Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 398
Pada zaman dahulu, karena murid seorang syekh sangat banyak, pemerintah negeri itu menjadi cemas dari sisi politik lalu hendak membubarkan jemaahnya. Syekh itu berkata kepada pemerintah: "Muridku hanya satu setengah orang, tidak ada yang lain. Jika kalian mau, kita akan mengujinya." Syekh itu mendirikan kemah di suatu tempat dan mengumpulkan ribuan muridnya ke sana. Ia pun memerintahkan: "Aku akan mengadakan sebuah ujian. Barang siapa menjadi muridku dan menerima perintahku, ia akan masuk surga." Ia memanggil mereka seorang demi seorang ke dalam kemah. Secara diam-diam ia menyembelih seekor kambing, seolah-olah ia telah menyembelih salah seorang murid pilihannya dan mengirimnya ke surga. Melihat darah itu, dari ribuan murid itu tidak seorang pun lagi yang menaati syekhnya; mereka mulai mengingkarinya. Hanya seorang lelaki yang berkata: "Kepalaku kukorbankan!" lalu ia pergi menghampirinya. Sesudah itu, seorang perempuan pun pergi menghampirinya, sedangkan yang lain bercerai-berai. Syekh itu berkata kepada orang-orang pemerintah: "Inilah, kalian telah melihat bahwa muridku memang satu setengah orang."
Ratusan ribu syukur bagi Allah bahwa Risale-i Nur, di dalam ujian dan pengadilan Eskişehir, hanya kehilangan satu setengah orang dari murid-muridnya. Berbeda dengan syekh yang dahulu itu, dengan himmah para pahlawan Isparta dan sekitarnya, sebagai ganti satu setengah orang yang hilang itu bertambahlah sepuluh ribu orang. Insyaallah, di dalam ujian ini pun, dengan himmah para pahlawan dari timur maupun dari barat, tidak akan banyak yang hilang, dan sebagai ganti satu orang yang pergi akan masuk sepuluh orang.
Pada suatu masa, seseorang yang bukan Muslim menemukan suatu cara untuk memperoleh kekhalifahan dari sebuah tarekat, lalu ia mulai memberikan bimbingan. Ketika murid-murid yang berada dalam didikannya mulai menanjak, salah seorang dari mereka melihat melalui kasyaf bahwa mursyid mereka berada dalam kejatuhan yang sangat dalam. Orang itu mengetahuinya dengan firasatnya, lalu berkata kepada muridnya itu: "Nah, sekarang engkau telah memahami diriku." Murid itu menjawab: "Selama aku menemukan kedudukan ini dengan bimbinganmu, mulai sekarang aku akan menjunjungmu di atas kepalaku lebih daripada sebelumnya," lalu ia bermunajat kepada Allah dan menyelamatkan syekhnya yang malang itu. Syekh itu pun tiba-tiba menanjak dan melampaui seluruh muridnya, dan ia tetap menjadi mursyid hakiki bagi mereka. Jadi, kadang-kadang seorang murid menjadi syekh bagi syekhnya.
Dan kepandaian yang sebenarnya bukanlah meninggalkan saudaranya ketika ia melihatnya buruk, melainkan justru semakin menguatkan persaudaraan dengannya dan berusaha memperbaikinya; inilah sifat asali orang-orang yang setia. Di dalam keadaan seperti ini, untuk merusak sikap saling menopang di antara saudara-saudara dan husnuzan mereka terhadap satu sama lain, kaum munafik berkata: "Itulah orang-orang yang begitu engkau pentingkan; mereka hanyalah manusia biasa lagi lemah." Apa pun halnya...
Di dalam musibah ini memang kerugian kita banyak; akan tetapi, karena ia merupakan sebuah keadaan dan sebuah kejadian yang menyangkut seluruh alam Islam, nilainya sangat besar dengan harga yang sangat murah. Peristiwa-peristiwa serupa yang pernah terjadi — baik karena politik keagamaan maupun karena sebab-sebab lain — tidak dapat berlangsung atas nama seluruh alam Islam.
Tanda tangan yang ajaib pada awal kitab "Lemaat" karya Said Lama yang telah dicetak itu — karena dengan sedikit perubahan ia sangat sesuai dengan keadaanku sekarang dan dengan tahun ketujuh puluh dari umurku — telah kutuliskan. Jika kalian pandang layak, tuliskanlah ia sebagai ganti tanda tangan pada akhir nota-nota pembelaan, pada akhir Risalah Buah, dan pada akhir surat-surat kecil. Inilah tanda tangan yang ganjil itu, yaitu tiga setengah baris berikut:
اَلدَّاع۪ى