Risalah Nur — Bahasa Indonesia

HAKIKAT PERTAMA:

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

HAKIKAT PERTAMA:

Hakikat "hudus"—bermula menjadi ada—serta "imkan"—mungkin ada dan mungkin tidak ada—yang dilihat para ulama jenius usuluddin serta ilmu kalam, juga para pemikir Islam, dan dibuktikan melalui bukti-bukti tak terbatas. Mereka berkata:

"Karena dalam alam serta setiap hal terdapat perubahan dan pergantian, tentu ia fana, bermula menjadi ada, serta tidak dapat ada sejak azali. Karena ia bermula menjadi ada, tentu ada Pembuat yang mewujudkannya. Karena tanpa suatu sebab, ada dan tidak adanya setiap hal sama bagi hakikat dirinya, tentu ia tidak dapat memiliki wujud yang niscaya serta azali. Bukti-bukti pasti juga telah menunjukkan bahwa saling menciptakan melalui hubungan sebab yang melingkar serta rangkaian sebab tanpa akhir, yang mustahil dan batil, tidak mungkin terjadi. Karena itu, tentu diperlukan Wujud Wâjibul Wujûd sedemikian rupa sehingga tandingan⁠-⁠Nya tidak mungkin, persamaan⁠-⁠Nya mustahil, segala yang lain mungkin ada, serta semua selain⁠-⁠Nya merupakan makhluk⁠-⁠Nya."

Ya, hakikat hudus meliputi alam. Sebagian besar terlihat oleh mata, dan bagian lainnya oleh akal. Sebab, di depan mata kita, setiap tahun pada musim gugur, suatu alam meninggal; bersama alam itu, seratus ribu jenis tumbuhan serta hewan kecil, yang masing-masing memiliki individu tak terbatas dan seperti alam yang hidup, juga meninggal. Namun, kematian itu begitu teratur sehingga mereka meninggalkan benih, biji, serta telur kecil—sarana kebangkitan dan penyebaran mereka, mukjizat Rahmat serta Hikmah, juga keajaiban Kudrat dan Ilmu—di tempat masing-masing untuk musim semi; menyerahkan buku catatan amal serta tata kerja tugas mereka ke tangan benih, biji, dan telur itu; lalu menitipkannya kepada Hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl di bawah Perlindungan⁠-⁠Nya. Barulah mereka meninggal.

Pada musim semi, sebagai seratus ribu contoh, perumpamaan, serta dalil Kebangkitan Agung, pohon, akar, serta sebagian hewan kecil yang meninggal itu dihidupkan kembali dan bangkit dengan diri yang sama. Di tempat sebagian lainnya, diciptakan serta dihidupkan yang sebanding dan persis menyerupai mereka. Segala yang ada pada musim semi sebelumnya menyebarkan halaman-halaman amal serta tugas yang mereka kerjakan seperti pengumuman, lalu memperlihatkan satu contoh ayat

ﻭَﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ﻧُﺸِﺮَﺕْ.

Dari segi keseluruhannya pula, pada setiap musim gugur serta musim semi, suatu alam besar meninggal dan alam baru terwujud. Kematian serta hudus itu berlangsung begitu teratur; dan di dalamnya, kematian serta hudus begitu banyak jenis terjadi dengan keteraturan serta ukuran demikian, sehingga dunia seolah-olah merupakan rumah tamu. Alam-alam yang hidup menjadi tamunya; alam-alam yang berkelana serta dunia-dunia yang berjalan datang kepadanya, menjalankan tugas, lalu pergi.

Wujud Yang Niscaya, Kudrat yang tiada batas, serta Hikmah yang tiada akhir dari Zat Dzul-Jalâl yang menciptakan dan mewujudkan dunia-dunia hidup serta alam-alam yang bertugas seperti itu dalam dunia ini, dengan Ilmu, Hikmah, ukuran, keseimbangan, keteraturan, serta tatanan sempurna; dan yang menggunakan mereka dengan penuh Kudrat serta mempekerjakan mereka dengan Kasih Sayang untuk Tujuan-Tujuan Rabb, Maksud-Maksud Ilahi, serta Khidmah Ar-Rahmân, tampak jelas bagi akal seperti matahari. Dengan menyerahkan persoalan "hudus" kepada Risale-i Nur serta kitab para peneliti ilmu kalam, kami menutup pembahasan itu.

