Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 448
Pertama: Aku bersyukur tiada terhingga karena dari kalangan para mufti, para penceramah, para imam, dan para guru agama yang merupakan pemilik hakiki Risale-i Nur, telah bermunculan pahlawan-pahlawan maknawi. Sampai hari ini, para pengorban jiwa bagi Nur adalah para pemuda, para pelajar sekolah, dan para guru. Seribu barakallah! Para Edhem İbrahim dan para Ali
Osman telah memutihkan wajah para ahli madrasah dan mengubah sikap segan mereka menjadi keberanian.
Kedua: Hendaklah mereka tidak bersedih atas peristiwa yang lahir dari kegiatan dan semangat mereka yang tulus ini. Sebab, Penjara Denizli pada akhirnya justru membuat orang-orang yang bertindak tanpa kehati-hatian pantas diberi ucapan selamat. Kepayahannya sangat sedikit, sedangkan faedah maknawinya sangat banyak. Insya Allah Madrasah Yusufiyah ketiga ini tidak akan tertinggal dari yang kedua.
Ketiga: Dari sisi bertambahnya pahala sekadar tingkat kesulitannya, kita harus mensyukuri keadaan yang berat ini. Kita harus berusaha menunaikan khidmah keimanan yang menjadi tugas kita dengan ikhlas, dan tidak ikut campur dalam urusan memberikan keberhasilan serta hasil-hasil yang baik, karena itu adalah tugas Ilahi. Dengan mengucapkan خَيْرُ الْاُمُورِ اَحْمَزُهَا, kita harus bersyukur di dalam kesabaran atas segala kesulitan di rumah penderitaan ini. Kita harus mengetahui bahwa hal itu merupakan tanda diterimanya amal kita dan pertanda bahwa kita memperoleh ijazah yang sempurna di dalam ujian mujahadah kudus kita.
Kepada jajaran pengurus penjara, terutama kepada direkturnya, aku memiliki sebuah permohonan yang secara lahiriah tampak tidak penting, tetapi menurutku sangat penting.
Hidupku yang berlalu selama dua puluh dua tahun di dalam pengasingan mutlak dan tubuhku pada usia tujuh puluh lima tahun ini tidak sanggup menanggung vaksin. Bahkan dahulu sekali aku pernah divaksin, dan selama dua puluh tahun bekasnya terus mengeluarkan nanah. Ia berubah menjadi semacam racun menahun. Dua orang dokter di Emirdağ dan kawan-kawanku mengetahui hal ini. Empat tahun yang lalu pun, di Denizli, aku ikut divaksin bersama seluruh narapidana. Padahal tidak seorang pun dari mereka yang terkena mudarat, sedangkan aku dibuatnya sakit selama dua puluh hari. Dengan penjagaan Allah, aku tidak dipaksa pergi ke rumah sakit yang berbahaya bagiku. Sama sekali tubuhku tidak dapat menerima vaksin. Uzurku pun kuat. Lagi pula, karena pada usia tujuh puluh lima tahun ini aku sangat lemah, aku hanya sanggup menanggung vaksin yang diberikan kepada anak berusia sepuluh tahun. Selain itu, karena aku senantiasa berada di dalam pengasingan mutlak, aku tidak bersentuhan dengan orang lain. Sebulan yang lalu pun gubernur mengirim dua orang dokter ke Emirdağ; mereka memeriksaku dengan saksama, dan tidak ditemukan satu pun penyakit menular; mereka tidak mendapati apa pun selain kelemahan tubuh yang sangat, pengasingan, ketuaan, dan penyakit encok. Sudah pasti keadaan ini tidak mengharuskan aku divaksin menurut undang-undang.
Aku juga memiliki sebuah permohonan besar: janganlah kalian mengirimku ke rumah sakit. Kepada suatu keadaan yang sepanjang hidupku, terutama sepanjang umurku dua puluh dua tahun di dalam pengasingan mutlak ini, tidak sanggup
aku tanggung, yakni berada di bawah kuasa para perawat yang tidak kukenal, janganlah kalian memaksaku. Memang pada masa-masa ini aku sudah mulai merasa senang untuk memasuki kubur. Akan tetapi, demi menjaga perasaan jajaran pengurus penjara ini yang telah kulihat sisi kemanusiaannya, dan demi hiburan bagi para tahanan, untuk sementara ini aku lebih memilih penjara daripada kubur.