Risale-i NurSinar-Sinar

Poin Kedua

Sinar-Sinar · hlm. 783

Terhadap nikmat iman yang menerangi enam arah itu pun manusia harus mengucapkan "Alhamdulillah". Sebab sebagaimana iman terhitung sebagai sebuah nikmat besar dari jenis menolak bala karena ia melenyapkan gelap gulita enam arah itu, demikian pula — tentu saja — dari segi ia menerangi enam arah itu, ia terhitung sebagai nikmat kedua dari jenis menarik manfaat. Oleh sebab itu, karena manusia memiliki peradaban yang fitri, ia pun bersangkut paut dengan makhluk yang berada pada enam arah itu. Dan dengan nikmat iman terbukalah kemungkinan bagi manusia untuk dapat mengambil manfaat dari seluruh enam arah itu.

Oleh sebab itu, dengan rahasia ayat mulia اَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ, manusia menjadi bercahaya melalui arah mana pun dari enam arah itu. Bahkan seorang manusia yang beriman memiliki umur maknawi yang terbentang dari awal berdirinya dunia sampai akhirnya. Dan umur maknawi manusia ini mengambil pertolongan dan bantuan dari cahaya sebuah kehidupan yang terbentang dari azali sampai abadi.

Demikian pula, berkat iman yang menerangi enam arah itu, waktu dan tempat manusia yang sempit ini berubah menjadi sebuah alam yang luas lagi lapang. Dan alam yang besar ini menjadi seperti rumah seorang manusia. Dan masa lalu serta masa depan menjadi berkedudukan sebagai waktu kini bagi ruh dan hati manusia. Jarak di antara keduanya pun terangkat. Poin Ketiga: Karena iman mengandung titik sandaran dan titik tempat memohon pertolongan, hal itu pun menuntut ucapan "Alhamdulillah".

Benar, jenis manusia — karena kelemahan dirinya dan karena banyaknya musuh — membutuhkan sebuah titik sandaran untuk bersandar, agar ia berlindung kepada titik itu guna menolak musuh-musuhnya. Demikian pula, karena banyaknya kebutuhan dan beratnya kefakiran, ia membutuhkan sebuah titik tempat memohon pertolongan, agar dengan bantuan titik itu ia dapat menolak segala kebutuhannya.

Wahai manusia! Titik sandaranmu hanyalah dan hanyalah iman kepada Allah. Adapun titik tempat memohon pertolongan bagi ruh dan hati nuranimu hanyalah iman kepada akhirat. Oleh sebab itu, hati dan ruh manusia yang tidak mengetahui kedua titik ini akan diliputi rasa ngeri dan asing; hati nuraninya pun senantiasa tersiksa. Akan tetapi, orang yang bersandar kepada titik pertama dan memohon pertolongan dari titik kedua akan merasakan begitu banyak zauk, kelezatan, dan keakraban di dalam hati serta ruhnya, sehingga ia terhibur sekaligus hati nuraninya menjadi tenteram. Poin Keempat: Cahaya iman melenyapkan perih yang timbul ketika kelezatan yang halal mulai sirna, yaitu dengan memperlihatkan bahwa yang semisalnya sedang berdatangan dan akan tiba. Demikian pula ia menjamin bahwa nikmat-nikmat itu terus berlangsung dan tidak berkurang, yaitu dengan memperlihatkan sumber segala nikmat.

Demikian pula ia melenyapkan perih perpisahan dan perceraian, yaitu dengan memperlihatkan kelezatan datangnya yang semisal secara terus-menerus. Yakni, dengan terpikirnya bahwa ia akan sirna, di dalam satu kelezatan terdapat banyak perih; maka iman mengingatkan dan melenyapkan perih itu dengan datangnya yang semisal secara terus-menerus. Lagi pula, di dalam pembaruan kelezatan itu sendiri terdapat kelezatan yang lain. Benar, seandainya sebuah buah tidak mempunyai pohon, kelezatan yang terbatas pada buah itu akan lenyap dengan memakannya, dan lenyapnya pun menimbulkan kesedihan. Namun apabila pohon buah itu dikenal, lenyapnya buah itu tidak menimbulkan perih, karena ada yang datang menggantikannya. Dan pada saat yang sama, pembaruan itu pada dirinya sendiri adalah sebuah kelezatan.

Demikian pula, yang paling menyesakkan jiwa manusia adalah perih yang lahir dari perpisahan. Cahaya iman melenyapkan perih itu dengan harapan datangnya yang semisal secara terus-menerus dan terjadinya pertemuan (wishâl). Poin Kelima: Segala yang ada yang dikira manusia sebagai musuh dan orang asing bagi dirinya, atau yang disangkanya tidak bernyawa lagi porak-poranda seperti orang-orang mati dan anak-anak yatim — semua itu diperlihatkan oleh cahaya iman dengan sifat sebagai sahabat dan saudara, serta ditampakkan dalam bentuk makhluk hidup yang bertasbih.

