dan yang paling banyak menderita dari segi kenikmatan hidup; kenikmatan-kenikmatannya bercampur dengan derita yang dahsyat.

Dan yang paling merindukan dan paling membutuhkan untuk kekal selamanya, serta yang paling layak dan paling berhak untuk itu.

Dan yang meminta serta merintih memohon dengan doa yang tak terhingga agar tetap kekal dan memperoleh kebahagiaan abadi.

Dan yang seandainya seluruh kenikmatan dunia diberikan kepadanya, semua itu tetap tidak memuaskan keinginannya untuk kekal selamanya.

Dan mukjizat kudrat Allah Yang Shamad yang sungguh menakjubkan serta keajaiban penciptaan: ia mencintai Zat yang melimpahkan karunia kepadanya hingga ke derajat penyembahan, ia membuat Zat itu dicintai, dan ia pun dicintai.

Dan yang merangkum kainat di dalam dirinya, yang seluruh perangkat insaninya bersaksi bahwa ia diciptakan untuk pergi menuju alam yang abadi...

Maka manusia yang terikat kepada nama Al-Haq milik Allah melalui dua puluh hakikat menyeluruh seperti itu; yang amal-amalnya senantiasa dicatat dengan nama Al-Hafîzh milik Sang Hafîzh Dzul-Jalâl — Zat yang melihat kebutuhan paling kecil dari makhluk hidup yang paling kecil, mendengar permohonannya, dan menjawabnya secara nyata dengan perbuatan; yang perbuatan-perbuatannya yang menyangkut kainat dituliskan oleh para pencatat mulia dari nama itu; serta yang lebih daripada segala sesuatu menjadi tempat tertujunya pandangan perhatian nama itu — sudah pasti, sungguh pasti, dalam keadaan bagaimanapun, dan tanpa sedikit pun keraguan, bahwa dengan ketetapan dua puluh hakikat ini akan ada kebangkitan dan penyebaran bagi manusia. Dan dengan nama Al-Haq mereka akan menerima balasan atas khidmah mereka yang terdahulu dan hukuman atas kesalahan-kesalahan mereka. Dan dengan nama Al-Hafîzh mereka akan dihisab dan ditanyai tentang setiap amal yang telah dicatat, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh. Dan di negeri yang kekal akan terbuka pintu balai jamuan kebahagiaan abadi serta pintu penjara kesengsaraan yang kekal selamanya. Dan seorang perwira yang di alam ini memimpin banyak golongan, mencampuri urusan mereka, dan kadang

membuat kacau, tidak akan masuk ke dalam tanah lalu berbaring bersembunyi tanpa ditanyai tentang setiap amalnya dan tanpa dibangunkan.

Jika tidak demikian — padahal Dia mendengar suara seekor lalat dan menjawabnya secara nyata dengan memberikan hak hidupnya — maka tidak mendengar doa-doa hak insani yang tak terhingga, yang berkaitan dengan kekal selamanya, yang dipanjatkan dengan lisan dua puluh hakikat tersebut dengan kekuatan guruh dan menggemakan arasy serta bumi; lalu menyia-nyiakan hak yang tak terhingga itu; dan bagi hikmah yang — sebagaimana disaksikan oleh keteraturan sayap seekor lalat — tidak memboroskan sesuatu pun walau sebesar sayap lalat, lalu membuang begitu saja seluruh potensi insani yang menjadi tempat bergantungnya segala hakikat itu, segala cita-cita dan keinginan yang membentang sampai ke alam abadi, serta berbagai ikatan dan hakikat kainat yang menyuburkan potensi dan keinginan itu — semua itu adalah suatu perbuatan yang sedemikian tidak adil, di luar kemungkinan, dan suatu keburukan yang sedemikian zalim, sehingga seluruh yang ada, yang bersaksi kepada nama Al-Haq, Al-Hafîzh, Al-Hakîm, Al-Jamîl, dan Ar-Rahîm, menolaknya. Mereka berkata: "Hal itu mustahil seratus derajat dan terlarang dari seribu segi."

Maka pertanyaan tentang kebangkitan yang kami ajukan kepada Khâliq kami itu dijawab oleh nama-nama Al-Haq, Al-Hafîzh, Al-Hakîm, Al-Jamîl, Ar-Rahîm; mereka berkata: "Sebagaimana kami adalah haq dan hakikat, dan sebagaimana nyatanya segenap yang ada yang bersaksi kepada kami, maka kebangkitan itu haq dan pasti terjadi."

