Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 365

Dengan segenap keberadaanku aku mengucapkan selamat atas Lailatul Qadar kalian yang telah berlalu dan hari raya kalian yang akan datang, dan aku menitipkan kalian kepada keesaan dan rahmat Allah Arhamur-Râhimîn. Meskipun dengan rahasia مَنْ اٰمَنَ بِالْقَدَرِ اَمِنَ مِنَ الْكَدَرِ aku tidak memandang kalian membutuhkan hiburan, aku tetap berkata: aku telah melihat sepenuhnya hiburan yang diberikan oleh makna isyari ayat وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ. Yaitu demikian:

Ketika aku sedang berpikir untuk melupakan dunia dan melewatkan Ramadan kami dengan tenang, datanglah peristiwa dahsyat yang sama sekali tidak terlintas dalam benak dan sepenuhnya di luar batas kesanggupan ini; dan aku menyaksikan sendiri bahwa ia adalah inayah semata, baik bagi diriku, bagi Risale-i Nur, bagi kalian, bagi Ramadan kami, maupun bagi ukhuwah kami. Adapun dari sisi yang berkaitan denganku, dari sekian banyak faedahnya aku hanya akan menjelaskan dua tiga saja:

SALAH SATUNYA: Ia membuatku bekerja di bulan Ramadan dengan semangat yang sangat kuat, dengan kesungguhan, dengan sikap berlindung kepada Allah, dan dengan permohonan, seraya mengalahkan penyakit yang dahsyat.

YANG KEDUA: Tahun ini pun keinginan untuk bertemu dengan kalian masing-masing dan untuk berada di dekat kalian sangatlah kuat. Untuk melihat seorang saja dari kalian dan untuk datang ke Isparta, aku rela menerima kesusahan yang kutanggung ini.

YANG KETIGA: Baik di Kastamonu, di perjalanan, maupun di sini, dengan cara yang luar biasa seluruh keadaan yang menyakitkan berubah seketika, dan berlawanan dengan dugaan serta keinginanku tampaklah sebuah uluran tangan inayah. Uluran tangan itu membuat kami mengucapkan اَلْخَيْرُ ف۪ى مَا اخْتَارَهُ اللّٰهُ. Ia membuat Risale-i Nur — yang paling banyak menyita pikiranku — dibaca dengan sangat teliti bahkan oleh orang-orang yang paling lalai dan oleh mereka yang berada pada martabat-martabat besar secara duniawi; dan ia membuka medan bagi futuhat (kemenangan dan terbukanya jalan) di lapangan yang lain.

Dan terhadap seluruh rasa pedih dan penyesalan yang paling menyentuh kelembutan hatiku — yang selain dari kepedihanku sendiri berkumpul di kepalaku dari kesusahan kalian masing-masing — musibah ini, di bulan Ramadan, di bulan mulia yang menjadikan satu jamnya berkedudukan seratus jam, telah melipatgandakan seratus pahala itu hingga menjadi seribu dengan menjadikan setiap jamnya bernilai ibadah sepuluh jam; maka ia mengubah keadaan hatiku yang semula merasa iba dan menangis karena lembutnya hati terhadap orang-orang ikhlas seperti kalian — yang mengambil pelajaran secara penuh dari Risale-i Nur, yang mengetahui bahwa dunia ini fana dan merupakan tempat berniaga, yang mengorbankan segala sesuatu demi iman dan akhiratnya, serta yang percaya bahwa kesusahan sementara di ruang belajar Yusufiyah ini akan memberikan kelezatan dan faedah yang kekal — menjadi keadaan memberi selamat serta sangat memuji dan menghargai keteguhan kalian. Maka aku pun mengucapkan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى كُلِّ حَالٍ سِوَى الْكُفْرِ وَ الضَّلَالِ.

Sebagaimana faedah-faedah yang berkaitan denganku ini, ukhuwah kami, Risale-i Nur, Ramadan kami, dan kalian pun memiliki faedah-faedah sedemikian rupa dari peristiwa ini sehingga aku berkeyakinan: sekiranya tabir tersingkap, ia akan membuat kita berkata, “Ya Rabbana! Syukur. Kada dan takdir Ilahi ini merupakan inayah bagi kami.”

Janganlah kalian mencela orang-orang yang menjadi sebab terjadinya peristiwa ini. Rencana musibah ini yang luas lagi dahsyat telah lama disusun, tetapi secara maknawi ia datang jauh lebih ringan. Insya Allah ia akan segera berlalu. Dengan rahasia عَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ, janganlah kalian bersedih.