Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 417
Hadis-hadis semacam ini termasuk bagian yang mutasyabih. Lagi pula ia tidak bersifat juz'i dan khusus, tidak menunjuk kepada satu tempat tertentu saja. Adapun angka ini hanya menunjukkan satu masa saja dari fitnah-fitnah agama yang menimpa umat beliau, serta Hijaz dan Irak, sebagai contoh. Memang pada masa Bani Abbasiyah, pada tarikh itu, telah muncul Mu'tazilah, Rafidhah, Jabariyah, dan di balik tabir kaum zindik serta orang-orang yang ingkar kepada Allah; banyak golongan sesat yang melukai Islam bermunculan. Pada saat terjadi guncangan-guncangan besar dari sisi syariat dan akidah, tokoh-tokoh agung Islam yang amat banyak — seperti Bukhari, Muslim, Imam Al-A'zham, Imam Asy-Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al-Ghazali, Al-Gaus Al-A'zham, dan Junaid Al-Baghdadi — datang menolong dan mengalahkan fitnah agama itu.
Tiga ratus tahun sesudah tarikh itu, seiring berlangsungnya kemenangan tersebut, golongan-golongan sesat itu kembali bergerak di balik tabir dan melalui jalan politik mendatangkan fitnah Hulagu dan Jengis ke atas kepala kaum muslimin. Kepada fitnah ini
baik hadis maupun Sayidina Ali radiyallahu anhu memberi isyarat secara terang dengan tarikh yang sama pula.
Kemudian, karena fitnah zaman kita ini merupakan fitnah yang paling besar, maka hadis-hadis yang beragam dan banyak isyarat Al-Qur'an pun mengabarkannya dengan tarikh yang sama. Diukur dengan hal ini, ketika sebuah hadis menerangkan secara menyeluruh tahap-tahap yang akan dilalui umat, kadang ia menunjukkan tarikh satu peristiwa saja dari keseluruhan itu sebagai contoh.
Hadis-hadis yang mutasyabih dan yang maknanya tidak dipahami sepenuhnya seperti ini telah diterangkan takwilnya secara pasti oleh bagian-bagian Risale-i Nur. Di dalam Kelimat Kedua Puluh Empat dan Sinar Kelima, hakikat ini telah diterangkan dengan kaidah-kaidahnya.