Risale-i NurSinar-Sinar

HAKIKAT PERTAMA

Sinar-Sinar · hlm. 169

Yaitu tampaknya hakikat aktivitas yang menguasai — hakikat yang terlihat dengan mata kepala kita, yang meliputi segalanya, terus-menerus, teratur, dahsyat, samawi lagi arzi, yang memutar, mengganti, dan memperbarui seluruh yang ada serta menyelimuti kainat; lalu terasanya dengan sangat nyata hakikat tampaknya rububiyah di dalam hakikat aktivitas yang dari segala sisi berporos pada hikmah itu; dan diketahuinya secara pasti hakikat menonjolnya keilahian di dalam hakikat tampaknya rububiyah yang dari segala sisi menaburkan rahmat itu.

Maka dari aktivitas yang terus-menerus, yang penuh kekuasaan dan penuh hikmah ini, serta dari balik tabir yang menutupinya, perbuatan-perbuatan Sang Pelaku Yang Qadîr lagi Alîm terasa seakan-akan terlihat.

Dan dari perbuatan-perbuatan Rabbani yang mendidik dan mengatur ini, serta dari balik tabir yang menutupinya, asma Ilahi yang memiliki manifestasi pada segala sesuatu diketahui dengan sangat nyata, sampai ke derajat dapat dirasakan.

Dan dari asma yang husna yang bermanifestasi dengan penuh jalal dan penuh cinta kepada keindahan ini, serta dari balik tabir yang menutupinya, dipahamilah wujud dan kenyataan tujuh sifat suci-Nya pada derajat ilmul yakin, bahkan ainul yakin, bahkan haqqul yakin.

Dan tujuh sifat suci ini pun, dengan kesaksian seluruh ciptaan dan dengan manifestasi yang tak terhingga — yang hidup, yang berkuasa, yang mengetahui, yang mendengar, yang melihat, yang berkehendak, dan yang berfirman — membuat keberadaan Zat pemilik sifat Yang Wâjibul Wujûd, Zat pemilik nama Yang Wâhid lagi Ahad, dan Zat pelaku Yang Tunggal lagi Shamad itu diketahui secara pasti dengan sangat nyata, secara mesti, dan dengan ilmul yakin; lebih terang dan lebih cemerlang daripada matahari, seakan-akan terlihat langsung oleh mata iman di dalam hati.

Sebab, sebuah kitab yang indah lagi penuh makna dan sebuah rumah yang tertata rapi dengan sangat nyata mengharuskan adanya perbuatan menulis dan membangun; perbuatan menulis dengan indah dan membangun dengan teratur itu pun dengan sangat nyata mengharuskan adanya nama penulis dan tukang bangunan; sedangkan gelar penulis dan tukang bangunan dengan sangat nyata mengharuskan adanya seni menulis dan seni pertukangan beserta sifat-sifatnya; dan seni serta sifat ini dengan sangat nyata pasti mengharuskan adanya suatu zat yang disifati, yang membuat, yang bernama, dan yang berbuat. Sebagaimana perbuatan tanpa pelaku dan nama tanpa pemilik nama itu mustahil, demikian pula sifat tanpa yang disifati dan seni tanpa seniman pun mustahil.

Maka berdasarkan hakikat dan kaidah ini, kainat ini beserta seluruh yang ada di dalamnya — yang berkedudukan sebagai kitab-kitab dan surat-surat tak terhingga yang penuh makna, yang ditulis dengan pena takdir, serta bangunan-bangunan dan istana-istana tak berujung yang dibangun dengan palu kudrat — masing-masing dengan ribuan segi dan seluruhnya sekaligus dengan segi yang tak terhingga, memberikan isyarat tak terhingga dan kesaksian tak berujung atas wujud yang wajib ada dan atas kesatuan Zat Dzul-Jalâl Yang Azali lagi Kekal Selamanya, yaitu Zat yang menjadi tambang dan pemilik tujuh sifat suci yang meliputi segala sesuatu itu; hal itu terjadi melalui perbuatan-perbuatan Rabbani dan Rahmani yang tak terhingga, melalui manifestasi tak terhingga dari seribu satu asma Ilahi yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan itu, dan melalui tajalli tak berujung dari tujuh sifat Subhani yang menjadi mata air asma yang indah itu. Demikian pula, seluruh kebagusan, keindahan, nilai, dan kesempurnaan yang terdapat pada segala yang ada itu dengan sangat nyata bersaksi atas keindahan dan kesempurnaan suci yang layak lagi sesuai bagi perbuatan-perbuatan Rabbani, asma Ilahi, sifat-sifat Shamadani, dan syuunat Subhani; dan semuanya sekaligus bersaksi atas keindahan dan kesempurnaan suci Zat Yang Mahasuci.

