Risale-i NurSinar-Sinar

PENUTUP

Sinar-Sinar · hlm. 39

Inilah isyarat-isyarat yang teramat singkat, masing-masing dengan satu kalimat, kepada rukun-rukun iman yang lain di dalam rahasia tauhid.

Wahai manusia yang lalai! Marilah sekali saja berpikir, dan perhatikanlah "Tiga Buah, Tiga Sebab yang Mengharuskan, dan Tiga Hujah" yang telah dijelaskan dalam tiga maqam risalah ini; lalu lihatlah: Sang Pembuat Yang Qadîr, Hakîm, Rahîm, lagi Alîm — yang bertasarruf di dalam kainat ini, yang memperhatikan bahkan kesembuhan yang paling juz'i dan syukur yang paling kecil, yang tidak menyerahkan dan tidak melimpahkan seni sekecil sayap seekor lalat kepada selain-Nya serta tidak berlaku acuh terhadapnya, yang menyematkan pada sebutir benih yang paling sederhana tugas-tugas dan hikmah-hikmah sebesar sebatang pohon, yang membuat sifat rahmân-Nya, rahîm-Nya, dan hakîm-Nya terasa melalui setiap karya seni-Nya, yang memperkenalkan diri-Nya dengan setiap sarana dan membuat diri-Nya dicintai dengan setiap nikmat — mungkinkah dan dari sisi mana pun dapatkah Dia berlaku acuh terhadap kebaikan-kebaikan hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم yang secara maknawi menguasai kainat, terhadap tasbih-tasbih Ahmad صلى الله عليه وسلم, dan terhadap cahaya-cahaya Islam?

Dan mungkinkah dari sisi mana pun bahwa kerasulan Ahmad صلى الله عليه وسلم — yang menyepuh keemasan seluruh ciptaan, yang menggembirakan seluruh makhluk, yang menerangi kainat, yang menggetarkan langit dan bumi, yang selama empat belas abad tanpa terputus menaungi separuh bumi dan seperlima umat manusia di bawah kerajaan lahiriah dan maknawinya, serta yang senantiasa menjalankan kerajaan yang megah itu atas nama dan untuk Sang Khâliq kainat — bukan merupakan salah satu maksud terpenting, cahaya, dan cermin dari Sang Pembuat itu? Dan mungkinkah para nabi yang berkhidmah kepada hakikat yang sama seperti Muhammad صلى الله عليه وسلم bukan merupakan utusan-utusan, sahabat-sahabat, dan petugas-petugas dari Sang Pembuat itu? Hâsyâ, sebanyak mukjizat para nabi, hâsyâ wa kallâ!

Dan mungkinkah dari sisi mana pun bahwa Zat yang menyematkan seratus hikmah dan buah pada sesuatu yang paling juz'i seperti dahan dan ranting, serta yang memperkenalkan rububiyah-Nya dan membuatnya dicintai dengan hikmah-hikmah-Nya yang luar biasa dan sifat rahmân-Nya yang menyeluruh —

yakni Sang Khâliq Yang Hakîm lagi Rahîm — tidak mendatangkan kebangkitan (hasyr) yang bagi kudrat-Nya semudah satu musim semi, tidak membuka sebuah negeri kebahagiaan dan sebuah persinggahan yang kekal, lalu mengingkari dan membuat orang mengingkari seluruh hikmah dan rahmat-Nya, bahkan rububiyah dan kesempurnaan-Nya, serta menghukum mati untuk selama-lamanya seluruh makhluk kekasih yang sangat Dia cintai? Hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ! Sang Jamâl Mutlak itu seratus ribu derajat lebih jauh tersucikan dan mahasuci dari keburukan mutlak semacam itu.