Risale-i NurSinar-Sinar

HAKIKAT PERTAMA

Sinar-Sinar · hlm. 164

Yaitu hakikat "hudûts" (baru terjadi) dan "imkân" (mungkin ada) yang telah dilihat oleh para ulama jenius bidang usuluddin dan ilmu kalam serta para ahli hikmah Islam, dan yang mereka buktikan dengan burhan-burhan yang tak terhingga. Mereka berkata:

"Selama di dalam alam dan pada segala sesuatu terdapat perubahan dan pergantian, sudah pasti ia fana, ia baru terjadi, dan tidak mungkin qadim. Selama ia baru terjadi, sudah pasti ada Sang Pembuat yang mengadakannya. Dan selama ada dan tidak adanya sesuatu itu sama saja pada zatnya sendiri jika tidak ditemukan suatu sebab, sudah pasti ia tidak mungkin wajib ada dan azali. Dan selama telah dibuktikan dengan burhan-burhan yang pasti bahwa saling mengadakan melalui daur dan tasalsul (rantai sebab tanpa ujung) — yang keduanya muhal lagi batil — adalah tidak mungkin, sudah pasti harus ada wujud Wâjibul Wujûd; Zat yang tandingan-Nya mustahil, yang serupa dengan-Nya muhal, sedangkan segala selain-Nya hanya mungkin ada dan segala yang bukan Dia adalah makhluk-Nya."

Benar, hakikat hudûts telah menguasai kainat. Sebagian besarnya dilihat oleh mata, dan bagian lainnya dilihat oleh akal. Sebab, di depan mata kita, pada setiap musim gugur wafatlah sebuah alam sedemikian rupa sehingga seratus ribu jenis tumbuhan dan hewan-hewan kecil — yang masing-masing memiliki anggota yang tak terhingga dan masing-masing berkedudukan sebagai satu kainat yang hidup — turut wafat bersama alam itu. Akan tetapi, wafat itu berlangsung demikian teratur, sehingga mereka lebih dahulu meninggalkan di tempatnya untuk musim semi biji-bijinya, benih-benihnya, dan telur-telur kecilnya — yang menjadi sebab bagi kebangkitan (hasyr) dan penyebaran mereka, yang merupakan mukjizat rahmat dan hikmah serta keajaiban kudrat dan ilmu — seraya menyerahkan ke tangan benih-benih itu buku catatan amal dan rencana tugas-tugas yang telah mereka jalankan, lalu menitipkannya kepada hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl di bawah perlindungan-Nya; sesudah itu barulah mereka wafat.

Dan pada musim semi, sebagai seratus ribu misal, contoh, dan dalil bagi kebangkitan agung, pohon-pohon, akar-akar, dan sebagian hewan kecil yang telah wafat itu dihidupkan dan dibangkitkan kembali persis sebagaimana adanya. Dan sebagian lainnya, di tempatnya masing-masing, diadakan dan dihidupkan yang serupa dengan mereka dan yang sama persis seperti mereka. Adapun makhluk-makhluk musim semi yang lalu, mereka menyebarkan lembaran-lembaran amal dan tugas yang telah mereka kerjakan laksana pengumuman, sehingga mereka memperlihatkan satu contoh dari ayat وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ

Lagi pula, dari segi keseluruhan, pada setiap musim gugur dan setiap musim semi wafatlah sebuah alam yang besar dan lahirlah sebuah alam yang segar. Dan wafat serta hudûts itu berjalan demikian teratur, dan di dalam wafat dan hudûts itu terjadilah kematian dan kelahiran demikian banyak jenis makhluk dengan keteraturan dan timbangan yang sangat tinggi, sehingga seakan-akan dunia ini adalah sebuah rumah penginapan tempat kainat-kainat yang hidup datang bertamu, dan tempat alam-alam pengembara serta dunia-dunia yang berjalan berdatangan, menunaikan tugasnya, lalu pergi.

