PERSOALAN KETUJUH
Sinar-Sinar · hlm. 249
Inilah buah dari suatu hari Jumat di Penjara Denizli.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ ٭ مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ٭ فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَد۪يرٌ
Suatu ketika di Kastamonu, kepada para pelajar sekolah menengah yang berkata, "Perkenalkanlah Khâliq kami kepada kami," aku memberikan pelajaran dengan lisan ilmu-ilmu sekolah di dalam Persoalan Keenam yang telah lalu; pelajaran itu dibaca oleh para tahanan yang dapat berhubungan denganku di Penjara Denizli. Karena mereka memperoleh keyakinan iman yang sempurna, mereka pun merasakan kerinduan kepada akhirat lalu berkata, "Beritahukanlah pula kepada kami akhirat kami dengan sempurna, agar nafsu kami dan setan-setan zaman ini tidak menyesatkan kami dari jalan dan tidak lagi memasukkan kami ke dalam penjara seperti ini." Maka dengan keinginan para murid Risale-i Nur yang berada di Penjara Denizli dan orang-orang yang telah membaca Persoalan Keenam itu, perlulah dijelaskan pula saripati rukun akhirat. Aku pun berkata dengan sebuah saripati yang sangat singkat dari Risale-i Nur:
Sebagaimana di dalam Persoalan Keenam kami menanyakan Khâliq kami kepada bumi dan kepada langit-langit, lalu keduanya dengan lisan ilmu-ilmu pengetahuan memperkenalkan Khâliq kami kepada kami sejelas matahari; persis demikian pula kami akan menanyakan akhirat kami — pertama-tama kepada Rabb kami yang telah kami kenal itu, kemudian kepada Nabi kami, kemudian kepada Al-Qur'an kami, kemudian kepada para nabi yang lain dan kitab-kitab suci, kemudian kepada para malaikat, kemudian kepada kainat.
Maka pada tingkatan pertama kami menanyakan akhirat kepada Allah. Dia pun berfirman dengan seluruh utusan yang Dia kirimkan, dengan seluruh firman-Nya, dengan seluruh nama dan sifat-Nya: "Ya, akhirat itu ada, dan Aku menggiring kalian ke sana." Kelimat Kesepuluh telah membuktikan dan menjelaskan jawaban sebagian nama Ilahi tentang akhirat dengan dua belas hakikat yang gemilang lagi pasti. Di sini, dengan mencukupkan diri pada penjelasan itu, kami hanya memberikan isyarat yang sangat singkat.
Ya, karena tidak ada satu kerajaan pun yang tidak memiliki balasan pahala bagi orang-orang yang menaatinya dan hukuman bagi orang-orang yang memberontak kepadanya; maka sudah pasti sebuah kerajaan yang kekal selamanya pada tingkatan rububiyah mutlak akan memberikan balasan pahala kepada orang-orang yang bertaut kepada kerajaan itu dengan iman dan tunduk kepada firman-firman-Nya dengan ketaatan, dan akan memberikan hukuman kepada orang-orang yang mengingkari kerajaan yang penuh keperkasaan itu dengan kekufuran dan pembangkangan; dan semua itu akan berlangsung dalam bentuk yang layak bagi rahmat dan keindahan-Nya, bagi keperkasaan dan keagungan-Nya — demikianlah jawaban yang diberikan oleh nama Rabbul-'Âlamîn dan Sultânud-Dayyân.
