SARIPATI DARI SARIPATINYA
Sinar-Sinar · hlm. 601
Inilah BAGIAN PERTAMA dari pelajaran yang diberikan di Madrasah Yusufiyah Ketiga.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَ بِه۪ نَسْتَع۪ينُ
Dengan dalih surat permohonan yang kutulis kepada Mahkamah Kasasi tentang keadaanku yang selama sebelas bulan berada dalam pengasingan mutlak di penjara Afyon, mereka memindahkan secara paksa seorang malang seperti diriku ke bangsal kelima dan melarang saudara-saudaraku datang menemuiku — diriku yang selama tiga puluh lima tahun berada dalam uzlah, yang khususnya pada malam hari melupakan dunia, yang karena selama dua puluh tiga tahun menderita akibat diintai dengan penuh niat buruk lalu merasa asing terhadap manusia dan tinggal seorang diri saja, serta yang sangat tersiksa bila harus berada sejam bersama seseorang di satu tempat, selain bersama pelayannya dan orang yang merindukan pelajaran Nur dengan penuh kerinduan. Ketika aku sangat cemas karena merasa tidak akan sanggup hidup di tengah keramaian itu, tiba-tiba — sebagai tanda murka dan amarah — udara dingin menjadi begitu dahsyat sehingga seandainya aku tetap tinggal di tempatku yang lama, sama sekali aku tidak akan tahan. Maka kesulitan itu pun berubah menjadi rahmat bagi diriku.
Terlintaslah di dalam hati: "Memang benar, para murid Nur di setiap bangsal bekerja dengan pelajaran-pelajaran Nur secara penuh, baik atas nama diri mereka sendiri maupun sebagai ganti dirimu. Akan tetapi bangsal kelima ini, karena ia semacam tempat pengasingan, penghuninya terus berganti dan berubah; ia lebih membutuhkan pelajaran Nur. Lagi pula, para pemuda dan orang-orang tua yang membaca tulisan-tulisan surat kabar yang memberitakan serangan Rusia dengan pengingkaran yang dahsyat dan dengan sikap tidak mau mengenal Allah, sudah pasti sangat membutuhkan pelajaran-pelajaran yang amat pasti lagi kuat tentang wujud dan keesaan Ilahi yang ada di dalam iman kepada Allah." Demikianlah terlintas di dalam hati ketika bertasbih.
Maka setelah salat subuh, aku pun mengulang-ulang dengan penuh tafakur kalimat suci ini — kalimat tahlil dan tauhid yang agung, yang sejak dahulu kubaca sepuluh kali, yang pada sebelas katanya risalah Surat Kedua Puluh yang besar itu memperlihatkan dengan perincian yang sangat cemerlang laksana matahari sebelas burhan atas wujud yang wajib ada dan atas keesaan rububiyah, serta sebelas kabar gembira, dan yang menurut sebuah riwayat mengandung Ismul A'zham: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَر۪يكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَد۪يرٌ وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ — sambil bersamaan dengan itu memikirkan saripati dari saripati Surat Kedua Puluh secara singkat. Tiba-tiba terlintaslah di dalam hati:
"Ajarkanlah saripati yang sangat singkat ini kepada Nadir Hoca dan kepada para pemuda di sini." Maka aku pun mengucapkan Bismillah lalu memulai, dan aku berkata:
Di dalam kalimat tauhid ini terdapat sebelas kabar gembira dan sebelas hujah imaniah. Kini aku hanya akan memberikan isyarat yang sangat ringkas kepada hujah-hujahnya, sedangkan penjelasannya dan kabar-kabar gembiranya kuserahkan kepada Surat Kedua Puluh dan kepada bagian-bagian Nur lainnya. Namun kini, ketika menuliskan pelajaran itu, aku memandang patut untuk menuliskan pula sebagian kata dan nukta yang tidak kusampaikan kepada mereka.