PERSOALAN KEENAM BELAS
Sinar-Sinar · hlm. 592
Di dalam riwayat disebutkan bahwa berkenaan dengan dibunuhnya Dajjal oleh Nabi Isa alaihissalam, riwayat itu menunjukkan “bahwa Dajjal memiliki perawakan yang luar biasa besar, lebih tinggi daripada menara, sedangkan Nabi Isa alaihissalam jauh lebih kecil dibandingkan dengannya.”
لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ salah satu takwilnya semestinya demikian: hal itu merupakan isyarat dan kiasan bahwa jumlah jemaah ruhani para mujahid yang mengenal Nabi Isa alaihissalam dengan cahaya iman lalu mengikutinya sangatlah sedikit dan kecil dibandingkan dengan pasukan-pasukan ilmiah dan materiil Dajjal, baik dari sisi sekolah maupun dari sisi ketentaraan. PERSOALAN KETUJUH BELAS: Di dalam riwayat disebutkan: “Pada hari Dajjal muncul, seluruh dunia mendengarnya; dalam empat puluh hari ia mengelilingi dunia; dan ia memiliki seekor keledai yang luar biasa.”
اَللّٰهُ اَعْلَمْ dengan syarat riwayat-riwayat ini benar-benar sahih, takwilnya adalah: riwayat-riwayat ini mengabarkan secara mukjizat bahwa “pada zaman Dajjal, sarana komunikasi dan perjalanan akan sedemikian maju sehingga suatu peristiwa akan terdengar di seluruh dunia dalam satu hari. Ia berseru dengan radio, timur dan barat mendengarnya, dan hal itu akan dibaca di seluruh surat kabar. Dan seseorang akan mengelilingi dunia dalam empat puluh hari, melihat serta menjelajahi tujuh benuanya dan tujuh puluh pemerintahannya.” Demikianlah, sepuluh abad sebelum kemunculannya, riwayat itu mengabarkan secara mukjizat tentang telegraf, telepon, radio, kereta api, dan pesawat terbang.
Lagi pula, Dajjal itu didengar bukan dari segi kedajjalannya, melainkan dengan sifat sebagai seorang raja yang sangat lalim. Dan pengembaraannya pun bukan untuk menguasai seluruh tempat, melainkan untuk membangkitkan fitnah dan menyesatkan manusia. Adapun tunggangan dan keledai yang ia kendarai, ia adalah kereta api yang satu telinga dan satu kepalanya berupa tungku api laksana jahanam, sedangkan telinganya yang lain dihias dan diperlengkapi dengan indah laksana surga palsu. Musuh-musuhnya ia kirim ke kepalanya yang berapi, dan sahabat-sahabatnya ia kirim ke kepalanya yang berjamuan. Atau keledai dan tunggangannya itu adalah sebuah mobil yang dahsyat, atau sebuah pesawat terbang, atau... (harus diam!) PERSOALAN KEDELAPAN BELAS: Di dalam riwayat disebutkan: "Jika umatku berjalan di atas istikamah, baginya satu hari." Yakni, dengan rahasia ayat ف۪ى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُٓ اَلْفَ سَنَةٍ, umat itu akan hidup seribu tahun dengan penuh kekuasaan lagi sempurna. Jika ia tidak berjalan di atas istikamah, baginya setengah hari. Yakni, ia hanya memelihara kekuasaan dan kemenangannya kira-kira lima ratus tahun.
اَللّٰهُ اَعْلَمْ riwayat ini bukanlah pemberitaan tentang kiamat, melainkan berbicara tentang kekuasaan Islam yang menang dan tentang kesultanan khilafah; dan sebagai hakikat itu sendiri serta sebagai sebuah mukjizat gaib, ia benar-benar terjadi persis demikian. Sebab pada akhir Khilafah Abbasiyah, karena ahli politiknya kehilangan istikamah, khilafah itu hidup kira-kira lima ratus tahun. Akan tetapi, karena umat secara keseluruhan tidak kehilangan istikamah, Khilafah Utsmaniyah datang menolong dan melanjutkan kekuasaan itu kira-kira seribu tiga ratus tahun. Kemudian, karena para politisi Utsmani pun tidak sanggup memelihara istikamah, ia pun hanya dapat hidup (dengan khilafah) lima ratus tahun. Khilafah Utsmaniyah telah membenarkan pemberitaan hadis ini yang menakjubkan dengan kematiannya sendiri. Karena hadis ini telah kami bahas pula di dalam risalah-risalah lain, di sini kami mempersingkatnya. PERSOALAN KESEMBILAN BELAS: Di dalam berbagai riwayat terdapat kabar yang berbeda-beda mengenai Sayidina Mahdi radiyallahu anhu dari Âl Bait Nabi صلى الله عليه وسلم, yang merupakan salah satu tanda akhir zaman. Bahkan sebagian ahli ilmu dan para wali dahulu telah memutuskan bahwa beliau telah muncul pada masa lalu.
اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِٔ salah satu takwil bagi riwayat-riwayat yang berbeda-beda ini adalah demikian: Mahdi Besar memiliki banyak tugas. Sebagaimana beliau memiliki pelaksanaan tugas di banyak lingkaran — di alam politik, di alam agama, di alam kesultanan, dan di alam jihad — demikian pula setiap abad, pada saat berputus asa, membutuhkan semacam Mahdi yang akan meneguhkan kekuatan maknawinya, atau membutuhkan kemungkinan datangnya Mahdi untuk menolong mereka pada waktu itu; maka dengan rahmat Ilahi, pada setiap zaman, bahkan barangkali pada setiap abad, telah muncul semacam Mahdi dari Âl Bait, yang menjaga syariat datuknya dan menghidupkan sunahnya.
Misalnya, karena para tokoh yang melaksanakan sebagian tugas Mahdi Besar — seperti Mahdi Abbasi di alam politik, serta Al-Gaus Al-A'zham, Syah Naqsyaband, empat qutub, dan dua belas imam di alam agama — juga menjadi tumpuan pandangan Muhammad صلى الله عليه وسلم di dalam riwayat-riwayat yang datang mengenai Mahdi, maka riwayat-riwayat itu pun berbeda-beda, sehingga sebagian ahli hakikat berkata: "Ia telah muncul pada masa dahulu." Apa pun halnya... Karena persoalan ini telah dijelaskan di dalam Risale-i Nur, maka dengan menyerahkannya kepada risalah itu, di sini kami hanya mengatakan sekadar ini:
Di dunia ini tidak ada satu pun keluarga besar yang saling menopang, tidak ada satu pun kabilah yang serasi, dan tidak ada satu pun perkumpulan serta jemaah yang bercahaya, yang dapat menyamai keluarga besar, kabilah, perkumpulan, dan jemaah Âl Bait.
Ya, Âl Bait yang telah melahirkan ratusan pahlawan suci, yang telah mengangkat ribuan panglima maknawi menjadi pemimpin umat, dan yang tumbuh sempurna karena diberi makan dengan ragi hakikat Al-Qur'an, dengan cahaya iman, dan dengan kemuliaan Islam — sudah pasti bahwa pada akhir zaman mereka akan menghidupkan kembali syariat Muhammad صلى الله عليه وسلم, hakikat Al-Furqan, dan sunah Ahmad صلى الله عليه وسلم dengan mengumumkan dan melaksanakannya, lalu memperlihatkan kepada dunia keadilan yang sempurna dan kebenaran panglima tertinggi mereka, yaitu Mahdi Besar; hal itu bukan hanya sangat masuk akal, melainkan juga sangat perlu lagi mesti, serta merupakan tuntutan kaidah-kaidah di dalam kehidupan bermasyarakat manusia. PERSOALAN KEDUA PULUH: Yaitu terbitnya matahari dari barat dan munculnya Dabbatul Ardh dari bumi.
Adapun terbitnya matahari dari barat, ia adalah tanda kiamat yang sangat nyata. Dan karena kenyataannya itu, ia merupakan peristiwa samawi yang menutup pintu tobat — pintu yang terikat dengan pilihan akal — maka tafsir dan maknanya sudah jelas, tidak memerlukan takwil. Hanya saja ada satu hal:
اَللّٰهُ اَعْلَمْ sebab lahiriah bagi terbitnya matahari itu adalah: Al-Qur'an, yang berkedudukan sebagai akal bagi kepala bumi, keluar dari kepalanya, sehingga bumi menjadi gila; lalu dengan izin Allah ia membenturkan kepalanya kepada planet lain, sehingga ia berbalik dari gerakannya dan mengubah perjalanannya yang dari barat ke timur — dengan kehendak Rabbani — menjadi dari timur ke barat, maka matahari pun mulai terbit dari barat. Ya, Al-Qur'an adalah hablullâhil-matîn, tali Allah yang kokoh, yang mengikat kuat bumi dengan matahari dan hamparan bumi dengan arasy; maka jika daya tarik Al-Qur'an itu putus, terurailah tali bumi, lalu ia menjadi liar tanpa kendali, dan karena gerakannya yang terbalik lagi tanpa keteraturan, matahari pun terbit dari barat. Ada pula takwil bahwa akibat benturan itu, dengan perintah Allah, terjadilah kiamat.
Adapun Dabbatul Ardh: di dalam Al-Qur'an terdapat sebuah isyarat yang sangat ringkas dan sebuah ungkapan singkat, sebuah pembicaraan, dari lisan keadaannya. Adapun perinciannya, untuk saat ini aku belum dapat mengetahuinya dengan keyakinan yang pasti sebagaimana persoalan-persoalan yang lain. Hanya sekadar ini yang dapat kukatakan:
لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ sebagaimana kaum Firaun ditimpa "bencana belalang dan wabah kutu", dan kaum Abrahah yang berusaha menghancurkan Kakbah ditimpa "burung-burung Ababil"; demikian pula manusia yang — dengan fitnah Sufyan dan para Dajjal — dengan sadar lagi dengan senang hati menempuh jalan durhaka dan melampaui batas, dan dengan anarkisme Ya'juj dan Ma'juj menempuh jalan kerusakan dan kebuasan, serta jatuh ke dalam sikap tidak beragama, kufur, dan kufur nikmat,
dengan hikmah untuk menyadarkan kembali akal mereka, akan keluar seekor hewan dari bumi lalu menimpa mereka dan memporak-porandakan mereka.
اَللّٰهُ اَعْلَمْ dabbah itu adalah satu jenis. Sebab, jika ia hanya berupa satu pribadi tunggal yang sangat besar, ia tidak akan sampai kepada setiap orang di setiap tempat. Jadi, ia akan berupa sekelompok hewan yang dahsyat. Barangkali, dengan isyarat ayat اِلَّا دَٓابَّةُ الْاَرْضِ تَاْكُلُ مِنْسَاَتَهُ, hewan itu adalah ulat-ulat kayu yang disebut Dabbatul Ardh, yang akan menggerogoti tulang manusia seperti menggerogoti kayu, dan akan bersarang di dalam tubuh manusia dari giginya sampai kukunya. Sebagai isyarat bahwa orang-orang mukmin akan selamat berkat keberkahan iman dan karena mereka menjauhi foya-foya serta penyalahgunaan, ayat itu membuat hewan tersebut berbicara dalam hal iman.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
Inilah tiga persoalan kecil sebagai pelengkap bagi dua puluh persoalan yang telah lalu.