HAKIKAT KEDUA
Sinar-Sinar · hlm. 167
Pada makhluk-makhluk yang berjuang menjaga wujud dan khidmahnya — dan jika ia makhluk hidup, menjaga hayatnya — serta berjuang menunaikan tugasnya di tengah perubahan dan pergolakan yang terus-menerus bergejolak ini, tampaklah sebuah hakikat tolong-menolong yang sama sekali berada di luar kekuatan mereka.
Misalnya, unsur-unsur datang menolong makhluk hidup; khususnya awan datang membantu tumbuh-tumbuhan; tumbuh-tumbuhan pun datang menolong hewan; hewan datang membantu manusia; air susu yang laksana kautsar dari payudara datang memberi makan anak-anaknya; berbagai kebutuhan dan rezeki makhluk hidup yang jauh di luar kemampuan mereka diserahkan ke tangan mereka dari tempat yang tidak disangka-sangka; bahkan zarah-zarah makanan pun bergegas memperbaiki sel-sel tubuh — maka sekian banyak contoh hakikat tolong-menolong yang terjadi dengan penundukan Rabbani dan pengerahan Rahmani ini secara langsung menunjukkan rububiyah yang umum lagi penuh kasih sayang dari Rabbul-'Âlamîn yang mengatur seluruh kainat laksana sebuah istana.
Benar, para penolong yang sesungguhnya beku, tidak berkesadaran, dan tidak berkasih sayang, namun memperlihatkan sikap yang penuh kasih sayang dan penuh kesadaran satu sama lain itu, sudah pasti digerakkan untuk menolong dengan kekuatan, rahmat, dan perintah Rabb Dzul-Jalâl Yang Maha Rahîm lagi Hakîm.
Maka kesaksian dari hakikat-hakikat yang amat besar — seperti tolong-menolong menyeluruh yang berlaku di dalam kainat; keseimbangan umum dan penjagaan yang mencakup segalanya, yang berjalan dengan keteraturan yang sempurna mulai dari planet-planet sampai kepada anggota badan, perangkat, dan zarah-zarah tubuh makhluk hidup; hakikat menghias, yang menyapukan penanya mulai dari wajah langit yang keemasan dan wajah bumi yang berhias sampai kepada wajah bunga-bunga yang bersolek; hakikat menata, yang berlaku mulai dari Bimasakti dan tata surya sampai kepada buah-buahan seperti jagung dan delima; serta hakikat menugaskan, yang memberikan jabatan mulai dari matahari dan bulan, dari unsur-unsur dan awan, sampai kepada lebah-lebah madu — yang sebanding dengan keagungan masing-masing, membuktikan dan membentuk sayap kedua dari kesaksian kainat. Selama Risale-i Nur telah membuktikan dan menjelaskan kesaksian besar ini, di sini kami mencukupkan diri dengan isyarat yang amat singkat ini.
Maka sebagai isyarat singkat atas pelajaran iman yang diperoleh musafir dunia dari kainat, pada tingkat kedelapan belas Maqam Pertama dikatakan demikian:
لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الْمُمْتَنِعُ نَظ۪يرُهُ اَلْمُمْكِنُ كُلُّ مَاسِوَاهُ الْوَاحِدُ الْاَحَدُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ هٰذِهِ الْكَائِنَاتُ الْكِتَابُ الْكَب۪يرُ الْمُجَسَّمُ وَ الْقُرْاٰنُ الْجِسْمَانِىُّ الْمُعَظَّمُ وَ الْقَصْرُ الْمُزَيَّنُ الْمُنَظَّمُ وَ الْبَلَدُ الْمُحْتَشَمُ الْمُنْتَظَمُ بِاِجْمَاعِ سُوَرِه۪ وَ اٰيَاتِه۪ وَ كَلِمَاتِه۪ وَ حُرُوفِه۪ وَ اَبْوَابِه۪ وَ فُصُولِه۪ وَ صُحُفِه۪ وَ سُطُورِه۪ وَ اِتِّفَاقِ اَرْكَانِه۪ وَ اَنْوَاعِه۪ وَ اَجْزَائِه۪ وَ جُزْئِيَّاتِه۪ وَ سَكَنَتِه۪ وَ مُشْتَمِلَاتِه۪ وَ وَارِدَاتِه۪ وَ مَصَارِفِه۪ بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ الْحُدُوثِ وَ التَّغَيُّرِ وَ الْاِمْكَانِ بِاِجْمَاعِ جَم۪يعِ عُلَمَاءِ عِلْمِ الْكَلَامِ وَ بِشَهَادَةِ حَق۪يقَةِ تَبْد۪يلِ صُورَتِه۪ وَ مُشْتَمِلَاتِه۪ بِالْحِكْمَةِ وَ الْاِنْتِظَامِ وَ تَجْد۪يدِ حُرُوفِه۪ وَ كَلِمَاتِه۪ بِالنِّظَامِ وَ الْم۪يزَانِ وَ بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ التَّعَاوُنِ وَ التَّجَاوُبِ وَ التَّسَانُدِ وَ التَّدَاخُلِ وَ الْمُوَازَنَةِ وَ الْمُحَافَظَةِ ف۪ى مَوْجُودَاتِه۪ بِالْمُشَاهَدَةِ وَ الْعَيَانِ
Kemudian sang pengembara yang penuh rasa ingin tahu dan penuh kerinduan itu — yang datang ke dunia, yang mencari Sang Pencipta dunia, yang telah menaiki delapan belas tingkat, dan yang dengan mikraj iman sampai ke arasy hakikat, lalu naik dari makrifat yang bersifat gaib kepada satu kedudukan yang hadir dan berhadapan langsung — berkata kepada ruhnya sendiri:
Sebagaimana di dalam Al-Fatihah yang mulia, sejak awalnya sampai kepada kata اِيَّاكَ terdapat pujian dan sanjungan yang disampaikan seolah kepada Zat yang gaib, lalu datanglah rasa hadir sehingga naiklah seruan اِيَّاكَ; demikian pula kita harus meninggalkan cara mencari secara gaib dan langsung menanyakan Zat yang kita cari itu kepada Zat yang kita cari itu sendiri — matahari yang memperlihatkan segala sesuatu memang harus ditanyakan kepada matahari. Benar, Zat yang memperlihatkan segala sesuatu tentu memperlihatkan diri-Nya lebih daripada segala sesuatu. Maka, sebagaimana matahari dilihat dan dikenali melalui pancaran sinarnya, demikian pula kita dapat berusaha mengenali Khâliq kita melalui asma-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang suci, sekadar kemampuan kita.
Dari jalan yang tak terhingga menuju maksud ini kami hanya akan menerangkan dua jalan di dalam risalah ini; dari tingkatan yang tak terhingga pada kedua jalan itu hanya dua tingkatan; dan dari sekian banyak hakikat serta penjelasan yang amat panjang pada kedua tingkatan itu hanya dua hakikat, secara ringkas dan padat.