Risale-i NurSinar-Sinar

Sudah pasti, dengan bersandar kepada tujuh dasar ini, kami katakan:

Sinar-Sinar · hlm. 773

Sebagaimana Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu telah mengisyaratkan Sözler yang masyhur menurut urutannya, dan memandang sebagian Mektubat serta Lem'a-Lem'a yang paling penting dengan urutannya, demikian pula dengan kalimat بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ beliau memandang sambil memuji kepada Lem'a Ketiga Puluh, yakni kepada Risalah Enam Asma yang merupakan Lem'a berdiri sendiri yang paling akhir.

Dan dengan kalam حُرُوفٌ لِبَهْرَامٍ عَلَتْ وَ تَشَامَخَتْ beliau pun menghargai Risalah Isyarat Huruf-Huruf Al-Qur'an yang mengikuti Lem'a Ketiga Puluh, lalu membenarkannya dengan isyarat.

Dan dengan kalimat وَ اسْمُ عَصَا مُوسٰى بِهِ الظُّلْمَتُ انْجَلَتْ, dari suatu gaya ungkapan yang seakan-akan menunjukkan secara ramzi lagi penuh pujian kepada risalah kumpulan itu — risalah yang untuk saat ini paling akhir, yang menakjubkan laksana tongkat Musa di tangan tauhid dan iman, dan yang merupakan burhan paling kuat — kami memutuskan tanpa ragu bahwa:

Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu mengabarkan, baik Risale-i Nur maupun risalah-risalahnya yang sangat penting, dengan makna hakiki dan majasi; secara isyari, ramzi, imai, dan talwihi. Siapa pun yang menyimpan keraguan, hendaklah sekali saja ia memandang dengan saksama risalah-risalah yang diisyaratkan itu. Jika ia berlaku adil, aku kira keraguannya tidak akan tersisa.

Karinah yang paling indah dan paling halus bagi makna isyari serta madlul majasi di sini ialah kaitan nama-nama yang diberikan dengan tetap memelihara urutan yang sama. Misalnya, pada tingkatan urutan penyebutan kedua puluh sembilan, ketiga puluh, ketiga puluh satu, dan ketiga puluh dua, beliau mengisyaratkan Kelimat Kedua Puluh Sembilan, Ketiga Puluh, Ketiga Puluh Satu, dan Ketiga Puluh Dua dengan nama-nama yang sangat sesuai; pada permulaannya beliau mengisyaratkan Kelimat Pertama yang merupakan permulaan Sözler dengan rahasia Basmalah yang sama itu; dan pada akhirnya beliau memberikan kepada risalah yang untuk saat ini paling akhir sebuah nama yang layak lagi memperlihatkan jati dirinya. Isyarat yang demikian, meskipun tersembunyi, sungguh amat indah dan halus.

Aku mengakui bahwa: untuk menjadi tempat tampaknya sebuah karya yang demikian diterima, dari segi mana pun aku tidak memiliki kelayakan bagi kedudukan itu. Akan tetapi, menciptakan pohon sebesar gunung dari sebutir benih kecil yang tidak berarti termasuk sifat asali kudrat Ilahi, termasuk kebiasaan-Nya, dan menjadi dalil atas kebesaran-Nya.

Aku pastikan dengan sumpah bahwa: maksudku memuji Risale-i Nur ialah menguatkan, membuktikan, dan menyebarkan hakikat-hakikat Al-Qur'an serta rukun-rukun iman.

Seratus ribu syukur bagi Khâliq-ku Yang Rahîm, karena Dia tidak membuat aku kagum kepada diriku sendiri, melainkan memperlihatkan kepadaku aib dan cacat nafsuku, sehingga tidak tersisa lagi keinginan untuk membuat orang lain kagum kepada nafsu ammarah itu. Seorang yang sedang menanti di pintu kubur, lalu memandang dengan riya kepada dunia fana di belakangnya, sungguh merupakan kebodohan yang patut dikasihani dan kerugian yang dahsyat.

Maka dengan keadaan jiwa yang demikian, aku akan menyebutkan satu kaitan yang halus tentang benar dan haqnya Risale-i Nur yang semata-mata menjadi penerjemah hakikat-hakikat iman. Yaitu demikian:

Jaljalutiyah dalam bahasa Suryani berarti badî' dan bermakna badî' (indah tiada tara). Karena Risale-i Nur yang ungkapan-ungkapannya badî' menempati kedudukan yang penting di dalam Jaljalutiyah dan rembesannya tampak di sebagian besar tempatnya, maka nama kasidah itu seakan-akan diberikan dengan memandang kepadanya. Sekarang pun aku memahami bahwa gelar Bedîüzzaman yang sejak dahulu diberikan kepadaku padahal aku tidak layak menerimanya, sesungguhnya bukanlah milikku, melainkan sebuah nama maknawi bagi Risale-i Nur. Ia disematkan sebagai pinjaman dan amanat kepada penerjemahnya yang tampak. Kini nama amanat itu telah dikembalikan kepada pemiliknya yang hakiki.

Jadi, aku menduga bahwa nama Jaljalutiyah — yang dalam bahasa Suryani bermakna badî' dan yang diberikan kepada kasidah ini karena berulangnya kata itu di dalamnya — telah memperoleh haq untuk secara isyari membuat terasa adanya kaitan antara nama itu dan sifat badî' Risale-i Nur yang muncul di masa bidah sebagai badî'ul-bayân lagi badî'uz-zamân, baik dari sisi ungkapan, sisi makna, maupun sisi nama; dan haq pula untuk sedikit banyak memandang kepadanya — sebab Risale-i Nur menempati banyak tempat di dalam musamma nama ini. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا