Risale-i NurSinar-Sinar

PERSOALAN KETIGA

Sinar-Sinar · hlm. 42

Adapun contoh bagi dibangunnya jasad-jasad secara serentak adalah: dibangunnya seluruh pohon — yang jumlahnya seribu kali lebih banyak daripada seluruh umat manusia — beserta segenap daunnya dalam beberapa hari saja pada musim semi, sekaligus dalam bentuk yang sempurna, persis seperti musim semi sebelumnya; lalu diciptakannya seluruh bunga, buah, dan daun dari segenap pohon dengan kecepatan bagaikan kilat, sama seperti hasil musim semi yang telah lalu; lalu bangun, mekar, dan hidupnya kembali secara serentak biji-biji mungil, benih-benih, dan akar-akar yang tak terhingga yang menjadi permulaan musim semi itu; lalu tampaknya rahasia "ba'tsu ba'dal-maut" pada jenazah seluruh pohon — yang berdiri tegak bagaikan mayat yang tinggal tulang belulang — secara serentak hanya dengan satu perintah, beserta penyebarannya; lalu dihidupkannya kembali dengan cara yang teramat penuh seni anggota-anggota yang tak terhingga dari kelompok-kelompok hewan yang mungil; lalu terlebih lagi dibangkitkannya kabilah-kabilah lalat, dan terutama kabilah yang ada di depan mata kita — yang dengan selalu membersihkan muka, mata, dan sayapnya mengingatkan kita kepada wudu dan kebersihan, serta membelai wajah kita — padahal anggotanya yang disebarkan dalam satu tahun lebih banyak daripada seluruh anggota bani Adam yang telah datang sejak zaman Adam, namun setiap musim semi ia dibangun, dihidupkan, dan dibangkitkan bersama kabilah-kabilah lain dalam beberapa hari saja: semua itu sudah pasti bukan hanya satu contoh, melainkan ribuan contoh bagi dibangunnya jasad-jasad manusia pada hari kiamat.

Ya, karena dunia adalah negeri hikmah dan akhirat adalah negeri kudrat, maka di dunia — sesuai tuntutan banyak nama seperti Al-Hakîm, Al-Murattib, Al-Mudabbir, dan Al-Murabbi — segala sesuatu diciptakan secara bertahap dan melalui waktu; hal itu terjadi sesuai tuntutan hikmah Rabbani. Adapun di akhirat, karena yang lebih tampak adalah kudrat dan rahmat, bukan hikmah, maka segala sesuatu dibangun sekaligus tanpa memerlukan materi, tenggang waktu, masa, dan penantian. Sebagai isyarat bahwa pekerjaan-pekerjaan yang di sini dikerjakan dalam sehari dan setahun, di akhirat dibangun dalam sekejap dan sekilas pandang, Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân berfirman: وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ

Jika engkau ingin memahami datangnya kebangkitan dengan kepastian seperti datangnya musim semi yang akan tiba, perhatikanlah dengan saksama Kelimat Kesepuluh dan Kelimat Kedua Puluh Sembilan yang membahas kebangkitan, lalu lihatlah. Jika engkau tidak juga meyakininya seperti engkau meyakini datangnya musim semi, kemarilah dan colokkan jarimu ke mataku.

ADAPUN PERSOALAN KEEMPAT, yakni matinya dunia dan terjadinya kiamat: dalam sekejap, sebuah planet atau sebuah bintang berekor dapat menabrak bumi kita, rumah penginapan kita, atas perintah

Rabbani, dan tabrakan itu dapat merobohkan rumah kita ini. Sebagaimana sebuah istana yang dibangun dalam sepuluh tahun dapat roboh dalam satu menit saja...

Ringkasan empat persoalan kebangkitan ini cukuplah untuk saat ini. Kita kembali lagi kepada pokok pembicaraan kita.

Dan mungkinkah Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân — yang merupakan penerjemah fasih bagi seluruh hakikat yang sejati dan tinggi di dalam kainat, lisan yang penuh mukjizat bagi seluruh kesempurnaan Sang Khâliq kainat, serta himpunan yang menakjubkan bagi seluruh maksud-Nya — bukan merupakan kalam Sang Khâliq itu? Hâsyâ, sebanyak rahasia ayat-ayatnya, hâsyâ!

