Risale-i NurSinar-Sinar

RAMZ KEDELAPAN

Sinar-Sinar · hlm. 775

Sebelum menerangkan ramz ini, akan dituliskan jawaban atas dua pertanyaan yang paling penting.

Pertanyaan Pertama: Di antara seluruh kitab yang berharga, apakah segi yang mengistimewakan Risale-i Nur sehingga ia memperoleh isyarat dan perhatian Al-Qur'an, serta penghargaan

dan pujian Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, juga perhatian dan kabar gembira dari Al-Gaus Al-A'zham? Apa hikmahnya kedua tokoh itu memberikan nilai dan kedudukan yang sedemikian penting kepada Risale-i Nur melalui karamah?

Jawaban: Sudah dimaklumi bahwa adakalanya satu menit membuahkan hasil sebanyak satu jam, bahkan sebanyak satu hari, bahkan sebanyak bertahun-tahun; dan satu jam membuahkan hasil sebanyak satu tahun, bahkan sebanyak seumur hidup, sehingga menjadi sangat penting. Misalnya, seorang yang gugur sebagai syahid dalam satu menit memperoleh martabat kewalian; dan pada waktu tubuh membeku karena dahsyatnya dingin serta pada saat musuh menyerang dengan dahsyat, satu jam berjaga dapat berkedudukan sebagai ibadah satu tahun.

Nah, persis demikian pula halnya dengan nilai penting yang diberikan kepada Risale-i Nur; baik karena pentingnya zaman, baik karena dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan abad ini terhadap syariat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan syiar-syiar Ahmad صلى الله عليه وسلم, baik dari sisi bahwa sejak zaman dahulu seluruh umat memohon perlindungan dari fitnah akhir zaman ini, maupun dari sisi bahwa ia menyelamatkan iman kaum mukmin dari terjangan fitnah-fitnah itu — Risale-i Nur telah meraih kedudukan yang demikian penting sehingga Al-Qur'an memuliakannya dengan isyarat yang kuat, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu memberikan kabar gembira tentangnya melalui tiga karamah, dan Al-Gaus Al-A'zham radiyallahu anhu mengabarkannya secara penuh karamah seraya meneguhkan hati penerjemahnya.

Ya, karena benteng-benteng sandaran bagi itikad yang bersifat taklid telah terguncang, menjauh, dan tertutup tabir di hadapan dahsyatnya abad ini, maka setiap mukmin memerlukan iman tahkiki yang amat kuat, yang sanggup membuatnya melawan seorang diri serangan kesesatan yang datang berjemaah, agar ia dapat bertahan.

Risale-i Nur menunaikan tugas ini pada masa yang paling dahsyat dan pada waktu yang paling diperlukan lagi genting, dengan cara yang dapat dipahami setiap orang, yaitu dengan membuktikan hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman yang paling dalam serta paling tersembunyi melalui burhan-burhan yang amat kuat; sehingga murid-muridnya yang ikhlas lagi setia, yang memikul iman tahkiki itu, di kota kecil, desa, dan kota tempat mereka berada — ditinjau dari sisi khidmah iman — laksana qutub-qutub yang tersembunyi, menjadi titik sandaran maknawi bagi kaum mukmin; dan sekalipun mereka tidak dikenal, tidak terlihat, dan tidak ditemui, kekuatan maknawi itikad mereka bagaikan perwira-perwira yang berani, mencurahkan kekuatan maknawi ke dalam hati ahli iman, lalu memberikan daya tahan dan keberanian secara maknawi kepada kaum mukmin.

Pertanyaan Kedua: Padahal lebih utama jika karamah tidak ditampakkan, mengapa engkau justru mengumumkannya?