Adapun segi imkan, ia pun meliputi serta mencakup alam. Sebab, kami melihat setiap hal, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i, besar ataupun kecil, dari Arasy sampai bumi, dari zarah sampai planet, dikirim ke dunia dengan hakikat khusus, rupa tertentu, identitas yang memiliki ciri pembeda, sifat-sifat khusus, keadaan yang penuh Hikmah, serta perangkat yang bermanfaat. Padahal, memberi kekhususan itu kepada hakikat diri tersebut di antara kemungkinan-kemungkinan tak terbatas... Mengenakan rupa tertentu yang penuh ukiran, memiliki ciri pembeda, serta sesuai itu, di antara kemungkinan dan peluang sebanyak rupa-rupa... Mengkhususkan identitas yang layak dengan ciri pembeda itu kepada wujud yang bergolak di antara kemungkinan sebanyak individu sejenis... Menempatkan sifat-sifat khusus, sesuai, serta bermanfaat kepada ciptaan yang belum berbentuk dan belum pasti, di antara kemungkinan sebanyak jenis serta tingkatan sifat... Memasang dan melengkapi keadaan yang penuh Hikmah serta perangkat yang mendapat Inayah kepada makhluk yang bingung, berkelana, dan tidak memiliki tujuan dalam kemungkinan serta peluang tak terbatas, karena ia mungkin berada pada jalan dan cara yang tiada batas...

Tentu, dari hakikat imkan muncul isyarat, petunjuk, serta kesaksian sebanyak segala yang mungkin ada, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i; juga sebanyak kemungkinan hakikat diri, identitas, susunan, rupa, sifat, serta keadaan yang telah disebut pada setiap wujud yang mungkin ada. Semuanya menunjukkan keniscayaan Wujud, Kudrat yang tiada batas, serta Hikmah yang tiada akhir dari Wâjibul Wujûd, Yang Mengkhususkan, Memilih, Menentukan, serta Mewujudkan; bahwa tidak ada sesuatu maupun urusan yang tersembunyi dari⁠-⁠Nya, tidak ada sesuatu yang berat bagi⁠-⁠Nya, dan sesuatu yang paling besar mudah bagi⁠-⁠Nya seperti yang paling kecil; serta bahwa Dia dapat menciptakan musim semi semudah pohon, dan pohon semudah benih. Semuanya membentuk satu sayap dari kesaksian besar alam ini.

Bagian-bagian Risale-i Nur, terutama Kalimat Kedua Puluh Dua serta Ketiga Puluh Dua, juga Surat Kedua Puluh serta Ketiga Puluh Tiga, telah membuktikan dan menjelaskan sepenuhnya kesaksian alam dengan kedua sayap serta kedua hakikatnya. Karena itu, dengan menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut, kami memendekkan kisah yang sangat panjang ini.

Yang membuktikan sayap kedua dari kesaksian besar serta menyeluruh yang berasal dari keseluruhan alam ialah:

HAKIKAT KEDUA:

Pada makhluk-makhluk yang berusaha menjaga wujud serta khidmahnya, juga kehidupannya jika hidup, dan menjalankan tugasnya di tengah pergolakan serta perubahan yang terus-menerus ini, tampak hakikat saling membantu yang sama sekali berada di luar kekuatan mereka.

Misalnya, unsur-unsur menolong makhluk hidup, terutama awan membantu tumbuhan; tumbuhan membantu hewan; hewan membantu manusia; susu dari payudara seperti Kautsar memberi makan anak-anak makhluk; dan banyak kebutuhan serta perbekalan makhluk hidup, yang berada di luar kemampuan mereka, diserahkan ke tangan mereka dari tempat yang tidak diduga. Bahkan, zarah-zarah makanan berlari memperbaiki sel-sel tubuh. Melalui Penundukan Rabb serta Penggunaan oleh Ar-Rahmân, banyak contoh hakikat saling membantu seperti ini langsung menunjukkan Rububiyah Yang Umum serta Penuh Kasih Sayang dari Rabbul Alamin, yang mengelola seluruh alam seperti istana.

Ya, para pembantu yang tidak hidup, tanpa kesadaran, serta tanpa kasih sayang, tetapi bersikap seolah-olah penuh kasih serta kesadaran terhadap satu sama lain, tentu dibuat berlari memberikan pertolongan melalui Kekuatan, Rahmat, serta Perintah Rabb Dzul-Jalâl Yang Sangat Rahîm dan Hakîm.

Saling membantu secara umum yang berlangsung dalam alam; keseimbangan umum serta penjagaan menyeluruh yang mengalir dengan keteraturan sempurna, dari planet sampai anggota, perangkat, serta zarah tubuh makhluk hidup; Penghiasan yang menggerakkan pena dari wajah langit yang bersepuh dan wajah bumi yang berhias sampai wajah bunga yang penuh hiasan; Penataan yang berkuasa dari Bimasakti dan tata surya sampai buah-buah seperti jagung dan delima; serta Pemberian tugas kepada matahari, bulan, unsur, awan, sampai lebah: kesaksian hakikat-hakikat yang sangat besar seperti ini, sebanding dengan kebesaran mereka, membuktikan serta membentuk sayap kedua kesaksian alam. Karena Risale-i Nur telah membuktikan serta menjelaskan kesaksian besar ini, di sini kami mencukupkan diri dengan isyarat sangat ringkas tersebut.

Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran iman yang musafir dunia ini terima dari alam, pada tingkatan kedelapan belas Bagian Pertama diucapkan demikian:

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻤُﻤْﺘَﻨِﻊُ ﻧَﻈ۪ﻴﺮُﻩُ ﺍَﻟْﻤُﻤْﻜِﻦُ ﻛُﻞُّ ﻣَﺎﺳِﻮَﺍﻩُ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪ۪ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮُ ﺍﻟْﻤُﺠَﺴَّﻢُ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﺠِﺴْﻤَﺎﻧِﻰُّ ﺍﻟْﻤُﻌَﻈَّﻢُ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﺼْﺮُ ﺍﻟْﻤُﺰَﻳَّﻦُ ﺍﻟْﻤُﻨَﻈَّﻢُ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻠَﺪُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺘَﺸَﻢُ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻢُ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺳُﻮَﺭِﻩ۪ ﻭَ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَ ﺣُﺮُﻭﻓِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺑْﻮَﺍﺑِﻪ۪ ﻭَ ﻓُﺼُﻮﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻُﺤُﻔِﻪ۪ ﻭَ ﺳُﻄُﻮﺭِﻩ۪ ﻭَ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺍَﺭْﻛَﺎﻧِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﻧْﻮَﺍﻋِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺟْﺰَﺍﺋِﻪ۪ ﻭَ ﺟُﺰْﺋِﻴَّﺎﺗِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻜَﻨَﺘِﻪ۪ ﻭَ مُشْتَمِلَاتِه۪ ﻭَ ﻭَﺍﺭِﺩَﺍﺗِﻪ۪ ﻭَ ﻣَﺼَﺎﺭِﻓِﻪ۪ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟْﺤُﺪُﻭﺙِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻐَﻴُّﺮِ ﻭَ الْاِمْكَانِ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻋِﻠْﻢِ الْكَلَامِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗَﺒْﺪ۪ﻳﻞِ ﺻُﻮﺭَﺗِﻪ۪ ﻭَ مُشْتَمِلَاتِه۪ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَ الْاِنْتِظَامِ ﻭَ ﺗَﺠْﺪ۪ﻳﺪِ ﺣُﺮُﻭﻓِﻪ۪ ﻭَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻪ۪ ﺑِﺎﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ ﻭَ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﺰَﺍﻥِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﻌَﺎﻭُﻥِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺠَﺎﻭُﺏِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺴَﺎﻧُﺪِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪَﺍﺧُﻞِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﺯَﻧَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺗِﻪ۪ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ.

Kemudian, musafir yang penuh keingintahuan serta kerinduan, yang datang ke dunia dan mencari Sang Pencipta dunia itu, melalui mikraj iman dari delapan belas tingkatan yang mencapai arasy hakikat, maju dari makrifat tanpa menyaksikan kepada kedudukan hadir serta disapa. Ia berkata kepada ruhnya sendiri:

Sebagaimana dalam Al-Fatihah yang mulia, dari awal sampai kata ﺍِﻳَّﺎﻙَ, pujian serta sanjungan dalam bentuk orang ketiga mendatangkan kesadaran hadir di hadapan⁠-⁠Nya, lalu beralih kepada sapaan ﺍِﻳَّﺎﻙَ; kita pun harus berhenti mencari dari jauh dan langsung bertanya kepada Zat yang kita cari mengenai Diri⁠-⁠Nya. Matahari yang memperlihatkan setiap hal harus ditanyakan kepada matahari sendiri. Ya, Yang memperlihatkan setiap hal memperlihatkan Diri⁠-⁠Nya lebih daripada setiap hal. Karena itu, sebagaimana melihat serta mengenali matahari melalui sinarnya, kita dapat berusaha mengenal Khâliq kita melalui Asmaulhusna serta Sifat-Sifat Suci⁠-⁠Nya, sesuai kemampuan kita.

Dalam risalah ini, kami akan menjelaskan secara ringkas serta singkat dua jalan dari jalan-jalan tak terbatas menuju tujuan tersebut; dua tingkatan dari tingkatan-tingkatan tak terbatas kedua jalan itu; serta hanya dua hakikat dari sangat banyak hakikat dan uraian panjang kedua tingkatan tersebut.

HAKIKAT PERTAMA:

Dengan menyaksikan langsung melalui mata, tampak hakikat Kegiatan yang memenuhi alam, meliputi segala, terus berlangsung, teratur, dahsyat, serta menggerakkan, mengubah, dan memperbarui seluruh wujud langit maupun bumi. Dalam hakikat Kegiatan yang penuh Hikmah dari setiap segi itu, hakikat Kemunculan Rububiyah dirasakan dengan jelas. Dalam hakikat Kemunculan Rububiyah yang menebarkan Rahmat dari setiap segi itu, hakikat Tampilnya Keilahian diketahui dengan pasti.

Dari Kegiatan yang terus berlangsung, berkuasa, serta penuh Hikmah ini, dan di balik tabirnya, Perbuatan Sang Pelaku Yang Qadîr serta Alîm dirasakan seolah-olah terlihat.

