Risalah Nur — Bahasa Indonesia

POKOK KEDUA:

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

POKOK KEDUA:

Seluruh kitab samawi serta suhuf, terutama Al-Qur’an, dan seluruh nabi aleyhimüsselâm, terutama Muhammad ﷺ, memusatkan seluruh ajaran mereka pada lima atau enam dasar. Mereka terus berusaha mengajarkan serta membuktikan dasar-dasar itu. Seluruh dalil serta bukti yang bersaksi atas kenabian serta kebenaran mereka mengarah kepada dasar-dasar tersebut dan memperkuat kebenarannya. Dasar-dasar itu ialah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, iman kepada akhirat, serta iman kepada rukun-rukun lainnya.

Jadi, enam rukun iman tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Setiap rukun membuktikan, menuntut, serta mengharuskan seluruhnya. Keenamnya merupakan suatu keseluruhan yang menyeluruh, yang tidak menerima pemecahan dan tidak mungkin dibagi. Sebagaimana pohon Tuba yang akarnya di langit, setiap cabang, buah, serta daunnya bersandar pada kehidupan menyeluruh dan tidak habis dari pohon besar itu. Orang yang tidak dapat mengingkari kehidupan yang kuat serta terang seperti matahari itu tidak dapat mengingkari kehidupan satu daun yang terhubung kepadanya. Jika ia melakukannya, pohon tersebut akan mendustakan serta membungkamnya sebanyak cabang, buah, dan daunnya. Demikian pula keadaan iman dengan enam rukunnya.

Pada awal bagian ini, telah diniatkan untuk menjelaskan enam rukun iman dalam tiga puluh enam butir hikmah, melalui enam pokok, dan setiap pokok lima butir hikmah. Aku hendak menjawab dengan penjelasan pertanyaan dahsyat pada awal. Namun, sebagian gangguan tidak memberi kesempatan. Aku memperkirakan, karena Pokok Pertama merupakan ukuran yang cukup, orang-orang yang lebih cerdas tidak lagi membutuhkan penjelasan tambahan. Telah dipahami sepenuhnya bahwa jika seorang Muslim mengingkari satu hakikat iman, ia jatuh ke dalam kekufuran mutlak.

Sebab, dibandingkan ringkasan agama-agama lain, Islam memberikan penjelasan lengkap, dan rukun-rukunnya saling terangkai. Seorang Muslim yang tidak mengenal serta membenarkan Muhammad ﷺ juga tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ dengan Sifat-Sifat⁠-⁠Nya, dan tidak mengetahui akhirat. Iman seorang Muslim bersandar pada dalil-dalil tak terhitung yang begitu kuat dan tidak terguncang, sehingga tidak tersisa alasan untuk mengingkari. Seakan-akan akal harus menerimanya.

POKOK KETIGA:

Suatu ketika, aku mengucapkan ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ. Aku mencari nikmat yang dapat menanggapi maknanya yang luas tanpa batas. Tiba-tiba, kalimat ini terlintas:

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻰ الْا۪يمَانِ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺻِﻔَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَﺍَﺳْﻤَﺎﺋِﻪ۪ ﺣَﻤْﺪًﺍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺗَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺍَﺳْﻤَﺎﺋِﻪ۪ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ

Aku melihat bahwa hal itu sepenuhnya sesuai. Demikian:...

PERSOALAN KESEPULUH

Emirdağı Çiçeği (Bunga Emirdağı)

Merupakan jawaban sangat kuat terhadap keberatan mengenai pengulangan dalam Al-Qur’an.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Memang, karena keadaanku yang kacau, persoalan ini menjadi kurang teratur serta tanpa kelembutan ungkapan. Namun, di bawah ungkapan yang kurang teratur itu, aku mengetahui dengan pasti suatu jenis sifat bermukjizat yang sangat berharga. Sayang sekali, aku tidak mampu mengungkapkannya. Meskipun ungkapannya redup, karena berhubungan dengan Al-Qur’an, ia merupakan ibadah perenungan serta kerang bagi permata yang suci, tinggi, dan terang. Pandanglah berlian di tangannya, bukan pakaiannya yang robek.

