Kesimpulannya:
Sinar-Sinar · hlm. 38
Permulaan setiap pohon adalah sebuah peti kecil dan sebuah program; akhirnya adalah sebuah lembar keterangan dan sebuah contoh; lahirnya adalah sebuah jubah karya seni dan sebuah pakaian berukir; dan batinnya adalah sebuah pabrik dan sebuah bengkel — sedemikian rupa sehingga keempat sisi itu saling memandang satu sama lain, dan dari himpunan keempatnya tampaklah sebuah cap teragung, bahkan sebuah Ismul A'zham, sehingga jelas sejelas-jelasnya bahwa selain Sang Pembuat Yang Wâhid lagi Ahad, yang mengatur seluruh kainat, tidak ada yang dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu. Dan seperti pohon, permulaan, akhir, lahir, dan batin setiap makhluk hidup pun masing-masing membawa sebuah cap tauhid, sebuah stempel kesatuan, sebuah meterai ahadiyah, dan sebuah tanda kebesaran keesaan Allah.
Maka, dengan mengiaskan kepada pohon dalam tiga contoh ini, musim semi pun adalah sebuah pohon yang penuh bunga. Benih-benih, biji-biji, dan akar-akar yang dititipkan ke tangan musim gugur membawa cap nama Al-Awwal; buah-buahan, biji-bijian, dan sayur-mayur yang tercurah ke pangkuan musim panas dan memenuhi hamparannya membawa stempel nama Al-Âkhir; jubah-jubah laksana sutra sundus yang dikenakan musim semi berlapis-lapis satu di atas yang lain bagaikan bidadari bermata jeli, serta pakaian-pakaian fitri yang dihiasi seratus ribu ukiran, membawa meterai nama Azh-Zhâhir; dan pabrik-pabrik Shamadani yang bekerja di dalam musim semi dan di perut bumi, kuali-kuali Rahmani yang mendidih, serta dapur-dapur Rabbani yang memasak berbagai hidangan, membawa tanda kebesaran nama Al-Bâthin.
Bahkan setiap jenis makhluk, misalnya jenis manusia, juga merupakan sebuah pohon. Akar dan bijinya berada di masa lalu, sedangkan buah dan hasilnya berada di masa depan; maka sebagaimana di dalam kehidupan jenisnya dan kelangsungan jenisnya terdapat hukum-hukum yang sungguh teratur, demikian pula keadaannya pada masa kini membawa sebuah cap tauhid di bawah ketentuan kaidah-kaidah kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat, sebuah stempel kesatuan yang teratur namun tersembunyi di balik kekacauan yang tampak di permukaan, serta sebuah meterai keesaan Allah di bawah ketentuan kaidah-kaidah kada dan kadar — yang disebut ketentuan hidup — di balik keadaan manusia yang tampak semrawut.