Yakni, orang yang memandang dengan lalai akan menganggap segala yang ada di alam ini berbahaya laksana musuh, lalu ia diliputi rasa ngeri. Ia melihat segala sesuatu bagaikan orang asing. Sebab, dalam pandangan yang sesat, di antara segala sesuatu pada masa lalu dan masa depan tidak ada persaudaraan, tidak ada pertalian dan ikatan kesaudaraan. Yang ada hanyalah sebuah kaitan yang kecil lagi sebagian di antara segala sesuatu pada masa kini. Oleh sebab itu, persaudaraan orang-orang yang sesat antara satu sama lain hanyalah sekadar satu menit di dalam masa panjang yang beribu-ribu tahun.

Demikian pula, pandangan iman melihat bahwa seluruh benda langit itu hidup dan saling akrab satu sama lain. Ia juga memperlihatkan bahwa setiap benda langit sedang melakukan tasbih kepada Khâliq-nya dengan lisan keadaannya. Dari sisi inilah seluruh benda langit itu mempunyai semacam kehidupan dan ruh menurut keadaan masing-masing. Oleh sebab itu, menurut pandangan iman ini, pada benda-benda langit itu tidak ada kengerian dan kesunyian yang mencekam. Yang ada adalah keakraban dan kecintaan.

Pandangan yang sesat menganggap bahwa manusia yang tidak mampu meraih apa yang dicarinya adalah makhluk yang tidak bertuan dan tidak berpelindung, serta menyangka mereka laksana anak-anak yatim yang menangis karena duka, kesedihan, dan lemahnya diri.

Adapun pandangan iman memandang makhluk hidup bukan sebagai anak-anak yatim yang menangis, melainkan dengan sifat sebagai pegawai yang dibebani tugas, sebagai hamba-hamba yang bertugas berzikir dan bertasbih. Poin Keenam: Cahaya iman menggambarkan alam dunia dan alam akhirat sebagai dua hidangan yang menjadi wadah bagi beraneka ragam nikmat, sehingga orang yang beriman

mengambil manfaat dari kedua hidangan itu dengan tangan iman, dengan perasaan lahir dan batinnya, serta dengan latifah-latifahnya yang bersifat maknawi dan ruhani. Adapun dalam pandangan yang sesat, lingkaran manfaat bagi makhluk hidup menjadi sempit, terbatas hanya pada kelezatan yang bersifat materi.

Dalam pandangan iman, lingkaran itu meluas sampai sebesar lingkaran yang meliputi langit-langit dan bumi. Benar, seorang mukmin dapat menganggap matahari sebagai sebuah lampu petromaks yang tergantung di atap rumahnya sendiri, dan bulan sebagai sebuah lampu kecil penerang. Dari sisi ini, matahari dan bulan menjadi nikmat baginya. Oleh sebab itu, lingkaran manfaat bagi orang yang beriman menjadi lebih luas daripada langit-langit. Benar, Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân dengan balagah ayat وَ سَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ ٭ وَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ mengisyaratkan kepada karunia dan pemberian nikmat yang menakjubkan ini, yang lahir dari iman. Poin Ketujuh: Dengan cahaya iman diketahui bahwa adanya Allah adalah nikmat yang demikian besar di atas segala nikmat, sehingga ia merupakan sebuah sumber dan sebuah mata air yang menghimpun segala macam nikmat yang tiada berhingga, segala jenis karunia yang tiada berakhir, dan segala golongan pemberian yang tiada terhitung. Oleh sebab itu, memanjatkan hamd dan pujian atas nikmat iman sebanyak bilangan zarah alam adalah sebuah utang yang wajib ditunaikan. Di dalam bagian-bagian Risale-i Nur telah dibuat isyarat kepada sebagiannya. Lagi pula, juz-juz Risale-i Nur yang membicarakan iman kepada Allah memperlihatkan nikmat ini dengan menyingkap tabirnya.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ — di antara nikmat-nikmat yang harus dipuji dengan seluruh hamd yang diisyaratkannya melalui lam istighraq, salah satunya adalah nikmat rahmaniyah. Benar, rahmaniyah mengandung nikmat sebanyak bilangan makhluk hidup yang menjadi tempat tampaknya rahmat. Sebab, manusia secara khusus mempunyai kaitan dengan setiap makhluk hidup. Dari sisi ini, manusia turut berbahagia dengan kebahagiaan setiap makhluk hidup dan turut terharu dengan perih mereka. Jika demikian, sebuah nikmat yang ada pada seorang saja juga merupakan nikmat bagi kawan-kawannya.

