Risale-i NurSinar-Sinar

Poin Kedua

Sinar-Sinar · hlm. 441

Sebagaimana lenyapnya kelezatan adalah derita, lenyapnya derita pun adalah kelezatan. Ya, siapa pun yang memikirkan hari-harinya yang telah lalu, yang penuh kelezatan dan kesenangan, ia akan merasakan derita maknawi berupa penyesalan dan rasa rindu, lalu berkata: "Aduhai!" Dan jika ia mengingat kembali hari-harinya yang telah lalu yang penuh musibah dan derita, ia merasakan kelezatan maknawi dari lenyapnya hari-hari itu, lalu berkata: "Alhamdulillah, syukur, bala itu telah meninggalkan pahalanya, lalu pergi." Ia pun bernapas dengan lega. Jadi, derita sesaat yang bersifat sementara, dengan lenyapnya, meninggalkan kelezatan maknawi di dalam ruh; sedangkan jam yang penuh kelezatan justru sebaliknya, ia meninggalkan derita.

Selama hakikatnya demikian, dan selama jam-jam musibah yang telah lalu beserta deritanya telah lenyap dan tidak ada lagi, dan selama hari-hari bala yang akan datang kini pun belum ada dan tidak ada, sedangkan dari yang tidak ada tidak lahir derita dan dari yang telah lenyap tidak datang derita — misalnya, seseorang yang karena beberapa hari lalu ia lapar dan haus, dan karena kemungkinan satu dua hari lagi ia akan lapar dan haus, hari ini terus-menerus makan roti dan minum air dengan niat untuk hari-hari itu: betapa gilanya hal itu!

Persis seperti itu pula, memikirkan sekarang jam-jam penuh derita yang telah lalu dan yang akan datang — padahal semuanya sirna, telah lenyap, dan tidak ada — lalu memperlihatkan sikap tidak sabar, dan sambil membiarkan nafsunya yang penuh cela justru mengeluh terhadap Allah dengan berkata "Aduh, aduh!", itu sungguh tindakan orang gila. Jika ia tidak menghamburkan kekuatan sabarnya ke kanan dan ke kiri, yakni kepada masa lalu dan masa depan, melainkan memusatkannya pada jam yang sedang dijalani dan pada hari ini, niscaya kekuatan itu sungguh mencukupi. Kesulitannya pun turun dari sepuluh menjadi satu.

Bahkan — semoga ini tidak dianggap keluhan — di Madrasah Yusufiyah yang ketiga ini, dalam beberapa hari saja, ketika aku berada dalam musibah berupa kesulitan dan penyakit lahir maupun batin yang belum pernah kualami sepanjang umurku, terutama ketika rasa putus asa serta sempitnya hati dan ruh yang timbul karena aku terhalang dari khidmah kepada Nur menghimpitku, inayah Ilahi memperlihatkan hakikat yang telah disebutkan itu. Aku pun rida terhadap penyakitku yang menyusahkan dan terhadap penjaraku. Sebab aku bersyukur seraya berkata: bagi orang lemah yang berada di ambang pintu kubur seperti diriku, menjadikan satu jam yang dapat berlalu dalam kelalaian menjadi sepuluh jam ibadah adalah keuntungan yang besar.