Maka hakikat rububiyah yang tampak di dalam hakikat aktivitas itu memperlihatkan dan memperkenalkan diri-Nya melalui syuunat dan tasarruf-Nya, seperti: menciptakan, mengadakan, membuat, dan memulai penciptaan dengan ilmu dan hikmah; menentukan, membentuk, mengatur, dan memutar dengan keteraturan dan timbangan; mengubah, mengganti, menurunkan, dan menyempurnakan dengan maksud dan kehendak; serta memberi makan, memberi nikmat, memuliakan, dan menganugerahkan dengan kasih sayang dan rahmat.

Dan hakikat menonjolnya keilahian — yang dengan sangat nyata dirasakan dan didapati di dalam hakikat tampaknya rububiyah itu — pun memperkenalkan dan memberitahukan diri-Nya melalui manifestasi Asmaul Husna yang penuh rahmat lagi penuh kemuliaan, dan melalui tajalli yang penuh jalal dan penuh jamal dari tujuh sifat tsubutiyah, yaitu sifat Hayat, Ilmu, Kudrat, Iradat, Sama', Basar, dan Kalam.

Ya, sebagaimana sifat Kalam memperkenalkan Zat Yang Mahasuci melalui wahyu-wahyu dan ilham-ilham, demikian pula sifat Kudrat memberitahukan Zat Yang Mahasuci itu melalui karya-karya-Nya yang penuh seni, yang berkedudukan sebagai kalimat-kalimat yang berwujud nyata; ia memperlihatkan kainat dari ujung ke ujung sebagai sebuah Furqan yang berwujud jasmani, lalu menyifati dan memperkenalkan Sang Qadîr Dzul-Jalâl.

Dan sifat Ilmu pun memberitahukan satu-satunya Zat Yang Mahasuci — Zat yang disifati dengan sifat itu — sebanyak seluruh ciptaan yang penuh hikmah, teratur, lagi seimbang, dan sebanyak seluruh makhluk yang diatur, ditata, dihias, dan dibedakan satu sama lain dengan ilmu.

Adapun sifat Hayat: sebagaimana seluruh karya yang memberitahukan kudrat, seluruh bentuk dan keadaan yang teratur, penuh hikmah, seimbang, lagi berhias yang memberitahukan adanya ilmu, serta seluruh dalil yang memberitahukan sifat-sifat lainnya — beserta dalil-dalil sifat hayat itu sendiri — menunjukkan nyatanya sifat hayat,

demikian pula hayat, dengan seluruh dalil itu, memberitahukan Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dengan menghadirkan seluruh makhluk hidup yang menjadi cermin-cermin-Nya sebagai saksi.

Dan ia mengubah kainat dari ujung ke ujung menjadi sebuah cermin terbesar yang senantiasa berganti dan diperbarui serta tersusun dari cermin-cermin yang tak terhingga, agar setiap waktu memperlihatkan manifestasi dan ukiran yang selalu baru lagi berbeda-beda. Demikian pula, dengan perbandingan ini, sifat melihat dan mendengar, memilih dan berfirman pun masing-masing memberitahukan dan memperkenalkan Zat Yang Mahasuci seluas satu kainat.

Selain itu, sebagaimana sifat-sifat itu menunjukkan adanya Zat Dzul-Jalâl, ia pun dengan sangat nyata menunjukkan adanya dan nyatanya hayat, serta menunjukkan bahwa Zat itu memiliki hayat lagi Mahahidup. Sebab, mengetahui adalah tanda hayat; mendengar adalah bukti kehidupan; melihat khusus bagi yang hidup; kehendak hanya dapat ada bersama hayat; kuasa yang disertai pilihan hanya terdapat pada makhluk hidup; sedangkan berbicara adalah pekerjaan makhluk hidup yang mengetahui.

Maka dari poin-poin inilah dipahami bahwa sifat hayat memiliki dalil sebanyak tujuh kali kainat serta burhan-burhan yang memberitahukan adanya sifat itu sendiri dan adanya Zat yang disifati; sehingga sifat hayat menjadi dasar dan mata air seluruh sifat, serta menjadi sumber dan poros Ismul A'zham. Karena Risale-i Nur telah membuktikan hakikat pertama ini dengan burhan-burhan yang kuat dan menjelaskannya sampai batas tertentu, maka untuk saat ini kami mencukupkan diri dengan setetes yang telah disebutkan dari lautan ini.