Masih Ada Beberapa Poin yang Hendak Kusampaikan kepada Pemerintah, Mahkamah, dan Kepolisian Afyon
Sinar-Sinar · hlm. 437
Yang Pertama: Munculnya kebanyakan para nabi di Timur dan di Asia, serta datangnya kebanyakan ahli hikmah di Barat dan di Eropa, adalah sebuah isyarat dari takdir azali bahwa di Asia agamalah yang berkuasa, sedangkan filsafat berada pada derajat kedua. Berdasarkan ramz takdir ini, siapa pun yang memerintah di Asia, sekalipun ia bukan orang yang beragama, tidak boleh mengusik orang-orang yang bekerja demi kebaikan agama, bahkan seharusnya ia mendorong mereka.
Yang Kedua: Al-Qur'an Al-Hakîm adalah akal dan daya pikir bagi kepala bumi ini. Seandainya — al-iyâzu billâh — Al-Qur'an keluar dari kepala bumi, niscaya bumi akan menjadi gila; dan tidaklah jauh dari akal bahwa kepalanya yang kosong dari akal itu akan menabrak sebuah planet, lalu menjadi sebab pecahnya kiamat. Ya, Al-Qur'an adalah sebuah rantai yang mengikat arasy dengan bumi, sebuah hablullah. Lebih daripada daya tarik menyeluruh, ia menjaga bumi.
Maka Risale-i Nur, yang merupakan tafsir hakiki lagi kuat bagi Al-Qur'an Al-Azhîmusy-Sya'n ini, adalah nikmat Ilahi yang besar dan mukjizat Al-Qur'an yang tidak pernah padam, yang selama dua puluh tahun telah memperlihatkan pengaruhnya pada abad ini, di tanah air ini, kepada bangsa ini. Yang seharusnya dilakukan pemerintah bukanlah mengusiknya serta menakut-nakuti para muridnya sehingga mereka berpaling darinya, melainkan melindunginya dan mendorong orang untuk membacanya.
Yang Ketiga: Berdasarkan pertolongan yang diberikan oleh seluruh ahli iman yang datang kemudian kepada mereka yang telah pergi ke masa lalu — dengan doa memohon ampunan dan dengan menghadiahkan pahala kebaikan mereka kepada ruh-ruh itu — aku telah berkata di Mahkamah Denizli:
"Di Mahkamah Agung kelak, jika miliaran ahli iman selaku para penuntut bertanya kepada orang-orang yang hendak menghukum dan memporak-porandakan murid-murid Nur yang berkhidmah kepada hakikat-hakikat Al-Qur'an, dan bertanya pula kepada Tuan-tuan: padahal dengan undang-undang kebebasan Tuan-tuan memandang dengan sikap membiarkan terhadap penerbitan kaum yang tidak beragama dan kaum komunis serta terhadap perkumpulan-perkumpulan yang melahirkan anarki, dan Tuan-tuan tidak mengusik mereka,
sedangkan Risale-i Nur dan murid-muridnya, yang berusaha menyelamatkan tanah air dan bangsa dari anarkisme, dari sikap tidak beragama dan dari rusaknya akhlak, serta menyelamatkan warga negaranya dari hukuman mati abadi yang ditimbulkan kematian, justru hendak Tuan-tuan porak-porandakan dengan penjara dan tekanan — jika hal itu ditanyakan kepada Tuan-tuan, jawaban apakah yang akan Tuan-tuan berikan? Kami pun bertanya kepada Tuan-tuan!" Demikianlah aku berkata kepada mereka. Ketika itu, orang-orang yang berlaku insaf dan adil itu membebaskan kami dan memperlihatkan keadilan lembaga peradilan.
Yang Keempat: Aku menanti-nanti bahwa dalam pemeriksaan itu Ankara atau Afyon akan memasukkanku ke dalam sebuah lingkaran musyawarah — untuk persoalan-persoalan yang sangat besar, dari segi khidmah Nur terhadap persoalan-persoalan tersebut — dan aku menanti adanya tanya jawab. Ya, yakni menemukan jalan-jalan yang akan memenangkan kembali bagi bangsa di negeri ini persaudaraan lama, kecintaan, husnuzan, dan bantuan maknawi dari tiga ratus lima puluh juta kaum Muslimin; dan salah satu tanda bahwa jalan serta sarana yang paling kuat untuk itu adalah Risale-i Nur ialah sebagai berikut:
Mereka mengabarkan: pada tahun ini, di Makkah Al-Mukarramah, seorang alim yang sangat besar menerjemahkan kumpulan-kumpulan besar Nur ke dalam bahasa India dan bahasa Arab, lalu mengirimkannya ke India dan ke Arab, seraya berusaha mewujudkan kesatuan dan persaudaraan Islam yang menjadi titik sandaran kami yang paling kuat; dan bersamaan dengan itu, dengan Risalah-risalah Nur ia memperlihatkan bahwa bangsa Turki senantiasa berada di barisan terdepan dalam agama dan iman.