Demikian pula, salah satu yang mengandung nikmat sebanyak bilangan anak yang dinikmatkan dengan kasih sayang para ibu, sehingga karenanya berhak menerima hamd dan pujian, adalah rahimiyah. Benar, pemilik hati nurani yang terharu dan iba mendengar tangis seorang anak yang lapar tanpa ibu, tentulah merasakan zauk dari kasih sayang para ibu kepada anak-anak mereka, lalu ia merasa senang dan terhibur. Zauk semacam inilah yang masing-masing merupakan nikmat, dan menuntut hamd serta syukur.

Demikian pula, salah satu yang menuntut hamd dan syukur sebanyak bilangan seluruh macam dan satuan hikmah yang terkandung di dalam kainat adalah hakimiyah. Karena, sebagaimana nafsu manusia dinikmatkan dengan manifestasi rahmaniyah dan hatinya dengan

pancaran rahimiyah, demikian pula akal manusia merasakan zauk dan kelezatan dengan kehalusan-kehalusan hakimiyah. Dari sisi inilah ia menuntut hamd dan pujian dengan mengucapkan "Alhamdulillah" sepenuh mulut.

Demikian pula, nikmat yang harus dipuji dengan sebuah "Alhamdulillah" yang begitu besar sehingga suaranya memenuhi ruang angkasa ini — sebanyak bilangan pancaran nama "Al-Wârits" di antara asmaul husna, sebanyak bilangan keturunan yang tetap kekal setelah sirnanya para leluhur seperti bapak-bapak, sebanyak bilangan segala yang ada di alam akhirat, dan sebanyak bilangan amal manusia yang dijaga agar menjadi sebab diterimanya balasan ukhrawi — adalah nikmat hafizhiyah. Sebab, berlangsungnya nikmat lebih berharga daripada nikmat itu sendiri. Kekalnya kelezatan lebih lezat daripada kelezatan itu sendiri. Tetap kekal di dalam surga lebih tinggi daripada surga itu sendiri, dan demikian seterusnya... Oleh sebab itu, nikmat-nikmat yang terkandung di dalam hafizhiyah Allah lebih banyak dan lebih tinggi daripada seluruh nikmat yang ada di dalam kainat. Dari sisi ini ia menuntut sebuah "Alhamdulillah" sepenuh mulut.

Kiaskanlah asmaul husna yang lain kepada empat nama yang telah disebutkan ini; karena pada setiap nama-Nya terdapat nikmat yang tiada berhingga, maka semuanya menuntut hamd dan syukur yang tiada berhingga.

Demikian pula, Nabi Muhammad alaihis-salâtu was-salâm صلى الله عليه وسلم yang menjadi perantara bagi nikmat iman — yaitu nikmat yang berwenang membuka seluruh perbendaharaan nikmat — juga merupakan nikmat yang demikian besar, sehingga jenis manusia berutang untuk memuji dan menyanjung diri beliau صلى الله عليه وسلم sampai selama-lamanya.

Demikian pula, nikmat Islam dan Al-Qur'an yang menjadi daftar isi dan sumber bagi segala macam nikmat lahir dan batin, dengan sepenuh haknya menuntut hamd yang tiada berakhir. Poin Kedelapan: Segala puji bagi Allah yang — menurut penjelasan kitab besar yang diungkapkan dengan nama kainat, dan menurut penjelasan Al-Qur'an Al-Azhîmusy-Sya'n yang merupakan tafsirnya — seluruh bab dan pasalnya, seluruh halaman dan barisnya, serta seluruh kalimat dan hurufnya memuji dan menyanjung Zat Yang Mahasuci itu dengan menampakkan sifat-sifat jamal dan kamal-Nya.

Yaitu demikian: Setiap ukiran di dalam kitab besar itu, baik kecil maupun besar (sekadar kemampuannya masing-masing), memuji dan menyanjung dengan menampakkan sifat-sifat jalal Sang Pengukirnya Yang Wâhid lagi Shamad.

Demikian pula, setiap tulisan di dalam kitab itu menjadi penyanjung dengan memperlihatkan sifat-sifat jamal Sang Penulisnya Yang Rahmân lagi Rahîm.

Demikian pula, setiap syair dan kasidah di dalam kitab itu menyucikan dan memuji Sang Penggubahnya Yang Qadîr lagi 'Alîm.

Demikian pula, seluruh tulisan, titik, dan ukiran di dalam kitab itu — dari sisi bahwa semuanya menjadi cermin tempat terpantul dan tempat tampaknya pancaran serta manifestasi asmaul husna — menyucikan, memuji, dan mengagungkan Zat Yang Mahasuci itu. Poin Kesembilan: { Kunci bagi sandi-sandi semacam ini tidak ada padaku sehingga aku dapat membukanya. Lagi pula, kepala yang sedang berpuasa tidak dapat membuka sandi-sandi itu dan tidak pula dapat melakukan perkalian-perkalian itu. Maafkanlah kekuranganku. Sekadar ini pun hanya dapat kulakukan berkat bantuan maknawi penulisnya, berkat keberkahan Lailatulkadar, dan berkat manfaat dari bertetangga dengan Maulana Rumi.