Dari Perbuatan Rabb yang memelihara serta mengelola ini, dan di balik tabirnya, Asma Ilahi yang Manifestasinya terdapat pada setiap hal diketahui dengan kejelasan sampai tingkat dapat dirasakan.

Dari Asmaulhusna yang bermanifestasi dengan Jalal serta Jamal ini, dan di balik tabirnya, Wujud serta terwujudnya Tujuh Sifat Suci dipahami pada tingkat ilmulyaqin, bahkan ainulyaqin, bahkan haqqulyaqin.

Melalui kesaksian seluruh ciptaan, ketujuh Sifat Suci tersebut bertajalli tanpa batas dengan Kehidupan, Kudrat, Ilmu, Pendengaran, Penglihatan, Kehendak, serta Firman. Karena itu, dengan jelas, pasti, serta ilmulyaqin, Wujud Zat Pemilik Sifat Yang Wâjibul Wujûd, Pemilik Asma Yang Wâhid lagi Ahad, serta Pelaku Yang Fard lagi Shamad, diketahui dengan pasti seolah-olah terlihat oleh mata iman dalam hati, dengan cara yang lebih nyata serta lebih terang daripada matahari.

Sebab, kitab yang indah dan bermakna, serta rumah yang teratur, dengan jelas menuntut perbuatan menulis serta membuat. Perbuatan menulis dengan indah serta membuat dengan teratur pun dengan jelas menuntut sebutan penulis dan tukang kayu. Gelar penulis serta tukang kayu dengan jelas menuntut seni dan sifat kepenulisan serta pertukangan. Seni dan sifat tersebut tentu dengan jelas menuntut seseorang sebagai pemilik sifat, pembuat, pemilik sebutan, serta pelaku. Sebagaimana perbuatan tidak mungkin ada tanpa pelaku, dan nama tidak mungkin ada tanpa pemilik nama, sifat tanpa pemilik sifat, serta seni tanpa seniman, juga tidak mungkin ada.

Berdasarkan hakikat serta kaidah ini, alam bersama seluruh wujudnya seperti kitab serta surat bermakna yang tiada batas, yang ditulis dengan pena Takdir; juga bangunan dan istana yang tiada akhir, yang dibuat dengan palu Kudrat. Masing-masing dari ribuan segi, dan bersama dari segi-segi tak terbatas, menunjukkan Perbuatan Rabb serta Ar-Rahmân yang tiada akhir; melalui Manifestasi tak terbatas dari seribu satu Asma Ilahi yang menjadi sumber Perbuatan itu, serta tajalli tiada akhir dari Tujuh Sifat Yang Mahasuci yang menjadi sumber Asma indah tersebut, mereka memberikan isyarat tak terbatas serta kesaksian tiada akhir atas keniscayaan Wujud dan Keesaan Zat Dzul-Jalâl Yang Azali dan Abadi, yang menjadi sumber serta Pemilik ketujuh Sifat yang meliputi segala dan suci itu. Demikian pula, seluruh keelokan, keindahan, nilai, serta kesempurnaan pada segala yang ada bersaksi dengan jelas atas Keindahan dan Kesempurnaan Suci Perbuatan Rabb, Asma Ilahi, Sifat Sang Shamad, serta Syuun Yang Mahasuci, yang layak dan sesuai bagi masing-masing; semuanya bersama bersaksi atas Keindahan serta Kesempurnaan Suci Zat Yang Mahasuci.

Hakikat Rububiyah yang muncul dalam hakikat Kegiatan memperlihatkan serta memperkenalkan Diri⁠-⁠Nya melalui Syuun dan Pengelolaan⁠-⁠Nya: menciptakan, mewujudkan, membuat, serta menciptakan pertama kali dengan Ilmu dan Hikmah; menetapkan ukuran, membentuk rupa, mengatur, serta menggerakkan dengan tatanan dan ukuran; mengubah, mengganti, menurunkan, serta menyempurnakan dengan Maksud dan Kehendak; memberi makan, memberi anugerah, memperlakukan dengan mulia, serta memberi kebaikan dengan Kasih Sayang dan Rahmat.

Hakikat Tampilnya Keilahian yang ditemukan serta dirasakan dengan jelas dalam hakikat Kemunculan Rububiyah pun memperkenalkan dan memberitahukan Diri⁠-⁠Nya melalui Manifestasi Asmaulhusna yang penuh Rahmat serta Kemuliaan; juga tajalli Jalal dan Jamal dari tujuh Sifat Subutiyah: Hayat (Kehidupan), Ilmu, Kudrat, Iradah (Kehendak), Sam' (Pendengaran), Basar (Penglihatan), serta Kalam (Firman).

Ya, sebagaimana Sifat Kalam memperkenalkan Zat Yang Mahasuci melalui wahyu serta ilham, demikian pula, Sifat Kudrat memperkenalkan Zat Yang Mahasuci itu melalui karya-karya penuh seni, yang seperti kata-kata⁠-⁠Nya dalam rupa nyata. Ia memperlihatkan seluruh alam seperti Al-Furqan dalam rupa jasmani, serta melukiskan dan memperkenalkan Sang Qadîr Dzul-Jalâl.

