Risale-i NurSinar-Sinar

POIN KEEMPAT

Sinar-Sinar · hlm. 157

Al-Qur'an memperlihatkan rasa manis yang sedemikian hakiki sehingga pengulangan yang banyak — yang membuat jemu bahkan terhadap sesuatu yang paling manis sekalipun — bagi orang-orang yang membaca Al-Qur'an bukan hanya tidak menimbulkan rasa jemu, melainkan justru menambah rasa manisnya setiap kali dibaca berulang-ulang, bagi orang yang hatinya belum membusuk dan zauknya belum rusak. Hal ini telah diakui semua orang sejak zaman dahulu dan telah menjadi seperti peribahasa.

Dan ia memperlihatkan dirinya begitu segar, begitu muda, begitu belia, dan begitu unik tiada tara, sehingga meskipun telah hidup selama empat belas abad dan mudah sampai ke tangan setiap orang, ia tetap memelihara kesegarannya seolah-olah baru saja turun sekarang. Setiap abad melihatnya begitu muda, seakan-akan ia sedang berbicara khusus kepada abad itu. Meskipun setiap golongan ahli ilmu menyimpannya di sisi mereka dalam jumlah yang banyak lagi berlimpah agar dapat mengambil manfaat darinya setiap saat, dan meskipun mereka mengikuti serta meneladani gaya ungkapannya, ia tetap menjaga gaya dan cara penuturannya yang unik itu sebagaimana adanya.

YANG KELIMA: Satu sayap Al-Qur'an berada di masa lalu, satu sayapnya lagi di masa depan. Akar dan satu sayapnya adalah hakikat-hakikat yang disepakati para nabi terdahulu; Al-Qur'an membenarkan dan menguatkan mereka, dan mereka pun membenarkan Al-Qur'an dengan lisan keadaan berupa kesesuaian di antara mereka. Demikian pula, seluruh tarekat yang haq dari jalan kewalian dan seluruh ilmu Islam yang sarat hakikat — yang tumbuh dan hidup di bawah naungan sayapnya yang kedua, yang merupakan buah-buahnya yang mengambil hayat darinya seperti para wali dan para asfiya, dan yang dengan kesempurnaan mereka yang penuh hayat menunjukkan bahwa pohon mereka yang diberkati itu hidup, penuh limpahan karunia, lagi berporos pada hakikat — semuanya bersaksi bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran itu sendiri, tempat berkumpulnya hakikat-hakikat, dan sebuah keajaiban yang tiada bandingnya dalam keluasan cakupannya.

YANG KEENAM: Enam sisi Al-Qur'an bercahaya; semuanya memperlihatkan kejujuran dan kebenarannya. Ya, di bawahnya berdiri tiang-tiang hujah dan burhan; di atasnya berkilau cap mukjizat; di depan dan pada tujuannya terhampar hadiah-hadiah kebahagiaan dunia dan akhirat; di belakangnya, sebagai titik sandarannya, terdapat hakikat-hakikat wahyu samawi; di kanannya terdapat pembenaran akal-akal lurus yang tak terhingga banyaknya beserta dalil-dalil mereka; di kirinya terdapat ketenangan hati yang sungguh-sungguh, daya tarik yang tulus, serta kepasrahan dari hati-hati yang selamat dan hati nurani yang bersih;

sebagaimana semuanya membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah sebuah benteng samawi sekaligus benteng bumi yang luar biasa, menakjubkan, kokoh, dan tak dapat diserang...

Adapun yang dari enam maqam pula membubuhkan tanda tangan bahwa ia adalah kebenaran itu sendiri lagi benar, bahwa ia bukan perkataan manusia, dan bahwa ia tidak mengandung kesalahan, adalah:

Pertama-tama, Zat Yang bertasarruf atas kainat ini — Zat yang menjadikan sebagai kaidah kerja-Nya kebiasaan untuk senantiasa menampakkan keindahan di dalam kainat ini, melindungi kebaikan dan kejujuran, serta membinasakan dan melenyapkan para pemalsu dan pendusta — telah membenarkan dan membubuhkan tanda tangan-Nya pada Al-Qur'an dengan memberinya kedudukan terhormat yang paling diterima, paling tinggi, lagi paling berwibawa di alam ini, serta tingkat keberhasilan yang demikian tinggi...