Dan mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm membuat seluruh ciptaan-Nya yang hidup dan berkesadaran saling berbicara satu sama lain, membuat mereka bercakap-cakap dengan ribuan ragam bahasa mereka, mengetahui dan mendengar segala perkataan dan suara mereka, serta menjawab mereka secara nyata melalui perbuatan dan pemberian nikmat-Nya, tetapi Dia sendiri tidak berbicara dan tidak dapat berbicara? Apakah hal itu mungkin, dan adakah kemungkinannya sama sekali?

Maka, karena secara nyata dan tak terbantahkan Dia berbicara, dan karena lawan bicara yang paling memahami pembicaraan-Nya adalah manusia, sudah pasti kitab-kitab suci yang masyhur — terutama Al-Qur'an — adalah pembicaraan-pembicaraan-Nya.

Dan mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm — yang demi memperkenalkan diri-Nya, membuat diri-Nya dicintai, membuat diri-Nya dipuji dan disanjung, serta demi menjadikan rasa terima kasih dan syukur makhluk hidup sebagai sebab penting bagi rububiyah-Nya dengan menggembirakan dan menyenangkan mereka melalui bermacam-macam karunia-Nya, telah menjadikan kainat yang mahaluas ini beserta segala jenis dan rukunnya sebagai pelayan yang tunduk, sebagai tempat tinggal, sebagai balai pameran, dan sebagai tempat jamuan bagi makhluk hidup; lalu Dia menghendaki agar salinan ribuan jenis makhluk hidup yang beraneka ragam itu diperbanyak sedemikian rupa sehingga setiap helai dari sebagian daun pohon yang tidak berbuah seperti pohon poplar dan pohon elm pun Dia jadikan buaian, rahim ibu, sekaligus gudang rezeki bagi satu batalion lalat, yakni bagi makhluk-makhluk hidup yang berzikir di udara — mungkinkah Dia membiarkan langit-langit yang berhias dan bintang-bintang yang bercahaya ini tanpa pemilik, tanpa kehidupan, tanpa ruh, tanpa penghuni, kosong, lengang, dan tak berguna, yakni tanpa malaikat dan tanpa makhluk ruhani? Hâsyâ, sebanyak malaikat dan makhluk-makhluk ruhani, hâsyâ wa kallâ!

Dan mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm lagi Maha Mengatur — yang menuliskan dengan pena takdir permulaan dan penghujung tumbuhan yang paling tidak berarti dan pohon yang paling kecil, beserta ketentuan hidupnya, di dalam biji dan buahnya dengan keteraturan yang sempurna, dan bersamaan dengan itu

menuliskan musim semi yang begitu luas ini bagaikan sebatang pohon saja—beserta segala pendahuluan dan hasilnya—dengan pembedaan dan keteraturan yang sempurna, serta tidak mengabaikan bahkan hal-hal yang paling tidak penting sekalipun; namun tidak menuliskan perbuatan dan gerak-gerik manusia yang demikian penting—manusia yang merupakan hasil dari kainat, khalifah di bumi, serta pengawas dan pengatur segala jenis makhluk—tidak memasukkannya ke dalam lingkaran takdir-Nya, lalu membiarkannya begitu saja? Mustahil! Sebanyak bilangan amal manusia yang akan masuk ke dalam timbangan, mustahil dan sekali-kali tidak mungkin!

Kesimpulannya: Kainat dengan segenap hakikatnya berseru lantang: اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ وَ مَلٰئِكَتِه۪ وَ كُتُبِه۪ وَ رُسُلِه۪ وَ بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَ بِالْقَدَرِ خَيْرِه۪ وَ شَرِّه۪ مِنَ اللّٰهِ تَعَالٰى وَ الْبَعْثُ بَعْدَ الْمَوْتِ حَقٌّ اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ عَلٰى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ وَ اِخْوَانِه۪ وَ سَلَّمَ اٰم۪ينَ