Aku juga menulisnya dalam keadaan sangat sakit, kacau, serta tanpa makanan, selama satu atau dua hari Ramadan. Karena terpaksa, aku menulis sangat padat serta singkat, menghimpun banyak hakikat dan berbagai dalil dalam satu kalimat. Mohon dimaklumi. (Catatan kaki: Sebagai Persoalan Kesepuluh bagi buah Penjara Denizli, ia merupakan bunga kecil bercahaya dari Emirdağı serta Ramadan mulia ini. Dengan menjelaskan satu hikmah pengulangan Al-Qur’an, ia menghilangkan anggapan-anggapan keliru yang busuk dan beracun orang-orang yang sesat.)

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Ketika membaca Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya pada Ramadan mulia, setiap kali datang salah satu dari tiga puluh tiga ayat yang isyaratnya kepada Risale-i Nur dijelaskan dalam Sinar Pertama, aku melihat bahwa halaman, lembaran, serta kisah ayat itu juga sampai tingkat tertentu mengarah kepada Risale-i Nur dan murid-muridnya, dari segi mengambil pelajaran dari kisah. Khususnya, sebagaimana Âyetü'n-Nur dari Surah Nur menunjuk dengan sepuluh jari kepada Risale-i Nur, Âyet-i Zulümat setelahnya juga tepat mengarah kepada para penentangnya dan memberi bagian lebih besar. Aku merasakan bahwa bagian tersebut seakan-akan berubah dari lingkup juz'i menjadi menyeluruh; pada abad ini, salah satu contoh lengkap dari yang menyeluruh itu ialah Risale-i Nur serta murid-muridnya.

Ya, Sapaan Al-Qur’an memperoleh sifat luas dan luhur, serta cakupan dari kedudukan luas Rububiyah Umum Sang Mutakallim Yang Azali; dari kedudukan luas pribadi penerima Sapaan ﷺ atas nama umat manusia, bahkan kainat; dari kedudukan sangat luas pembimbingan seluruh keturunan Adam dalam segala abad; serta dari kedudukan luas penjelasan Hukum-Hukum Ilahi yang sangat tinggi dan meliputi semuanya, mengenai dunia serta akhirat, bumi serta langit, azali serta abadi, Rububiyah Khâliq kainat, dan Pengaturan seluruh makhluk. Karena itu, Sapaan tersebut memperlihatkan sifat bermukjizat serta cakupan yang begitu tinggi, sehingga bahkan tingkatnya yang lahir dan sederhana, yang menyentuh pemahaman sederhana kaum awam, kelompok terbesar penerima pelajaran Al-Qur’an, juga memberi bagian lengkap kepada lapisan yang paling tinggi.

Seakan-akan, kisah itu memberi lebih daripada hanya satu pelajaran, dan cerita sejarah lebih daripada satu teladan. Sebagai contoh-contoh suatu kaidah menyeluruh, ia menyapa setiap abad serta lapisan manusia, dan turun dengan kesegaran baru. Khususnya, dengan banyak pengulangan

ﺍَﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ,

ia menyatakan ancaman serta musibah samawi dan bumi sebagai hukuman kezaliman dengan keras. Melalui azab yang menimpa kaum Ad, Tsamud, serta Firaun, ia membuat orang memandang kezaliman tanpa bandingan abad ini; dan melalui keselamatan para nabi seperti Ibrahim (as) serta Musa (as), ia menghibur orang beriman yang teraniaya.

Seluruh masa lalu, kurun, serta abad yang telah mati, dalam pandangan kelalaian dan kesesatan merupakan negeri tiada yang mengerikan serta dahsyat, dan pemakaman menyakitkan yang binasa. Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memperlihatkannya sebagai halaman-halaman pelajaran yang hidup, alam mengagumkan yang seluruhnya berjiwa serta hidup, dan negeri Rabb yang ada serta berhubungan dengan kami. Seperti layar film, terkadang ia membawa kami kepada zaman-zaman itu, dan terkadang zaman-zaman itu ke samping kami; memperlihatkannya kepada setiap abad serta lapisan manusia, lalu mengajar melalui sifat bermukjizat yang tinggi. Melalui sifat bermukjizat yang sama, Al-Qur’an Yang Agung ini juga menghidupkan benda-benda mati dalam kainat, yang dalam pandangan kesesatan merupakan tempat mengerikan yang mati, kacau, dan luas tanpa batas, serta berguling dalam perpisahan dan berlalunya kehidupan. Ia menjadikan kainat kitab Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad, kota Ar-Rahmân, serta tempat pameran Seni Rabb; membuat benda-benda itu saling berbicara sebagai petugas dan berlari menolong yang lain; serta memberi pelajaran hikmah yang sejati, bercahaya, dan menyenangkan kepada manusia, jin, serta malaikat. Tentu, hal ini memberinya keistimewaan suci, seperti adanya sepuluh, seratus, terkadang seribu atau ribuan pahala dalam setiap hurufnya, dan ketidakmampuan seluruh jin serta manusia, meskipun berkumpul, mendatangkan yang sebanding dengannya; berbicara kepada seluruh keturunan Adam serta kainat dengan tepat; selalu ditulis dengan kenikmatan dalam hati jutaan hafiz; tidak membuat jemu melalui banyak pengulangan; tertanam dengan sempurna dalam pikiran anak-anak yang peka serta sederhana, meskipun memiliki banyak bagian dan kalimat yang dapat membingungkan; serta terdengar menyenangkan seperti air zamzam pada telinga orang sakit, yang terpengaruh sedikit perkataan, dan yang berada dalam sakarat. Ia membuat murid-muridnya memperoleh kebahagiaan kedua alam.