Sifat Ilmu pun memperkenalkan satu Zat Yang Mahasuci, Pemilik Sifat itu, sebanyak seluruh ciptaan yang penuh Hikmah, teratur, serta terukur; dan sebanyak seluruh makhluk yang dikelola, diatur, dihiasi, serta dibedakan melalui Ilmu.

Adapun Sifat Hayat, seluruh karya yang memperkenalkan Kudrat; seluruh rupa serta keadaan yang teratur, penuh Hikmah, terukur, dan berhias, yang memperkenalkan Wujud Ilmu; serta seluruh dalil yang memperkenalkan Sifat lainnya, bersama dalil-dalil Sifat Hayat, menunjukkan terwujudnya Sifat Hayat. Demikian pula, melalui seluruh dalil tersebut, Hayat memperlihatkan seluruh makhluk hidup, cermin-cerminnya, sebagai saksi, lalu memperkenalkan Zat Yang Hayy lagi Qayyûm.

Ia mengubah seluruh alam menjadi cermin agung yang terdiri atas cermin-cermin tak terbatas, yang selalu berubah dan diperbarui, untuk memperlihatkan Manifestasi serta ukiran baru dan berbeda setiap waktu. Dengan perbandingan ini, Sifat Melihat, Mendengar, Memilih, serta Berfirman pun masing-masing memperkenalkan serta memberitahukan Zat Yang Mahasuci sebanyak satu alam.

Sebagaimana Sifat-Sifat itu menunjukkan Wujud Zat Dzul-Jalâl, mereka juga menunjukkan dengan jelas adanya serta terwujudnya Hayat, dan bahwa Zat itu Hidup. Sebab, mengetahui merupakan tanda kehidupan; mendengar tanda hidup; melihat khusus bagi yang hidup; kehendak dapat ada melalui kehidupan; daya yang disertai pilihan terdapat pada makhluk hidup; dan berbicara merupakan perbuatan dari yang hidup serta mengetahui.

Dari pokok-pokok ini dapat dipahami bahwa Sifat Hayat memiliki dalil-dalil sebesar alam sebanyak tujuh kali, serta bukti-bukti yang memperkenalkan Wujud Sifat Hayat itu sendiri dan Wujud Pemilik Sifat itu. Ia menjadi dasar serta sumber seluruh Sifat, juga sumber dan tempat tertujunya Ismul A'zham. Karena Risale-i Nur telah membuktikan hakikat pertama ini melalui bukti-bukti yang kuat serta menjelaskannya sedikit, untuk sementara kami mencukupkan diri dengan tetes yang telah disebut dari lautan ini.

HAKIKAT KEDUA:

Firman Ilahi yang berasal dari Sifat Kalam. Melalui rahasia ayat

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮُ ﻣِﺪَﺍﺩًﺍ ﻟِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺭَﺑّ۪ﻰ,

Firman Ilahi tiada akhir. Tanda paling nyata yang memperkenalkan adanya seseorang ialah perkataannya. Berarti, hakikat ini bersaksi tanpa batas atas Wujud serta Keesaan Zat Yang Berfirman Sejak Azali.

Dua kesaksian kuat dari hakikat ini datang melalui wahyu serta ilham, yang telah dijelaskan pada tingkatan keempat belas dan kelima belas risalah ini; satu kesaksian luas datang melalui kitab-kitab suci dari langit, yang diisyaratkan pada tingkatan kesepuluh; serta kesaksian lain yang sangat terang dan menyeluruh datang melalui Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, pada tingkatan ketujuh belas. Karena itu, kami menyerahkan penjelasan serta kesaksian hakikat ini kepada tingkatan-tingkatan tersebut. Cahaya serta rahasia ayat yang sangat agung, yang mengumumkan hakikat ini dengan cara yang bermukjizat dan mengungkapkan kesaksiannya bersama kesaksian hakikat-hakikat lain,

ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَ ﺍُﻭﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَٓﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ,

telah mencukupi serta memadai bagi musafir kita ini, sehingga ia tidak dapat maju lebih jauh.

