Risale-i NurSinar-Sinar

PERINGATAN

Sinar-Sinar · hlm. 210

Karena di lingkungan negeri yang menjadi tempat munculnya risalah ini tidak terdapat risalah-risalah Risale-i Nur yang lain, dan karena risalah ini ditulis di sini di luar ikhtiar, maka di dalam risalah-risalah seperti Ayatul Kubra disebutkan sebagian persoalan penting dari Kelimat-Kelimat dan Lem'a-Lem'a yang lain dalam bentuk pengulangan yang tampak di lahirnya; dan ia dituliskan demikian dengan hikmah agar bagi para murid di sini masing-masing risalah itu berkedudukan sebagai sebuah Risale-i Nur kecil.

Naskah kasar ini pertama kali disalin ke dalam tulisan bersih oleh seorang yang mubarak. Pada naskah yang ditulisnya itu — sementara ia sendiri tidak mengetahui adanya tawafuk — kami melihat sebuah tawafuk (kesesuaian angka yang menakjubkan) yang halus lagi sarat makna dan layak dicatat, yaitu: pada awal baris-baris naskah itu, huruf "Alif" tertulis sebanyak enam ratus enam puluh enam.

Adapun keadaan ini, karena tepat sekali bersesuaian dan cocok dengan bilangan enam ratus enam puluh enam — yaitu nilai jifir dan abjad dari nama Ayatul Kubra yang diberikan kepada risalah khusus ini oleh Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu — maka ia menunjukkan bahwa risalah ini memang layak menyandang nama tersebut. Dan tawafuknya dengan tiga tingkatan dari empat tingkatan bilangan enam ribu enam ratus enam puluh enam, yaitu jumlah ayat-ayat Al-Qur'an, kami pandang pula sebagai isyarat bahwa risalah ini merupakan sekilau cahaya dari ayat-ayat itu.