Melalui rahasia sepenuhnya memperhatikan keadaan ummi penyampainya ﷺ, ia tidak memberi tempat bagi hal dibuat-buat, kepura-puraan, ataupun pamer, dan memperlihatkan kelancaran fitri serta datangnya langsung dari langit. Dengan Hikmah menyentuh pemahaman sederhana kaum awam, kelompok terbanyak, melalui penyesuaian bahasa Sapaan, ia terutama membuka halaman-halaman paling nyata dan jelas, seperti langit serta bumi, lalu mengajarkan mukjizat Kudrat yang luar biasa serta baris-baris Hikmah yang penuh makna di bawah hal-hal biasa itu. Melalui ini, ia memperlihatkan sifat bermukjizat yang indah dalam kelembutan pembimbingan.

Melalui rahasia memperlihatkan bahwa ia juga merupakan kitab doa, seruan, zikir, serta tauhid, yang menuntut pengulangan, dengan pengulangannya yang indah dan manis, ia membuat berbagai lapisan penerima Sapaan memahami banyak makna berbeda dalam satu kalimat atau kisah. Dalam peristiwa khusus serta biasa, ia juga memberitahukan bahwa bahkan hal paling kecil dan tidak penting berada dalam Pandangan Kasih⁠-⁠Nya serta lingkup Pengaturan dan Kehendak⁠-⁠Nya. Karena itu, ia memberi perhatian kepada peristiwa-peristiwa kecil para sahabat dalam penegakan Islam serta penyusunan syariat. Hal ini memuat kaidah-kaidah menyeluruh; dalam penegakan Islam dan syariat yang berlaku umum, peristiwa-peristiwa kecil itu juga seperti benih yang menghasilkan buah sangat penting. Dari segi ini pun, ia memperlihatkan suatu jenis sifat bermukjizat.

Ya, karena kebutuhan berulang, pengulangan diperlukan. Selama dua puluh tahun, ia mengajar banyak lapisan manusia yang berbeda sebagai jawaban atas banyak pertanyaan berulang. Suatu perubahan yang menakjubkan tanpa batas, dahsyat tanpa batas, serta luas akan memecah kainat, mengubah bentuknya pada kiamat, mengangkat dunia, dan menegakkan akhirat yang agung sebagai gantinya; membuktikan bahwa semua hal, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, dari zarah sampai bintang, berada dalam Tangan dan Pengelolaan satu Zat; serta memperlihatkan Murka Ilahi dan Kemarahan Rabb terhadap kezaliman umat manusia, yang membuat kainat, bumi, langit, serta unsur-unsur marah, atas nama hasil penciptaan kainat. Dalam penegakan perubahan seperti itu, mengulang sebagian kalimat yang berkekuatan ribuan hasil serta sebagian ayat yang merupakan hasil dalil-dalil tak terhitung sama sekali bukan kekurangan, melainkan sifat bermukjizat yang sangat kuat, balagah yang sangat tinggi, serta kekuatan ungkapan dan kefasihan yang sangat sesuai keadaan.

