Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 433
Selama kami berada di bawah inayah dengan begitu banyak tandanya, dan selama Risale-i Nur tidak terkalahkan menghadapi musuh-musuh yang demikian banyak lagi tak berbelas kasihan, bahkan membungkam Menteri Pendidikan dan Partai Rakyat sampai batas tertentu, dan selama mereka yang di medan seluas ini telah membesar-besarkan perkara kami secara berlebihan hingga membuat pemerintah panik itu pasti akan berusaha dengan berbagai dalih untuk menutup-nutupi fitnah dan kebohongan mereka; maka sudah pasti kita harus bersabar dan bersikap tenang dengan penyerahan diri yang sempurna, terutama tidak jatuh ke dalam patah harapan, tidak berputus asa ketika harapan kadang-kadang muncul berlawanan dengan kenyataan, dan tidak tergoncang oleh badai-badai yang sementara!
Ya, memang patah harapan itu mematahkan kekuatan maknawi dan semangat ahli dunia; akan tetapi bagi murid-murid Risale-i Nur, yang di bawah kesukaran, perjuangan, dan kesempitan justru melihat sambutan lembut dari inayah dan rahmat, patah harapan itu semestinya malah menguatkan usaha mereka, dorongan mereka untuk melangkah maju, dan kesungguhan mereka.
Empat puluh tahun yang lalu, para ahli politik menuduhku mengalami gila sementara lalu mengirimku ke rumah sakit jiwa. Aku berkata kepada mereka: "Sebagian besar dari apa yang kalian sebut kecerdasan justru kuketahui sebagai kebodohan; aku mengundurkan diri dari akal semacam itu. Kaidah وَ كُلُّ النَّاسِ مَجْنُونٌ وَ لٰكِنْ عَلٰى قَدَرِ الْهَوٰى اِخْتَلَفَ الْجُنُونُ kulihat berlaku pada diri kalian." Demikianlah pernah kukatakan.
Kini pun, kepada mereka yang dengan maksud menyelamatkan diriku dan saudara-saudaraku dari pertanggungjawaban yang berat menuduhkan kepadaku sesekali adanya jazbah dan gila sementara dari sisi risalah-risalah mahrem, aku mengulangi perkataan yang sama; bersamaan dengan itu aku merasa senang dari dua sisi:
Yang pertama: Di dalam hadis sahih terdapat keterangan yang berbunyi: "Apabila orang awam menganggap keadaan-keadaan luhur seseorang, yang berada di luar jangkauan akal mereka, sebagai gila dan tidak waras, maka hal itu justru menunjukkan bahwa orang itu telah meraih iman yang sempurna dan keyakinan yang penuh." Demikianlah difirmankan.
Sisi kedua: Demi keselamatan saudara-saudaraku di penjara ini, demi kelepasan mereka, dan demi terbebasnya mereka dari kezaliman, aku menerima bukan hanya tuduhan gila, melainkan dengan penuh rasa bangga dan gembira aku rela mengorbankan seluruh akal dan hidupku.
Bahkan jika kalian memandangnya patut, hendaklah ditulis sepucuk surat terima kasih dari pihakku kepada tiga tokoh itu, dan hendaklah diberitahukan kepada mereka bahwa kami menyertakan mereka di dalam keuntungan maknawi kami.
Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia, sahabat-sahabatku yang tulus di dalam khidmah Al-Qur'an dan iman, serta teman seperjalananku yang tak terpisahkan di jalan haq dan hakikat, di jalan alam barzakh dan akhirat!
Karena waktu perpisahan kita satu sama lain sudah dekat, dan karena kaidah-kaidah Risalah Ikhlas tidak terjaga akibat ketegangan dan kesalahan yang lahir dari kesempitan hidup ini, kalian harus dan mutlak perlu saling menghalalkan sepenuhnya. Kalian satu sama lain adalah saudara yang lebih daripada saudara sekandung yang paling rela berkorban. Dan saudara itu menutupi kesalahan saudaranya, melupakannya, serta memaafkannya.
Di sini aku tidak menisbatkan pertikaian kalian yang di luar dugaan dan ananiyah kalian itu kepada nafsu ammarah, dan aku pun tidak menganggapnya pantas bagi murid-murid Risale-i Nur; melainkan aku memandangnya sebagai semacam ananiyah sementara yang bahkan terdapat pula pada para wali yang telah meninggalkan nafsu ammarah mereka. Janganlah kalian mematahkan sangkaan baikku ini dengan sikap keras kepala; berdamailah kalian.