Dan misalnya lagi,
Sinar-Sinar · hlm. 246
seandainya ada sebuah kitab yang pada satu barisnya tertulis sebuah kitab dengan huruf yang halus, dan pada setiap katanya tertulis sebuah surah Al-Qur'an dengan pena yang halus; sebuah himpunan menakjubkan yang sangat sarat makna, yang seluruh persoalannya saling menguatkan satu sama lain, dan yang memperlihatkan penulis serta pengarangnya sebagai sosok yang luar biasa mahir dan berkuasa; tanpa ragu, seterang siang hari, ia memberitahukan dan memperkenalkan penulis dan penyusunnya beserta segala kesempurnaan dan kepandaiannya, serta membuat orang memuji dengan kalimat “Masya Allah, barakallah.”
Persis seperti itu pula kitab besar kainat ini: pada permukaan bumi yang hanya menjadi satu lembar halamannya, dan pada musim semi yang hanya menjadi satu kuras cetakannya, dengan mata kepala kita sendiri kita melihat bekerjanya sebuah pena yang menuliskan tiga ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan — yang masing-masing berkedudukan sebagai tiga ratus ribu kitab yang berbeda-beda — secara bersamaan, satu di dalam yang lain, tanpa salah, tanpa keliru, tanpa tercampur, dan tanpa bingung; dengan sempurna dan teratur; bahkan menuliskan sebuah kasidah pada satu kata seperti pohon, dan menuliskan daftar isi lengkap sebuah kitab pada satu titik seperti biji. Maka kitab yang tak terhingga sarat maknanya ini,
dan yang pada setiap katanya terkandung banyak hikmah — himpunan kainat ini dan Al-Qur'an Terbesar Alam yang berwujud nyata ini — sejauh mana ia lebih besar, lebih sempurna, dan lebih sarat makna daripada kitab dalam perumpamaan yang telah disebutkan tadi, sebesar itu pula ilmu hikmah segala sesuatu yang kalian pelajari serta ilmu membaca dan ilmu menulis yang kalian tekuni langsung di sekolah, dengan ukurannya yang luas dan dengan mata teropongnya, memperkenalkan Sang Pengukir dan Sang Penulis kitab kainat ini beserta kesempurnaan-Nya yang tak terhingga. Ia memberitahukan-Nya dengan kalimat “Allahu akbar”, menjelaskan-Nya dengan tasbih “Subhanallah”, dan menumbuhkan cinta kepada-Nya dengan pujian “Alhamdulillah”.
Maka dengan mengiaskan kepada ilmu-ilmu ini, setiap ilmu dari ratusan ilmu — dengan ukurannya yang luas, dengan cerminnya yang khusus, dengan mata teropongnya, dan dengan pandangannya yang penuh pelajaran — memberitahukan Sang Khâliq Dzul-Jalâl kainat ini melalui asma-Nya; dan memperkenalkan sifat-sifat serta kesempurnaan-Nya.
Justru untuk mengajarkan hujah yang telah disebutkan tadi — yang merupakan burhan keesaan Allah yang megah lagi cemerlang — itulah Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, dengan pengulangan yang banyak, paling sering memperkenalkan Khâliq kita kepada kita melalui ayat رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضِ dan خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضَ. Demikianlah aku berkata kepada para pemuda pelajar itu. Mereka pun menerimanya sepenuhnya dan membenarkannya seraya berkata, “Syukur tak terhingga kepada Rabb kami, karena kami telah menerima sebuah pelajaran yang benar-benar suci dan merupakan hakikat itu sendiri. Semoga Allah meridai engkau.” Aku pun berkata:
Manusia adalah sebuah mesin hidup yang akan merasakan pedih oleh ribuan macam derita dan merasakan lezat oleh ribuan jenis kenikmatan; ia adalah makhluk malang yang — beserta kelemahannya yang teramat sangat — memiliki musuh lahir dan batin yang tak terhingga, yang — beserta kefakirannya yang tiada berujung — memiliki kebutuhan lahir dan batin yang tak terhingga, dan yang terus-menerus menerima tamparan sirna dan perpisahan; maka tatkala ia dalam keadaan demikian tiba-tiba bertaut dengan Sang Raja Dzul-Jalâl yang seperti itu melalui iman dan ubudiyah, lalu menemukan titik sandaran menghadapi seluruh musuhnya dan titik tempat memohon pertolongan bagi seluruh hajatnya — sebagaimana setiap orang berbangga dengan kemuliaan dan kedudukan tuan yang menaunginya, demikian pula jika ia bertaut dengan iman kepada Sang Raja Yang Qadîr lagi Rahîm tanpa terhingga seperti itu, lalu masuk ke dalam khidmah-Nya dengan ubudiyah, dan mengubah pengumuman hukuman mati dari ajal menjadi surat pelepasan tugas bagi dirinya — betapa besar rasa senang, rasa terima kasih, dan kebanggaan penuh syukur yang dapat ia rasakan; bandingkanlah sendiri.
Sebagaimana yang telah kukatakan kepada para pemuda sekolah itu, kepada para tahanan yang tertimpa musibah pun aku katakan berulang kali: Barang siapa mengenal-Nya dan taat kepada-Nya, sekalipun berada di dalam penjara bawah tanah, ia berbahagia. Barang siapa melupakan-Nya, sekalipun berada di dalam istana-istana, ia berada di dalam penjara bawah tanah dan ia celaka.
Bahkan seorang mazlum yang berbahagia, ketika hendak dihukum mati, berkata kepada para zalim yang celaka: "Aku tidak sedang dihukum mati. Bahkan aku sedang pergi menuju kebahagiaan dengan pelepasan tugas. Namun karena aku melihat kalian terhukum dengan hukuman mati abadi, maka aku pun mengambil pembalasanku atas kalian dengan sempurna." Lalu dengan mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُٔ ia menyerahkan ruhnya dengan penuh kegembiraan. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