Dan sosok yang menjadi sumber Islam dan penerjemah Al-Qur'an صلى الله عليه وسلم melebihi siapa pun dalam keyakinan dan penghormatannya kepada Al-Qur'an; pada saat Al-Qur'an turun beliau berada dalam keadaan seperti orang tertidur; perkataan-perkataan beliau yang lain tidak dapat menyamainya dan sedikit pun tidak menyerupainya; meskipun beliau seorang yang ummi, beliau menerangkan dengan Al-Qur'an — tanpa ragu dan dengan hati yang mantap — peristiwa-peristiwa alam yang sebenarnya, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, seolah menyingkap yang gaib; dan penerjemah itu, yang di bawah tatapan mata-mata yang sangat teliti tidak pernah terlihat padanya satu pun tipu daya atau satu pun keadaan yang keliru, beriman dan membenarkan setiap hukum Al-Qur'an dengan segenap kekuatannya, serta tidak ada sesuatu pun yang menggoyahkannya. Semua ini membubuhkan tanda tangan bahwa Al-Qur'an adalah kalam samawi yang benar dan kalam yang diberkati dari Khâliq-nya Yang Rahîm.

Dan seperlima umat manusia, bahkan bagian terbesarnya, di depan mata terikat kepada Al-Qur'an dengan penuh daya tarik dan rasa keagamaan, serta memasang telinga kepadanya dengan penuh kecintaan kepada kebenaran dan penuh kerinduan; dan dengan kesaksian banyak tanda, banyak kejadian, serta banyak kasyaf, jin, malaikat, dan makhluk-makhluk ruhani pun berkumpul mengelilinginya seperti laron mengelilingi cahaya pada waktu ia dibaca, karena kecintaan mereka kepada kebenaran. Semua ini adalah tanda tangan atas diterimanya Al-Qur'an oleh seluruh kainat dan atas kedudukannya yang paling tinggi.

Dan seluruh lapisan umat manusia, mulai dari yang paling dungu dan paling awam hingga yang paling cerdas dan paling berilmu, masing-masing memperoleh bagian yang penuh dari pelajaran Al-Qur'an dan memahami hakikat-hakikat yang paling dalam; setiap golongan — seperti para mujtahid besar dalam ratusan cabang ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu keislaman, terutama dalam syariat yang agung, serta para peneliti jenius dalam usuluddin dan ilmu kalam — menggali dari Al-Qur'an seluruh kebutuhan dan seluruh jawaban yang berkaitan dengan ilmu mereka masing-masing. Ini adalah tanda tangan bahwa Al-Qur'an adalah sumber kebenaran dan tambang hakikat.

Dan para sastrawan Arab yang paling maju dalam bidang sastra — yakni mereka yang tidak masuk Islam — meskipun hingga kini sangat memerlukan perlawanan terhadapnya,

padahal mukjizat Al-Qur'an memiliki tujuh segi besar, mereka justru enggan mendatangkan tandingan bagi satu segi saja, yaitu balagahnya, walau hanya satu surah; dan para ahli balagah masyhur serta para ulama jenius yang datang hingga sekarang, yang ingin meraih kemasyhuran lewat perlawanan, tidak mampu menghadapi satu pun segi mukjizatnya, lalu terdiam dalam keadaan tidak berdaya. Ini adalah tanda tangan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat dan berada di atas kemampuan manusia.

Ya, dari sisi bahwa nilai, ketinggian, dan balagah sebuah kalam menjadi nyata dengan pertanyaan "Dari siapa ia datang, kepada siapa ia datang, dan untuk apa?", maka Al-Qur'an tidak mungkin ada bandingannya dan tidak mungkin terjangkau.

Sebab Al-Qur'an adalah khitab dan perkataan Rabb sekaligus Khâliq seluruh alam; ia adalah percakapan yang padanya tidak terdapat satu pun tanda, dari sisi mana pun, yang memberi kesan tiruan atau sesuatu yang dibuat-buat; ia turun kepada sosok yang diutus atas nama seluruh manusia, bahkan atas nama seluruh makhluk, dan yang menjadi lawan bicara paling masyhur lagi paling harum namanya dari jenis manusia — sosok yang kekuatan dan keluasan imannya memancarkan Islam yang begitu agung, yang mengangkat pemiliknya ke maqam Qâba Qausain sehingga beliau menjadi tempat tampaknya percakapan dengan Allah Yang Shamad; ia menjelaskan dan menerangkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat, dengan hasil-hasil penciptaan kainat, serta dengan maksud-maksud Rabbani di dalamnya; ia pun menerangkan dan menjelaskan iman lawan bicara itu — iman yang paling tinggi lagi paling luas, yang memikul seluruh hakikat Islam; dan ia memperlihatkan setiap sisi kainat yang begitu besar ini bagaikan sebuah peta, sebuah jam, dan sebuah rumah, lalu membolak-balikkannya dan mengungkapkan serta mengajarkan Sang Seniman yang membuat semuanya itu beserta tata cara perbuatan-Nya. Maka sudah pasti tidak mungkin mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, dan tingkat mukjizatnya tidak akan terjangkau.