Misalnya, kalimat

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِٔ,

yang meskipun satu ayat berulang seratus empat belas kali, sebagaimana dijelaskan dalam Lem'a Keempat Belas Risale-i Nur, merupakan hakikat yang menghubungkan Arasy dengan bumi, menerangi kainat, serta diperlukan setiap orang pada setiap menit. Meskipun diulang jutaan kali, kebutuhan tetap ada. Ia diperlukan serta dirindukan setiap menit seperti udara dan cahaya, lebih daripada hanya setiap hari seperti roti.

Misalnya pula, dalam Surah ﻃٰﺴٓﻢٓ, ayat

ﺍِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻟَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ

yang diulang delapan kali, dengan mengulang ayat yang berkekuatan ribuan hakikat itu, mengajarkan keselamatan para nabi serta azab kaum mereka yang dikisahkan dalam surah tersebut, atas nama hasil penciptaan kainat dan Rububiyah Umum. Ia mengajarkan bahwa Martabat Rabb menuntut azab kaum zalim, sedangkan Rahimiyah Ilahi menuntut keselamatan para nabi. Meskipun diulang ribuan kali, kebutuhan serta kerinduan tetap ada, dan hal itu merupakan balagah luhur yang bermukjizat serta disampaikan secara ringkas.

Misalnya pula, ayat

ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ

yang diulang dalam Surah Rahman serta ayat

ﻭَﻳْﻞٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟِﻠْﻤُﻜَﺬِّﺑ۪ﻴﻦَ

dalam Surah Mursalat, dengan nada ancaman menyerukan kepada abad-abad, bumi, serta langit, kekufuran, pengingkaran nikmat, kezaliman, dan pelanggaran seluruh hak makhluk oleh jin serta umat manusia. Hal-hal itu membuat kainat marah, membuat bumi dan langit murka, merusak hasil penciptaan alam, serta menanggapi Kemegahan Kekuasaan Ilahi dengan pengingkaran dan penghinaan. Kedua ayat ini berhubungan dengan ribuan hakikat serta menjadi pelajaran umum yang berkekuatan ribuan persoalan. Meskipun diulang ribuan kali, kebutuhan tetap ada. Hal itu merupakan sifat bermukjizat penuh Jalâl serta ungkapan ringkas dalam balagah penuh Jamâl.

Misalnya pula, dalam munajat Nabi ﷺ bernama Cevşenü'l-Kebir, yang merupakan suatu munajat Al-Qur’an yang sejati serta lengkap, dan suatu ringkasan yang keluar dari Al-Qur’an, kalimat berikut diulang seratus kali:

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ ﺧَﻠِّﺼْﻨَﺎ ﻭَ ﺍَﺟِﺮْﻧَﺎ ﻭَ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Dalam pengulangan kalimat itu terdapat hakikat terbesar dalam kainat, seperti tauhid; tugas paling penting dari tiga tugas agung makhluk kepada Rububiyah, seperti tasbih serta menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Suci; persoalan paling dahsyat umat manusia, seperti selamat dari kemalangan abadi; serta hasil paling diperlukan dari ubudiyah dan keadaan tak berdaya manusia. Karena itu, meskipun diulang ribuan kali, tetap sedikit.

Seperti bagian-bagian ibadah yang pengulangannya merupakan sunah, misalnya tasbih salat, pengulangan Al-Qur’an mengarah kepada dasar-dasar kukuh seperti ini. Bahkan, terkadang dalam satu halaman, melalui tuntutan keadaan, kebutuhan membuat orang memahami, serta balagah penjelasan, ia menyatakan hakikat tauhid dua puluh kali, dengan jelas maupun tersirat. Hal ini tidak membuat jenuh, justru memberi kekuatan, semangat, serta rasa manis. Dalam Risale-i Nur, melalui dalil-dalilnya, telah dijelaskan betapa tepat, sesuai, serta diterimanya pengulangan Al-Qur’an dari segi balagah.

Rahasia Hikmah perbedaan surah-surah Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, dari segi balagah, sifat bermukjizat, perincian, serta ringkasan, demikian:

Di Makkah, penerima Sapaan serta penentang di barisan pertama ialah kaum musyrik dan ummi Quraisy. Karena itu, diperlukan gaya tinggi yang kuat dari segi balagah, ringkasan yang padat, meyakinkan, dan menumbuhkan kepastian, serta pengulangan untuk menetapkan makna. Sebagian besar surah Makkiyah menyatakan serta mengulang rukun-rukun iman dan tingkatan tauhid melalui ungkapan ringkas yang sangat kuat, tinggi, serta bermukjizat. Ia membuktikan asal serta tempat kembali, Allah سُبْحَانَهُ serta akhirat, dengan begitu kuat, lebih daripada hanya dalam satu halaman, ayat, kalimat, atau kata; bahkan terkadang dalam satu huruf, atau susunan seperti mendahulukan dan mengakhirkan kata, memakai bentuk tertentu dan tak tentu, serta menghilangkan dan menyebut kata. Para imam ilmu balagah yang sangat ahli menyambutnya dengan kekaguman.

Risale-i Nur, khususnya Kalimat Kedua Puluh Lima beserta tambahan-tambahannya, yang membuktikan secara ringkas empat puluh segi sifat bermukjizat Al-Qur’an, serta tafsir İşaratü'l-İ'caz (Isyarat-Isyarat Kemukjizatan) dari Risale-i Nur berbahasa Arab, yang menjelaskan dan membuktikan segi sifat bermukjizat dalam susunan kata dengan cara menakjubkan, telah memperlihatkan secara nyata bahwa surah serta ayat Makkiyah memiliki gaya balagah yang paling tinggi dan sifat bermukjizat yang paling luhur melalui ungkapan ringkas.

Adapun dalam surah serta ayat Madinah, penerima Sapaan dan penentang di barisan pertama ialah Ahlulkitab seperti Yahudi serta Nasrani, yang membenarkan Allah سُبْحَانَهُ. Karena itu, melalui tuntutan balagah, pembimbingan, serta kesesuaian dengan keadaan, diperlukan penjelasan melalui gaya sederhana, jelas, serta terperinci kepada Ahlulkitab, mengenai syariat, hukum, perincian yang menjadi tempat perbedaan, dan persoalan-persoalan khusus yang menjadi asal serta sebab hukum-hukum menyeluruh, alih-alih dasar-dasar agama yang tinggi dan rukun-rukun iman. Karena itu, di tengah penjelasan yang kebanyakan terperinci, jelas, serta sederhana dalam surah dan ayat Madinah, melalui cara penyampaian tanpa bandingan yang khusus bagi Al-Qur’an, ia tiba-tiba menyebut dalam peristiwa yang bersifat juz'i dan terperinci itu suatu kesimpulan, penutup, serta bukti yang tinggi dan kuat; juga kalimat mengenai tauhid, Asma, serta akhirat, yang menjadikan peristiwa syariat yang bersifat juz'i tersebut menyeluruh, dan menjamin pelaksanaannya melalui iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Ia menerangi, meluhurkan, serta meluaskan bagian itu.

Risale-i Nur menjelaskan betapa tinggi balagah, kelebihan, kekuatan ungkapan, serta butir hikmah dalam kesimpulan dan penutup yang kebanyakan datang pada akhir ayat, menyatakan tauhid atau akhirat, seperti

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ٭ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ.

Dalam Cahaya Kedua dari Nyala Kedua, Kalimat Kedua Puluh Lima, ia menjelaskan sepuluh dari banyak butir hikmah serta kelebihan kesimpulan dan penutup itu, lalu membuktikan bahkan kepada orang keras kepala bahwa dalam ringkasan-ringkasan tersebut terdapat mukjizat terbesar.

Ya, di tengah penjelasan perincian syariat serta hukum-hukum masyarakat, Al-Qur’an tiba-tiba mengangkat pandangan penerima Sapaan kepada pokok-pokok tertinggi serta menyeluruh. Ia mengubah gaya sederhana menjadi gaya luhur, dan pelajaran syariat menjadi pelajaran tauhid, lalu memperlihatkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab syariat, hukum, serta hikmah, juga kitab keyakinan, iman, zikir, perenungan, doa, dan seruan. Dengan mengajarkan banyak tujuan pembimbingan serta Al-Qur’an pada setiap bagian, ia memperlihatkan kekuatan ungkapan yang terang dan mengandung mukjizat, berbeda dari cara balagah ayat-ayat Makkiyah.

Terkadang, dalam dua kata, misalnya ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ serta ﺭَﺑُّﻚَ, melalui ungkapan ﺭَﺑُّﻚَ, ia memberitakan Ahadiyah, dan melalui ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ, Wahidiyah. Ia menyatakan Wahidiyah di dalam Ahadiyah. Bahkan, dalam satu kalimat, ia menunjukkan: sebagaimana satu zarah dilihat serta ditempatkan pada pupil mata, matahari pun ditempatkan pada pupil langit dengan ayat dan palu yang sama, lalu dijadikan mata bagi langit.