Sebagai isyarat ringkas kepada makna pelajaran yang musafir ini terima dari kedudukan suci tersebut, pada tingkatan kesembilan belas Bagian Pertama diucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﻟَﻪُ الْاَسْمَاءُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺼِّﻔَﺎﺕُ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪ۪ ﺍَﻟﺬَّﺍﺕُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺻِﻔَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤ۪ﻴﻄَﺔِ ﻭَ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍَﺳْﻤَﺎﺋِﻪِ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﺍَﻟْﻤُﺘَﺠَﻠِّﻴَّﺔِ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺷُﺆُﻧَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﻓْﻌَﺎﻟِﻪِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺼَﺮِّﻓَﺔِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗَﺒَﺎﺭُﺯِ الْاُلُوهِيَّةِ ﻓ۪ﻰ ﺗَﻈَﺎﻫُﺮِ ﺍﻟﺮُّﺑُﻮﺑِﻴَّﺔِ ﻓ۪ﻰ ﺩَﻭَﺍﻡِ ﺍﻟْﻔَﻌَّﺎﻟِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻮْﻟِﻴَﺔِ ﺑِﻔِﻌْﻞِ الْا۪يجَادِ ﻭَ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻭَ ﺍﻟﺼُّﻨْﻊِ ﻭَ الْاِبْدَاعِ ﺑِﺎِﺭَﺍﺩَﺓٍ ﻭَ ﻗُﺪْﺭَﺓٍ ﻭَ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﺘَّﻘْﺪ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺼْﻮ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﻭ۪ﻳﺮِ ﺑِﺎِﺧْﺘِﻴَﺎﺭٍ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﺘَّﺼْﺮ۪ﻳﻒِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﻈ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﻭَ الْاِعَاشَةِ ﺑِﻘَﺼْﺪٍ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ الْاِنْتِظَامِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﺯَﻧَﺔِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِ

- ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَ ﺍُﻭﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَٓﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ.

PERINGATAN

Setiap hakikat yang memberikan kesaksian dalam sembilan belas tingkatan Bab Pertama dari Bagian Kedua sebelumnya menunjukkan keniscayaan Wujud melalui terwujud serta adanya hakikat itu. Melalui lingkupnya yang meliputi segala, masing-masing juga menunjukkan Keesaan serta Ahadiyah. Namun, karena paling awal hakikat-hakikat itu membuktikan Wujud dengan jelas, mereka dianggap sebagai dalil keniscayaan Wujud.

Adapun Bab Kedua dari Bagian Kedua disebut bukti-bukti tauhid, karena paling awal serta dengan jelas membuktikan Keesaan, dan di dalamnya membuktikan Wujud. Sebenarnya, keduanya membuktikan kedua hal tersebut. Untuk mengisyaratkan perbedaannya, dalam Bab Pertama diulang ungkapan

ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ;

dan dalam Bab Kedua, untuk mengisyaratkan munculnya Keesaan seolah-olah terlihat, diulang ungkapan

ﺑِﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ.

Aku berniat menjelaskan tingkatan-tingkatan Bab Kedua berikut seperti Bab Pertama. Namun, karena beberapa keadaan menghalangi, aku terpaksa meringkas serta menyingkatnya. Kami menyerahkan penjelasan yang sepenuhnya kepada Risale-i Nur.

BAB KEDUA

Mengenai Bukti-Bukti Tauhid

Tamu dunia, yang dikirim ke dunia untuk iman, berkelana dengan pikiran dalam seluruh kainat, bertanya kepada setiap hal mengenai Khâliq-nya, mencari Rabbnya di setiap tempat, dan menemukan Ilahnya dari segi keniscayaan Wujud pada tingkat haqqulyaqin, berkata kepada akalnya, "Mari, kita akan kembali melakukan perjalanan bersama untuk menyaksikan bukti-bukti Keesaan Khâliq kita, Wâjibul Wujûd."

Mereka pergi bersama. Pada tempat pertama, mereka melihat bahwa empat hakikat suci yang meliputi kainat menuntut serta mengharuskan Keesaan sampai tingkat yang jelas dengan sendirinya.

HAKIKAT PERTAMA:

"KEILAHIAN MUTLAK".

Ya, setiap kelompok manusia menjalankan suatu jenis ibadah, seolah-olah secara fitri; khidmah fitri makhluk hidup lainnya, bahkan benda-benda tak hidup, juga merupakan suatu jenis ibadah. Setiap nikmat serta anugerah materi maupun maknawi dalam kainat merupakan sarana untuk pemujaan dan syukur, yang membuat pujian serta ibadah dijalankan bagi Zat Yang Berhak Disembah. Seluruh limpahan gaib serta kemunculan maknawi, seperti wahyu dan ilham, mengumumkan bahwa satu Ilah berhak disembah. Semua ini tentu membuktikan dengan jelas bahwa Keilahian Mutlak terwujud serta berkuasa.

Karena hakikat Keilahian seperti ini ada, tentu ia tidak dapat menerima persekutuan. Sebab, mereka yang menyambut Keilahian, yakni Hak Untuk Disembah, melalui syukur serta ibadah, merupakan buah-buah yang memiliki kesadaran pada ujung pohon kainat. Pihak lain membuat makhluk-makhluk yang memiliki kesadaran itu puas serta berutang budi, mengarahkan wajah mereka kepada pihak tersebut, dan membuat mereka melupakan Ma'bûd sejatinya, yang dapat cepat dilupakan karena tidak terlihat. Hal ini begitu bertentangan dengan hakikat serta Tujuan-Tujuan Suci Keilahian sehingga ia tidak mengizinkannya dari segi apa pun.

