PENUTUP
Sinar-Sinar · hlm. 325
Sebuah isyarat singkat kepada hakikat yang panjang mengenai sebuah nukta i'jaz yang teramat penting — hakikat yang tiba-tiba, tanpa dikehendaki, diingatkan ke dalam hati sesudah magrib, dan yang memperlihatkan sebuah mukjizat gaib yang nyata dari Surah قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ٭ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ٭ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ٭ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ٭ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
Nah, hanya dari segi makna isyari, surah agung yang menakjubkan ini memerintahkan kepada Nabi kita صلى الله عليه وسلم dan kepada umatnya: “Peliharalah diri kalian dari orang-orang jahat yang bekerja atas nama alam-alam kehampaan di dalam kainat, dan dari setan-setan dari kalangan manusia dan jin.” Sebagaimana ia memandang kepada setiap abad, dengan makna isyarinya ia memandang lebih banyak lagi — bahkan dengan cara yang nyata — kepada abad kita yang menakjubkan ini; dan ia mengajak para khadim Al-Qur'an untuk beristiazah, yakni memohon perlindungan kepada Allah. Mukjizat gaib ini akan dijelaskan secara ringkas melalui lima isyarat. Yaitu demikian:
Setiap ayat surah ini memiliki banyak makna. Hanya dari sisi makna isyari saja: bahwa kata “syarr” (kejahatan) diulang empat kali di dalam lima kalimatnya; bahwa — disertai kaitan maknawi yang kuat — surah ini menunjuk dengan tepat, dalam empat bentuk, kepada empat kejahatan lahir dan batin abad ini yang dahsyat lagi penuh badai, kepada revolusi-revolusinya, dan kepada pergulatan-pergulatannya yang tiada bandingnya, tepat bersama tahun-tahunnya sekaligus; dan bahwa secara maknawi ia memerintahkan: “Jauhilah semua ini!” — sudah pasti semua itu merupakan sebuah petunjuk gaib yang layak bagi i'jaz Al-Qur'an.
Misalnya, kalimat قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ pada awal surah bertawafuk, menurut hitungan abjad dan jifir, dengan tahun seribu tiga ratus lima puluh dua atau empat (1352-1354), lalu mengisyaratkan kepada Perang Dunia Kedua yang tengah bersiap meletus akibat ketamakan dan kedengkian yang paling luas di kalangan umat manusia serta akibat Perang Pertama.
Dan secara maknawi ia berkata kepada umat Muhammad صلى الله عليه وسلم: “Janganlah kalian masuk ke dalam perang ini, dan berlindunglah kepada Rabb kalian!” Dan dengan sebuah makna simbolik, disertai perhatian khusus kepada para murid Risale-i Nur yang termasuk khadim Al-Qur'an, ia mengabarkan secara simbolik tentang selamatnya mereka dari penjara Eskişehir, sebuah kejahatan yang dahsyat, tepat pada tahun yang sama, dan tentang gagalnya rencana untuk membinasakan mereka; ia memberikan sebuah isyarat yang seolah-olah secara maknawi memerintahkan: “Beristiazahlah!”
Dan misalnya pula, kalimat مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ — syaddah tidak dihitung — berjumlah seribu tiga ratus enam puluh satu (1361); sebagaimana ia menunjuk dengan tepat, menurut tahun Rumi dan Hijriah, kepada kerusakan yang tanpa belas kasihan lagi zalim akibat perang yang tiada bandingnya itu, pada saat yang sama ia pun memandang kepada para murid Nur — yang berjuang dengan segenap kekuatan mereka dalam khidmah Al-Qur'an — dengan sebuah makna simbolik, melalui tawafuknya dengan selamatnya mereka dari sebuah rencana luas untuk membinasakan mereka, dari bencana yang pedih lagi dahsyat, dan dari penjara Denizli. Dengan sebuah ima yang tersembunyi ia berkata: “Peliharalah diri kalian dari kejahatan makhluk!”
Dan misalnya pula, kalimat اَلنَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ — syaddah-syaddah tidak dihitung — berjumlah seribu tiga ratus dua puluh delapan (1328), dan jika huruf (lam) pada syaddah dihitung, berjumlah seribu tiga ratus lima puluh delapan (1358); dengan bilangan itu ia bertawafuk dengan tahun bersiapnya kemunculan kejahatan-kejahatan yang secara biadab memusnahkan kemajuan peradaban seribu tahun, yaitu kejahatan lahir dan batin dari para penindas asing yang kejam, pembuat perang-perang dunia itu, yang dengan ketamakan dan kedengkian, dengan maksud merusak hasil-hasil Revolusi Kebebasan di negeri kita yang berpihak kepada Al-Qur'an, menimbulkan pergantian kesultanan, Perang Balkan dan Perang Italia, serta meletusnya Perang Dunia Pertama; kejahatan yang mereka tiupkan bagaikan tukang sihir lagi penuh racun ke dalam kepala setiap orang melalui lidah radio para diplomat politik, dan yang mereka tanamkan berupa rencana-rencana rahasia pada simpul dan buhul takdir manusia — sehingga ia benar-benar bersesuaian dengan makna اَلنَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ secara utuh.
Dan misalnya pula, kalimat وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ — syaddah dan tanwin tidak dihitung — juga berjumlah seribu tiga ratus empat puluh tujuh (1347); maka tawafuknya yang tepat sekali, dengan makna isyari ini, dengan terjadinya guncangan-guncangan besar di tanah air ini akibat paksaan perjanjian-perjanjian asing pada tahun itu juga, dan dengan terjadinya perubahan-perubahan besar pada bangsa yang taat beragama ini akibat tekanan filsafat, serta dengan tahun berbenturannya kedengkian dan persaingan dahsyat di antara negara-negara yang mempersiapkan Perang Dunia Kedua pada tahun yang sama,
dan kesesuaiannya secara maknawi, sudah pasti merupakan sekilau cahaya i'jaz gaib dari surah yang suci ini.