Misalnya, setelah ayat

ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضَ,

sesudah ayat

ﻳُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟَّﻴْﻞَ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَ ﻳُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻰ ﺍﻟَّﻴْﻞِ,

ia mengatakan

ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ﺑِﺬَﺍﺕِ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ.

Ia memberi penjelasan seakan-akan mengatakan, "Di tengah kemegahan penciptaan bumi serta langit, Dia juga mengetahui dan mengelola lintasan hati." Melalui cara ini, percakapan sederhana dan khusus, yang memperhatikan tingkat ummi serta pemahaman kaum awam itu, berubah menjadi percakapan luhur, menarik, umum, serta membimbing.

Sebuah Pertanyaan Penting:

Terkadang, karena suatu hakikat tidak terlihat oleh pandangan dangkal, dan dalam sebagian bagian, hubungan antara peristiwa yang bersifat juz'i serta biasa dengan penjelasan kesimpulan tauhid yang tinggi atau kaidah menyeluruh tidak diketahui, orang membayangkan adanya kekurangan. Misalnya, dalam kisah "Yusuf aleyhisselâm mengambil saudaranya melalui suatu siasat", penyebutan kaidah yang sangat tinggi

ﻭَﻓَﻮْﻕَ ﻛُﻞِّ ﺫ۪ﻯ ﻋِﻠْﻢٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ

tidak tampak hubungannya dari segi balagah. Apakah rahasia serta Hikmahnya?

Jawaban:

Sebagian besar surah panjang serta sedang, yang masing-masing merupakan Al-Qur’an kecil, dan banyak halaman serta bagian, memuat lebih daripada hanya dua atau tiga tujuan. Hakikat Al-Qur’an mencakup banyak kitab serta pelajaran yang berbeda, seperti kitab zikir, iman, serta perenungan, juga kitab syariat, hikmah, dan pembimbingan. Melalui hal ini, ia menyatakan cakupan Rububiyah Ilahi atas segala sesuatu serta Tajalli⁠-⁠Nya yang megah. Sebagai suatu pembacaan kitab besar kainat, tentu pada setiap bagian, bahkan terkadang satu halaman, ia mengikuti banyak tujuan dan memberi pelajaran makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ, tingkatan tauhid, serta hakikat iman. Karena itu, pada bagian lain, misalnya melalui hubungan yang tampak lemah, ia membuka pelajaran lain, lalu hubungan-hubungan yang sangat kuat bergabung pada hubungan lemah tersebut. Ia menjadi sangat sesuai bagian itu, dan tingkat balagahnya naik.

Pertanyaan Kedua:

Apakah Hikmah membuktikan serta memperlihatkan akhirat, tauhid, dan pahala serta hukuman manusia, dengan jelas, tersirat, dan melalui isyarat, ribuan kali dalam Al-Qur’an; serta mengajarkannya pada setiap surah, halaman, dan bagian?

Jawaban:

Dalam lingkup yang mungkin, perubahan-perubahan riwayat kainat, serta tugas umat manusia yang memikul amanat terbesar dan kekhalifahan bumi, yang menjadi sarana kemalangan serta kebahagiaan abadi, terdapat persoalan-persoalan paling penting, besar, serta dahsyat. Untuk mengajarkan yang paling agung di antaranya, menghilangkan keraguan tak terhitung, serta mematahkan pengingkaran dan keras kepala yang sangat kuat, tentu perlu membuat manusia membenarkan perubahan-perubahan dahsyat itu serta menerima persoalan-persoalan yang sebesar keagungan perubahan tersebut, dan paling perlu serta paling pokok bagi manusia. Karena itu, meskipun Al-Qur’an membuat orang memandangnya jutaan kali, lebih daripada hanya ribuan kali, hal itu tetap bukan pemborosan. Pembahasan-pembahasan itu memang dibaca dalam Al-Qur’an jutaan kali melalui pengulangan, tidak membuat jenuh, dan kebutuhannya tidak terputus.