Dan ribuan ulama yang berkecerdasan tinggi, teliti, lagi menguasai berbagai cabang ilmu — yang menafsirkan Al-Qur'an, sebagian mereka menulis tafsir setebal tiga puluh, empat puluh, bahkan tujuh puluh jilid — telah menampakkan dan membuktikan, dengan sanad dan dalil yang mereka paparkan, keistimewaan, nukta, sifat khas, rahasia, dan makna-makna tinggi yang tak terhingga di dalam Al-Qur'an, beserta pemberitaan-pemberitaan gaib yang banyak dari setiap jenis perkara gaib; dan lebih khusus lagi, masing-masing dari seratus tiga puluh kitab Risale-i Nur membuktikan satu keistimewaan dan satu nukta Al-Qur'an dengan burhan-burhan yang pasti; terutama seperti Risalah Mukjizat-Mukjizat Al-Qur'an; Maqam Kedua dari Kelimat Kedua Puluh yang menggali dari Al-Qur'an banyak hal dari keajaiban-keajaiban peradaban seperti kereta api dan pesawat terbang; Sinar Pertama yang bernama İşarat-ı Kur'aniye (Isyarat-Isyarat Al-Qur'an) yang memberitahukan isyarat ayat-ayat yang menunjuk kepada Risale-i Nur dan kepada listrik; delapan risalah kecil yang bernama Rumuzat-ı Semaniye (Delapan Simbol Rahasia) yang memperlihatkan betapa teratur, penuh rahasia, dan sarat makna huruf-huruf Al-Qur'an; serta sebuah risalah kecil yang membuktikan dari lima segi bahwa ayat terakhir Surah Al-Fath

merupakan mukjizat dari sisi pemberitaan gaib — demikianlah setiap juz Risale-i Nur menampakkan satu hakikat dan satu cahaya Al-Qur'an. Semua ini adalah tanda tangan bahwa Al-Qur'an tiada bandingnya, bahwa ia mukjizat lagi menakjubkan, dan bahwa di alam nyata ini ia adalah lisan alam gaib serta kalam Allâmul-Ghuyûb.

Maka karena keistimewaan dan sifat-sifat khas Al-Qur'an yang telah disebutkan itulah — yang diisyaratkan pada enam poin, enam segi, dan enam maqam — kekuasaannya yang bercahaya lagi megah dan kerajaannya yang suci lagi agung terus berlangsung dengan penuh hormat, menyinari wajah abad demi abad dan menerangi permukaan bumi selama seribu tiga ratus tahun. Dan karena sifat-sifat khas itu pulalah Al-Qur'an meraih keistimewaan-keistimewaan suci: setiap hurufnya sekurang-kurangnya bernilai sepuluh pahala dan sepuluh kebaikan serta memberi sepuluh buah yang kekal selamanya; bahkan setiap huruf dari sebagian ayat dan surah memberi seratus, seribu, atau lebih banyak lagi buah; dan pada waktu-waktu yang diberkati, cahaya, pahala, serta nilai setiap huruf naik dari sepuluh menjadi ratusan. Demikianlah sang pengembara dunia memahaminya, lalu berkata kepada hatinya:

Maka Al-Qur'an yang penuh mukjizat dari segala segi ini telah bersaksi — dengan ijmak surah-surahnya, dengan kesepakatan ayat-ayatnya, dengan kesesuaian rahasia-rahasia dan cahaya-cahayanya, serta dengan kecocokan buah-buah dan pengaruh-pengaruhnya — atas wujud Wâjibul Wujûd Yang Esa, atas keesaan-Nya, serta atas sifat-sifat dan asma-Nya, dengan membuktikannya melalui dalil-dalil; kesaksian itu sedemikian rupa sehingga kesaksian ahli iman yang tak terhingga banyaknya memancar dari kesaksiannya.