Dari segi inilah Al-Qur'an sangat sering serta tegas menolak syirik dan mengancam kaum musyrik dengan neraka.

HAKIKAT KEDUA:

"RUBUBIYAH MUTLAK".

Ya, dalam seluruh kainat, terutama makhluk hidup, khususnya pemeliharaan serta pemberian makanan mereka, terdapat Pengelolaan yang umum oleh Sang Pengelola Yang Gaib, dengan penuh Hikmah serta Kasih Sayang, dalam cara yang sama di setiap sisi, secara bersamaan dan saling terjalin, serta dengan cara yang tidak diduga. Tentu, Pengelolaan itu merupakan limpahan serta cahaya Rububiyah Mutlak, dan bukti pasti bahwa Rububiyah itu terwujud.

Karena Rububiyah Mutlak ada, tentu ia tidak menerima syirik maupun persekutuan. Sebab, Tujuan-Tujuan serta Maksud-Maksud terpenting Rububiyah—seperti menampakkan Keindahan⁠-⁠Nya, mengumumkan Kesempurnaan⁠-⁠Nya, menampilkan Seni⁠-⁠Nya yang berharga, serta memperlihatkan Kemahiran⁠-⁠Nya yang tersembunyi—terpusat dan berkumpul pada yang kecil serta makhluk hidup. Syirik yang ikut campur atas kemauannya sendiri dalam sesuatu yang paling kecil serta makhluk hidup terkecil merusak Tujuan-Tujuan itu serta menghancurkan Maksud-Maksud tersebut. Syirik mengalihkan wajah makhluk yang memiliki kesadaran dari Tujuan-Tujuan itu serta Zat yang menghendakinya, lalu mengarahkan mereka kepada sebab-sebab. Keadaan ini sepenuhnya bertentangan serta bermusuhan dengan hakikat Rububiyah. Karena itu, Rububiyah Mutlak seperti ini tentu tidak mengizinkan syirik dari segi apa pun.

Banyak takdis serta tasbih Al-Qur'an, dan bimbingannya yang terus-menerus kepada tauhid melalui ayat dan kata, bahkan huruf serta susunannya, berasal dari rahasia besar ini.

HAKIKAT KETIGA:

"KESEMPURNAAN".

Ya, seluruh Hikmah luhur, keindahan menakjubkan, hukum yang adil, serta tujuan yang penuh Hikmah dalam kainat menunjukkan dengan jelas adanya hakikat kesempurnaan. Terutama, kesaksiannya atas Kesempurnaan Khâliq yang menciptakan kainat ini dari keadaan tidak ada serta mengelolanya dalam rupa yang penuh mukjizat dan keindahan dari setiap segi; juga atas kesempurnaan manusia, cermin Khâliq yang memiliki kesadaran, sangat nyata.

Karena hakikat kesempurnaan ada; karena Kesempurnaan Khâliq yang menciptakan kainat dalam kesempurnaan adalah pasti; dan karena kesempurnaan manusia—buah terpenting kainat, khalifah bumi, ciptaan Khâliq yang paling penting, serta kekasih⁠-⁠Nya—benar dan sesuai hakikat;

tentu syirik tidak dapat ada dan tidak memiliki kebenaran. Sebab, syirik mengubah kainat yang penuh kesempurnaan serta Hikmah, yang terlihat oleh mata kita ini, menjadi sesuatu yang terombang-ambing dalam keadaan fana serta lenyap, tanpa hasil: mainan kebetulan, arena permainan alam, tempat penyembelihan yang kejam bagi makhluk hidup, serta tempat kesedihan yang dahsyat bagi makhluk yang memiliki kesadaran. Syirik juga menurunkan manusia, yang kesempurnaannya tampak melalui hasil-hasilnya, kepada derajat hewan paling malang, paling kacau, serta paling rendah; dan menutupi Kesempurnaan Khâliq, yang memiliki Kesempurnaan Suci tanpa akhir melalui kesaksian seluruh wujud, cermin Kesempurnaan⁠-⁠Nya. Dengan memasang tabir, syirik meniadakan hasil Kegiatan serta Penciptaan⁠-⁠Nya.

Pertentangan syirik terhadap Kesempurnaan Ilahi, kesempurnaan manusia, serta kesempurnaan kainat, dan perusakannya terhadap semua kesempurnaan tersebut, telah dibuktikan dan dijelaskan melalui dalil-dalil kuat serta pasti dalam Bagian Pertama Risalah Sinar Kedua, mengenai tiga buah tauhid. Karena itu, kami menyerahkannya kepada bagian tersebut dan menyingkat di sini.

HAKIKAT KEEMPAT:

"KEKUASAAN".

