Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 516
Pertama: Diperingatkan kepadaku untuk menuturkan sebuah perlakuan terhadap diriku pada dua masa penawananku, yang menjadi sumber pelajaran dan ketakjuban. Yaitu demikian:
Di Kostroma, Rusia, kami berada di sebuah bangsal bersama sembilan puluh orang perwira kami yang tertawan. Sesekali aku memberikan pelajaran kepada para perwira kami itu. Pada suatu hari komandan Rusia datang, melihatnya, lalu berkata: "Orang Kurdi ini dahulu menjadi komandan resimen sukarelawan dan telah menebas banyak tentara kami. Kini di sini pun ia memberikan pelajaran politik. Aku melarangnya; janganlah ia memberi pelajaran." Dua hari kemudian ia datang dan berkata: "Karena pelajaranmu bukan pelajaran politik, melainkan pelajaran agama dan akhlak, lanjutkanlah pelajaranmu." Ia pun memberi izin.
Pada masa penawananku yang kedua: ketika berada di penjara ini, seorang saudara khususku yang selama dua puluh tahun mendengarkan pelajaran-pelajaranku dan yang memberi pelajaran lebih baik daripadaku, serta para pelayan yang mengurus keperluanku yang mendesak, dilarang oleh pegawai kehakiman untuk datang kepadaku, supaya mereka tidak mengambil pelajaran dariku. Padahal Risalah-Risalah Nur sama sekali tidak menyisakan hajat kepada pelajaran-pelajaran yang lain; tidak ada satu pun pelajaran kami yang tersisa, dan tidak ada satu pun rahasia kami yang tinggal tersembunyi. Bagaimanapun juga, suatu keadaan telah menjadi sebab untuk memendekkan kisah yang panjang ini.