Misalnya, hakikat kabar gembira kebahagiaan abadi yang ditunjukkan ayat

ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٌ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ الْاَنْهَارُ ٭ ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻴﻬَٓﺎ ﺍَﺑَﺪًﺍ

menyelamatkan manusia malang, dunianya, serta seluruh sahabatnya dari pemusnahan abadi oleh hakikat kematian, yang memperlihatkan diri setiap menit, dan membuatnya memperoleh kekuasaan abadi. Karena itu, meskipun diulang miliaran kali serta diberi perhatian sebesar kainat, hal ini tetap bukan pemborosan dan tidak kehilangan nilainya.

Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengajarkan persoalan-persoalan bernilai tak terhingga seperti ini, serta berusaha meyakinkan, menumbuhkan iman, dan membuktikan penegakan perubahan-perubahan dahsyat yang mengganti serta merusak bentuk kainat seperti sebuah rumah. Tentu, dengan menarik perhatian ribuan kali kepada persoalan-persoalan itu, dengan jelas, tersirat, serta melalui isyarat, ia memperbarui anugerahnya sebagai kebutuhan pokok seperti roti, obat, udara, dan cahaya, alih-alih memboroskan.

Hikmah Al-Qur’an menyebut ayat-ayat ancaman seperti

ﺍِﻥَّ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻰ ﻧَﺎﺭِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ

serta

ﺍَﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺍَﻟ۪ﻴﻢٌ

dengan sangat keras, penuh Murka, kuat, dan berulang ialah sebagaimana dibuktikan dengan pasti dalam Risale-i Nur: Kekufuran manusia merupakan pelanggaran hak kainat serta sebagian besar makhluk yang begitu besar, sehingga membuat langit dan bumi marah, membangkitkan kemarahan unsur-unsur, lalu menampar orang-orang zalim dengan banjir besar. Melalui kejelasan ayat

ﺍِﺫَٓﺍ ﺍُﻟْﻘُﻮﺍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺳَﻤِﻌُﻮﺍ ﻟَﻬَﺎ ﺷَﻬ۪ﻴﻘًﺎ ﻭَﻫِﻰَ ﺗَﻔُﻮﺭُ ٭ ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺗَﻤَﻴَّﺰُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆِ,

neraka begitu murka terhadap para pengingkar zalim itu, sehingga hampir pecah karena kemarahannya.

Terhadap kejahatan yang meliputi semua serta pelanggaran tak terhitung seperti ini, Sang Sultan kainat memperhatikan besarnya kejahatan zalim manusia serta kedahsyatan pelanggaran kekufurannya, alih-alih kecil dan tidak pentingnya manusia. Dengan Hikmah memperlihatkan pentingnya hak rakyat⁠-⁠Nya serta keburukan tak terhingga kekufuran dan kezaliman para pengingkar, meskipun dalam Firman⁠-⁠Nya Dia mengulang kejahatan itu serta hukumannya, dengan Murka dan kekerasan besar, jutaan dan miliaran kali, lebih daripada hanya seribu kali, hal ini tetap bukan pemborosan atau kekurangan. Sebab, selama seribu tahun, ratusan juta manusia setiap hari membacanya tanpa jemu, dengan kerinduan serta kebutuhan sempurna.

Ya, setiap hari dan setiap waktu, suatu alam berlalu bagi setiap orang, dan pintu alam segar terbuka baginya. Untuk menerangi setiap alam sementara itu, dengan kebutuhan serta kerinduan, ia mengulang kalimat

ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

ribuan kali, dan menjadikan satu

ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ

lampu bagi setiap tabir serta alam yang berubah. Demikian pula, agar tidak menggelapkan banyak tabir sementara serta kainat-kainat bergerak yang terus diperbarui, tidak memperburuk bentuk yang terpantul dalam cermin kehidupan, dan tidak mengubah keadaan-keadaan yang datang sebagai tamu dan dapat menjadi saksi baginya menjadi saksi yang melawannya, ia perlu selalu mengingat hukuman kejahatan-kejahatan itu serta Ancaman keras Sang Raja Yang Azali, Yang mematahkan keras kepala, dengan membaca Al-Qur’an. Agar manusia berusaha selamat dari pembangkangan nafsu, dengan Hikmah ini Al-Qur’an mengulang dengan cara yang sangat bermukjizat, serta memperlihatkan bahwa bahkan setan menghindari anggapan Ancaman Al-Qur’an yang begitu kuat, keras, dan berulang tidak memiliki kenyataan. Azab neraka bagi pengingkar yang tidak mendengarkannya merupakan keadilan itu sendiri.

