Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 431

Agar tidak menimpa bahaya kepada orang yang memberitakannya kepada kami dan kepada orang yang menuliskannya, untuk sementara ini aku tidak akan mengirimkan kepada kalian keputusan yang disepakati para ahli itu. Para ahli yang terakhir ini telah berusaha dengan segenap kekuatan mereka untuk menyelamatkan kami dan menjaga kami dari kejahatan orang-orang yang sesat dan ahli bidah. Mereka membebaskan kami dari seluruh tuduhan yang ditimpakan kepada kami. Mereka pun memberi kesan bahwa mereka telah mengambil pelajaran sepenuhnya dari Risale-i Nur, lalu memutuskan secara sepakat bahwa bagian ilmiah dan imaniah Risale-i Nur dengan mayoritas mutlak ditulis oleh orang yang benar-benar menguasainya, dan bahwa Said menyatakan keyakinannya secara tulus sekaligus sungguh-sungguh, sehingga kekuatan dan kemampuan yang ada padanya bukanlah — sebagaimana yang dituduhkan — kekuatan untuk menciptakan sebuah tarekat, mendirikan sebuah perkumpulan, atau melawan pemerintah, melainkan semata-mata kekuatan dan kemampuan untuk menyampaikan hakikat-hakikat Al-Qur'an kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Dan terhadap risalah-risalah mahrem yang mereka sebut tidak ilmiah, mereka berkata: "Karena kadang-kadang ia terbawa oleh jazbah, oleh gejolak kesadaran, dan oleh guncangan ruhani, maka sepatutnya ia tidak dimintai pertanggungjawaban atas karya-karya ini." Demikianlah makna yang mereka pahamkan.

Dan tentang istilah "Said Lama" dan "Said Baru" yang mengandung makna adanya dua pribadi, serta bahwa pada pribadi yang kedua terdapat kekuatan iman dan ilmu tentang hakikat-hakikat Al-Qur'an yang luar biasa, demi menyenangkan hati para filsuf mereka mengatakan: "Ada kemungkinan semacam jazbah dan guncangan otak." Dengan itu mereka hendak menyelamatkan kami dari pertanggungjawaban atas ungkapan-ungkapan yang keras,

sekaligus hendak mengambil hati para penentang kami, lalu mereka berkata: "Kemungkinan adanya penyakit halusinasi pada sisi pendengaran dan penglihatan dapat diperhatikan."

Yang meruntuhkan kemungkinan mereka itu dari dasarnya adalah Risalah-Risalah Nur yang sampai ke tangan mereka dan yang meninggalkan semua akal jauh di belakang, serta Risalah Pembelaan dan Risalah Buah yang membuat seluruh pengacara tercengang; semuanya itu merupakan jawaban yang cukup lagi memadai. Aku sangat bersyukur bahwa dengan kemungkinan ini justru aku diberi kedudukan sebagai mazhar sebuah hadis yang mulia.

Para ahli itu juga membebaskan seluruh saudara kami dan diriku sepenuhnya dari tuduhan, lalu berkata: "Mereka terikat kepada karya-karya Said yang bersifat keilmuan dan ditulis dengan penguasaan penuh, demi iman dan akhirat mereka; sama sekali kami tidak menemukan kejelasan maupun tanda tentang adanya maksud jahat mereka terhadap pemerintah dari sisi mana pun, baik di dalam surat-menyurat mereka maupun di dalam kitab dan risalah-risalah mereka." Demikianlah dewan itu memutuskan secara sepakat, lalu membubuhkan tanda tangan atas nama seorang filsuf bernama Necati, seorang bernama Yusuf Ziya (seorang alim), dan seorang filsuf bernama Yusuf.

Sungguh sebuah tawafuk yang indah: sebagaimana kami menyebut penjara ini sebagai Madrasah Yusufiyah bagi diri kami dan menyebut Risalah Buah sebagai buahnya, demikian pula kedua Yusuf ini, dari balik tabir, dengan lisan keadaan mereka menyatakan: "Kami pun turut mengambil bagian dalam pelajaran di Madrasah Yusufiyah itu."

Dan sungguh menarik pula dalil yang mereka ajukan untuk jazbah itu, yaitu: mereka menjadikan ungkapan-ungkapan seperti "Kelimat Ketiga Puluh Tiga dan Surat Ketiga Puluh Tiga yang berjendela tiga puluh tiga", juga peristiwa ia mendengar tasbih "Yâ Rahîm! Yâ Rahîm!" dari kucingnya sendiri, dan juga ia melihat dirinya sebagai sebuah batu nisan, sebagai dalil atas kemungkinan jazbah dan halusinasi.