POIN KETIGA
Sinar-Sinar · hlm. 155
Sejak abad itu hingga sekarang, Al-Qur'an telah memperlihatkan balagah sedemikian rupa sehingga ia menurunkan derajat kasidah-kasidah paling masyhur karya para sastrawan besar — kasidah yang ditulis dengan emas di dinding Kakbah dan harum namanya dengan sebutan "Al-Mu'allaqât as-Sab'" — sampai pada tingkat yang membuat putri Labid, ketika menurunkan kasidah ayahnya dari Kakbah, berkata: "Di hadapan ayat-ayat Al-Qur'an, kasidah ini tidak lagi bernilai."
Dan seorang sastrawan badui, ketika mendengar ayat فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ dibacakan, langsung tersungkur bersujud. Orang-orang bertanya kepadanya: "Apakah engkau telah masuk Islam?" Ia menjawab: "Tidak, aku bersujud kepada balagah ayat ini."
Dan ribuan imam yang jenius serta para sastrawan yang menguasai berbagai cabang ilmu — seperti Abdul Qahir Al-Jurjani, As-Sakkaki, dan Az-Zamakhsyari, para jenius ilmu balagah — telah memutuskan dengan ijmak dan sepakat: "Balagah Al-Qur'an berada di atas kemampuan manusia; ia tidak akan terjangkau."
Dan sejak masa itu Al-Qur'an terus-menerus mengundang ke medan tantangan; ia menyentuh urat nadi para sastrawan dan ahli balagah yang angkuh lagi penuh ananiyah, lalu dengan cara yang meruntuhkan kesombongan mereka ia berseru: "Datangkanlah satu surah saja yang serupa dengannya, atau terimalah nasib binasa dan hina di dunia dan di akhirat." Meskipun seruan itu telah diumumkan, para ahli balagah yang membangkang pada abad itu justru meninggalkan jalan pendek, yaitu menandinginya dengan mendatangkan satu surah yang serupa, lalu memilih jalan yang panjang, yaitu jalan peperangan yang mempertaruhkan jiwa dan harta mereka. Hal ini membuktikan bahwa menempuh jalan pendek itu adalah mustahil.
Dan sejak masa itu, jutaan kitab berbahasa Arab beredar di tengah manusia — kitab-kitab yang ditulis oleh para pencinta Al-Qur'an dengan gairah untuk menyerupai dan menirunya, dan oleh para musuhnya dengan dorongan untuk menandingi dan mengkritiknya, kitab-kitab yang terus maju dengan berpadunya pemikiran. Bahwa tidak satu pun dari kitab-kitab itu dapat menyamainya, bahkan orang yang paling awam sekalipun, jika ia mendengarkan, pasti akan berkata: "Al-Qur'an ini tidak serupa dengan kitab-kitab itu dan tidak berada pada tingkat mereka." Maka ia pasti berada di bawah mereka semua atau di atas mereka semua. Bahwa ia berada di bawah mereka semua, tidak seorang pun di dunia ini, tidak seorang kafir pun, bahkan tidak seorang dungu pun, yang dapat mengatakannya. Jadi, tingkat balagahnya berada di atas mereka semua.
Bahkan seseorang membaca ayat سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ lalu berkata: "Aku tidak dapat melihat balagah ayat ini yang dianggap menakjubkan." Kepadanya dikatakan: "Engkau pun pergilah ke masa itu seperti pengembara ini, lalu dengarkanlah di sana." Maka ketika ia membayangkan dirinya berada di sana sebelum Al-Qur'an turun, ia melihat bahwa:
Segala yang ada di alam ini berada dalam keadaan kacau balau, gelap, beku, tanpa kesadaran, dan tanpa tugas, di dalam sebuah ruang hampa yang tak terhingga lagi tanpa batas; di dalam sebuah dunia yang goyah lagi fana. Tiba-tiba, ketika ia mendengarkan ayat ini dari lisan Al-Qur'an, ia melihat:
Ayat ini membuka dan menerangi sebuah tabir di atas kainat dan di permukaan dunia sedemikian rupa sehingga khotbah azali dan firman yang kekal selamanya ini memberi pelajaran kepada makhluk-makhluk berkesadaran yang berbaris dalam barisan abad demi abad, serta memperlihatkan bahwa kainat ini adalah sebuah masjid agung
yang di dalamnya seluruh makhluk — dengan langit dan bumi di barisan terdepan — ditempatkan dalam keadaan berzikir dan bertasbih dengan penuh hayat, berdiri di atas tugasnya masing-masing dengan gelora dan gemuruh, dalam keadaan berbahagia lagi penuh ridha. Demikianlah ia menyaksikannya. Dan dengan mengecap tingkat balagah ayat ini lalu mengukur ayat-ayat lain dengannya, ia memahami satu hikmah dari ribuan hikmah mengapa alunan balagah Al-Qur'an telah menguasai separuh bumi dan seperlima umat manusia serta melanjutkan kemegahan kerajaannya dengan penuh hormat selama empat belas abad tanpa terputus.