Misalnya pula, kisah Musa (as), yang memiliki banyak hikmah serta manfaat seperti tongkat Musa, dan kisah nabi-nabi lainnya berulang dengan Hikmah menjadikan kenabian seluruh nabi dalil bagi kebenaran kerasulan Ahmad ﷺ. Orang yang tidak dapat mengingkari seluruh nabi, dari segi hakikat tidak dapat mengingkari kerasulan beliau. Karena tidak setiap orang mampu dan berhasil membaca seluruh Al-Qur’an pada setiap waktu, kisah-kisah itu diulang seperti rukun-rukun iman yang penting, agar setiap surah panjang serta sedang menjadi Al-Qur’an kecil. Hal ini merupakan balagah yang bermukjizat, alih-alih pemborosan, serta mengajarkan bahwa peristiwa Muhammad ﷺ merupakan peristiwa terbesar seluruh keturunan Adam serta persoalan paling agung kainat.

Ya, dalam Al-Qur’an, pribadi Ahmad ﷺ diberi kedudukan terbesar. Dengan mencakup empat rukun iman, yang ditempatkan sebanding dengan rukun

ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ

ialah

ٔﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِٔ

serta kerasulan Muhammad ﷺ. Melalui banyak dalil serta tanda, telah dibuktikan dengan pasti dalam Risale-i Nur bahwa kerasulan beliau merupakan hakikat terbesar kainat; pribadi Ahmad ﷺ makhluk paling mulia; dan pribadi maknawi beliau yang menyeluruh serta kedudukan suci beliau, yang disebut hakikat Muhammad ﷺ, matahari paling terang kedua alam, serta bahwa beliau layak bagi kedudukan menakjubkan ini. Satu dari seribu dalilnya demikian:

Melalui kaidah

ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ,

sebanyak kebaikan yang dilakukan seluruh umat beliau sepanjang masa masuk ke buku catatan kebaikan beliau. Melalui cahaya yang dibawa beliau, seluruh hakikat kainat diterangi; bukan hanya jin, manusia, malaikat, serta makhluk hidup, melainkan kainat, langit, dan bumi pun dibuat merasa berutang budi. Di hadapan mata kita, doa tumbuhan melalui bahasa kemampuan serta doa hewan melalui bahasa kebutuhan fitri benar-benar diterima. Menurut kesaksian ini, orang-orang saleh dari umat beliau, yang jutaan, bahkan miliaran doa fitri mereka diterima dan tidak dapat ditolak, setiap hari mendoakan Rahmat bagi beliau melalui salawat serta salam, dan terlebih dahulu menghadiahkan hasil maknawi mereka kepada beliau. Dari setiap huruf dalam tiga ratus ribu huruf Al-Qur’an yang dibaca seluruh umat, muncul sepuluh, seratus, bahkan seribu kebaikan serta buah; sehingga hanya dari segi bacaan Al-Qur’an pun, cahaya tak terhitung masuk ke buku catatan amal beliau. Sang ‘Allâmul-Ghuyûb telah mengetahui serta melihat bahwa pribadi maknawi beliau, hakikat Muhammad ﷺ, pada masa depan akan seperti pohon Tuba surga. Sesuai kedudukan itu, Dia memberi beliau kepentingan yang begitu besar dalam Al-Qur’an⁠-⁠Nya, dan dalam Firman⁠-⁠Nya memperlihatkan bahwa memperoleh syafaat beliau dengan mengikuti beliau serta sunah beliau merupakan salah satu persoalan manusia yang paling penting. Sesekali, Dia juga memperlihatkan pribadi manusiawi beliau serta keadaan kemanusiaan beliau pada awal, yang merupakan benih pohon Tuba yang megah tersebut.

Karena hakikat-hakikat yang diulang Al-Qur’an memiliki nilai seperti ini, fitrah yang sehat bersaksi bahwa dalam pengulangannya terdapat mukjizat maknawi yang kuat serta luas. Kecuali seseorang terkena penyakit hati serta nurani melalui wabah taun materialisme, lalu masuk ke dalam kaidah

ﻗَﺪْ ﻳُﻨْﻜِﺮُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺿَﻮْﺀَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﺪٍ ٭ ﻭَ ﻳُﻨْﻜِﺮُ ﺍﻟْﻔَﻢُ ﻃَﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﺳَﻘَﻢٍ.