POIN KETIGA: Terdiri atas dua Nukta.
Sinar-Sinar · hlm. 581
Yang Pertama: Sebagian hadis yang diriwayatkan dalam bentuk tasybih dan perumpamaan, seiring berjalannya waktu dianggap sebagai hakikat dalam pandangan orang awam, sehingga tampak tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal ia adalah hakikat itu sendiri, namun kesesuaiannya dengan kenyataan tidak terlihat. Misalnya, dua malaikat yang bernama dan bermisal Tsaur dan Hut — yang termasuk para pemikul bumi, sebagaimana para pemikul arasy — dibayangkan sebagai seekor sapi jantan yang besar dan seekor ikan yang sangat besar.
Yang Kedua: Sebagian hadis datang dari sudut pandang mayoritas kaum Muslimin, atau dari sudut pandang pemerintahan Islam, atau dari sudut pandang pusat khilafah; namun ia disangka mencakup seluruh penduduk dunia, dan meskipun dari satu segi ia bersifat khusus, ia dianggap menyeluruh dan umum. Misalnya, di dalam riwayat disebutkan: "Akan datang suatu masa, tidak akan ada lagi orang yang mengucapkan Allah, Allah." Yakni, maksudnya ialah tempat-tempat zikir akan ditutup, dan azan serta ikamah akan dikumandangkan dalam bahasa Turki. POIN KEEMPAT: Sebagaimana urusan gaib seperti ajal dan kematian tetap tersembunyi karena banyak hikmah dan maslahat, demikian pula kiamat — yang merupakan sakratulmaut dan kematian dunia, serta ajal dan wafatnya jenis manusia dan jenis hewan — disembunyikan karena banyak maslahat. Ya, seandainya waktu ajal itu tertentu, maka separuh umur akan berlalu dalam kelalaian mutlak, dan setelah separuhnya dalam kengerian mutlak, karena setiap hari satu kaki lagi dilangkahkan ke arah tiang gantungan; sehingga timbangan takut dan harap yang penuh maslahat lagi penuh hikmah itu menjadi rusak; persis seperti itu pula, seandainya waktu kiamat — yang merupakan ajal dan sakratulmaut dunia — itu tertentu, niscaya abad-abad pertama dan pertengahan hanya sedikit sekali terpengaruh oleh pikiran tentang akhirat. Dan abad-abad terakhir akan berada dalam kengerian mutlak, sehingga tidak akan tersisa kelezatan dan nilai kehidupan dunia, dan tidak pula akan terdapat pentingnya serta hikmah ubudiyah yang dijalankan dengan penuh ketaatan dan dengan kehendak bebas di dalam takut dan harap.
Lagi pula, seandainya ia tertentu, sebagian hakikat iman akan masuk ke derajat yang sangat nyata sehingga setiap orang mau tidak mau membenarkannya. Maka rusaklah rahasia taklif dan hikmah iman yang terikat dengan pilihan dan kehendak bebas.
Maka, karena banyak maslahat seperti inilah urusan gaib tetap tersembunyi; sehingga setiap orang, pada setiap saat, karena memikirkan ajalnya sekaligus kelangsungan hidupnya, dapat bekerja untuk dunianya sekaligus untuk akhiratnya; demikian pula pada setiap abad, karena dapat memikirkan bahwa kiamat akan terjadi sekaligus bahwa dunia akan berlanjut, ia dapat bekerja untuk kehidupan yang kekal di tengah fananya dunia, sekaligus memakmurkan dunia seakan-akan ia tidak akan pernah mati.
Lagi pula, seandainya waktu musibah itu tertentu, maka orang yang tertimpa musibah, selama menanti musibah itu, akan menanggung musibah maknawi — karena penantian itu — yang barangkali lebih dari sepuluh kali lipat musibah yang datang itu sendiri; maka supaya ia tidak menanggung hal itu, waktu musibah dibiarkan tersembunyi dan berselubung oleh hikmah dan rahmat Ilahi.
Dan karena kebanyakan peristiwa alam yang gaib mempunyai hikmah-hikmah seperti inilah maka memberitakan hal gaib itu dilarang. Supaya tidak berlaku tidak hormat dan tidak taat terhadap kaidah لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ, maka orang-orang yang dengan izin Allah memberitakan urusan gaib selain yang menjadi sumber taklif dan selain hakikat-hakikat iman pun hanya memberitakannya dalam bentuk isyarat, secara berselubung dan tertutup. Bahkan kabar-kabar gembira dan berita-berita tentang Nabi kita صلى الله عليه وسلم yang terdapat di dalam Taurat, Injil, dan Zabur pun datang secara berselubung dan tertutup sampai derajat tertentu, sehingga sebagian pengikut kitab-kitab itu menakwilkannya lalu tidak beriman.
