Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 414
Syukur yang tidak terhingga bagi Allah Arhamur-Râhimîn yang pada zaman yang aneh dan di tempat yang asing ini memudahkan bagi kami pula, melalui perantaraan kalian, untuk meraih kemuliaan yang berharga dan khidmah yang penting sebagai penuntut ilmu. Menurut kesaksian para ahli kasyaf kubur dan berdasarkan banyak kejadian, sebagian penuntut ilmu yang rindu lagi sungguh-sungguh, yang wafat pada saat menuntut ilmu, melihat dirinya masih hidup dan sibuk dengan pelajarannya sendiri, sebagaimana halnya para syuhada.
Bahkan seorang ahli kasyaf kubur yang masyhur pernah bermurakabah di kubur seorang murid yang wafat sewaktu belajar ilmu saraf dan nahwu, untuk mengetahui bagaimana ia akan menjawab Munkar dan Nakir; ia pun menyaksikan dan mendengar bahwa ketika malaikat penanya bertanya kepadanya, مَنْ رَبُّكَ "Siapakah Rabb-mu?", murid yang wafat sewaktu sibuk dengan pelajaran nahwu itu menjawab malaikat tersebut: "مَنْ adalah mubtada, رَبُّكَ adalah khabarnya." Ia menjawab menurut ilmu nahwu, karena ia mengira dirinya masih berada di madrasah.
Sejalan dengan kejadian ini, aku mengetahui almarhum Hâfız Ali persis seperti sewaktu hidupnya: sibuk dengan Risale-i Nur, dalam keadaan seorang penuntut ilmu yang bekerja di dalam ilmu yang paling tinggi, berada pada tingkatan para syuhada dan pada cara hidup mereka. Dengan keyakinan itu, di dalam sebagian doaku aku berkata untuknya, dan untuk Mehmed Zühdü serta Hâfız Mehmed yang seperti dia:
Ya Rabbi! Sibukkanlah mereka sampai hari kiamat dengan hakikat-hakikat iman dan rahasia-rahasia Al-Qur'an di dalam busana Risale-i Nur, dengan hati yang sepenuhnya lega dan penuh sukacita, amin!