Jawaban: Ini bukanlah karamah yang menjadi milikku. Melainkan ia merembes dari i'jaz maknawi Al-Qur'an, lalu dari salah satu tafsirnya yang khas ia hadir dalam bentuk karamah sebagai

karunia Rabbani dan pemberian Ilahi bagi kami dan bagi ahli iman. Sudah pasti mukjizat Qur'ani dan kilauan-kilauan cahayanya memang ditampakkan. Adapun nikmat, mengumumkannya dengan niat bersyukur adalah tahdits bin-nikmah. Ayat وَ اَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ memerintahkan agar ia ditampakkan. Aku mengakui dengan sumpah bahwa pada diriku tidak ada kelayakan dan hak yang dapat menjadi sebab kebanggaan dan kesombongan. Aku telah lapuk dan kering laksana sebutir benih. Aku mengetahui bahwa seluruh nilai, kehidupan, dan kemuliaan telah berpindah kepada pohon Risale-i Nur yang tumbuh dari benih itu dan kepada mukjizat maknawi Al-Qur'an. Dan karena aku berkeyakinan demikian, aku menampakkannya atas nama i'jaz Qur'ani. Seluruh nilai ada pada Risale-i Nur yang merupakan mukjizat Qur'ani. Bahkan nama Bedîüzzaman yang sejak dahulu aku sandang ternyata adalah miliknya, dan ia telah dikembalikan lagi kepadanya. Adapun Risale-i Nur, ia adalah milik Al-Qur'an dan makna Al-Qur'an.

Di dalam ramz ini terdapat banyak tanda dan karinah khusus milikku sendiri yang menguatkan keyakinan pribadiku. Akan tetapi, karena aku tidak dapat membuktikannya kepada orang lain, aku tidak menuliskannya. Hanya saja, telah datang kesempatan untuk mengisyaratkan dua tiga di antaranya:

Yang Pertama: Ketika aku membaca Jaljalutiyah, berbeda dengan munajat-munajat yang lain, aku merasa bahwa akulah sendiri yang bermunajat secara langsung dengan perasaanku sendiri. Ia tidak menjadi peniruan dengan lisan orang lain. Bagiku ia menjadi sebuah dasar yang sangat fitri, yang bersangkut paut dengan derita-deritaku, dan yang menyenangkan bagi tafakur ruhaniku. Beberapa tahun kemudian aku melihat keramatnya dan hubungannya dengan Risale-i Nur, lalu aku pun mengerti bahwa keadaan itu timbul dari hubungan ini.

Yang Kedua: Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu memperlihatkannya sebagai sebuah khazanah ilmu — pada permulaan dengan رُوح۪ى بِهِ اهْتَدَتْ اِلٰى كَشْفِ اَسْرَارٍ بِبَاطِنِهِ انْطَوَتْ, pada pertengahan dengan وَاَمْنِحْن۪ى يَا ذَا الْجَلَالِ كَرَامَةً ٭ بِاَسْرَارِ عِلْمٍ يَا حَل۪يمُ بِكَ انْجَلَتْ, dan pada akhir dengan مَقَالُ عَلِىٍّ وَ ابْنِ عَمِّ مُحَمَّدٍ ٭ وَ سِرُّ عُلُومٍ لِلْخَلَائِقِ جُمِّعَتْ. Padahal pada lahirnya ia hanyalah sebuah munajat. Bahkan hubungannya yang sempurna dengan rahasia-rahasia ilmu tidak terlihat sebagaimana kasidah-kasidah Imam Ali radiyallahu anhu yang lain yang memancarkan hakikat dan munajat-munajatnya yang lain yang bercorak keilmuan. Adapun keyakinan pribadiku adalah demikian:

Jaljalutiyah, karena ia telah memuat Risale-i Nur di dalam dirinya serta telah mendekapnya ke dadanya dan menerimanya laksana anak maknawi, maka pastilah dengan kalimat وَ سِرُّ عُلُومٍ لِلْخَلَائِقِ جُمِّعَتْ

itu — seraya menunjukkan Risale-i Nur, yang menyebarkan sebagian berlian dari khazanahnya sendiri pada akhir zaman, sebagai saksi — ia dapat memuji dan menyanjung Jaljalutiyah dengan sepenuh hak sebagai sebuah khazanah ilmu dan sebuah simpanan keilmuan.

