Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 395
Di Kastamonu, seorang yang bertakwa berkata dengan nada mengeluh, "Aku telah jatuh. Aku telah kehilangan keadaanku yang dahulu, kehilangan zauk dan cahaya-cahaya itu."
Aku pun berkata: Boleh jadi engkau justru telah menanjak; sebab engkau meninggalkan di belakang zauk dan kasyf yang membelai nafsu, yang membuat buah ukhrawinya dicicipi di dunia, dan yang menimbulkan rasa hanya melihat diri sendiri; lalu engkau terbang ke maqam yang lebih tinggi dengan melenyapkan rasa diri, dengan meninggalkan ananiyah, dan dengan tidak mencari zauk-zauk yang fana.
Ya, salah satu karunia Ilahi yang penting adalah tidak membuat karunia-Nya terasa oleh orang yang belum meninggalkan ananiyah (keakuan) dirinya, supaya ia tidak jatuh ke dalam ujub dan sikap sombong.
Saudara-saudaraku! Berdasarkan hakikat ini, orang-orang yang berpikir seperti orang itu atau yang memandang martabat-martabat gemilang yang ditimbulkan oleh husnuzan, apabila memandang kalian, akan melihat murid-murid yang di tengah kalian tampak dengan busana melenyapkan diri (mahwiyah), tawaduk, dan sikap sebagai pelayan itu sebagai orang-orang biasa lagi awam, lalu ia berkata: "Inikah para pahlawan hakikat yang menantang dunia? Sungguh jauh! Di mana mereka ini, dan di mana para mujahid khidmah kudus yang pada zaman ini membuat para wali tidak berdaya?" Dengan ucapan itu, jika ia seorang sahabat ia pun kecewa dan patah harapan, dan jika ia seorang penentang ia pun menganggap penentangannya benar.