Maka sebagai isyarat singkat kepada pelajaran tauhid dan iman yang diperoleh sang pengembara ini dari Al-Qur'an, pada tingkat ketujuh belas Maqam Pertama demikianlah لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الْوَاحِدُ الْاَحَدُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِهِ الْقُرْاٰنُ الْمُعْجِزُ الْبَيَانِ اَلْمَقْبُولُ الْمَرْغُوبُ لِاَجْنَاسِ الْمَلَكِ وَ الْاِنْسِ وَ الْجَانِّ اَلْمَقْرُوءُ كُلُّ اٰيَاتِه۪ ف۪ى كُلِّ دَق۪يقَةٍ بِكَمَالِ الْاِحْتِرَامِ بِاَلْسِنَةِ مِاٰتِ مِلْيُونٍ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ الدَّائِمُ سَلْطَنَتُهُ الْقُدْسِيَّةُ عَلٰى اَقْطَارِ الْاَرْضِ وَ الْاَكْوَانِ وَ عَلٰى وُجُوهِ الْاَعْصَارِ وَ الزَّمَانِ وَ الْجَار۪ى حَاكِمِيَّتُهُ الْمَعْنَوِيَّةُ النُّورَانِيَّةُ عَلٰى نِصْفِ الْاَرْضِ وَ خُمْسِ الْبَشَرِ ف۪ى اَرْبَعَةَ عَشَرَ عَصْرًا بِكَمَالِ الْاِحْتِشَامِ وَ كَذَا: شَهِدَ وَ بَرْهَنَ بِاِجْمَاعِ سُوَرِهِ الْقُدْسِيَّةِ السَّمَاوِيَّةِ وَ

بِاِتِّفَاقِ اٰيَاتِهِ النُّورَانِيَّةِ الْاِلٰهِيَّةِ وَ بِتَوَافُقِ اَسْرَارِه۪ وَ اَنْوَارِه۪ وَ بِتَطَابُقِ حَقَائِقِه۪ وَ ثَمَرَاتِه۪ وَ اٰثَارِه۪ بِالْمُشَاهَدَةِ وَ الْعَيَانِ telah dikatakan.

Kemudian musafir dan pengembara kehidupan yang telah disebutkan itu — yang mengetahui bahwa modal manusia yang paling berharga adalah iman; iman yang memberikan kepada seorang manusia yang fakir bukan sekadar sebidang ladang atau sebuah rumah yang fana lagi sementara, melainkan kainat yang begitu besar dan sebuah kerajaan kekal seluas dunia; iman yang menyediakan bagi seorang manusia yang fana segala bekal bagi hayat yang kekal selamanya; iman yang menyelamatkan si malang yang sedang menanti tiang gantungan ajal dari hukuman mati abadi; dan iman yang membuka perbendaharaan kebahagiaan yang kekal selamanya — berkata kepada dirinya sendiri:

"Ayo, maju! Untuk meraih satu tingkat lagi dari tingkat-tingkat iman yang tak terhingga, kita harus merujuk kepada kainat secara keseluruhan dan mendengarkan apa pula yang ia katakan; kita harus menyempurnakan dan menerangi pelajaran-pelajaran yang telah kita ambil dari rukun-rukun dan bagian-bagiannya." Maka dengan teropong yang luas lagi mencakup segalanya, yang ia peroleh dari Al-Qur'an, ia memandang, lalu melihat:

Kainat ini demikian sarat makna dan demikian teratur, sehingga ia tampak dalam rupa sebuah kitab Subhani yang berjasad, sebuah Al-Qur'an Rabbani yang berbadan, sebuah istana Shamadani yang berhias, dan sebuah kota Rahmani yang teratur. Seluruh surah, ayat, dan kalimat kitab itu — bahkan huruf-hurufnya, bab-babnya, pasal-pasalnya, halaman-halamannya, dan baris-barisnya — dengan penghapusan dan penetapannya yang senantiasa sarat makna serta pengubahan dan pengalihannya yang penuh hikmah, secara ijmak menyatakan dengan sangat nyata wujud dan keberadaan Sang 'Alîm atas segala sesuatu, Sang Qadîr atas segala sesuatu, Sang Pengarang, Sang Pelukis Dzul-Jalâl, dan Sang Penulis Dzul-Kamâl — Zat yang melihat segala sesuatu pada segala sesuatu, yang mengetahui hubungan segala sesuatu dengan segala sesuatu, dan yang menjaga hubungan itu; demikian pula seluruh rukun dan jenisnya, bagian dan juz'iyatnya, penghuni dan segala isinya, pemasukan dan pengeluarannya, beserta pergantiannya yang penuh maslahat pada semua itu dan pembaruannya yang penuh hikmah, dengan sepakat memberitahukan keberadaan dan kesatuan Sang Ahli Yang Mahatinggi lagi Sang Pembuat yang tiada tara, Zat yang bekerja dengan kudrat yang tak terhingga dan hikmah yang tiada berujung. Dan kesaksian dua hakikat yang besar lagi luas — yang sepadan dengan keagungan kainat — membuktikan kesaksian besar kainat ini.