Yang Ketiga: Sudah dimaklumi bahwa terkadang sebuah emarah yang sangat kecil, di dalam syarat-syarat tertentu, berkedudukan sebagai sebuah dalil yang sangat kuat dan memberikan keyakinan sampai ke derajat yakin. Dari sekian banyak contoh yang memberiku keyakinan seperti itu, satu contoh saja yang telah kuterangkan sebelumnya sudah cukup bagiku. Yaitu demikian:

Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, setelah menunjukkan Risale-i Nur dengan kalimat تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ — dengan tarikhnya, dengan namanya, dengan jati dirinya, dengan dasar-dasarnya, dengan khidmahnya, dan dengan tugasnya — lalu bermunajat seraya menyebutkan satu per satu nama-nama dalam bahasa Suryani. Di dalam nama-nama yang berjumlah tiga puluh dua atau tiga puluh tiga itu, ia mengulang kata بَعْدَهَا sebanyak dua kali. Yang satu pada nama kedua puluh tujuh, ia berkata وَ ذَيْمُوخٍ بَعْدَهَا; yang lain pada nama ketiga puluh satu, ia berkata وَ بَازُوخٍ بَعْدَهَا. Maka: Sözler dari Risale-i Nur berjumlah tiga puluh tiga dan dari satu segi tiga puluh dua; risalah-risalah yang bernama Mektubat pun dari satu segi berjumlah tiga puluh dua dan dari satu segi tiga puluh tiga, sehingga bersesuaian dengan munajat ini; hanya ada dua buah Lampiran yang berbentuk risalah; salah satu dari kedua Lampiran itu adalah Lampiran penting bagi Kelimat Kedua Puluh Tujuh dan yang lain adalah Lampiran berharga bagi Kelimat Ketiga Puluh Satu; kedua risalah Lampiran itu tidak memiliki tingkatan dan nomor yang tersendiri; dan kata بَعْدَهَا pun bertawafuk pada tempat yang sama dan dengan makna yang sama — semua itu memberiku keyakinan sampai ke derajat dua kali dua sama dengan empat, bahwa Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu berbuat demikian untuk memandang kepada Risale-i Nur, bahkan kepada Lampiran-Lampirannya, dengan makna yang mengikut dan dengan mafhum yang isyari.

Masih ada lebih banyak karinah dan hubungan-hubungan yang mengisyaratkan kepada masing-masing Kalimat. Namun karena semuanya tersembunyi dan halus, hal itu tidak disebutkan. {(Catatan kaki): Misalnya, pada tingkatan kedua puluh delapan, dengan kata وَ بِسُورَةِ التَّهْم۪يزِ ia mengisyaratkan kepada sebuah burhan yang sangat kuat bagi persoalan neraka yang merupakan akhir Kelimat Kedua Puluh Delapan; adapun pembahasan tentang persoalan surga pada bagian awalnya, yang hanya berkenaan dengan dua tiga pertanyaan dan jawaban, karena telah diisyaratkan di tempat lain, maka hubungannya menjadi tersembunyi.

Dan misalnya pula, pada tingkatan kedua, karena dengan kata يٰسٓ ia memandang sekaligus kepada Kelimat Kedua, kepada Surat Kedua, kepada Lem'a Kedua, dan kepada Sinar Kedua, maka hubungannya menjadi luas sehingga tersembunyi.

Dan misalnya pula, karena وَ كَافٍ وَ هَا يَاءٍ وَ عَيْنٍ وَ صَادِهَا yakni كٓهٰيٰعٓصٓ berada pada tingkatan kelima, dan dari segi ia memandang kepada Kelimat Kelima, kepada Surat Kelima, kepada Lem'a Kelima, kepada Risalah Ayat Hasbiyah yang merupakan Sinar Keempat, dan kepada Munajat yang merupakan Sinar Ketiga, maka hubungannya menjadi luas dan tersembunyi. Yang lain hendaklah dikiaskan kepada ini.}

لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ٭ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ مِنْ خَطَائ۪ى وَخَط۪يئَات۪ى وَ مِنْ سَهْو۪ى وَغَلَطَات۪ى وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نِعْمَةِ الْا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ بِعَدَدِ حَاصِلِ ضَرْبِ حُرُوفِ رَسَائِلِ النُّورِ الْمَقْرُوئَةِ وَ الْمَكْتُوبَةِ وَ الْمُتَمَثِّلَةِ فِى الْهَوَاءِ ف۪ى عَاشِرَاتِ دَقَائِقِ حَيَات۪ى فِى الدُّنْيَا وَ الْبَرْزَخِ وَ الْاٰخِرَةِ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِه۪ وَ اَصْحَابِه۪ بِعَدَدِهَا وَارْحَمْنَا وَ ارْحَمْ طَلَبَةَ رَسَائِلِ النُّورِ بِعَدَدِهَا اٰم۪ينَ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