Risale-i NurSinar-Sinar

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ

Sinar-Sinar · hlm. 780

Bab Kedua ini adalah tentang "Alhamdulillah".

Di dalam risalah kecil yang diungkapkan dengan sebutan Bab Kedua ini, dari faedah dan cahaya iman yang tidak terhingga — yang membuat manusia mengucapkan kalimat "Alhamdulillah" — hanya sembilan saja yang akan diterangkan. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ Poin Pertama: Pertama-tama, dua hal akan diingatkan:

1- Filsafat adalah kacamata hitam yang memperlihatkan segala sesuatu sebagai sesuatu yang buruk lagi menakutkan. Adapun iman adalah kacamata yang bening, jernih, lagi bercahaya, yang memperlihatkan segala sesuatu sebagai sesuatu yang indah lagi akrab.

2- Manusia — yang bersangkut paut dengan seluruh makhluk, yang memiliki semacam hubungan timbal balik dengan segala sesuatu, dan yang secara penciptaan terpaksa berjumpa, berbicara, serta bertetangga secara lafal dan secara makna dengan segala hal yang mengepungnya — memiliki enam arah, yaitu kanan, kiri, depan, belakang, bawah, dan atas.

Dengan memakai kedua kacamata yang disebutkan itu pada matanya, manusia dapat melihat makhluk dan keadaan yang berada pada arah-arah yang disebutkan itu.

Arah Kanan: Yang dimaksud dengan arah ini adalah masa lalu. Oleh sebab itu, ketika arah kanan dipandang dengan kacamata filsafat, negeri masa lalu akan tampak dalam bentuk yang seolah-olah kiamatnya telah terjadi, yang telah dijungkirbalikkan, yang gelap, dan yang menyerupai sebuah pekuburan besar lagi menakutkan. Dan tidak diragukan lagi bahwa dalam pemandangan seperti ini manusia akan terpapar kepada rasa ngeri, kesunyian yang mencekam, dan rasa putus asa yang teramat besar.

Namun ketika arah itu dipandang dengan kacamata iman, meskipun negeri itu memang tampak dalam bentuk yang telah dijungkirbalikkan, tetapi tidak ada satu nyawa pun yang binasa. Dapat dipahami bahwa awak dan para penghuninya telah dipindahkan ke sebuah alam yang lebih indah lagi bercahaya. Dan kubur-kubur serta lubang-lubang itu pun akan dipandang sebagai terowongan-terowongan bawah tanah yang digali untuk memasuki sebuah alam yang bercahaya. Jadi, kegembiraan, kelegaan, ketenangan hati, dan hati yang lapang yang diberikan iman kepada manusia adalah sebuah nikmat yang membuat orang mengucapkan ribuan "Alhamdulillah".

Arah Kiri: Yakni ketika masa depan dipandang dengan kacamata filsafat, ia akan tampak dalam bentuk sebuah kubur besar yang gelap gulita lagi menakutkan, yang akan membusukkan kita serta memusnahkan kita dengan menyerahkan kita sebagai makanan bagi ular dan kalajengking.

Namun jika dipandang dengan kacamata iman, ia akan tampak dalam bentuk sebuah hidangan dan sebuah meja jamuan Rahmani yang menjadi wadah bagi beraneka ragam makanan dan minuman yang nikmat lagi lezat, yang telah disiapkan Allah, Sang Khâliq Yang Rahmân lagi Rahîm, bagi manusia. Dan ia akan membuat orang membaca dan mengulang-ulang ribuan "Alhamdulillah".

Arah Atas: Yakni seorang yang memandang ke arah langit dengan filsafat akan terpapar kepada rasa ngeri, kesunyian yang mencekam, dan ketakutan yang besar karena gerakan-gerakan yang sangat cepat dan beraneka ragam yang dilakukan oleh miliaran bintang dan bola-bola langit (laksana pacuan kuda atau laksana sebuah manuver militer) di dalam ruang hampa yang tak berujung ini.

Namun ketika seorang yang beriman memandang, sebagaimana ia melihat bahwa manuver yang aneh lagi menakjubkan itu dilakukan dengan perintah seorang panglima dan di bawah pengawasannya, demikian pula ia akan melihat bahwa bintang-bintang yang menghiasi alam langit itu bagi kita berbentuk pelita-pelita yang bercahaya; dan pada pacuan kuda itu ia tidak akan merasakan ketakutan dan rasa ngeri, melainkan akan merasa akrab dan mencintainya. Terhadap nikmat iman yang melukiskan alam langit sedemikian rupa itu, sungguh mengucapkan ribuan "Alhamdulillah" pun masih terlalu sedikit.