Ya, orang yang memandang kainat dengan perhatian luas melihatnya seperti negeri yang sangat megah serta penuh kegiatan, bahkan kota yang pengelolaannya penuh Hikmah dan kekuasaannya sangat kuat. Ia mendapati setiap hal serta setiap jenis ditundukkan dalam suatu tugas. Menurut perumpamaan ayat

ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺟُﻨُﻮﺩُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ,

yang memberi kesan makna keprajuritan, dalam pasukan Rabb—dari pasukan zarah, divisi tumbuhan, batalion hewan, sampai pasukan bintang—pada petugas-petugas kecil serta prajurit-prajurit sangat besar itu berlaku Perintah Penciptaan yang Berkuasa, Ketetapan yang Memerintah, serta Hukum Kerajaan. Semua itu menunjukkan dengan jelas adanya Kekuasaan Mutlak serta Wewenang Perintah Yang Menyeluruh.

Karena hakikat Kekuasaan Mutlak ada, tentu syirik tidak dapat memiliki kebenaran. Sebab, melalui hakikat pasti ayat

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ,

jika banyak tangan ikut campur dalam suatu pekerjaan dengan tindakan sewenang-wenang, mereka membuatnya kacau. Jika terdapat dua raja dalam suatu negeri, bahkan dua kepala distrik dalam satu distrik, keteraturan rusak serta pengelolaan menjadi kacau. Padahal, dari sayap lalat sampai lampu-lampu langit, dan dari sel-sel tubuh sampai gugusan planet, terdapat keteraturan sedemikian rupa sehingga tidak dapat terjadi campur tangan syirik sebesar zarah.

Kekuasaan juga merupakan kedudukan kemuliaan; menerima saingan merusak kemuliaan Kekuasaan tersebut. Ya, manusia, yang membutuhkan banyak pembantu karena tak berdaya, membunuh saudara serta anaknya sendiri dengan zalim demi kekuasaan yang terbatas, lahiriah, serta sementara. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak menerima saingan. Jika orang yang begitu tidak berdaya bertindak demikian demi kekuasaan yang begitu terbatas; tentu sama sekali tidak mungkin Sang Qadîr Mutlak, Pemilik seluruh kainat, menyertakan pihak lain dalam Kekuasaan Suci⁠-⁠Nya, yang menjadi tempat tertujunya Rububiyah serta Keilahian⁠-⁠Nya yang hakiki dan menyeluruh, ataupun mengizinkan sekutu.

Karena hakikat ini telah dibuktikan melalui dalil-dalil kuat dalam Bagian Kedua Sinar Kedua serta banyak tempat dalam Risale-i Nur, kami menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut.

Dengan menyaksikan keempat hakikat ini, musafir kita mengetahui Keesaan Ilahi sampai tingkat menyaksikan langsung, dan imannya menjadi terang. Dengan seluruh dayanya, ia mengucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُٔ.

Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran yang diterimanya dari tempat tersebut, dalam bab kedua Bagian Pertama diucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗَﺒَﺎﺭُﺯِ الْاُلُوهِيَّةِ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻘَﺔِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗَﻈَﺎﻫُﺮِ ﺍﻟﺮُّﺑُﻮﺑِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻘْﺘَﻀِﻴَّﺔِ ﻟِﻠْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ الْكَمَالَاتِ ﺍﻟﻨَّﺎﺷِﺌَﺔِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺎﻛِﻤِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺎﻧِﻌَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻴَﺔِ ﻟِﻠﺸِّﺮْﻛَﺔِ.

Kemudian tamu yang tidak pernah tenang itu berkata kepada hatinya, "Para ahli iman, terutama pengikut tarekat, selalu mengulang

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّاهُوَ,

mengingat serta mengumumkan tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa tauhid memiliki sangat banyak tingkatan. Tauhid juga merupakan tugas suci yang paling penting, paling manis, serta paling luhur; kewajiban fitri; dan ibadah iman. Karena itu, mari kita membuka pintu tempat lain dalam rumah pelajaran ini untuk menemukan satu tingkatan lagi."

Sebab, tauhid hakiki yang kita cari bukan hanya makrifat berupa gambaran pikiran. Sebaliknya, ia merupakan pembenaran, yang dalam ilmu mantik berhadapan dengan gambaran pikiran, jauh lebih berharga daripada pengetahuan berupa gambaran, merupakan hasil bukti, dan disebut ilmu.

Tauhid hakiki berarti menetapkan, membenarkan, mengakui, serta menerima sedemikian rupa sehingga seseorang dapat menemukan Rabbnya melalui setiap hal, melihat jalan menuju Khâliq-nya dalam setiap hal, dan tidak ada sesuatu yang menghalangi kesadaran hadir di hadapan⁠-⁠Nya. Jika tidak, untuk menemukan Rabbnya, ia harus setiap waktu merobek serta membuka tabir kainat. Dengan berkata, "Kalau demikian, mari maju!", ia mengetuk pintu Kebesaran serta Keagungan, masuk ke tempat Perbuatan dan karya, juga alam penciptaan serta penciptaan pertama, lalu melihat: lima hakikat yang meliputi segala berkuasa dalam seluruh kainat, serta membuktikan tauhid dengan jelas.