Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 523
Pertama: Pada masa sebuah kabinet lalim yang melarang haji, menumpahkan air zamzam, bersikap membolehkan kezaliman yang paling berat terhadap kami, tidak menganggap penting penyitaan Zülfikar dan Sirajunnur, menaikkan pangkat para pejabat yang menyiksa kami dengan maksud buruk dan tanpa dasar hukum, serta tidak mau mendengar tangis dan suara kami yang meninggi dengan lisan keadaan yang teraniaya dari dalam rumah kami — pada masa seperti itu, tempat yang paling tenang adalah penjara. Hanya saja, seandainya mungkin kami dipindahkan ke penjara lain, tentu keadaannya akan benar-benar selamat.
Kedua: Sebagaimana mereka dengan paksa membuat risalah-risalah yang paling rahasia dibacakan kepada orang-orang yang paling tidak berhak, demikian pula dengan paksa dan penuh desakan mereka memaksa kami membentuk perkumpulan. Padahal kami sama sekali tidak merasa membutuhkan perkumpulan dan komite. Sebab persaudaraan Islam di dalam jemaah persatuan ahli iman telah tumbuh pada diri para Nurcu dengan sangat ikhlas dan penuh pengorbanan; demikian pula para murid Nur terikat kepada sebuah hakikat yang demi hakikat itu nenek moyang kami dahulu mengorbankan jiwa mereka dengan cinta yang sempurna — mereka terikat kepadanya dengan semangat berkorban jiwa yang kuat, yang mereka warisi dari jutaan nenek moyang mereka yang pahlawan itu — sehingga sampai
saat ini hal itu tidak menyisakan kebutuhan akan perkumpulan dan komite, baik yang resmi maupun yang politis, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Artinya, sekarang ada satu kebutuhan sehingga takdir Ilahi menjadikan mereka menguasai kami. Mereka berbuat zalim dengan tuduhan perkumpulan yang hanya khayalan. Adapun takdir menampar kami melalui tangan mereka sambil berkata, "Mengapa kalian tidak menjadi hizbullah yang sempurna dengan ikhlas yang penuh dan dengan saling menopang yang penuh?" — dan dengan begitu takdir pun berbuat adil.