Dan selama...

Sebenarnya masih hendak kutuliskan lagi, tetapi karena hal itu sudah terang seperti matahari, aku memendekkannya.

Maka dengan mengiaskan kepada perumpamaan-perumpamaan yang telah lalu dan kepada butir-butir dalam rangkaian "selama" di atas: sebagaimana setiap satu dari seratus, bahkan seribu asma Allah — yaitu nama-nama-Nya yang menghadap kepada kainat — membuktikan musamma-nya dengan sangat nyata melalui cermin dan pancarannya pada segenap yang ada; demikian pula nama-nama itu menunjukkan kebangkitan dan negeri akhirat serta membuktikannya dengan pasti.

Dan sebagaimana Rabb kami menjawab pertanyaan yang kami ajukan kepada Khâliq kami dengan jawaban yang suci lagi pasti, yaitu melalui seluruh firman-Nya, melalui seluruh kitab yang Dia turunkan, dan melalui sebagian besar asma yang Dia menjadi musamma-nya; demikian pula Dia membuat para malaikat-Nya berkata dengan lisan mereka dalam bentuk yang lain:

"Sejak zaman Adam, pertemuan kalian dengan makhluk-makhluk ruhani dan dengan kami memiliki ratusan peristiwa yang berkekuatan tawatur. Dan ada tanda serta dalil yang tak terhingga yang menunjukkan adanya kami dan makhluk-makhluk ruhani serta ubudiyah kami. Dan bahwa kami berjalan-jalan di aula-aula akhirat dan di sebagian lingkungannya, telah kami katakan — dengan keterangan yang saling bersesuaian di antara kami — pada waktu kami berjumpa dengan para pemimpin kalian, dan senantiasa pula kami katakan. Sudah pasti

aula-aula yang kekal lagi sempurna yang kami jelajahi itu, serta istana-istana dan persinggahan-persinggahan yang telah dilengkapi perabot dan dihias di balik aula-aula itu, sedikit pun tidak kami ragukan, sedang menanti untuk menempatkan tamu-tamu yang teramat penting di sana. Kami menyatakannya kepada kalian dengan pasti." Demikianlah mereka menjawab pertanyaan kami.

Dan selama Khâliq kami telah menetapkan Muhammad al-Arabi صلى الله عليه وسلم bagi kami sebagai guru terbesar, ustaz yang paling sempurna, dan pembimbing paling benar yang tidak pernah keliru dan tidak pernah menyesatkan. Dan telah mengutusnya sebagai utusan yang terakhir. Maka kami pun, untuk naik dan menyempurna dari tingkatan ilmul yakin ke tingkatan ainul yakin dan haqqul yakin, sebelum segala sesuatu wajib menanyakan kepada ustaz kami ini pertanyaan yang telah kami ajukan kepada Khâliq kami. Sebab, sebagaimana zat itu — dengan seribu mukjizat yang masing-masing merupakan tanda pembenaran dari Khâliq kami, sedangkan ia sendiri adalah salah satu mukjizat Al-Qur'an — membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah haq dan kalamullah; demikian pula Al-Qur'an, dengan empat puluh macam i'jaz, menjadi mukjizat bagi zat itu dan membuktikan bahwa ia benar dan sungguh Rasulullah; sehingga hakikat kebangkitan yang keduanya dakwahkan dan buktikan bersama-sama dengan ribuan ayat — yang satu dengan lisan alam nyata, di bawah pembenaran seluruh nabi dan wali sepanjang hayatnya; yang lain dengan lisan alam gaib, di dalam pembenaran seluruh firman samawi dan hakikat kainat — sudah pasti sepasti matahari dan siang.

Ya, persoalan yang paling menakjubkan, paling dahsyat, dan berada di luar jangkauan akal seperti kebangkitan ini, hanya dan hanya dapat dipecahkan serta dipahami dengan pelajaran dari dua ustaz yang luar biasa itu.

Sebab para nabi zaman dahulu tidak memberikan penjelasan kepada umat mereka seperti penjelasan Al-Qur'an adalah karena masa-masa itu merupakan masa ketika umat manusia masih badawi dan masih kanak-kanak. Pada pelajaran tingkat permulaan, penjelasan memang sedikit.