Maka wujud yang wajib ada, kudrat yang tak terhingga, dan hikmah yang tiada berujung dari Zat Dzul-Jalâl — Zat yang mengadakan dan menciptakan dunia-dunia yang hidup dan kainat-kainat yang bertugas semacam ini di dunia ini dengan ilmu, hikmah, dan timbangan yang sempurna, dengan keseimbangan, keteraturan, dan tatanan; lalu memakainya dengan penuh kudrat dan mempekerjakannya dengan penuh rahmat untuk maksud-maksud Rabbani, tujuan-tujuan Ilahi, dan khidmah-khidmah Rahmani — tampak kepada akal dengan sangat nyata laksana matahari. Adapun persoalan-persoalan "hudûts", kami serahkan kepada Risale-i Nur dan kepada kitab-kitab para ahli tahkik ilmu kalam, lalu kami tutup pembahasan itu.

Adapun segi imkân, ia pun telah menguasai dan meliputi kainat. Sebab, kita melihat bahwa segala sesuatu — baik ia menyeluruh maupun juz'i, baik besar maupun kecil, dari arasy sampai bumi, dari zarah sampai planet — setiap yang ada dikirim ke dunia dengan zat yang khusus, bentuk yang tertentu, pribadi yang istimewa, sifat-sifat yang khas, keadaan-keadaan yang penuh hikmah, dan perangkat-perangkat yang penuh maslahat. Padahal, memberikan kekhususan itu kepada zat dan jati diri yang khusus itu di tengah kemungkinan yang tak terhingga... Lalu mengenakan bentuk tertentu yang berukir, yang berbeda dari yang lain, dan yang sesuai itu di tengah kemungkinan dan peluang sebanyak jumlah bentuk yang ada... Lalu mengkhususkan pribadi yang layak itu dengan keistimewaan bagi yang ada itu, yang terombang-ambing di tengah kemungkinan sebanyak jumlah satuan dari jenisnya sendiri... Lalu menempatkan sifat-sifat yang khas, yang sesuai, dan yang penuh maslahat itu pada ciptaan yang masih tanpa bentuk dan masih bimbang di tengah kemungkinan dan peluang sebanyak jumlah jenis dan tingkatan sifat... Lalu memasang dan melengkapi keadaan-keadaan yang penuh hikmah dan perangkat-perangkat yang penuh inayah itu pada makhluk yang bingung, terhuyung, dan tanpa tujuan di tengah kemungkinan dan peluang yang tak terhingga, dari segi bahwa ia mungkin berada dalam jalan dan cara yang tak terhingga banyaknya...

Maka sudah pasti, isyarat-isyarat, petunjuk-petunjuk, dan kesaksian-kesaksian — sebanyak jumlah segala yang mungkin ada, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i, dan sebanyak jumlah kemungkinan pada jati diri dan identitas, susunan dan bentuk, sifat dan keadaan setiap yang mungkin ada itu — atas wujud yang wajib ada dari Wâjibul Wujûd yang mengkhususkan, memilih, menetapkan, dan mengadakan; atas kudrat-Nya yang tak terhingga dan hikmah-Nya yang tiada berujung; atas tidak adanya satu pun sesuatu dan satu pun sifat asali yang tersembunyi dari-Nya; atas tidak adanya sesuatu pun yang berat bagi-Nya; atas mudahnya sesuatu yang paling besar bagi-Nya sama seperti sesuatu yang paling kecil; dan atas kesanggupan-Nya menciptakan satu musim semi semudah menciptakan satu pohon serta satu pohon semudah menciptakan satu biji — semuanya keluar dari hakikat imkân dan membentuk satu sayap dari kesaksian besar kainat ini.

Kesaksian kainat dengan kedua sayapnya dan kedua hakikatnya telah dibuktikan dan dijelaskan sepenuhnya oleh bagian-bagian Risale-i Nur, terutama Kelimat Kedua Puluh Dua dan Kelimat Ketiga Puluh Dua, serta Surat Kedua Puluh

dan Surat Ketiga Puluh Tiga; maka dengan menyerahkan pembahasannya kepada risalah-risalah itu, kami memendekkan kisah yang amat panjang ini.

Adapun yang membuktikan sayap kedua dari kesaksian besar lagi menyeluruh yang datang dari keseluruhan kainat adalah: