Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 418

Aku diberi peringatan untuk menerangkan sebuah hakikat, agar kalian tidak saling menuduh bahwa yang lain berlaku ananiyah atau tidak setia.

Suatu waktu aku melihat para wali besar — yang telah meninggalkan ananiyah mereka dan yang nafsu ammarahnya sudah tidak ada lagi — mengeluhkan nafsu ammarah dengan keras, dan aku pun tercengang. Kemudian aku mengetahui dengan pasti bahwa, agar perjuangan melawan nafsu tetap berlanjut dengan berpahala sampai akhir umur, maka sesudah nafsu ammarah mati, perangkatnya dialihkan kepada urat-urat dan perasaan, sehingga perjuangan itu terus berlangsung. Maka para wali besar itu mengeluhkan musuh kedua ini, yaitu pewaris nafsu.

Lagi pula, nilai, kedudukan, dan keutamaan maknawi tidaklah menghadap kepada dunia ini sehingga ia membuat dirinya terasa. Bahkan, sebagian tokoh yang berada pada kedudukan tertinggi tidak merasakan karunia Ilahi besar yang diberikan kepada mereka, sehingga mereka menganggap diri mereka lebih malang dan lebih bangkrut daripada siapa pun; hal ini menunjukkan bahwa kasyaf, karamah, zauk-zauk, dan cahaya-cahaya yang dalam pandangan orang awam disangka sebagai sumber kesempurnaan itu tidak dapat menjadi ukuran dan batu uji bagi nilai serta kedudukan maknawi tersebut.

Padahal satu jam para sahabat bernilai sebanding dengan satu hari, bahkan mungkin satu masa khalwat, para wali yang lain; namun kasyaf dan keadaan luar biasa yang bersifat maknawi tidak dianugerahkan kepada setiap sahabat sebagaimana kepada para wali — dan hal ini membuktikan hakikat tersebut.

Maka, wahai saudara-saudaraku! Berhati-hatilah; janganlah nafsu ammarah kalian menipu kalian dari sisi mengukur orang lain dengan dirinya sendiri, yaitu dari sisi suuzan dan sombong; jangan pula ia membuat kalian ragu dengan berkata, "Risale-i Nur tidak mendidik."