Lagi pula aku menanti-nanti hal ini: padahal yang perlu ditanyakan adalah persoalan-persoalan sebesar gunung, seperti "Sampai di manakah khidmah Nur menghadapi bahaya komunis yang berubah menjadi anarki di tanah air kita, dan bagaimanakah tanah air yang mubarak ini akan dijaga dari banjir yang dahsyat ini?", namun justru karena persoalan-persoalan juz'i, pribadi, yang tidak memiliki nilai sebesar sayap lalat pun dan sama sekali bukan sumber pertanggungjawaban — persoalan yang dari sebutir biji dijadikan kubah oleh fitnah orang-orang yang bermaksud buruk — di bawah keadaan yang demikian berat ini aku dijerumuskan ke dalam keadaan kalut yang belum pernah kualami sepanjang umurku. Kepada kami diajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak bermakna, mengenai persoalan-persoalan yang sama, yang telah ditanyakan oleh tiga mahkamah dan telah diputus bebas, serta mengenai satu dua persoalan yang remeh dan bersifat pribadi.
Yang Kelima: Risale-i Nur tidak dapat dilawan; ia tidak akan terkalahkan. Selama dua puluh tahun ia membungkam para filsuf yang paling keras kepala. Ia memperlihatkan hakikat-hakikat iman laksana matahari. Siapa pun yang memerintah di negeri ini, seharusnya ia mengambil manfaat dari kekuatannya.
Yang Keenam: Melumpuhkan diriku dengan cacat-cacat pribadiku yang tidak berarti ini, dan menjatuhkanku dari pandangan umum dengan berbagai penghinaan, tidaklah merugikan Risale-i Nur, bahkan dari satu segi justru memberinya kekuatan. Sebab, sebagai ganti satu lisanku yang fana, lisan-lisan yang kekal dari seratus ribu naskah Risale-i Nur tidak akan diam,
melainkan akan terus berbicara. Dan murid-muridnya yang tulus, dengan ribuan lisan yang kuat, insyaallah akan melanjutkan tugas Nuriyah yang suci lagi menyeluruh itu sampai hari kiamat, sebagaimana yang berlangsung selama ini.
Yang Ketujuh: Sebagaimana telah kudakwakan di mahkamah-mahkamah terdahulu dan telah kami tunjukkan hujah-hujahnya, musuh-musuh kami yang tersembunyi serta para penentang kami — baik yang resmi maupun yang tidak resmi — yang memperdaya pemerintah, menanamkan waham pada sebagian pejabatnya, dan menggerakkan lembaga peradilan untuk memusuhi kami, mereka itu entah telah tertipu dengan cara yang sangat buruk, entah sengaja ditipu, entah seorang pemberontak yang sangat bengis demi kepentingan anarki, entah seorang zindik licik penuh tipu daya yang bertarung dengan sikap murtad melawan Islam dan hakikat Al-Qur'an. Untuk menyerang kami, mereka memberi nama republik kepada penindasan mutlak, menaungi kemurtadan mutlak dengan nama rezim, memberi nama peradaban kepada foya-foya yang mutlak, dan memberi nama undang-undang kepada paksaan sewenang-wenang yang bersumber dari kekufuran; dengan itu mereka memporak-porandakan kami, memperdaya pemerintah, sekaligus menyibukkan lembaga peradilan dengan kami secara tak bermakna. Kami serahkan mereka kepada murka Sang Qahhâr Dzul-Jalâl, dan demi menjaga diri kami dari kejahatan mereka, kami berlindung ke dalam benteng حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ.
Yang Kedelapan: Pada tahun lalu, orang-orang Rusia mengirimkan jamaah haji dalam jumlah besar untuk berhaji, lalu dengan perantaraan mereka melakukan propaganda — bahwa Rusia lebih menghormati Al-Qur'an daripada bangsa-bangsa lain — dan berusaha memalingkan alam Islam, dari segi agama, untuk memusuhi bangsa yang beragama di tanah air ini. Pada waktu yang sama, kumpulan-kumpulan besar Risale-i Nur, dengan tersebarnya sebagian darinya di bawah penghargaan para ulama, baik di Makkah Al-Mukarramah, di Madinah Al-Munawwarah, di Syam Asy-Syarif, di Mesir, maupun di Halab, telah mematahkan propaganda komunis itu, sekaligus memperlihatkan kepada alam Islam bahwa:
bangsa Turki beserta saudara-saudaranya tetap memegang teguh agama dan Al-Qur'annya seperti dahulu, dan bahwa ia adalah saudara besar yang taat beragama bagi kaum Muslimin lainnya serta panglima pahlawan dalam khidmah kepada Al-Qur'an — demikianlah hakikat ini diperlihatkan oleh kumpulan-kumpulan Nur itu di pusat-pusat yang penting lagi suci tersebut.
Adakah khidmah kebangsaan Nur yang sedemikian berharga ini, jika dibalas dengan siksaan semacam ini, tidak akan membuat bumi murka?