Dan karena dengan mata kepala sendiri kami melihat di permukaan bumi sebuah rahmat yang menyeluruh serta kasih sayang dan kemurahan yang meliputi segala sesuatu, sejelas matahari dan sejelas siang. Misalnya: sebagaimana rahmat itu pada setiap musim semi memakaikan pakaian dan perhiasan kepada seluruh pohon dan tumbuhan berbuah laksana bidadari surga, lalu meletakkan segala macam buah ke tangan mereka dan mengulurkannya kepada kami seraya berkata, "Silakan ambil dan makanlah"; dan sebagaimana ia menyuapkan madu yang manis lagi menyembuhkan kepada kami melalui tangan seekor lalat berbisa, serta memakaikan sutra yang paling lembut kepada kami melalui tangan seekor serangga yang tak bertangan; maka rahmat dan kasih sayang yang menyimpan ribuan batman makanan untuk kami di dalam biji-biji dan benih-benih mungil sebesar segenggam tangan, dan yang menempatkannya di gudang-gudang mungil itu sebagai bekal cadangan, sudah pasti sekali-kali tidak dapat diragukan bahwa:
Rahmat itu tidak akan menghukum mati manusia-manusia mukmin yang demikian lembut Dia pelihara, yang menjadi kekasih-Nya, yang berterima kasih kepada-Nya, dan yang menyembah-Nya. Bahkan Dia melepaskan mereka dari tugas kehidupan dunia agar mereka menjadi tempat tampaknya rahmat yang lebih gemilang — demikianlah nama Ar-Rahîm dan Al-Karîm menjawab pertanyaan kami, dan keduanya mengucapkan ٔاَلْجَنَّةُ حَقٌّٔ.
Dan karena dengan mata kepala sendiri kami melihat bahwa: pada seluruh makhluk dan di permukaan bumi bekerja sebuah tangan hikmah, dan segala urusan berputar dengan ukuran-ukuran keadilan sedemikian rupa sehingga akal manusia tidak sanggup memikirkan sesuatu yang melampauinya. Misalnya, sebuah hikmah azali yang — di antara sekian hikmah yang dipasang pada seribu perangkat manusia — hanya pada daya ingatnya yang sekecil sebutir biji menuliskan seluruh riwayat hidupnya beserta peristiwa-peristiwa tak terhingga yang bersentuhan dengannya, lalu menjadikan daya yang mungil itu berkedudukan sebagai sebuah perpustakaan, kemudian dengan rahasia agar hal itu selalu diingat — sebagai sebuah tanda bukti kecil dari buku catatan amal yang akan disebarkan untuk pengadilan manusia pada hari kebangkitan — Dia serahkan ke tangan setiap manusia dan Dia letakkan di dalam saku otaknya; dan sebuah keadilan yang kekal selamanya, yang menempatkan anggota-anggota tubuh pada seluruh ciptaan dengan timbangan yang teramat halus; yang — mulai dari mikroba hingga badak, dari lalat hingga burung simurga, dari satu tumbuhan berbunga hingga bunga musim semi yang membuka miliaran bahkan triliunan kuntum — dengan ukuran-ukuran tanpa pemborosan menjadikan ciptaan-ciptaan itu sebagai karya seni yang bagus, dalam bentuk yang serasi, seimbang, teratur, dan indah; yang memberikan hak-hak hidup setiap makhluk hidup dengan timbangan yang sempurna; yang membuahkan hasil yang baik bagi kebaikan dan hasil yang buruk bagi keburukan; dan yang sejak zaman Adam membuat diri-Nya terasa dengan sangat kuat melalui tamparan-tamparan yang Dia timpakan kepada kaum-kaum yang durhaka dan zalim — maka sudah pasti dan sama sekali tidak dapat diragukan bahwa:
Sebagaimana matahari tidak mungkin ada tanpa siang, demikian pula hikmah azali dan keadilan yang kekal selamanya itu tidak mungkin ada tanpa akhirat; dan keduanya dengan cara apa pun tidak akan mengizinkan kezaliman yang dahsyat, ketidakadilan, dan hilangnya hikmah tanpa akibat apa pun — yaitu seandainya orang yang paling zalim dan orang yang paling teraniaya pergi dengan cara yang sama di dalam kematian — demikianlah nama Al-Hakîm, Al-Hakam, Al-'Adl, dan Al-'Âdil memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaan kami.