Akan tetapi, karena memberitakan persoalan-persoalan yang masuk ke dalam akidah iman dengan terang dan berulang-ulang serta menyampaikannya dengan cara yang jelas merupakan tuntutan hikmah taklif, maka Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân dan Sang Penerjemahnya Yang Mulia صلى الله عليه وسلم memberitakan urusan-urusan akhirat secara terperinci dan peristiwa-peristiwa duniawi yang akan datang secara global. POIN KELIMA: Lagi pula, karena keajaiban-keajaiban yang menjadi milik abad masing-masing dari kedua Dajjal itu diriwayatkan sehubungan dengan pembicaraan tentang mereka, lalu disangka dan diwahamkan bahwa keajaiban itu akan muncul dari pribadi mereka sendiri, maka riwayat tersebut menjadi mutasyabih dan maknanya tersembunyi. Misalnya, bepergian dengan pesawat terbang dan kereta api...
Lagi pula, misalnya, telah masyhur bahwa ketika Dajjal Islam mati, setan yang berkhidmah kepadanya akan berteriak kepada seluruh dunia di Dikilitaş, Istanbul, dan setiap orang akan mendengar suara itu: "Dia telah mati." Yakni, hal itu akan diteriakkan dan diberitakan dengan "radio", yang sungguh menakjubkan dan membuat para setan pun tercengang.
Lagi pula, keadaan-keadaan aneh dan tindakan-tindakan dahsyat yang berkaitan dengan rezim Dajjal, dengan komite yang dibentuknya, dan dengan pemerintahannya, karena diriwayatkan sehubungan dengan pribadinya sendiri, maka maknanya tersembunyi. Misalnya, diriwayatkan: "Ia demikian kuat dan akan terus berlangsung; hanya Nabi Isa alaihissalam yang dapat membunuhnya, tidak ada jalan lain." Yakni, yang akan meruntuhkan dan mematikan jalan yang ditempuhnya serta rezimnya yang buas itu hanyalah sebuah agama samawi, tinggi, lagi murni yang akan muncul di kalangan kaum Isawi; dan agama Isawi yang mengikuti serta bersatu dengan hakikat Al-Qur'an inilah yang, dengan turunnya Nabi Isa alaihissalam, membuat jalan yang tak beragama
itu binasa dan mati. Adapun pribadinya sendiri, ia dapat dibunuh oleh sebuah mikroba atau oleh flu.
Lagi pula, tafsir dan penilaian sebagian perawi yang lahir dari ijtihad mereka yang dapat keliru bercampur dengan kata-kata hadis, lalu disangka hadis, sehingga maknanya tersembunyi. Kesesuaiannya dengan kenyataan pun tidak terlihat, dan ia masuk ke dalam hukum mutasyabih.
Lagi pula, karena pada zaman dahulu pribadi maknawi jemaah dan masyarakat belum berkembang seperti pada zaman ini, dan karena pikiran perorangan lebih menguasai, maka sifat-sifat besar jemaah dan gerakan-gerakan besarnya diberikan kepada pribadi-pribadi yang berada di pucuk jemaah itu; sehingga, agar pribadi-pribadi tersebut layak dan sesuai dengan sifat-sifat yang luar biasa lagi menyeluruh itu, harus ada pada mereka tubuh raksasa yang menakjubkan, seratus kali lebih besar daripada tubuh dan kekuatan mereka sendiri, sosok yang dahsyat, serta kekuatan dan kemampuan yang sangat luar biasa — karena itulah mereka digambarkan demikian. Kesesuaiannya dengan kenyataan pun tidak terlihat, dan riwayat itu menjadi mutasyabih.
Lagi pula, meskipun sifat dan keadaan kedua Dajjal itu berbeda-beda, di dalam riwayat-riwayat yang datang secara mutlak terjadilah kekeliruan, sehingga yang satu disangka yang lain. Lagi pula, keadaan "Mahdi Besar" tidak sesuai dengan riwayat-riwayat yang mengisyaratkan kepada para Mahdi terdahulu, sehingga ia masuk ke dalam hukum hadis mutasyabih. Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu hanya membicarakan Dajjal Islam.
Mukadimah telah selesai; kini kami memulai persoalan-persoalannya.
Untuk saat ini, dari ratusan contoh peristiwa gaib itu, akan dijelaskan dua puluh tiga persoalan — yang disebarluaskan oleh orang-orang yang ingkar kepada Allah dengan maksud merusak akidah orang awam — secara sangat ringkas dengan taufik dari Allah. Dan aku memohon kepada rahmat Allah agar persoalan-persoalan itu, di samping tidak mendatangkan bahaya sebagaimana dugaan mereka yang ingkar itu, justru menjadi sebab yang penting untuk menguatkan akidah orang awam, karena terlihat bahwa masing-masingnya merupakan sekilau cahaya mukjizat kenabian dan karena takwil-takwilnya yang hakiki dibuktikan serta ditampakkan; dan aku bermohon kepada Rabb-ku Yang Rahîm agar Dia menaungi kesalahan dan kekeliruanku dengan ampunan dan maghfirah-Nya.