Arah Bawah: Yakni manusia yang memandang alam bumi dengan mata filsafat akan melihat bumi seperti seekor hewan yang terlantar tanpa tali kekang, yang berkeliaran tanpa tujuan di sekeliling matahari, atau seperti sebuah perahu yang papan-papannya patah lagi tanpa nakhoda; lalu ia pun jatuh ke dalam rasa ngeri dan kepanikan.

Namun jika ia memandang dengan iman, ia akan melihat bahwa bumi adalah sebuah bahtera Rahmani, yaitu sebuah bahtera yang berada di bawah komando Allah, yang bersama seluruh makanan, minuman, dan pakaiannya membawa jenis manusia berkeliling di sekitar matahari untuk bertamasya. Dan terhadap nikmat besar yang lahir dari iman ini, ia pun mulai mengucapkan "Alhamdulillah" yang besar-besar.

Arah Depan: Jika seorang ahli filsafat memandang ke arah ini, ia akan melihat bahwa seluruh makhluk yang bernyawa — baik manusia maupun hewan — kafilah demi kafilah, dengan

kecepatan yang sangat besar, pergi ke arah itu lalu lenyap. Yakni mereka pergi menuju lenyap sama sekali dan menjadi tidak ada. Karena ia mengetahui bahwa dirinya pun termasuk musafir di jalan itu, ia sampai kepada keadaan hampir gila karena kesedihannya.

Namun seorang mukmin yang memandang dengan pandangan iman menyambut arah ini dengan senang hati, karena baginya kepergian dan perjalanan manusia ke arah itu bukanlah menuju alam tempat segala sesuatu lenyap sama sekali, melainkan sebuah perpindahan dari satu padang penggembalaan ke padang penggembalaan yang lain seperti kaum pengembara. Dan itu adalah berpindah dari persinggahan yang fana ke persinggahan yang kekal, dari ladang khidmah ke lingkungan upah, dari negeri kesusahan ke negeri rahmat — bukan kepergian menuju alam tempat segala sesuatu lenyap sama sekali.

Bahkan kesulitan-kesulitan di tengah perjalanan yang tampak seperti kematian dan kubur itu, pada akhirnya adalah kebahagiaan. Sebab jalan yang menuju alam-alam yang bercahaya melewati kubur, dan kebahagiaan yang terbesar adalah hasil dari bencana yang besar lagi pahit. Misalnya, Nabi Yusuf meraih kebahagiaan berupa kedudukan Al-Aziz di Mesir hanyalah melalui sumur tempat ia dilemparkan oleh saudara-saudaranya dan melalui penjara tempat ia dimasukkan akibat fitnah Zulaikha. Demikian pula anak yang datang ke dunia dari rahim ibunya meraih kebahagiaan dunia sebagai hasil dari kesusahan yang menyesakkan lagi menghimpit yang ia derita di dalam terowongan yang telah dimaklumi itu.

Arah Belakang: Yakni jika mereka yang datang di belakang dipandang dengan pandangan filsafat, maka karena tidak diperoleh jawaban atas pertanyaan yang diajukan — "Wahai, mereka ini pergi dari mana ke mana, dan untuk apa mereka datang ke negeri dunia?" — tentu saja orang akan tetap tinggal di dalam azab kebingungan dan keraguan.

Namun jika ia memandang dengan kacamata cahaya iman, ia akan mengerti bahwa manusia adalah para penelaah yang diutus oleh Sang Sultan Azali untuk melihat dan menelaah mukjizat-mukjizat kudrat yang aneh lagi menakjubkan, yang dipamerkan di dalam pameran kainat. Dan ia akan mengerti bahwa mereka, sebanding dengan pengetahuan yang mereka peroleh tentang derajat nilai dan keagungan mukjizat-mukjizat itu serta tentang derajat penunjukannya kepada keagungan Sang Sultan Azali, setelah menerima derajat dan nomor, akan kembali pergi ke negeri Sang Sultan Azali. Dan terhadap nikmat iman yang mendatangkan nikmat pemahaman ini kepadanya, ia akan mengucapkan "Alhamdulillah".

Peringatan: Karena pujian yang diucapkan dengan "Alhamdulillah" terhadap nikmat iman yang melenyapkan gelap-gelap yang disebutkan itu juga merupakan sebuah nikmat, maka bagi pujian itu pun diperlukan sebuah pujian. Bagi pujian kedua ini diperlukan pujian ketiga, dan bagi yang ketiga diperlukan pujian keempat. وَهَلُمَّ جَرًّا Jadi, terwujudlah sebuah rangkaian pujian yang tidak terhingga, yang terdiri atas pujian-pujian yang lahir dari satu pujian tunggal.