Dan karena seluruh hajat dan seluruh tuntutan fitri makhluk hidup — yang tidak terjangkau oleh tangan mereka dan tidak berada dalam batas kemampuan mereka — diberikan oleh sebuah tangan gaib yang teramat penyayang, mendengar, lagi penuh kasih, tepat pada waktu mereka memintanya dengan lisan bakat fitri dan kebutuhan mendesak yang merupakan semacam doa; dan karena enam atau tujuh dari setiap sepuluh doa manusia yang bersifat pilihan — terutama doa orang-orang istimewa dan doa para nabi — dikabulkan di luar kebiasaan; maka dapat dipahami dengan pasti bahwa:
Di balik tabir ada Zat Yang Samî' lagi Mujîb, yang mendengar dan menyimak rintihan setiap orang yang berduka serta doa setiap orang yang membutuhkan; Dia memandang sedemikian rupa sehingga melihat kebutuhan terkecil dari makhluk hidup yang terkecil, mendengar rintihannya yang paling tersembunyi, mengasihinya, menjawabnya secara nyata dengan perbuatan, dan membuatnya senang.
Maka sudah pasti dan dalam keadaan bagaimanapun tidak tersisa sedikit pun kemungkinan keraguan bahwa: doa-doa jenis manusia — makhluk yang paling penting di antara segenap makhluk — yakni doa-doanya yang paling penting, paling menyeluruh,
dan yang berkaitan dengan seluruh kainat serta seluruh asma dan sifat Ilahi, yakni doa-doa mengenai kekal selamanya di akhirat: sebuah doa yang mencakup semuanya itu, yang menempatkan seluruh nabi — matahari, bintang, dan panglima jenis manusia — di belakangnya lalu membuat mereka mengucapkan "Âmin, âmin!" atas doanya; doa yang setiap orang beragama dari umatnya, setidaknya beberapa kali setiap hari, mengucapkan "Âmin, âmin!" atasnya dengan membaca salawat kepadanya; bahkan seluruh makhluk pun turut serta dalam doa itu seraya berkata, "Ya, wahai Rabb kami! Berikanlah apa yang ia minta; kami pun meminta apa yang ia minta." Maka di bawah seluruh syarat yang tidak dapat ditolak ini, hanya satu doa dari Muhammad صلى الله عليه وسلم saja — di antara sebab-sebab tak terhingga yang mengharuskan adanya kebangkitan — untuk kekal selamanya di akhirat dan untuk kebahagiaan abadi, sudah cukup menjadi sebab bagi adanya surga dan bagi diciptakannya akhirat, yang bagi kudrat-Nya semudah menciptakan musim semi — demikianlah nama Al-Mujîb, As-Samî', dan Ar-Rahîm memberikan jawaban atas pertanyaan kami.
Dan karena — sebagaimana siang dengan sangat nyata menunjukkan matahari — di permukaan bumi, dalam pergantian musim, dalam mati dan hidupnya kembali segala sesuatu secara menyeluruh, di balik tabir bekerja sebuah pena kudrat: pena yang dengan keteraturan yang sempurna menjadikan bumi yang demikian besar semudah dan seteratur sebuah kebun, bahkan sebuah pohon; menjadikan musim semi yang megah semudah sekuntum bunga beserta hiasannya yang tertimbang; dan menuliskan di atas lembaran bumi golongan-golongan tumbuhan dan hewan yang berkedudukan sebagai tiga ratus ribu kitab yang memperlihatkan tiga ratus ribu contoh dan misal kebangkitan dan penyebaran — menuliskan semuanya secara bersamaan dan satu di dalam yang lain tanpa keliru, dalam keadaan bercampur tanpa tercampur aduk, dan meskipun saling menyerupai tanpa tertukar, tanpa lupa, tanpa salah, sempurna, teratur, lagi sarat makna — dan pena kudrat itu di dalam kebesarannya ini bekerja dengan rahmat yang tak terhingga dan hikmah yang tiada berujung; sebagaimana pula Dia menundukkan, menghias, dan melengkapi kainat yang demikian besar bagi manusia laksana sebuah rumah baginya, menjadikan manusia itu khalifah di bumi, menyerahkan kepadanya amanah teragung yang gunung, langit, dan bumi enggan memikulnya, memuliakannya dengan tingkatan semacam kepemimpinan atas makhluk hidup yang lain, dan memberinya kehormatan dengan sapaan serta percakapan Subhani, sehingga Dia memberinya kedudukan yang luar biasa; padahal di dalam seluruh firman samawi Dia telah berjanji dan mengikat perjanjian secara pasti untuk memberinya kebahagiaan abadi dan kekal selamanya di akhirat — maka sudah pasti dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa:
Dia akan membuka dan membangun negeri kebahagiaan yang bagi kudrat-Nya semudah musim semi itu bagi manusia yang dimuliakan lagi diberi kehormatan tersebut, dan Dia akan mendatangkan kebangkitan dan hari kiamat — demikianlah nama Al-Muhyî, Al-Mumît, Al-Hayy, Al-Qayyûm, Al-Qadîr, dan Al-'Alîm memberikan jawaban atas pertanyaan yang kami ajukan kepada Khâliq kami.
