Saudara-saudaraku yang Aziz!
Sinar-Sinar · hlm. 378
Malam ini, ketika aku sibuk dengan wirid, para penjaga dan orang-orang lain mendengarnya. Terlintas di hatiku: "Gerangan, apakah menampakkan amal (izhar) seperti ini mengurangi pahalanya?" Aku pun gelisah. Lalu teringatlah olehku sebuah perkataan masyhur dari Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.
Beliau berkata: "Terkadang menampakkan amal jauh lebih utama daripada menyembunyikannya (ikhfa)." Yakni: dengan melakukannya secara terang-terangan, orang lain dapat mengambil manfaat, atau menirunya, atau terjaga dari keadaan lalai; dan jika ada orang yang keras kepala di dalam keadaan sesat dan berfoya-foya, menampakkan amal di hadapannya termasuk jenis syiar-syiar Islam dan menunjukkan kemuliaan agama. Karena banyak sisi seperti inilah — terlebih pada zaman ini dan pada orang-orang yang telah menerima pelajaran ikhlas dengan sempurna, dengan syarat bukan hanya riya, bahkan sikap dibuat-buat yang tersembunyi pun tidak tercampur ke dalamnya — amal itu dapat menjadi jauh lebih berpahala. Demikianlah aku menemukan penghiburan.
Dua hari yang lalu, ketika hakim pemeriksa memanggilku, sementara aku berpikir bagaimana harus membela saudara-saudaraku, aku membuka "Hizbul Masun" karya Imam Al-Ghazali. Tiba-tiba ayat-ayat ini tampak di hadapan pandanganku: اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا ٭ يَسْعٰى نُورُهُمْ بَيْنَ اَيْد۪يهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ ٭ اَللّٰهُ حَف۪يظٌ عَلَيْهِمْ ٭ طُوبٰى لَهُمْ
Aku melihat bahwa ayat pertama — jika tasydid dihitung dan mad tidak dihitung, sebab huruf "wau" pada اٰمَنُوا pun merupakan mad — nilai jifir dan abjadnya berjumlah seribu tiga ratus enam puluh dua (1362), yang persis sekali bertepatan dengan tanggal yang sama pada tahun ini dan dengan waktu ketika kami bertekad membela saudara-saudara mukmin kami; baik maknanya maupun kedudukan angkanya sama-sama bertepatan. Aku berkata: Alhamdulillah, ayat ini tidak menyisakan keperluan bagi pembelaanku.
Kemudian terlintas di hatiku, lalu aku ingin tahu: "Gerangan, apakah hasil akhirnya nanti?" Aku melihat: dua kalimat pada اَللّٰهُ حَف۪يظٌ عَلَيْهِمْ ٭ طُوبٰى لَهُمْ, dengan syarat tanwin dihitung, nilai jifirnya persis seribu tiga ratus enam puluh dua (jika satu mad tidak dihitung ia berakhir dengan dua, dan jika dihitung ia menjadi tiga); ia tepat sekali bertepatan dengan tanggal yang sama pada zaman ini, pada tahun ini, dan pada tahun yang akan datang — masa ketika kami sangat membutuhkan penjagaan Allah — sehingga ia memberi penghiburan dengan jaminan bahwa kami akan terpelihara di hadapan serangan dahsyat yang sejak setahun ini disiapkan terhadap kami di dalam lingkaran yang besar dan di lapangan yang luas.
Karena di dalam peristiwa ini Risale-i Nur memperoleh futuhat yang lebih cemerlang di kalangan pihak-pihak yang berkuasa, maka terhentinya khidmah untuk sementara waktu ini tidak membuat kami putus asa dan tidak boleh membuat kami putus asa. Dan penyitaan Ayatul Kubra karena percetakannya, kuanggap sebagai sebuah maklumat yang menarik perhatian dari segala penjuru kepada kedudukannya yang cemerlang.
Baru saja aku membaca ayat رَبَّنَٓا اَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْلَنَا. Kalimat اِغْفِرْلَنَا persis berjumlah seribu tiga ratus enam puluh dua. Ia bertepatan dengan tanggal yang sama pada tahun ini, dan ia mengajak serta memerintahkan kami untuk banyak beristigfar, agar cahaya kalian menjadi sempurna dan agar Risale-i Nur tidak tinggal kurang.