بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ
Sinar-Sinar · hlm. 516
Ustaz kami, Tuan kami yang sangat Aziz, sangat tercinta, sangat berharga, lagi sangat mubarak!
Dengan menyampaikan segala takzim dan menghaturkan segala hormat, kami menanyakan kabar Tuan dan memanjatkan doa bagi kesehatan serta afiat Tuan, seraya mencium ujung jubah, tangan, dan kaki Tuan.
Ustaz kami, Tuan kami yang penuh kasih sayang! Bagaimana kami mendapati Nukta Huwa beserta tiga surat Tuan yang berharga — yang dikirimkan kepada kami dari Tuan, Ustaz kami yang tercinta, dan yang ditambahkan pada akhir pembelaan-pembelaan itu — agar kami sampaikan kepada Tuan, Ustaz kami yang tercinta,
hal itu telah diperintahkan oleh Tuan, Ustaz kami yang tercinta, bersama seorang saudara kami yang mubarak.
Ustaz kami, Tuan kami yang tercinta!
Surat Ustaz yang pertama: meskipun selama dua puluh tahun, disertai segala pengintaian dan pengawasan, enam wilayah dan tiga mahkamah tidak menemukan pada diri Ustaz jejak sedikit pun dari tuduhan mendirikan perkumpulan sehingga mereka menjatuhkan putusan bebas, namun perhatian luar biasa yang ada pada para Nurcu — yang tidak terlihat pada perkumpulan mana pun dan komite mana pun — telah ditanyakan kepada Ustaz kami yang tercinta oleh suatu pihak yang penting; dan jawabannya diberikan dengan penjelasan bahwa, karena cucu dan anak keturunan jutaan pejuang Islam yang mengorbankan jiwa mereka demi meraih tingkatan syahid itu mewarisi semangat berkorban jiwa tersebut dari nenek moyang mereka, maka di hadapan pengorbanan yang sejati, ikhlas, semata-mata demi rida Allah, yang positif lagi ukhrawi — pengorbanan yang Ustaz saksikan pada para murid Ustaz, dan yang menjadi sebab Ustaz mengucapkan kalimat menakjubkan yang membuat mahkamah-mahkamah tercengang lalu terdiam: "Untuk sebuah hakikat yang demi hakikat itu jutaan kepala pahlawan telah dikorbankan, biarlah kepala kami pun turut dikorbankan!" — segala jemaah dan komite yang negatif pasti kalah, orang-orang yang hendak membubarkan para Nurcu insya Allah tidak akan berhasil, bahkan mereka justru akan menjadi sebab bertambah banyaknya para pejuang Nur dan iman yang rela berkorban jiwa.
Di dalam surat Ustaz yang kedua lagi diberkahi disampaikan, sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Ustaz kami yang tercinta empat puluh tahun yang lalu, bahwa kekuatan luar biasa pada diri Ustaz dan pada para murid Ustaz — ketika Ustaz mengajar di Van dan Bitlis bersama mereka, lalu bangkit menghadapi para pejuang Armenia dan Tasynak yang membuat ahli iman di sekitar mereka gemetar, sehingga terpaksa menghentikan dan membubarkan para pejuang itu — lahir dari sikap para murid Ustaz: mereka yang berjuang untuk kehidupan yang kekal dan untuk kemaslahatan positif umat Islam yang suci, yang meyakini bahwa ajal itu satu, dan yang ikatan batinnya kepada ustaz mereka begitu kuat hingga sampai pada derajat rela berkorban jiwa; mereka dengan penuh bangga mengorbankan umur semu yang hanya beberapa tahun itu demi umur jutaan tahun serta demi keselamatan dan kemaslahatan miliaran saudara seagama — berbeda dengan pengorbanan luar biasa yang tampak pada para pejuang Armenia, yang hanya demi kehidupan dunia yang kecil lagi fana dan demi manfaat serta keselamatan sementara dari semangat kebangsaan yang negatif.
Surat Ustaz yang ketiga lagi diberkahi: di tengah pengasingan yang sangat aneh, yang terus berlanjut sejak sembilan bulan lalu, dan di dalam sakit yang menumbuhkan kebutuhan akan hiburan dan keakraban, muncullah keluhan, "Mengapa penyiksaan ini terjadi, apa gunanya bagi khidmah
kami?" — surat itu merupakan peringatan bagi keluhan yang terlintas di kalbu Ustaz kami yang mulia; di dalamnya disampaikan bahwa izin yang diberikan takdir Ilahi dan inayah Rabbani kepada tekanan yang dahsyat ini adalah karena khidmah kami yang ikhlas, yang murni demi hak dan hakikat, sangat memerlukan agar di dalam ujian berat yang kami masuki di hadapan para penentang yang keras kepala, suka mencari-cari alasan, dan tidak berbelas kasih ini, yang emas dipisahkan dari yang tembaga dengan digosokkan pada batu uji, dan agar dengan pengalaman yang tanpa belas kasih semuanya disaring dengan ayakan supaya diketahui ada tidaknya bagian nafsu di dalamnya; sebab jika khidmah kami ini — yang dilakukan tanpa tercampur satu pun tipu daya, satu pun ananiyah (keakuan), satu pun maksud buruk, satu pun kepentingan duniawi maupun ukhrawi, yang benar-benar ikhlas serta datang dari hak dan hakikat, yang kini memaksa orang-orang paling keras kepala dan paling penuh waswas sekalipun untuk menyerah, dan yang insya Allah meninggalkan seribu keuntungan sebagai balasan atas satu kesusahan — tetap tinggal di balik tabir, niscaya ia akan ditafsirkan bermacam-macam, dan kalangan awam ahli iman maupun kalangan khawas tidak akan sepenuhnya puas, masing-masing dengan satu alasan.
Adapun surat keempat, yaitu Nukta Huwa: dengan kalimat-kalimat suci قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ dan لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ, pada sisi materialnya, yakni pada lafal هُوَ, di dalam sebuah nukta tauhid yang halus yang tersingkap melalui perenungan atas lembaran udara dalam suatu perjalanan khayali lagi pemikiran yang Ustaz kami yang tercinta tempuh, telah diterangkan dengan satu isyarat singkat betapa sangat mudahnya jalan iman dan betapa tak terhingga sulitnya jalan yang sesat.
Berbagai keajaiban yang terlihat pada jati diri aneka benih yang diletakkan di segenggam tanah — yang merupakan salah satu arasy kudrat Allah — dan pada lafal هُوَ yang tumbuh serta berkembang di sepotong udara, yang merupakan arasy lain bagi perintah dan kehendak-Nya, yaitu munculnya kesulitan yang dahsyat setiap kali keajaiban itu disandarkan kepada sebab-sebab dan adanya kemudahan yang luar biasa setiap kali ia disandarkan kepada Zat Yang Wâhid lagi Ahad, dibuktikan dengan cara yang sangat manis, sangat indah, sangat menyenangkan, sekaligus sangat meyakinkan lagi membungkam, baik bagi orang-orang yang sesat, khususnya para penganut jalan kaum materialis dan kaum naturalis, maupun bagi ahli iman — maka dengan tulisan Ustaz yang berharga ini, yang bernilai setara satu risalah dan yang memberi kami keyakinan bahwa ia dapat menjadi semacam saripati dari Kelimat Ketiga Puluh, khususnya bagian tentang perubahan-perubahan zarah, dan dari Lem'a Kedua Puluh Tiga, yaitu Risalah Tabiat, Risale-i Nur dari awal hingga akhir menerangi dan mengangkat setiap orang yang membacanya, sekaligus menjadi sebab timbulnya rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Ustaz kami yang tercinta.