Ya, sebuah kudrat yang pada setiap musim semi menghidupkan kembali seluruh pohon dan akar rerumputan persis seperti semula, serta menciptakan tiga ratus ribu jenis contoh kebangkitan dan penyebaran, baik pada tumbuhan maupun pada hewan: jika masa seribu tahun yang dilalui oleh umat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan umat Musa alaihissalam masing-masing dihadirkan dalam khayalan lalu dipandang berhadap-hadapan, akan terlihat bahwa kudrat itu telah memperlihatkan seribu misal dan seribu dalil kebangkitan dan penyebaran di dalam dua ribu musim semi. {(Catatan kaki): Setiap musim semi yang telah lalu adalah musim semi yang kiamatnya telah terjadi dan telah mati, sedangkan musim semi yang berhadapan dengannya berkedudukan sebagai kebangkitannya.} Dan memandang jauh kemungkinan kebangkitan jasmani dari kudrat yang seperti itu adalah kebutaan dan kebodohan seribu derajat.
Dan karena seratus dua puluh empat ribu nabi — yang menjadi orang-orang paling masyhur di antara umat manusia — dengan sepakat mengumumkan kebahagiaan abadi dan kekal selamanya di akhirat dengan bersandar pada ribuan janji dan perjanjian Allah, serta membuktikan kebenaran mereka dengan mukjizat-mukjizat; demikian pula para wali yang tak terhingga jumlahnya membubuhkan tanda tangan pada hakikat yang sama itu dengan kasyaf dan dengan zauk; maka sudah pasti hakikat itu tampak nyata sejelas matahari, dan orang yang meragukannya adalah orang gila.
Ya, sebagaimana keputusan dan pendapat satu dua orang yang ahli dalam suatu ilmu dan suatu seni tentang ilmu dan seni itu menggugurkan pendapat seribu orang yang tidak memiliki keahlian di dalamnya — sekalipun mereka alim dan ahli di bidang ilmu-ilmu yang lain — demikian pula dalam suatu persoalan: misalnya dalam menetapkan hilal Ramadan pada hari yang diragukan, dan dalam mendakwakan bahwa "di permukaan bumi ada kebun kelapa yang buahnya menyerupai kaleng susu", dua orang yang menetapkan mengalahkan seribu orang yang mengingkari dan menafikan, lalu memenangkan dakwaan itu. Sebab orang yang menetapkan itu cukup menunjukkan satu buah kelapa saja atau tempatnya, maka dengan mudah ia memenangkan dakwaan.
Sebagaimana orang yang menafikan dan mengingkarinya baru dapat membuktikan dakwaannya dengan mencari dan menyisir seluruh permukaan bumi lalu memperlihatkan bahwa ia tidak terdapat di mana pun; demikian pula, sementara orang yang mengabarkan dan membuktikan adanya surga serta negeri kebahagiaan memenangkan dakwaan hanya dengan memperlihatkan satu jejaknya saja, satu bayangannya yang tersingkap laksana gambar di layar bioskop, atau setetes rembesan darinya — maka orang yang menafikan dan mengingkarinya hanya dapat memenangkan dakwaan dengan melihat dan memperlihatkan seluruh kainat beserta seluruh zaman dari azal sampai selamanya, lalu membuktikan pengingkaran dan penafiannya.
Dan justru karena rahasia penting inilah para ahli tahkik sepakat serta menerimanya sebagai sebuah kaidah asasi bahwa penafian dan pengingkaran yang tidak tertuju kepada satu tempat tertentu, melainkan tertuju kepada seluruh kainat sebagaimana hakikat-hakikat iman — dengan syarat bahwa hal itu pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang mustahil — tidak dapat dibuktikan.
Nah, berdasarkan hakikat yang pasti ini, padahal pikiran ribuan filsuf yang bertentangan itu semestinya tidak boleh memberikan keraguan sedikit pun — bahkan tidak pula satu waswas pun — di hadapan satu orang pembawa kabar yang benar dalam persoalan-persoalan iman semacam ini, maka kiaskanlah sendiri betapa bodoh dan betapa gilanya jatuh ke dalam keraguan hanya karena pengingkaran segelintir filsuf yang akalnya telah turun ke matanya, yang tidak berhati, yang menjauh dari perkara-perkara maknawi, dan yang telah menjadi buta; padahal hal itu terjadi pada rukun-rukun iman yang disepakati oleh seratus dua puluh ribu ahli di bidangnya lagi pembawa kabar yang benar yang menetapkannya, dan oleh ahli hakikat serta ahli tahkik yang tidak terhitung dan tidak terhingga banyaknya yang juga menetapkan dan menguasainya.
Dan selama dengan mata kepala kita sendiri, seterang siang, kita menyaksikan sebuah rahmat yang meliputi segalanya, sebuah hikmah yang mencakup segalanya, dan sebuah inayah yang terus-menerus — baik di dalam diri kita maupun di sekeliling kita — serta kita melihat jejak dan manifestasi dari sebuah kerajaan rububiyah yang dahsyat, sebuah keadilan tinggi yang teramat teliti, dan pelaksanaan-pelaksanaan jalali yang penuh keperkasaan. Bahkan sebuah hikmah yang menyematkan pada sebatang pohon berbagai hikmah sebanyak buah dan bunganya, dan sebuah rahmat yang mengaitkan kepada setiap manusia berbagai pemberian dan nikmat sebanyak perangkat, perasaan, dan daya yang dimilikinya, dan sebuah keadilan yang penuh keperkasaan lagi penuh inayah yang menampar bangsa-bangsa durhaka seperti kaum Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh alaihimussalam serta kaum Ad, Tsamud, dan Firaun, sekaligus menjaga hak makhluk hidup yang paling kecil sekalipun, dan ayat وَمِنْ اٰيَاتِه۪ٓ اَنْ تَقُومَ السَّمَٓاءُ وَالْاَرْضُ بِاَمْرِه۪ ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْاَرْضِ اِذَٓا اَنْتُمْ تَخْرُجُونَ — semuanya berkata dengan sebuah keringkasan yang agung:
Sebagaimana para prajurit yang taat, yang berbaring dan berdiam di dalam dua barak, datang ke tempat senjata dan ke tempat tugasnya begitu sang komandan memanggil dengan bunyi terompet; demikian pula persis, dalam permisalan kedua barak ini dan dalam ketaatan kepada perintah, langit yang mahaluas dan bumi ini laksana dua barak yang taat bagi tentara Sang Sultan Azali: kapan saja mereka yang terbaring dengan kematian di dalam barak-barak itu dipanggil dengan sangkakala Malaikat Israfil alaihissalam, seketika itu juga mereka akan mengenakan pakaian jasadnya lalu melesat keluar. Hal itu dibuktikan dan diperlihatkan oleh para penghuni barak bumi yang pada setiap musim semi memperlihatkan keadaan yang sama dengan sangkakala malaikat guruh; maka sebuah kerajaan rububiyah yang keagungannya yang tidak terhingga dipahami dari peristiwa itu — sudah pasti, sungguh pasti, dan bagaimanapun juga, tanpa membawa keraguan sedikit pun bahwa:
Sebagaimana telah dibuktikan di dalam Kelimat Kesepuluh, dengan tidak dibukanya negeri akhirat serta lingkaran kebangkitan dan penyebaran yang dituntut dengan sangat pasti oleh rahmat, hikmah, inayah, keadilan, dan kerajaan yang kekal selamanya itu, maka keindahan rahmat yang tidak terhingga itu
berubah menjadi sikap tanpa belas kasih yang teramat buruk; kesempurnaan hikmah yang tidak terhingga itu berbalik menjadi perbuatan sia-sia yang penuh cacat dan pemborosan yang tidak berfaedah; inayah yang teramat manis itu bertukar menjadi pengkhianatan yang teramat pahit; keadilan yang teramat seimbang lagi benar itu beralih menjadi kezaliman yang teramat keras; kerajaan kekal selamanya yang teramat agung dan kuat itu runtuh; seluruh keagungannya lenyap karena tidak datangnya kebangkitan; dan kesempurnaan rububiyah-Nya ternoda oleh kelemahan dan cacat — semua itu sama sekali tidak mungkin dari segi mana pun, tidak ada satu akal pun yang memberinya kemungkinan, ia mengandung seratus hal yang mustahil sekaligus, dan ia batil lagi mustahil di luar lingkaran imkân.
Sebab, sementara Dia memelihara manusia dengan penuh kelembutan dan penuh manja serta memberinya — melalui perangkat seperti akal dan hati — perasaan rindu kepada kebahagiaan abadi dan kepada hidup kekal selamanya di akhirat, betapa merupakan sikap tanpa belas kasih yang penuh kezaliman jika Dia lalu menghukum mati manusia itu untuk selama-lamanya; dan sementara Dia menyematkan ratusan hikmah dan manfaat hanya pada otaknya saja, betapa bertentangan dengan hikmah jika Dia lalu menyia-nyiakan sama sekali seluruh perangkatnya dan seluruh bakatnya yang mengandung ribuan manfaat itu dengan sebuah kematian tanpa kelanjutan, tanpa faedah, tanpa hasil, dan tanpa hikmah, sehingga manusia tidak dibangkitkan lagi; dan betapa berlawanan dengan keagungan kerajaan serta kesempurnaan rububiyah-Nya jika Dia tidak menunaikan ribuan janji dan ikrar-Nya lalu — Mustahil! — memperlihatkan kelemahan dan kebodohan-Nya. Setiap makhluk berkesadaran memahami hal ini. Kiaskanlah dengan hal-hal ini, lalu terapkanlah pula pada inayah dan keadilan.
Nah, terhadap pertanyaan kita kepada Khâliq kita mengenai akhirat, nama-nama Ar-Rahmân, Al-Hakîm, Al-'Adl, Al-Karîm, dan Al-Hâkim menjawab dengan hakikat yang telah disebutkan tadi; tanpa syak dan tanpa ragu, mereka membuktikan akhirat seterang matahari.
Dan selama dengan mata kepala kita sendiri kita melihat sebuah hafizhiyah (penjagaan dan pemeliharaan Allah) yang demikian meliputi lagi demikian agung, yang berkuasa sedemikian rupa sehingga ia mencatat, menuliskan, merekam, dan mengambilnya ke dalam penjagaan: berbagai bentuk dari setiap sesuatu yang hidup dan dari setiap peristiwa, buku catatan tugas fitri yang telah dijalankannya, serta lembaran amalnya yang berisi tasbihnya dengan lisan keadaan kepada asma Ilahi — semua itu dicatat pada lembaran-lembaran mitsal, pada biji-bijinya dan benih-benih kecilnya, pada daya-daya ingatnya yang merupakan contoh-contoh kecil dari Lauh Mahfuz, terutama pada daya ingat manusia yang merupakan perpustakaan teramat besar sekaligus teramat kecil di dalam otaknya, dan pada cermin-cermin pantulan lahiriah serta maknawi lainnya. Sesudah itu, setiap kali musimnya tiba, setiap musim semi yang merupakan sebuah bunga kudrat memperlihatkan pula seluruh tulisan maknawi itu kepada mata kita dalam bentuk yang lahiriah, lalu dengan kekuatan jutaan permisalan, dalil, dan contoh, ia mengumumkan kepada kainat dengan miliaran lisan pada bunga terbesarnya sebuah hakikat kebangkitan yang paling menakjubkan di dalam ayat وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ.
Dan ia membuktikan dengan sangat kuat bahwa segala sesuatu, terutama manusia, tidaklah diciptakan untuk jatuh menjadi fana, merosot menjadi tidak ada, dan musnah lenyap dalam kehampaan; dan bahwa para makhluk hidup, terutama umat manusia, tidaklah diciptakan untuk dihukum mati. Melainkan mereka diciptakan untuk menuju kekal selamanya dengan terus maju, untuk terus ada dengan terus disucikan, dan untuk memasuki tugas yang kekal selamanya dengan bakat yang dimilikinya.
Benar, pada setiap musim semi kita menyaksikan bahwa tumbuh-tumbuhan yang tidak terhingga, yang telah wafat pada kiamat musim gugur, dibangkitkan kembali pada kebangkitan musim semi; lalu setiap pohon, setiap akar, setiap biji, dan setiap benih membaca ayat وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ, menafsirkan satu makna dan satu satuannya dengan lisannya sendiri melalui contoh-contoh tugas yang telah ia jalankan pada tahun-tahun yang lalu, seraya bersaksi atas hafizhiyah yang agung itu. Ia memperlihatkan pada segala sesuatu empat hakikat yang mahabesar di dalam ayat هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ, lalu mengajarkan kepada kita hafizhiyah pada derajatnya yang tertinggi serta kebangkitan dalam kemudahan dan kepastian seperti musim semi.
Benar, manifestasi keempat nama ini berlaku mulai dari yang paling juz'i sampai kepada yang paling menyeluruh. Misalnya, sebutir benih yang menjadi asal mula pohon ini, dengan menjadi tempat tampaknya nama اَلْاَوَّلُ, adalah sebuah kotak kecil yang menghimpun rancangan pohon itu yang teramat sempurna, seluruh perangkat penciptaannya yang tanpa cacat, dan segenap syarat yang diperlukan agar ia terbentuk; sebuah kotak yang membuktikan keagungan hafizhiyah.
Adapun buahnya yang menjadi tempat tampaknya nama وَالْاٰخِرُ, ia adalah sebuah peti kecil yang bersama biji-bijinya memuat daftar seluruh tugas fitri yang telah dijalankan pohon itu, daftar amal-amalnya, serta kaidah-kaidah kehidupan keduanya; sebuah peti yang bersaksi atas hafizhiyah pada derajatnya yang tertinggi.
Adapun bentuk jasmani pohon itu yang menjadi tempat tampaknya nama وَالظَّاهِرُ, ia adalah sebuah jubah dan pakaian yang demikian serasi, penuh seni, dan indah; yang dihiasi dengan bermacam-macam ukiran, perhiasan, dan lambang keemasan; seolah-olah ia adalah busana bidadari bertujuh puluh warna, yang memperlihatkan kepada mata — di dalam hafizhiyah — keagungan kudrat, kesempurnaan hikmah, dan keindahan rahmat-Nya.
Adapun mesin di dalam pohon itu yang menjadi cermin bagi nama وَالْبَاطِنُ, ia adalah sebuah pabrik, sebuah bengkel, dan sebuah laboratorium kimia yang demikian teratur, sempurna, dan penuh mukjizat; sekaligus sebuah kuali rezeki yang penuh timbangan, yang tidak membiarkan satu dahan, satu buah, dan satu daun pun tanpa makanan; ia membuktikan seterang matahari — di dalam hafizhiyah — kesempurnaan kudrat dan keadilan serta keindahan rahmat dan hikmah-Nya.
Demikian pula persis, bumi ini adalah sebuah pohon dari segi musim-musim tahunannya. Seluruh benih dan biji yang dititipkan kepada hafizhiyah pada musim gugur dengan manifestasi nama Al-Awwal merupakan kumpulan-kumpulan kecil perintah Ilahi mengenai susunan pohon permukaan bumi yang mengenakan seprai musim semi — pohon yang memiliki miliaran dahan dan ranting, yang berbuah dan berbunga — juga merupakan daftar kaidah yang datang dari takdir, serta lembaran amal dan buku catatan khidmah yang teramat kecil dari tugas-tugas yang telah dijalankan pada musim panas yang lalu; semuanya dengan sangat nyata memperlihatkan bahwa Sang Hafîzh Dzul-Jalâli wal-Ikrâm bekerja dengan kudrat, keadilan, hikmah, dan rahmat yang tidak terhingga.
Adapun penghujung pohon bumi tahunan itu, pada musim gugur yang kedua ia meletakkan seluruh tugas yang telah dijalankan pohon itu, seluruh tasbih fitri yang dipersembahkannya kepada asma Ilahi, dan seluruh lembaran amalnya yang dapat disebarkan pada kebangkitan musim semi mendatang, ke dalam kotak-kotak kecil sekecil zarah, lalu menyerahkannya ke tangan hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl. Ia membaca nama هُوَ الْاٰخِرُ dengan lisan yang tidak terhingga di atas wajah kainat.
Adapun bagian lahir pohon ini, dengan membuka tiga ratus ribu bunga menyeluruh yang bermacam-macam jenisnya — yang memperlihatkan tiga ratus ribu permisalan dan tanda kebangkitan — lalu membentangkan hidangan rahmaniyah, razzâqiyah, rahimiyah, dan karîmiyah yang tidak terhingga serta menjamu para makhluk hidup, ia menyebut dan memuji nama هُوَ الظَّاهِرُ dengan lisan sebanyak buah, bunga, dan makanannya; dan seterang siang ia memperlihatkan hakikat وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ.
Adapun bagian batin pohon yang agung ini, ia adalah sebuah kuali dan bengkel yang menjalankan dengan sangat teliti dan teratur mesin-mesin teratur serta pabrik-pabrik penuh timbangan yang tidak terhingga dan tidak terhitung banyaknya; ia memasak ribuan batman makanan dari satu dirham saja, lalu menyampaikannya kepada mereka yang lapar. Ia bekerja dengan timbangan dan ketelitian sedemikian rupa sehingga tidak menyisakan tempat sedikit pun — walau sebesar zarah — bagi campur tangan kebetulan. Dengan bagian dalam bumi, ia mengumumkan dan membuktikan nama هُوَ الْبَاطِنُ dalam seratus ribu cara, laksana sebagian malaikat yang bertasbih dengan seratus ribu lisan.
Dan sebagaimana bumi merupakan sebuah pohon dari segi kehidupan tahunannya, serta di dalam keempat nama itu ia memperlihatkan hafizhiyah dan dengan hafizhiyah itu menjadikan sebuah kunci bagi pintu kebangkitan; demikian pula persis, dari segi kehidupan dunia sepanjang masa, ia tetap merupakan sebuah pohon teratur yang buah-buahnya dikirim ke pasar akhirat. Dan ia menjadi tempat tampaknya sekaligus cermin bagi keempat nama itu, serta membuka sebuah jalan menuju akhirat sedemikian rupa sehingga akal kita tidak sanggup meliputi dan menjelaskan keluasannya. Kami hanya mengatakan sebatas ini:
Sebagaimana jarum-jarum sebuah jam mingguan yang menghitung detik, menit, jam, dan hari itu saling menyerupai satu sama lain dan saling membuktikan satu sama lain. Siapa yang melihat gerak jarum detik, ia terpaksa membenarkan gerak roda-roda yang lain.
Demikian pula persis, dunia ini merupakan sebuah jam terbesar milik Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang menciptakan langit dan bumi; maka hari-hari yang menghitung detik-detiknya, tahun-tahun yang menghitung menit-menitnya, abad-abad yang menunjukkan jam-jamnya, dan masa-masa yang memberitahukan hari-harinya saling menyerupai dan saling membuktikan satu sama lain. Dan dengan kepastian seperti datangnya pagi bagi malam ini dan musim semi bagi musim dingin ini, ia mengabarkan dengan tanda-tanda yang tidak terhingga bahwa bagi musim dingin yang gelap milik dunia yang fana ini akan datang sebuah musim semi yang kekal selamanya dan sebuah pagi yang kekal abadi. Demikianlah nama Al-Hafîzh beserta nama-nama هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ menjawab dengan hakikat yang telah disebutkan tadi persoalan kebangkitan yang kita tanyakan kepada Khâliq kita.